Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Monday, October 21, 2019

Opor Ayam Kampung Maknyus Bu Arjun Khas Pati di BSD

Cuma warung kaki lima biasa yang terletak di mulut gang kampung Lengkong yang tersembunyi tertutup oleh megahnya kawasan BSD. Terletak di Jalan Boulevard Utara, warung yang pemiliknya bernama Bu Arjun ini menawarkan berbagai masakan khas Jawa. Opor Ayam kampung menjadi menu andalan di sini, selain itu ada nasi gandul khas Pati, Rica-rica bebek, pecel, jangan tewel (sayur nangka muda), dll.

Biasanya buka mulai sekitar pukul 7.30, meskipun kadangkala juga lebih siangan. Opor ayam di sini menjadi menu favoritku mengingat tekstur ayam kampung yang lebih kenyal dan rasa gurihnya yang mantap membuatku selalu melahap habis nasi atau lontong yang disajikan bersama opor ayam dengan porsi yang cukup banyak.



Opor ayam dengan taburan bawang goreng di atasnya menjadikan masakan ini semakin menggoda. Nasi gandul dan rica-rica bebek yang tak kalah enak juga tidak kalah menggoyang lidah. Harga Opor ayam seporsi cuma Rp20 ribu saja, sudah kenyang dan puas banget.....


Thursday, December 21, 2017

Beef Lasagna PHD Kok Agak Beda dengan Pizza Hut ya?

Kemasan Lasagna ketika dibawa pulang
Sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu untuk pertama kalinya aku kenal dengan makanan bernama Lasagna. Temanku yang mengajakku di Pizza Hut dan menyuruhku untuk mencoba masakan Italia itu.

Lasagna ternyata semacam puding tapi terbuat dari pasta berlapis-lapis dengan irisan daging cincang yang dioven dan diberi semacam saus creamy. Rasa yang kuingat saat itu, gurih lezat lembut apalagi dinikmati saat masih panas. Tidak terasa eneg. Disajikan dalam Mangkuk keramik tebal berbentuk oval.

Setelah bertahun-tahun berlalu akhirnya aku kangen juga dengan citarasa Lasagna. Kebetulan di dekat rumahku ada Pizza Hut Delivery (PHD), jadilah kupesan Lasagna melalui aplikasi PHD di iOS.  Di PHD Lasagna dibanderol dengan harga Rp48 ribu. 

Setelah sekitar 15 menit pesan, aku langsung meluncur ke PHD untuk mengambilnya. Ternyata Lasagna-nya dikemas dalam semacam mangkuk dari aluminium foil tebal, bukan di mangkuk keramik. Ya wajarlah, kan dibawa pulang, masak mau diberi keramik, bisa bangkrut nanti PHD-nya, haha.....

Terlalu banyak saus krimnya jadi terkesan lebih lembek
Sesampainya di rumah langsung kubuka dan ternyata diluar ekspektasiku. Bentuknya kurang terlihat menarik, bagusan dulu yang disajikan di mangkuk keramik. Saus creamy-nya lebih banyak dan terkesan lebih encer. Lasagna-nya menurutku juga agak lembek. Tapi untuk rasanya mirip sih dengan yang dulu kunikmati di Restoran Pizza Hut-nya langsung, tapi sensasinya saja yang beda.

Memang benar kata orang-orang kalau pesan Lasagna di Pizza Hut lebih enak untuk dimakan ditempat daripada dibawa pulang, hehe....

Friday, December 15, 2017

Nyobain Bebek Dower Plaza Bintaro


HarWerNas alias Hari Dower Nasional (klaim sepihak) dari Restoran Bebek Dower yang menjual berabeka macam masakan bebek. Nah, bertepatan dengan hari ulang tahun ke-6 restoran ini yang jatuh pada tanggal 15 Desember ini, Resto Bebek Dower memberikan promo Bebek Dower dengan harga 'cuma' Rp15 ribu per porsinya.

Promo Ultah ke-6 Bebek Dower
Jenis masakan bebek yang promo pada hari ini adalah bebek goreng, dengan lalapan dan khas sambel dower-nya, tapi ingat tanpa nasi lho. So kalau kamu mau nambah nasi, kamu harus nambah Rp7000 per porsi nasinya. Kebetulan hari ini aku tahu promo itu dari temanku, karena aku penyuka masakan bebek, jadilah aku penasaran dengan promonya.

Jam 10 lebih kami meluncur ke Bintaro Plaza, ke salah satu cabang Resto Bebek Dower yang ada di Jabodetabek. Sesampainya di sana, kami kira restonya masih tutup, eh ternyata sudah ada pelanggan yang pesan bebek dower promo itu dan bebek telur asin dengan harga normal.

Usai membayar pesanan, kami piun keliling sebentar di Bintaro Plaza karena katanya pesanan bebeknya baru ready sekitar 15 menit kemudian. sekitar 10 menit putar-putar Bintaro Plaza, kami pun balik ke resto. Ternyata belum jadi juga, dan kami pun masih menunggu kurang lebih 15 menit lagi. Jadi kalau ditotal sekitar 30 menit kami harus menunggu. Lumayan lama..... tapi nggak papa lah, maklum harga promo.

Untuk urusan rasa sebenarnya tidak ada yang spesial. Sambalnya juga menurutku nggak terlalu pedas juga, entah mungkin untuk orang lain sudah pedas kali ya sampai bisa bikin bibir dower, hehe... Lalapannya berisikan selada dan ketimun potong, sayang tidak ada kemanginya. Untuk bebeknya sendiri, yang diolah ada bebek muda dengan ukuran setengah ekor. Jangan dibayangkan setengah ekor itu besar lho ya, karena ini bebek muda atau malah tepatnya bebek bayi kali ya, haha....


Porsi setengah ekor Bebek Dower Madura

Untuk makanan seharga Rp22 ribu lumayan worth it lah, karena bebek-bebek di luar rata-rata harganya lebih dari Rp35 ribu. Untuk restonya sendiri cukup nyaman dan representatif. Silakan mencoba jika penasaran......
Resto Bebek Dower Plaza Bintaro



Oiya ketika pulang aku melihat ada SMS masuk di HP, ternyata ada SMS Promo dari Bebek Dower Plaza Bintaro yang menawarkan promo diskon spesial 40% Nasi Bebek Dower Madura 1/2 ekor plus Es Teh Manis hanya bayar Rp30ribu.


Tuesday, December 12, 2017

Lezatnya Surimi Wrap Pizza Hut


Kotak kemasan Surimi Wrap PHD
Bingung mau makan apa, siang-siang tapi nggak pengen makan berat. Akhirnya kuputuskan untuk beli makanan di Pizza Hut Delivery (PHD). Bukan Pizza, melainkan cuma snack. Ada banyak pilihan snack di PHD, ada Beef Sausage alias sosis sapi, Chicken sticks, Pepchiz, Menchi Balls, Surimi Wrap, dan lainnya. Pilihanku jatuh ke Surimi Wrap.

