Tuesday, March 10, 2015

Family Gathering di Pantai Ambalat (Ambarawang Laut), Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur

Pantai Ambalat (dok. pribadi)
Namanya seperti Blok di perbatasan Kalimantan Utara dan Malaysia yang diklaim Malaysia sebagai wilayahnya karena potensi kandungan minyaknya yang besar. Namun, Pantai yang satu ini adalah singkatan dari nama Ambarawang Laut disingkat AMBALAT.

Letaknya sekitar satu jam perjalanan dari kota Balikpapan ke arah Timur, melewati objek wisata di Balikpapan yang sudah terkenal diantaranya Pantai Manggar Segarasari, Pantai Lamaru, Penangkaran Buaya di Teritip dan melewati Pondok Pesantren Hidayatulloh yang terkenal itu. Tepatnya di Kecamatan Semboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kebetulan kami sekantor pada hari Minggu, 1 Maret 2015 kemarin mengadakan Kegiatan Capacity Building dan Family Gathering di Pantai Ambalat. Aku nebeng teman yang kebetulan bawa mobil. Aku sudah pernah sebelumnya ke Pantai Ambalat saat survei lokasi untuk kegiatan ini, namun agak lupa-lupa ingat. Yang kuingat hanya belokannya itu setelah Gerbang Perbatasan wilayah antara Balikpapan dan Kutai Kartanegara dan setelah kebun-kebun rambutan.

Nah, saat melewati gerbang perbatasan, tidak lama setelah itu, temanku yang berada di bangku deretan tengah bagian samping kanan, melihat plang spanduk Pantai Ambalat.

Papan Plang lusuh yang hampir ambruk penanda arah Pantai Ambalat (dok. pribadi)
Dia bilang ada telah lewat tulisan Pantai Ambalat, aku mulai ingat kalau belokan ke Ambalat itu jalan kecil dengan plang Penunjuk Pantai yang sudah lusuh. Temanku yang memberitahu tadi juga tidak yakin, karena plangnya yang sudah lusuh dan setengah ambruk. Aku meminta kawanku untuk putar balik, karena aku yakin lokasinya sudah lewat. eh, malahan teman satu mobil pada nggak percaya dan bilang masih jauh, padahal jalanan mulai menanjak dan berkelok, jalan yang nggak pernah kulalui saat pertama kali ke Ambalat sebelumnya. Aku meminta temanku berhenti sebentar agar aku bisa bertanya ke penduduk sekitar. Lokasi berhenti kami saat itu telah melewati Pemancingan Widuri, Ternyata dugaanku benar, Belokan ke Pantai Ambalat sudah terlewat. Kami pun putar balik. Sesampainya di belokan ke Pantai Ambalat dari Jalan Utama, kesempatkan memotret plang lusuh yang setengah ambruk penanda arah ke Pantai Ambalat. Rencananya memang mau kuposting di blog agar orang-orang yang mau berkunjung ke Pantai Ambalat tidak kebablasan.

Dalam perjalanan menuju pantai, kami pun sempat berhenti sebentar untuk membeli Cempedak yang dijajakan penduduk setempat dengan harga yang cukup murah tapi dengan aroma yang sudah wangi semerbak menandakan buah cempedak yang sudah matang. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pantai kira-kira 20 menit menyusuri jalan beton yang sudah cukup bagus dan relatif lebar untuk ukuran daerah setempat.

Gazebo di Tepi Pantai (dok. pribadi)
Sebelum memasuki daerah Pantai kami sebenarnya diharuskan membayar retribusi yang dikelola penduduk setempat, tapi berhubung kami rombongan entah berapa panitia membayarnya, aku lupa nanya. Pemda Kutai Kartanegara tidak mengelola Pantai ini, melainkan dikelola secara swadaya oleh desa setempat. Mungkin Pemda Kutai Kartanegara sudah terlalu kaya, dan mungkin jika dikelola biaya operasionalnya tidak sebanding dengan pemasukkannya ke Kas Daerah, ditambah lagi lokasinya yang sangat jauh dari Ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) di Tenggarong yang bisa mencapai lebih dari 100 km dari Ambalat. Wow luas banget ya wilayah Kukar, kayak provinsi sendiri.

