Showing posts with label kereta api. Show all posts
Showing posts with label kereta api. Show all posts

Friday, February 28, 2020

Praktis Pakai LinkAja untuk Naik KRL

LinkAja, dompet digital bersama besutan BUMN-BUMN perbankan dan telkomsel ini semakin menunjukkan eksistensi untuk menyaingi kedigdayaan Gopay, Ovo, ataupun Dana. LinkAja melebarkan sayapnya sebagai salah satu alat pembayaran untuk layanan Kereta Rel Listrik (KRL) commuter line Jabodetabek.

Selama ini naik KRL hanya bisa menggunakan kartu uang elektronik semacam eMoney Mandiri, Flazz BCA, Brizzi, BNI Tapcash, ataupun kartu single/multitrip yang dikeluarkan oleh PT KCI. Nah, sekarang LinkAja sejak sekitar akhir tahun lalu bisa digunakan untuk membayar KRL berbasis pembayaran QR Code yang perlu di scan di gate bertanda khusus LinkAja yang ada di setiap stasiun KRL.

Saldo nominal LinkAja untuk bisa menikmati fasilitas ini adalah sebesar Rp13.000, jadi jika kurang dari itu otomatis gate KRL tidak bisa terbuka. Nanti, jika sudah keluar dari stasiun tujuan, saldo kita akan dikembalikan lagi sejumlah selisihnya dengan tarif ke stasiun tujuan.

Menggunakan QR code awal-awalnya agak ribet karena posisi scanner-nya yang berdiri vertikal, tidak seperti ngetap kartu uang elektronik secara horisontal. Juga perlu ekstra effort untuk mengepaskan scanner dengan HP. Jika terlalu dekat atau menempel, scanner tidak mampu membaca. Kendala-kendala di awal peluncuran layanan linkaja untuk pembeyaran KRL diperbaiki dengan memberikan semacam tonjolan karet yang mengelilingi scanner sehingga tidak HP tidak langsung menempel ke scanner. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dua video di atas.




Monday, October 28, 2019

REVIEW BUKU: Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe

Buku yang satu ini saya rekomendasikan kepada para pecinta sejati kereta api di Indonesia. Buku ini juga cocok untuk melengkapi pengetahuan kita terhadap sejarah perkeretaapian di Indonesia khususnya di Jawa. Buku Karangan Olivier Johannes Raap, seorang kolektor kartu pos kuno berkebangsaan Belanda. Beliau banyak mengkoleksi kartu pos kuno khususnya yang diterbitkan di koloni Hindia Belanda (Indonesia).

Buku yang merupakan kumpulan kliping kartu pos tempo dulu bertemakan kereta api ini disajikan dengan sangat menarik, detail, mengundang rasa kagum dan penasaran, dan tentunya ringan untuk dibaca. Buku ini berisikan gambar-gambar kereta api, stasiun, jembatan kereta api yang tercetak dalam kartu pos. Setiap gambar diberi penjelasan detail terkait isi gambar dan bagaimana kondisi situasi objek ataupun lingkungan di sekitarnya yang ada di gambar tersebut saat ini.

Sejarah terkait mengapa jalur kereta api di Jawa berlawanan dengan jalan raya, ataupun makna kata sepur itu sendiri yang ternyata bukan merujuk ke lokomotif atau gerbong kereta melainkan kata sepur itu sendiri berasal dari kata spoor yang berarti jalur dengan dua rel yang harus dilintasi kendaraan rel.

Dengan membaca buku ini juga membuka cakrawala kita, ternyata transportasi publik semasa Indonesia belum merdeka sudah sangat maju yangmana ada sekitar 5.558 km rel yang pernah dibangun di Jawa saat itu, yang sekarang ini lintasannya banyak yang non aktif.



Begitu pula dengan kenyataan bahwa jaringan kereta api di Jawa itu ternyata lebih dahulu dibangun sebelum Jepang ataupun China membangunnya. Jawa mempunyai jaringan rel yang beroperasi pertama kali pada tahun 1867, sedangkan Jepang baru pada tahun 1872, bahkan China baru memilikinya pada tahun 1876.

Buku ini dikemas dengan kertas lux dengan kesan mewah berisikan 270 halaman yang sangat padat akan informasi.