Surimi Wrap terbuat dari kulit tahu berisikan gilingan ikan, udang, ayam. Ada juga potongan kecil wortel yang nggak terlihat jelas. Sepertinya kulit tahu itu digoreng dengan baluran telor ayam kocok jadi tambah gurih.

Soal rasanya, menurutku ini adalah yang terenak diantara snack-snack buatan Pizza Hut lainnya. Rasa gurih, lembut, empuk, kekenyalannya terasa pas. Setelah kupikir-pikir, rasanya mirip otak-otak ikan, tapi dengan tekstur yang lebih lembut.

10 potong surimi wrap plus saus hotmix
Dalam satu paket Surimi Wrap berisikan 10 potong dengan pelengkap saus tomat atau saus hotmix (kita bisa pilih salah satu). Kebetulan saat itu aku pesan melalui aplikasi PHD di iOS, dan kupilih metode pembayaran cash rencananya kuambil di gerai PHD dekat rumah alias Takeaway. Untuk satu paket Surimi Wrap dibanderol dengan harga Rp35 ribu, sama dengan harga Paket My Box berisikan Pizza ukuran kecil, ada snacknya dan seringkali ada tambahan jus kemasan.

Sekitar 10 menit setelah pesan aku langsung meluncur ke PHD Sarua Ciater. Sesampainya di situ, aku langsung menuju kasir dan sudah melihat bungkus surimi wrap-ku sudah siap. Wow cepat sekali, 15 menit sudah siap.

Soal rasa memang luar biasa enak. Sepuluh potong Surimi Wrap kurasakan sangat kurang, mungkin 20 biji baru puas, haha...... Saat itu aku pilih saus Hotmix, yang ternyata agak asam dengan sedikit rasa pedas. Lumayan lah buat ngemil siang-siang.

Thursday, December 7, 2017

Kupat Tahu Magelang Bintaro

Satu Porsi Kupat Tahu Magelang Spesial komplit dengan Telur Bebek Dadar
Kuliner yang satu ini mungkin tidak asing di telinga kita. Ya bahan utama pasti sesuai dengan namanya yaitu Tahu dan Ketupat. Makanan yang populer di Jawa Tengah ini, disajikan dengan kuah kacang encer dengan tingkatan rasa pedas sesuai selera kita. Selain Tahu dan ketupat, tentunya ada taoge (kecambah) yang tidak pernah absen dalam penyajian standar makanan ini.

Rasa segar dari irisan daun jeruk dengan kuah kacang kecap manis encer plus taburan daun seledri itulah yang membuat makanan ini terasa ringan, tidak eneg dan tidak terlalu mengenyangkan, pas lah pokoknya.... potongan bakwan dan telur bebek dadar semakin menggugah selera untuk segera melahapnya.

Jika Anda berdomisili di Bintaro dan sekitarnya dan kangen akan kuliner kupat tahu yang satu ini, patut mencoba di ramah makan kupat tahu magelang yang letaknya di jalan Tegal Rotan, tepat di pertigaan seberang jalan masuk ke Mal Bintaro Xchange. Kalau datang dari arah selatan (dari arah ciputat atau Kampung Sawah) letaknya berada di kiri jalan setelah pom bensin berdekatan dengan sebuah masjid.

Mantapnya Kupat Tahu magelang di rumah makan ini adalah rasanya yang nendang, mantap, nggak ngirit bumbu. Tahu dan telur dadar juga baru digoreng fresh ketika kita pesan. Untuk harganya jika dilengkapi dengan telur dadar satu porsinya seharga Rp22.500,- Cukup worth it lah dengan rasa maknyuss yang didapatkan.

Saturday, December 2, 2017

Penasaran Rasa Indomie Kemasan Vintage 1972



Tas Kain berisi 10 indomie kemasan vintage
Akhirnya aku jadi beli juga Indomie Kemasan Vintage di JD.id yang beberapa waktu lalu cuma dibanderol Rp25ribu padahal harga aslinya lebih dari Rp30 ribu. Dikemas dengan bungkus indomie seperti kemasan tahun 1972, indomie kemasan vintage edisi ulang tahun indomie ke-45 ini dijual dalam paket Tas Kain berisikan 10 bungkus indomie. Rinciannya ada 4 buah indomie goreng, 3 buah indomie rasa kaldu ayam, dan 3 buah indomie rasa kari ayam.

Rasa penasarankulah yang membuatku untuk membelinya. Akhirnya beberapa waktu lalu kucoba untuk memasaknya. Yang pertama kali kucoba adalah indomie gorengnya. Ternyata tidak hanya kemasannya yang berbeda, isinya pun sedikit berbeda. Di dalam kemasannya selain ada mie instan, tentu ada bumbu-bumbunya. Nah, bumbunya disini ada bumbu bubuknya, kemudian cabe bubuk, kecap, dan minyak. Berbeda dengan isi indomie goreng yang sekarang yang ada tambahan bawang goreng dan saus sambalnya (bukan cabe bubuk). Untuk urusan rasa, menurutku jelas enak indomie goreng yang masa kini, lebih mantap rasanya. Yang kemsan vintage ini rasanya kurang nendang gitu, kayak nanggung bumbunya. Namun, yang signifikan berbeda adalah derajat kekenyalan mie-nya. Ternyata mie-nya setelah dimasak tidak mudah lengket datui sama lainnya dan lebih kenyal. Secara pribadi aku kurang suka jenis mie yang seperti ini, karena kayak ada lilinnya meskipun sebenarnya tidak ada. Setelah dimasak sepertinya kuantitas mie-nya lebih banyak daripada yang indomie goreng masa kini. Overall untuk yang Indomie goreng kemasan vintage ini menurutku rasanya kurang nendang, dan kekenyalan mie-nya secara pribadi malah menjadikan rasa mie secara keseluruhan agak aneh.

Untuk mie rebusnya yang kucoba pertama kali adalah yang rasa kaldu ayam. Lagi-lagi tekstur mienya sama dengan yang jenis indomie goreng kemasan vintage, kenyallll! Untuk bumbunya minimalis sekali, yaitu cuma ada bumbu bubuk dan cabe bubuk saja, nggak pakai minyak bawang dan sebagainya. Untuk rasa, tetap enak yang kemasan masa kini. Tapi kubaca beberapa review mengenai indomie kemasan vintage ini kok bagus ya untuk urusan rasanya, apa lidahku yang perlu dikalibrasi, haha.....

10 bungkus indomie kemasan vintage dengan 3 varian
Terakhir, baru malam ini kucoba rasa yang ketiga yaitu, indomie rebus rasa kari ayam. Tekstur mie-nya masih sama kenyalnya dengan dua varian sebelumnya. Untuk bumbunya selain bumbu bubuk dan cabe bubuk, dilengkapi pula dengan minyak berbumbu kari ayam, yang menurutku seperti bumbu rasa indomie soto yang sekarang, hehe..... Untuk yang satu ini rasanya lumayanlah dari kedua varian sebelumnya.