Sesampainya di Pantai, mobil yang kutumpangi berbelok ke arah kanan dari portal masuk menuju suatu lokasi pemancingan yang kira-kira sekitar 500 meter dari pintu masuk. Suasanya cukup sejuk karena masih sekitar pukul 9 pagi kami sampai sana, dengan lahan parkir yang rindang dinaungi deretan pohon cemara udang yang membuat teduh suasana pantai. Di lokasi itu juga dilengkapi berbagai Gazebo untuk bersantai menikmati udara Pantai Ambalat yang sungguh segar tanpa bau amis sedikit pun.

Setelah semua rombongan hadir, segera kami kumpulkan semua peserta kegiatan di ruang terbuka sekitaran parkiran. Kami mulai dengan stretching Chicken Dance dan sedikit Brain Gym untuk Ice Breaking. Setelah itu kami gelar berbagai lomba mulai dari makan krupuk dengan kontestan Anak yang digendong bapaknya bersama-sama makan kerupuk yang digantung, lomba memindahkan kelereng dengan sendok secara estafet antara orang tua dan anaknya, lomba  memasukkan paku ke dalam botol, lomba lari bolak-balik dengan menggendong istri masing-masing, lomba hulahop, lomba goyang dumang, dan terakhir lomba tarik tambang yang membuat badanku pegal-pegal selama beberapa hari.

Setelah menyelesaikan berbagai lomba, segera kuarahkan para peserta untuk menuju pemancingan di belakang parkiran. Ada beberapa kolam pancing yang cukup luas namun tetap teduh karena di pinggirnya didominasi pohon cemara udang. Kami pun menggelar lomba pancing, dengan ketentuan siapa yang memperoleh ikan paling kecil dengan cara dipancing, itulah pemenangnya.

Kolam Pancing paling depan (dok. pribadi)

Pemandangan Kolam Pancing dengan gubuk di penggirnya (dok. pribadi)
Teman-teman beserta keluarganya terlihat sangat gembira saat itu. anak-anak berlarian main kesana kemari, ada yang memecah kelapa muda sambil menikmatinya di bawah rindangnya pohon cemara, ada pasangan-pasangan muda pegawai yang hanya duduk-duduk santai berdua di bawah terpal biru yang sengaja kami pasang di bawah pohon cemara di tepi kolam pancing, karena keterbatasan jumlah gazebo. Ataupun aku yang memilih tiduran sejenak karena sakit semua badanku setelah ikut tarik tambang dan sempat jatuh bangun bahkan sampai suaraku habis karena harus teriak-teriak memberikan semangat kepada teman satu timku, padahal aku juga harus jadi MC acara itu, habislah suaraku.

Setelah agak mendingan, aku pun mencoba jalan-jalan menyusuri kolam pancing sambil memotret dan membuat video yang rencananya ku-upload di Youtube, hehee.... Saat kuberjalan-jalan menuju kolam pancing di belakang yang katanya banyak ikan yang besar-besar, kutertarik dengan dahan-dahan cemara udang yang sedang berbuah. kupetiklah beberapa buah cemara udang yang rencananya akan kusemai bijinya dan kutanam di kantor. Tak lupa kupotret juga buahnya.

Buah Cemara Udang (dok. pribadi)
Usai Makan siang, kami undi doorprize dan kami bagikan hadiah-hadiah bagi pemenang lomba-lomba sebelumnya. setelah itu, kami beralih ke tepi Pantai, aku pun tak menyia-nyiakan waktu di tepi pantai untuk memotret panorama Pantai 180 derajat dengan bantuan tripod. sedangkan teman-teman yang membawa anak-anak terlihat asik bermain dengan air pantai. Kondisi pantai saat itu masih surut namun berangsur-angsur beranjak pasang, dengan pasir pantai coklat yang cukup bersih.

Puas menikmati suasana Pantai, kami pun meninggalkan Pantai sekitar pukul setengah tiga siang, karena takutnya kalau kesorean akan terjebak macet di kawasan pantai Manggar yang sedang menyelenggarakan Pesta Laut.

No comments:

Post a Comment