Friday, May 1, 2015

Berkunjung ke Kota Buntok, Kabupaten Barito Selatan (Bagian I)

Narsis di Depan Tulisan Buntok Kota Batuah (dok. pribadi)
Mendengar kata Buntok, terbesit di pikiranku kota di Pulau Bangka. Ternyata dugaanku salah, Buntok tidak sama dengan Muntok. Buntok adalah sebuah kota kecil di Kalimantan Tengah.

Buntok pernah diplesetkan dengan kota "Buntu dan Mentok" alias kota terakhir yang terletak di pedalaman dan tidak tersambung dengan kota lainnya. Buntok dahulu memang susah diakses, namun sekarang bisa lebih mudah diakses dari Palangkaraya. Dulu kalau mau ke Buntok dari Palangkaraya harus ke Banjarmasin dulu, baru ke Buntok. Namun setelah dibuat jalan baru sekitar 200 km menembus hutan rawa gambut pertengahan dekade 2000-an, Buntok tidak lagi Buntu dan Mentok.

Aku kebetulan ada acara ke Buntok beberapa hari lalu. Dari Pontianak aku menuju Palangkaraya naik satu-satunya pesawat menuju Palangkaraya dari Pontianak, yaitu Garuda Indonesia "Explore Borneo" dengan jenis pesawat ATR 72-600. Dulu sebelum ada penerbangan langsung dari Pontianak ke Palangkaraya, harus ke Jakarta dulu baru ke Palangkaraya, rute ini baru dibuka kira-kira setengah tahun yang lalu.

Dari Palangkaraya, kami langsung menuju Buntok dengan mencarter 'taksi' Avanza dengan tarif Rp800ribu karena barang bawaan kami yang sangat banyak. Kalau tidak carter, tarifnya Rp130rb/orang. Dari Palangkaraya kami berangkat sekitar pukul setengah 7 malam. Menyusuri jalan panjang di tengah-tengah hutan rawa gambut, kami bertiga termasuk Pak Sopir yang bernama Yosep bercerita ngalor ngidul. Pak Yosep bukan asli orang Kalimantan Tengah, melainkan orang Maumere, Flores Nusa Tenggara Timur. Dia merantau ke Kalimantan Tengah sekitar tahun 1994, salah satu pendorongnya adalah gempa besar dan tsunami yang melanda Maumere kala itu. Awalnya dia bekerja di perusahaan kayu, dan terus gonta-ganti pekerjaan, sampai sekarang mempunyai travel sendiri. Beliau juga bercerita kalau jalan yang kami lalui ini baru dibangun saat Gubernur Agustin Teras Narang yang bertekad membuka akses ke Buntok dari Palangkaraya, dan akhirnya berhasil. Entah berapa dana yang sudah dihabiskan untuk pembangunan jalan raya yang merupakan prestasi luar biasa ini tapi jarang diekspos media nasional.

Di Ada sekitar 2 ruas jalan yang agak rusak dikarenakan terkena banjir, tapi masih layak digunakan meskipun belum diaspal kembali. Sekitar 2,5 jam dari Palangkaraya, kami pun sampai di daerah Timpah. Kami berhenti di rumah makan pemberhentian travel. Di situ tersedia makanan prasmanan. Aku cuma mengambil nasi putih, sayur asem, telur ceplok, dan tempe goreng, plus es teh. Sebenarnya ada banyak menu ikan, ayam, dan daging, namun saat itu aku kurang selera dengan masakannya. Saat membayar barulah kutahu ternyata harganya tidak dibanderol per item makanan, melainkan langsung dihitung Rp25ribu per orang. Jadi makan apa saja, All You Can Eat Only IDR25k, haha......

Ya lumayan lah untuk mengganjal perut, kami pun melanjutkan perjalanan ke Buntok. Sekitar pukul 22.30 WIB kami pun sampai ke kota Buntok. Sepi banget malam itu, nyaris tidak ada motor yang lewat di jalan raya. kami langsung menuju kantor KPPN Buntok untuk menurunkan barang-barang bawaan kami. Eh, ternyata sesampainya di gerbang kantor KPPN, ban kiri belakan mobil avanza yang kami tumpangi kempes karena bocor. Syukur Alhamdulillah nggak bocor di tengah hutan. Selesai menurunkan barang dan mengganti ban bocor, kami pun langsung menuju Hotel Mulya Kencana, hotel 'termewah' di Buntok, hehe.... (bersambung...)

Baca juga: Berkunjung ke Kota Buntok (Bagian II)

No comments:

Post a Comment