Untuk menambah citarasa ketiga jenis varian indomie kemasan vintage itu, aku tambahkan taburan bawang merah goreng so lumayan berasa lah... Review saya ini cukup subjektif, karena citarasa sebuah makanan sangatlah subjektif, mungkin yang lain bisa jadi menurut mereka indomie kemasan vintage ini lebih enak daripada yang indomie masa kini.

Saturday, October 21, 2017

Masakan Ayam Lodho Khas Tulungagung

Ayam Lodho Tulungagung
Tulungagung, suatu kota kecil di Jawa Timur bagian Selatan, diapit oleh kabupaten Blitar di Timur, Kediri di Utara, dan trenggalek di Barat, di Selatan langsung berbatasan dengan Samudra Indonesia. Kota ini dulu terkenal sebagai penghasil marmer berkualitas bagus, Marmer untuk membangun Monas dan Masjid Istiqlal kemungkinan besar didatangkan dari Tulungagung.

Selain terkenal sebagai penghasil marmer, Tulungagung juga mempunyai berbagai macam kuliner yang menggoyang lidah, salah satu kuliner yang terkenal adalah Ayam Lodho. Masakan ini mirip dengan opor yang membedakan adalah perlakuan terhadap daging ayamnya. Kalau opor daging ayam mentah langsung dimasak bersama santan dan rempah lainnya, kalau memasak ayam Lodho dengan proses yang lebih panjang, yaitu sebelum dimasak dengan santan dan rempah, daging ayam dibakar terlebih dahulu sehingga ada sedikit rasa dan aroma sangit-sangit-nya (aroma asap).

Yang membedakannya lagi adalah kalau opor biasanya tidak dimasak pedas, kalau ayam lodho dimasak pedas dengan cabe rawit utuh yang lumayan banyak. Ayam Lodho juga sering disajikan bersama semacam lalapan matang ataupun urap dari rebusan daun ketela ataupun tauge rebus lengkap dengan bumbu urap dari kelapa parut.

Ayam Lodho lengkap dengan Urap dan Ketimun
Nah, awal Oktober kemarin saat aku ke Tulungagung, tiba-tiba saja kok aku pengen lagi menikmati masakan Ayam Lodho yang dulu pertama kali kuicip hampir 7 tahun yang lalu. Lokasi rumah makan Lodho yang terkenal itu berada di tepi jalan raya Tulungagung - Kediri. Sekitar 10 menit dari pusat kota, kira-kira berjarak 7 km dari kota di sisi barat jalan, dekat Taman Makam Pahlawan Tulungagung. Aku lupa nama rumah makannya, tapi kata istriku yang asli Tulungagung memang di situ yang terkenal ayam lodho-nya. Memang sih rasanya beda dari rumah makan-rumah makan Lodho yang pernah kucoba di Tulungagung. Nggak pelit bumbu, santannya lebih kental, cabe rawitnya luar biasa banyak. Porsinya lumayan besar memang, sebanding dengan harganya yang relatif lebih mahal dari rumah makan Lodho lainnya, tapi yang penting rasanya Mak Nyus.....

Kalau lewat Tulungagung jangan lupa mampir di rumah makan Ayam Lodho ya.....

Sunday, January 17, 2016

Wisata Kuliner di Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta

MEnikmati Deburan Ombak Pantai Depok dari Warung Lesehan Tepi Pantai
Jogja memang ngangeni.... gudegnya, angkringannya, objek wisatanya, serba murahnya. Kebetulan akhir tahun kemarin, aku bersama anak dan istriku berkesempatan untuk liburan di Jogja. Maksud utama kami ke Jogja adalah silaturahmi ke keluarga besar Jogja, nyekar ke makam eyang, dan tentunya sambil liburan, hehe.....

Hari itu, kebetulan hari senin 28 Desember 2015, hari kedua aku berada di Jogja. Bersama anak dan istriku, dan juga kebetulan ada adik iparku yang sedang libur co-ass, kami berangkat menuju Pantai Depok, yang terletak di barat Pantai Parangtritis. Kira-kira kami berangkat pukul 2 siang dari rumah pamanku di Perumahan Perwita Jalan Paris.

Mengapa aku memilih Pantai Depok, karena Pantai ini selain menawarkan panorama pantai layaknya Parangtritis tapi juga bertebaran warung makan yang menyajikan aneka ragam masakan laut. Nah, itu tujuanku, aku mau wisata kuliner sambil menikmati udara laut!

Menempuh kira-kira 25 km dari rumah pamanku, menyusuri Jalan Parangtritis (Jalan Paris) yang kondisinya cukup bagus sampailah kami ke gerbang Pintu Masuk Kawasan Pantai Parangtritis. Kami nggak masuk ke gerbangnya, melainkan belok ke arah kanan, ke jalan persis sebelum gerbang masuk Parangtrits. Melewati pedesaan Bantul yang khas dengan keteduhan pohon kelapanya. Kurang lebih 10 menit dari kami belok di dekat gerbang Parangtritis, sampailah kami di semacam pos masuk Pantai Depok yang dijaga beberapa petugas yang mungkin dari Dinas Pariwisata. Tiket masuk per orang dewasa adalah Rp5000,- sudah termasuk Jasa Raharja Rp250,-. Lumayan murah kan.....

Tiket Masuk Pantai Depok

Parkiran utama lumayan penuh dengan mobil-mobil berplat luar kota, kami pun muter-muter ke ke bagian barat ke arah Masjid, dan berhentilah kami di depan warung makan yang tidak menghadap langsung ke Pantai. Maksud kami bukan untuk makan ke warung itu, melainkan hanya memarkir mobil kami dan mau berjalan ke arah Pantai. Belum sampai kami keluar dari mobil, kami sudah dihampiri oelh seorang wanita yang menyampaikan kalau parkir di situ harus makan di warungnya. Kontan aja kami urungkan niat kami parkir di situ, dan melajukan kembali mobil kami ke arah Masjid yang malah lengang parkirannya. Kami parkirlah mobil kami di parkiran masjid, gratis sih tapi nggak ada penjaganya. Nggak papa lah, InsyaAllah aman....

Parkiran Masjid Pantai Depok yang terlihat lengang
Dari parkiran masjid, kami pun berjalan menuju pantai. Kami memang ingin mencari warung makan yang menghadap ke Pantai, jadi kami bisa menikmati masakan laut sambil memandang laut lepas. Agak bingung mencari warung makan yang representatif dan kayaknya masakannya enak, akhirnya kami menemukan warung makan yang lumayan besar menghadap langsung ke Pantai dan kebetulan ada tempat duduk yang kosong, namanya Lesehan Ngangeni yang dalam bahasa Indonesia artinya Lesehan yang bikin kangen.

Poster Dalai Lama di Dinding Warung Lesehan Ngangeni
Daftar menunya sangat variatif dengan berbagai macam masakan, tapi di daftar menu itu tertera harga yang murah sekali. Eits tunggu dulu bukan harganya murah, melainkan itu adalah tarif ongkos masaknya. Sebenarnya, warung-warung yang ada itu menjual jasa memasakkan ikan mentah, kerang, cumi, udang, kepiting, atau lainnya yang bisa dibeli di Tempat Pelelangan Ikan alias Pasar ikan di Komplek Pantai Depok, namun jika pengunjung tidak membawa ikan mentah untuk dimasakkan, juga bisa memesannya langsung di warung makan itu, toh harganya juga nggak mahal-mahal amat.

Kami memesan Kepiting Asam Pedas 1/2 kg, cumi-cumi masak rica-rica 1/4 kg, dan ikan Bawal Laut bakar 1/2 kg, cah kangkung, es kelapa muda dan es teh tentunya buat Manggala. Kira-kira menunggu selama 20 menit, akhirnya masakan pesanan kami pun datang.

Tampaknya masakan yang dihidangkan sangat menggoda dari sisi penampilannya. Kucoba satu persatu, ternyata luar biasa maknyusss.... terutama untuk Kepiting Asam Pedasnya, selain bumbunya yang pas, Kepitingnya juga terasa segar, nyam-nyam-nyam...... tahu gitu pesan 1 kg saat itu, mau pesan lagi pasti nunggu lama lagi...

Narsis sebelum makan

Cumi rica-ricanya juga cukup enak, dengan rasa pedas yang pas. Ikan bawal laut bakarnya juga enak, cukup besar. Recommended lah pokoknya Lesehan Ngangeni memang bener-bener bikin kangen, Joss Gandos! Besok kalau ke Pantai Depok harus mampir lagi ke Lesehan Ngangeni terutama pesan Kepiting Asam Pedasnya.

Puas makan, kami pun bersiap untuk pulang. Menu sebanyak itu, kalau nggak salah ingat nggak sampai Rp200ribu. Worth it lah.... Sekitar pukul setengah enam sore kami pun meninggalkan kawasan Pantai Depok yang saat itu masih terang benderang, tanpa sedikitpun menyentuh air lautnya, hehe..... Kapan lagi ya bisa ke Pantai Depok???

Tuesday, January 12, 2016

Nasi Gandul "Romantis" Pak Sardi Khas Pati

Nasi Gandul Pak Sardi Khas Pati (dok. pribadi)
Kalau pas mudik ke Pati, nggak afdol kalau nggak makan Nasi Gandul yang rasanya ngangeni banget...... Gurih, manis, legit bercampur jadi satu. Kalau yang belum pernah mencoba Nasi Gandul, mungkin seperti perpaduan antara masakan Semur dan Rawon, atau mirip-mirip rasanya dengan nasi pindang.

Penyajiannya biasanya menggunakan piring beralaskan daun pisang, dimakan menggunakan suru (daun pisang yang dilipat berfungsi sebagai sendok).Nah, Nasi Gandul sebenarnya berasal dari Desa Gajahmati, Pati. Di Pati pun aku hanya cocok dengan Nasi Gandul "Romantis" Pak Sardi di Desa Gajahmati, tepatnya di tepi jalan Panunggulan. Menurutku rasa gurih manisnya itu pas, dan legit banget, enggak eneg, bumbunya pas. Kalau makan di situ biasanya aku habis dua porsi dengan lauk daging ataupun babat. Selain itu juga ada lidah sapi, otak, paru, maupun jerohan lainnya. Selain lauk-lauk tadi, yang patut dicoba adalah, tempe yang digoreng kering sehingga meskipun tebal tapi kemripik layaknya keripik tempe, dan nggak ada selain di penjual nasi gandul.

Nasi Gandul Pak Sardi tidak pernah sepi, apalagi saat liburan terutama libur lebaran ataupun tahun baru, dijamin membludak, susah dapat tempat duduk.





Saturday, November 28, 2015

Kuliner Pontianak: Pisang Goreng Srikaya

Logo Srikaya Suka Hati

Tak lengkap rasanya kalau di Pontianak nggak nyobain pisang gorengnya. Bukan sembarang pisang goreng melainkan pisang goreng istimewa, Pisang Goreng Srikaya.

Pisang Goreng Serikaya
Pisang goreng srikaya ini cocok untuk teman minum kopi, makanya tak jarang ditemukan di kedai-kedai kopi Pontianak. Nah, pisang goreng srikaya sendiri sebenarnya pisang goreng yang terbuat dari jenis pisang kepok digoreng dengan balutan tepung terigu yang dibelah diberi selai srikaya di tengahnya.

Pisang goreng srikaya paling nikmat dinikmati selagi hangat, dengan lelehan selai srikayanya, makyuss bangetlah pokoknya.

Nggak sembarang kedai kopi menyajikan pisang goreng srikaya yang enak, salah satunya yang terkenal berada di Jalan Tanjungpura. Di kedai kopi sempit di tengah-tengah deretan ruko, menjual selai srikaya dengan merek Serikaya "Suka Hati". Selai dijual dalam bentuk mangkuk plastik kecil seharga 25ribu. Selain menjual selai srikaya, kedai kopi yang tepatnya berada di Jl. Tanjungpura No.17 Pontianak yang diemperan rukonya terdapat banyak penjaja batu akik itu juga menjual pisang goreng srikaya dengan harga per potongnya Rp4000,-.

Pisang srikaya sangat cocok untuk menemani minum teh atau kopi, hmmmm maknyusss.....

Kedai Kopi kecil penjual pisang goreng srikaya

Selai Srikaya


Saturday, October 31, 2015

Gudeg Bu Dibyo Bintaro

Seporsi Gudeg Bu Dibyo (dok.pribadi)
Gudeg, entah mengapa lidahku sangat cocok dengan masakan manis khas Jogja ini, padahal aku orang pantura yang umumnya tidak suka dengan masakan manis. Mungkin aku masih punya darah Jogja dari ibuku yang asli Bantul.

Makanan yang satu ini memang ngangenin, saking lamanya aku nggak makan gudeg asli sejak hampir 7 tahun yang lau, ketika istriku ke Jogja aku pesen untuk dibelikan gudeg kaleng, kali aja bisa mengobati kerinduanku dengan gudeg, tapi ternyata tidak, beda banget rasanya bahkan malah cenderung asam, ehmmmm,.....

Nah, kemarin kebetulan aku pijat di Ken Hermawan Bintaro. Aku yang belum sarapan dari pagi, usai pijat, aku sudah tidak mampu lagi menahan demo dari seisi perutku. Akhirnya aku mampir ke Gudeg Bu Dibyo yang kata temenku enak banget.

Dari Ken Hermawan di Sektor 5 depan Kampus STAN, kulajukan motorku ke arah Plaza Bintaro dan terus ke timur sampai dengan perempatan bangjo Pondok Ranji. Kalau ke kanan ke arah stasiun Pondok Ranji, kalau ke kiri ke arah Pondok Betung. Kubelokkan motorku ke arah kiri. Kira-kira 1 km ke utara di sekitar sektor 4 Bintaro, di kiri jalan ada tulisan Gudeg Bu Dibyo yang nyempil di sebuah ruko kecil, mungkin ukuran 3 x 6 meter. Saya sarankan kalau mau kesana pelan-pelan saja, karena kalau kecepatan tinggi sering nggak kelihatan terlewat begitu saja.

Sampai di sana segera kupesan Gudeg, "Bu, ini gudegnya pakai ayam kampung nggak?", tanyaku ke Bu Dibyo sambil membaca menu dan harganya yang tertera di meja etalase.

"Iya betul pakai ayam kampung!", jawabnya lembut.

Kupesanlah seporsi gudeg dengan ayam opor yang kulihat di daftar menu itu seharga Rp30ribu. Agak mahal, tapi wajarlah karena pakai ayam kampung.

Setelah kutunggu sekitar 5 menit, akhirnya gudeg pesananku datang dengan komposisi nasi putih, ayam kampung paha opor, krecek, sambal, dan tentunya gudeg yang diguyur dengan areh. Areh inilah kesukaanku yang rasanya legit dan gurih, ini yang kucari setiap kali aku menikmati gudeg, AREH-nya! Rupa areh mirip dengan bumbu maskaan rendang yang sama-sama terbuat dari santan kelapa berbumbu. Tak lupa kupesan minuman spesialnya, Es Beras Kencur!

Es Beras Kencur (dok. pribadi)
Sambil makan, aku ngobrol dengan Bu Dibyo. "Bu, kok bukanya jam 11, nggak buka lebih pagi Bu?", tanyaku sambil makan dengan lahap.

"Nggak Mas, soalnya nggak punya asisten. cuma sendirian. Saya rumahnya jauh di Ciledug, terus pagi baru masak di sini!" jawabnya.

Bu Dibyo juga menceritakan kalau banyak pelanggannya yang pesan ke dia melalui Go Jek untuk pengantarannya. Ternyata si Ibu berasal dari Tamansiswa Yogyakarta, dan baru awal tahun ini berjualan di lokasi yang sekarang ini. Sebelumnya dia berjualan di dekat Dapur Cokelat kalau nggak salah Bintaro Sektor 3A.

Memang legit rasa gudeg dan arehnya. Ayam kampungnya juga gurih dan empuk, mantap makyuss lah pokoknya. Oiya jam buka gudeg Bu Dibyo setiap hari pukul 11.00 s.d. 20.00 WIB, dan tutup pada hari Jumat, tapi kemarin hari Jumat malah pas buka, karena beliau mau tutup pada hari minggu. Ya pas Bejoku, haha....

Oiya beliau juga jualan garang asem, tapi pas aku datang kemarin garang asemnya belum matang, mungkin next time lah kucoba....


Sunday, July 5, 2015

Kue Putu yang makin Langka

Kue Putu dikukus (dok.pribadi)
Kue yang satu ini memang menjadi bagian yang tak pernah kulupakan. Ketika aku kecil, aku selalu menanti penjual kue putu keliling yang menjajakan di kompleks asrama pada sore hari. Semenjak kecil aku gemar sekali makan kue ini. Kue yang cukup sederhana ini memang rasanya enak, legit, manis dan nggak eneg.

Kue ini mulai jarang kutemui ketika aku beranjak SMP, sampai suatu ketika saat aku sudah bekerja aku menemukan penjual kue putu di kawasan Bintaro, Tangsel. Bukan penjual keliling, melainkan mendompleng di semacam pusat jajanan. Harganya lumayan mahal, namun ukurannya gede dan lumayan bikin kenyang dan tentunya puas, dan sepertinya sekarang sudah tidak ada lagi penjualnya. Entah kurang laku atau berpindah tempat, entahlah.....

Setahun terakhir ini di Kompleks perumahanku di Tangsel, seringkali sore hari ada penjual kue putu keliling. Nggak mau menyia-nyiakan kesempatan biasanya aku langsung memesannya. Harganya Rp800/biji. Masih juga ada kue harganya nggak genap 500 atau kelipatannya. Tapi nggak masalah, yang penting rasanya joss....

Betul rasanya seperti ekspektasiku, seolah mengingatkanku ketika masih kecil. Kue sederhana yang terbuat dari tepung beras kasar (ditumbuk kasar) dengan atau tanpa pewarna hijau, yang dimasukkan ke bumbung kecil (bentuk silinder) dari bambu yang ditengahnya diberi parutan gula merah, dan dikukus di atas kukusan dengan lubang-lubang uap panas yang berbunyi nyaring seperti peluit yang menjadi khas penanda ada tukang putu lewat jika terdengar suara semacam peluit panjang tidak putus-putus, tanpa perlu si penjual berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Oiya untuk menikmatinya, Kue putu biasanya ditaburi dengan parutan kelapa muda yang diberi sedikit garam.

Eh ternyata kegemaranku makan kue putu juga menular ke anakku Manggala. Manggala senang sekali makan kue putu. Jika ada penjual putu yang lewat depan rumah di Tulungagung, dia pasti minta untuk dibelikan dan lahap sekali makannya. Hmmmm......Like Father Like Son!

Thursday, June 25, 2015

Es Tebu Khas Pontianak

Ramadhan kali ini adalah Ramadhan pertama kalinya aku di Pontianak, dan  sekaligus ketiga kalinya di Borneo (sebelumnya 2 kali Ramadhan di Balikpapan). Beda Balikpapan, beda pula di Pontianak. Banyak macam yang beda di kedua kota besar di Pulau Kalimantan ini, namun kali ini saya akan membahas yang unik di Pontianak selama Bulan Ramadhan.

Aneka jajanan untuk takjil, aneka minuman, dan masakan khas Pontianak banyak dijajakan di pinggir-pinggir jalan selama bulan ramadhan ini. Nah yang menarik perhatianku salah satunya adalah penjual Es Tebu. Iya benar, es dari sari tebu hasil perasan tebu yang merupakan bahan baku pembuatan gula pasir itu. Kalau di kota-kota lain banyak dijajakan es buah ataupun es kelapa muda, namun di Pontianak

Di pinggir-pinggir jalan banyak penjual es tebu, apalagi menjelang waktu berbuka puasa. Es tebu yang disajikan dengan es batu per bungkus plastiknya dihargai Rp2000 s.d. Rp3000, murah meriah. Sedangkan yang berisikan full sari tebu setiap bungkus plastiknya tanpa es dijajakan Rp5000,-. Manis dan segar rasanya, membuat tenggorokan yang kering ini menjadi langsung segar, mak nyesss.....

Yang menjadi keherananku adalah, di Pontianak kan tidak ada pabrik gula pasir, kok banyak penjual es tebu ya? Iseng-iseng kutanya sama si penjual, "Pak ini tebu-tebunya yang ditanam di halaman-halaman rumah itu ya?".

"O bukan Dik,... ini tebunya dari ladang, kalau yang ditanam di pekarangan rumah itu nggak manis!", ujar si penjual.

Berbuka dengan minum Es Tebu memang segar sekali disaat cuaca di Pontianak sangat panas Ramadhan kali ini.

Monday, April 27, 2015

Kuliner Pontianak : Bingke "Al-Fajar"

Plang Toko Kue Bingke "AL-Fajar" (dok. pribadi)
Bingung nyari oleh-oleh makanan khas Pontianak, mampir saja ke toko Kue Bingke "Al-Fajar" di Jalan Adi Sucipto No. 155 B Pontianak. Tokonya kecil cuma kira-kira (2,5 x 3)m persis di pinggir jalan diapit dua toko bingke lainnya. Di depannya ada plang biru bertuliskan Kue Bingke "Al-Fajar".

Bingke, terbuat dari tepung beras/terigu, telur, gula, susu, santan, garam, dan vanili, dan bahan pelengkap lainnya. Ada berbagai pilihan rasa yang tersedia di Al-Fajar. Mulai dari rasa susu, super, istimewa, ubi rambat, kentang, kacang ijo, pisang, jagung, labvu, durian, nangka, tela, keju, pandan, coklat, roti, asin. Tapi tidak setiap saat semua variannya tersedia. Seperti saat kemarin aku kesana tidak ada varian rasa durian, mungkin tergantung musim buah kali....

Kemasan Kotak Bingke Al Fajar (dok. pribadi)
Untuk Bingke asin berbeda dengan bingke lainnya. Varian ini ada tambahannya daging sapi, kentang, wortel, daun bawang, keju, rempah-rempah, minyak samin. Bingke asin termasuk varian yang harganya saat ini paling mahal, Rp18ribu per kotaknya.

Rasa dari Bingke Al Fajar ini sangat enak, teksturnya lembut, dan tidak eneg. Cocok untuk makanan pembuka saat puasa ataupun camilan teman minum teh/kopi. Bingke yang dijual di AL-Fajar ini fresh from the oven, tak jarang bingkenya masih hangat karena baru saja jadi. Nah, bingke Al-Fajar ini tanpa pengawet sehingga hanya tahan 1 hari saja, kalau dimasukkan ke kulkas bisa tahan 2-3 hari, ya wajarlah kue basah. Kalau awet sampai seminggu malah mencurigakan, haha.....

Bingke Al Fajar (dok. pribadi)

Jika kita ingin pesan dalam jumlah banyak, varian apa, atau special request lainnya bisa telpon Toko Kue Bingke Al-Fajar di nomor (0561) 762381. jadi kalau ke Pontianak jangan lupa beli oleh-oleh Kue Bingke Al-Fajar.

Sunday, April 26, 2015

Kuliner Pontianak : Bebek Sangan Pak Ndut

Bebek Sangan Pak Ndut (dok. pribadi)
Bebek lagi Bebek lagi, kesukaanku akan bebek sejak kecil memang susah sekali luntur, asal huruf "B"-nya jangan diilangin ya, hehe.....

Nggak di Jakarta, nggak di Balikpapan, dan sekarang di Pontianak, kegemaranku menyantap unggas yang satu ini nggak berkurang sedikitpun. Masakan bebek goreng pertama kali yang kucoba di Pontianak adalah Bebek 'Slamet' yang sudah terkenal dimana-mana. Nah, berhubung aku belum puas dengan bebek Slamet, akhirnya beberapa hari yang lalu kesampaian lah aku nyobain masakan bebek lainnya.

Bebek Pak Ndut, yang berlokasi di Jalan Sultan Abdurrahman, Kota Baru Pontianak. Persis di pinggir jalan raya, rumah makan yang di depannya ditanami pagar hidup berupa bambu jepang ini lumayan luas bagian dalamnya. Di bagian depan di dekat pintu masuk, sebelah kiri terdapat beberapa meja lesehan, menginjak ke bagian tengah  tersedia meja-meja beserta kursinya bagi yang nggak suka makan sambil lesehan, dan terakhir di bagian belakang ada meja lesehan yang berbentuk letter U sepanjang tembok yang mengelilingi taman di tengahnya. Rumah makan ini sepertinya kecil tapi kalau dilihat dari meja dan bangku yang tersedia mampu memuat kurang lebih 100 orang. Nah, aku sendiri senang makan sambil lesehan di bagian belakang rumah makan sambil menikmati alunan musik dan bisa memandang taman yang menyejukkan mata sembari ngobrol menunggu sajian makanan datang.

Es Gula Asem (dok, pribadi)
Sajian bebeknya cukup lengkap, namun yang terkenal dan ciri khas di Bebek Pak Ndut adalah Bebek Sangan. Bebek sangan itu bebek goreng yang setelah digoreng tidak langsung disajikan melainkan digoreng sangan/sangrai (tanpa minyak) sehingga aroma dan rasanya sedikit berbeda dengan bebek goreng biasa, ada sedikit aroma asapnya, tambah sedap menurutku...

Selain sajian bebek, juga ada pilihan menu berbagai masakan ayam. Nah, untuk pilihan minumannya cukup lengkap, namun yang paling kusuka adalah es Gula Asam (Gulas) yang segar, pas untuk pendamping bebek yang Maknyosss......

Untuk harganya cukup terjangkau, Rp25ribu per potong. Biasanya aku memilih bagian dada yang ternyata potongannya lebih besar dari bebek Slamet. Daging bebeknya juga lembut tapi tidak menghilangkan rasa bebeknya, pintar yang masak. Soalnya memasak bebek itu gampang-gampang susah, kalau nggak bener bisa tertinggal bau amisnya, daging alot, ataupun terlalu empuk sehingga nggak terasa lagi sensasi dan rasa khas daging bebeknya.

Makan bebek memang sangat menggiurkan, tapi ingat kolesterol ya...... alias jangan kebanyakan dan terlalu sering makan bebeknya, tapi seringkali lidah ini nggak nahan...........Arghhh....
Lesehan di belakang dilengkapi taman (dok. pribadi)

Monday, April 13, 2015

Kuliner Pontianak : Es Krim Petrus

Es Krim Petrus Rasa Cempedak (dok. pribadi)
Kalau di Malang ada Es Krim Toko "Oen", dan di Jakarta ada Es Krim Ragusa, nah di Pontianak juga ada es krim legendaris yang sudah berdiri puluhan tahun. Namanya Warung Es Krim A Ngi atau yang lebih dikenal dengan Es Krim Petrus karena berlokasi di depan sekolah Santo Petrus Pontianak.

Warung ini tak pernah sepi meskipun tidak saat jam istirahat siang ataupun istirahat sekolah. Warungnya berada di depan rumah alias di carport dan sebagian teras rumah. Aku penasaran dengan Es Krim Petrus karena kolegaku merekomendasikan bahwa Es Krim Petrus itu enak banget dan sudah ada sejak dia masih di Pontianak awal tahun 80-an silam.

Suasana di Warung Es Krim Petrus (dok. pribadi)
Kebetulan aku datang ke warung Es Krim Petrus sebelum waktu istirahat siang sekitar jam 10-an. Lumayan rame tapi tidak sampai bejubel. Saat itu menu es krimnya hanya ada tiga varian yaitu Es Krim rasa Vanila, Stroberi, dan Cempedak. Aku pesan Es Krim rasa Cempedak yang disajikan di atas batok kepala muda yang dibelah dua, dengan masih ada kelapa mudanya di situ dengan campuran cincau serut di bagian bawah es krim. Hmmmm.... penyajian yang unik.

Saatnya mencicip rasanya. Rasanya menurutku lumayan, tapi tidak seistimewa yang kubayangkan, hehe.... Hampir mirip rasa es krim di Rumah Makan Pak Usu Pontianak, atau lidahku yang tidak peka akan sensasi rasa originalnya ya.... entahlah....

Di situ juga tersedia aneka jajanan kue-kue basah dan jajanan pasar untuk pendamping menikmati es krim. Lumayan kenyang menikmati es krim sambil makan jajanan. O iya... kita juga bisa memilih penyajian es krimnya di cup saja, nggak di batok kelapa muda. Di Warung ini banyak kawula muda yang menjadikannya tempat nongkrong sambil ber-brainstorming kali, hehe.....

Salah satu jajajan pasar, semacam serabi dengan santan kental manis banget (dok. pribadi)
So, bagi kamu pecinta es krim, kalau pas di Pontianak, nggak afdol kalau belum mampir ke warung es krim Petrus.

Saturday, April 11, 2015

Ale-Ale Kerang Asli Ketapang

Ale-Ale masih lengkap dengan cangkangnya (dok. pribadi)
Ale-ale sejenis kerang kecil yang banyak terdapat di Ketapang. Sebenarnya di daerah lain di Indonesia pun ada, namun beda dikenalnya. Kalau di daerahku di Pantura Timur Jawa ada yang menyebutnya kuwek, atau apalagi namanya di daerah lain, entahlah.

Tidak perlu diperdebatkan namanya, yang pasti kerang jenis ini kalau sudah dimasak rasanya lezat sekali. Untungnya di Ketapang ini perairan lautnya masih relatif bagus. Pencemaran logam berat masih jauh di bawah ambang batas. Berbeda dengan di Teluk Jakarta yang sudah tidak bagus lagi kualitas airnya karena pencemaran logam berat, makanya kita perlu berhati-hati makan kerang-kerangan yang berasal dari Teluk Jakarta, karena kerang sangat rentan sekali terpapar logam berat.

Kembali ke Ketapang, Ale-ale di Ketapang lumayan melimpah, sampai-sampai keberadaannya diabadikan menjadi tugu di salah satu perempatan jalan raya di Ketapang. Ale-ale biasanya dijual di pasar-pasar tradisional dalam bentuk masih lengkap dengan cangkangnya, sudah dikupas cangkangnya, ataupun diawetkan/diasinkan dalam botol-botol.

Ibu-ibu pengupas cangkang ale-ale (dok. pribadi)
Nah, saat mayu pulang dari Ketapang, temanku dititipi temannya di Pontianak untuk membawakan oleh-oleh berupa ale-ale. Sebelum ke bandara, siang itu kami pun meluncur ke pasar Sentap untuk mencari ale-ale, ternyata sudah habis alias tidak ada lagi penjual ale-ale karena hari sudah siang. Tak mau pulang tanpa hasil, kami pun bertanya ke orang pasar dimana lagi tempat penjual ale-ale.

Kami pun bergegas menuju tempat penjual ale-ale yang ditunjukkan oleh orang pasar berkejaran dengan waktu.
Kami menuju perkampungan yang sebagian masyarakatnya sering menjual ale-ale. Kuhitung sampai 5 kali kami bertanya dimana orang yang menjual ale-ale.

Tetap semangat kami blusukan dari kampung ke kampung, asyiknya kami jadi lebih tahu kondisi perkampungan penduduk asli di Ketapang. Akhirnya sampailah kami ke sekumpulan ibu-ibu di depan sebuah rumah dengan tumpukan ale-ale segar yang baru diambil di muara sungai.

Kami pun bertanya berapa harga ale-ale. Mereka menyebut Rp10000/canting untuk ale-ale yang sudah dikupas, dan Rp6000/kg untuk ale-ale segar yang masih bercangkang. Temanku akhirnya membeli 5 canting ale-ale, yang langsung dikupaskan saat itu juga, fresh from the oven.

Sambil ibu-ibu itu mengupas ale-ale dengan cekatan, kujepret sana-sini mengabadikan momen itu dsambil ngobrol dengan ibu-ibu kampung yang ramah-ramah itu.

Mengupas Ale-ale dengan pisau khusus (dok. pribadi)
Akhirnya selesai juga 5 canting ale-ale kupas yang tidak sampai 30 menit mengupasnya. Ditaruhlah ale-ale kupas tadi di dalam botol bekas aqua, dan dimasukkan kantong plastik rapat-rapat karena mau dibawa di kabin pesawat agar tidak tercium baunya ataupun bocor tetesan airnya.

Sesampainya di Pontianak, keesokan harinya di kantor dimasaklah ale-ale yang malam harinya dimasukkan ke kulkas oleh teman-teman kantor, dan ternyata rasanya enak, segar, berbeda jika beli di pasar. Lebih fresh ini.

Ke Ketapang jangan lupa mencari oleh-oleh ale-ale segar atau kalau tidak mau repot ya ciciplah masakan yang ada ale-alenya. Sedikit tips: sebaiknya jika untuk oleh-oleh jangan beli ale-ale yang sudah diasinkan dalam botol karena itu sudah relatif lama dan asin banget, jadi rasa ale-alenya sudah tak nampak lagi kalah dengan rasa asin.

Bubur Paddas Sambas

Bubur Paddas Sambas (dok. pribadi)
Berkunjung ke Sambas belum afdol kalau belum mencicip masakan khasnya yaitu bubur paddas. Namun, kali ini bukannya di Sambas, melainkan kucicip untuk pertama kalinya bubur paddas di Ketapang, tapi si pembuatnya orang asli Sambas yang sudah puluhan tahun menetap di Ketapang, Kalimantan Barat.

Daun Kesum (dok. pribadi)
Apa sih bubur paddas itu? Ya semacam bubur tapi komposisi dominannya adalah sayur-sayuran. Beras yang digunakan sebagai bahan baku bubur ditumbuk terlebih dahulu tapi tidak sampai halus betul, masih kasar, kemudian disangrai dengan kelapa yang sudah diparut. Nah, yang yang membuat khas dari bubur ini adalah daun kesum, sejenis tanaman seperti gulma, yang sering tumbuh liar di pekarangan ataupun kebun, aromanya khas dan itulah yang menjadikan citarasa bubur paddas berbeda dengan yang lain. Dicampur dengan sayuran yang dirajang seperti kacang panjang, taoge, gambas, wortel, dan entah sayuran apalagi serta tentunya daun kesum. Ditambah dengan kacang tanah sangrai, ikan teri, bawang merah goreng, kerupuk, dan yang spesial di warung yang kami kunjungi ternyata ditambah potongan iga sapi yang semakin menambah sedap bubur paddas.

Kata orang bubur ini susah diterima oleh lidah orang Jawa, namun buatku bubur ini lebih sedap dan segar daripada bubur ayam. Nggak eneg, soalnya campuran berasnya tidak terlalu banyak sehingga tidak letrek-letrek mblenyek. Rasanya pun segar karena banyak sayur-sayuran. Tak terasa semangkuk penuh bubur paddas habis di mulutku, padahal aku termasuk orang yang tidak suka bubur.

Tentunya nggak disangsikan lagi bubur ini cukup sehat karena mengandung banyak sayur-sayuran. Jangan lihat penampilan luarnya yang tidak menarik, coba makan dan rasakan sensasi kesegarannya.

Sunday, March 29, 2015

Kuliner Balikpapan: Sop Kikil 'Mbah Dul"

Semangkuk Sop Kikil dan pelengkapnya (dok. pribadi)
Saat awal-awal aku di Balikpapan sekitar Bulan Oktober 2012, aku diajak senior di kantorku makan di warung Mbah Dul alias Warung Surabaya. Tepatnya di Jalan Gadjah Mada Balikpapan. Kalau dari arah Pasar Damai menuju ke arah kota. Sesampainya di depan Pasific Buliding (Panin Bank / Aston) kita belok menuju seberang jalan ada gang masuk. Nah kira-kira 20 meter masuk gang kita belok ke kiri. Kita lurus saja, kira-kira 100 meter ketemu warung sederhana bernama warung Surabaya, ditandai dengan pagar kayu dan cat dinding rumah berwarna hijau. Kalau dari arah Gang samping Gedung Keuangan Negara (GKN) terus saja lurus ke timur, nanti kira-kira 500 meter di kiri jalan ada warung surabaya. Warungnya sederhana banget, dan merupakan bagian lantai 1 dari rumah Mbah Dul.

Warung Pojok Surabaya "Mbah Dul" (dok. pribadi)
Pemiliknya aku nggak tahu nama persisnya, yang kukenal ya beliau dipanggil Mbah Dul, konon katanya karena beliau sering memanggil para pelanggannya Dul - Dul, maka akhirnya Beliau pun disebut pelanggannya Mbah Dul. Beliau sudah sepuh sekali, umurnya lebih dari 80 tahun. Berjalannya pun sudah ketimik-ketimik, membuatku khawatir kalau-kalau Beliau terjatuh.

Nah, kembali lagi ke soal menu. Saat pertama kali aku kesana, dipesankanlah aku semangkok sop Kikil. "Wow, rasanya mantap sekali! Makyuss tenan pokokke!", teriakku dalam hati.

Seringkali weekend pas aku main ke Plaza Balikpapan untuk nonton atau ke Gramedia, kusempatkan mampir ke warung Mbah Dul. Rasa kikilnya itu lho.....ngangeni banget.....! Tapi seringkali saat aku kesana sedang tidak ada sop kikil ataupun sudah habis. Jadilah menu alternatif lainnya yaitu rawon yang tak kalah enaknya. Adapulan menu lain, ada kepiting yang tentunya murah meriah, pepes patin, soto babat, dan masih banyak lagi. Tapi sekedar catatan, tidak semua menu itu tersedia setiap hari.
Aku bersama Mbah Dul dan putrinya (dok. pribaadi)

Semangkuk Sop Kikil plus nasi putih dan tumis-tumisan/pelengkap lainnya dihargai Rp13.000, dan Es The Manis Rp3.000,- Jadi biasanya aku makan di situ cuma habis Rp16.000,- Worth it banget lah pokokknya, apalagi ramah di kantong! Soal rasa nggak usah ditanya lagi, apalagi kalau disajikan panas-panas. Oiya, tipsnya sebaiknya jika mau makan menu sop kikil, datang ke warung Mbah Dul sebelum istirahat siang, soalnya sering kehabisan. Atau telpon dulu Mbah Dul, masak kikil nggak hari ini, karena aku beberapa kali kecele kesana Beliau nggak masak kikil karena nggak ada stok kikil di pasar.

Hari Kamis 26 Maret 2015 kemarin kusempatkan terakhir kalinya aku ke Mbah Dul sebelum pindah tugas ke Pontianak dan sekaligus pamitan dan mohon pangestu dari Beliau.

Sop Kikil Mbah Dul! Nggak ada duanya, uennakkkk tenannnn!

Baca juga:
Kuliner Balikpapan: Tahu Telor Blora Terenak se-Balikpapan

Saturday, March 28, 2015

Kuliner Pontianak: PENGKANG


Pengkang (dok. pribadi)
Puas Jalan-jalan ke Singkawang dan sekitarnya, tibalah saat kami pulang. Berangkat setelah sunset dari Pantai Batu Payung atau yang lebih beken disebut dengan Pantai MiMiLand, kami melaju langsung ke arah Pontianak. Sesampainya di Jalan Raya antara Mempawah dan Pontianak, karena sudah waktunya makan malam mampirlah kami ke suatu rumah makan yang lumayan rame, lebih tepatnya Pondok Pengkang Peniti, berlokasi di Jl. Raya Peniti Luar Km. 30. Kata driver kami, masakan seafood di rumah makan ini segar-segar dengan satu menu istimewanya.

Pondok Pengkang Peniti ini salah satu rumah makan tertua di kawasan ini. Menu Khasnya adalah ketan yang membalut udang dan dibungkus dengan daun pisang, dijepit dengan bambu dan dibakar. Mirip-mirip lemper, namun ini lebih besar dan isinya adalah udang.

Disajikan dengan sambal Kepah, semacam kerang menambah nikmat pengkang yang disajikan hangat-hangat setelah dibakar. Setiap japit bambu berisikan dua buah pengkang berbentuk segitiga. Cara memakannya pun cukup sederhana, yaitu dengan mencocol pengkang dengan sambal kepah yang rasanya enak menurutku.

Nah, ini bagian yang sensitif, yaitu soal harga. harga yang tertera di daftar menu adalah Rp7000/jepit pengkang (isi 2) dan Rp25000 untuk satu porsi sambal Kepahnya. Lho kok malah jauh lebih mahal sambalnya??? Mungkin Kepahnya kali yang mahal, atau lagi sulit dicari, entahlah.....

Sambal Kepah (dok. pribadi)
Untuk menu makanan lain yang disajikan di rumah makan ini menurutku relatif mahal. Kebetulan aku pesan nasi goreng kepah, ternyata hasilnya kurang memuaskan. Kepahnya ternyata digoreng tersendiri, tidak dicampur langsung saat menggoreng nasi, rasanya pun kurang terasa kalau itu kerang plus agak alot jadinya karena digoreng. Beda banget dengan kepah yang dibuat sambal. Untuk menu-menu ikan segarnya mungkin patut dicoba, tapi ya itu tadi tergolong kurang ramah kantong sih untuk orang sepertiku yang masih termasuk kalangan price sensitive.

Jadi untuk menyantap hidangan di Pondok Pengkang Peniti, aku cuma merekomendasikan Pengkang dan sambal kepahnya. Itu hidangan otentik/khas dari rumah makan ini.