Wednesday, May 7, 2014

Tips Berburu Tiket Kereta Api Lebaran

Aplikasi KAI di Blackberry Z3 (dok. pribadi)
Berita Ludesnya Tiket Kereta Api Lebaran sejak H-90 ramai diberitakan di tv, media online maupun media cetak tanah air. Begitu antusiasnya masyarakat Indonesia khususnya yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya untuk mudik menggunakan moda kereta api. Harga Tiket lebaran yang naik hampir 100% tidak menyurutkan niat para pemburu tiket untuk bangun tengah malam, berharap menjadi pembeli pertama tiket secara online.

Kabar antrean pembeli tiket di stasiun sudah jarang kita dengar 2 tahun terakhir ini sejak PT KAI menerapkan aturan bisa membeli tiket secara online mulai H-90 sebelum keberangkatan. Tak heran di berita beberapa hari yang lalu tiket lebaran sudah habis, dan para pengantre tiket di stasiun pulang dengan tangan hampa yang memicu kekacauan kecil di beberapa stasiun.

Aplikasi Paditrain di iOS (dok. pribadi)
Kebetulan aku sendiri sementara ini tidak tinggal di Jakarta dan sekitarnya, jadi aku tidak perlu susah-susah nyari tiket kereta lebaran. Namun, ternyata kakakku yang sekarang tinggal di Tangsel memintaku untuk membelikan tiket kereta buat mudik nanti. Rencananya aku mau memesankan tiket untuk keberangkatan tanggal 25 Juli 2014, namun aku lupa aku yang harusnya bangun tengah malam hari Sabtu tanggal 26 April malahan aku baru bangun esok paginya sekitar pukul 6 pagi itupun diingatkan oleh kakakku, jelas saja tiket sudah habis.

Jadwal Mudik pun diundur tanggal 26 Juli. Aku bersiap bangun tengah malam Minggu 27 April. Malahan untuk jaga-jaga aku bangun 1 jam lebih awal. kebetulan aku di Balikpapan dan pastinya tiket untuk H-90 baru dibuka pukul 00.00 WIB atau 01.00 WITA. Tepat pukul 01.00 WITA aku mencoba mengakses situs KAI, hasilnya nol besar. susah terhubung, kalaupun sempat terbuka terputus lagi, keterangan network error. kucoba terus sampai hampir 1,5 jam hasilnya tetap nihil. Jengkel akhirnya kutinggal tidur.

Perburuan tiket berlanjut ke hari berikutnya. Senin Malam 28 April aku 'melekan' lagi. Lagi-lagi situs PT KAI susah diakses. aku kemudian terpikir untuk mencoba mengakses melalui website agen tiket. aku googling ketemulah tiket.com dan menurutku gampang diaksesnya. tidak langsung mulus aku bisa mendapatkan tiket dari tiket.com, putus nyambung - putus nyambung dengan server PT KAI pun terjadi berkali-kali. akhirnya setelah satu jam kucoba terus dan tetep gagal, kutinggal tidur.

source: tiket.com/kereta-api
Keesokan harinya sekitar pukul setengah 6 pagi aku bangun dan mencoba kembali mengakses tiket.com Akhirnya aku berhasil mendapatkan tiket Argo Anggrek pagi untuk keberangkatan tanggal 27 Juli 2014 dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Tawang Semarang, meskipun dengan harga tertinggi yaitu 480rb.

Tibalah konfirmasi pembayaran. ada nbanyak pilihan pembayaran melalui tiket.com, ada mandiri clickpay, bca klikpay, transfer ATM, kartu kredit, cimbclick niaga dan lain-lain. aku pun memilih option mandiri clickpay. Sudah memasukkan nomor kartu debit dan pencet sana sini token mandiri, ternyata gagal pembayaranku karena saldo yang tidak mencukupi, waduh.......

Aku pun menggantinya dengan pembayaran sistem transfer ATM karena hanya diberi waktu oleh tiket.com untuk membayar dalam tempo satu jam setelah konfirmasi pesanan berhasil. Aku mencoba transfer lewat BCA i-banking, namun karena ribet dan tidak user friendly akhirnya kucoba pakai transfer melalui cimbclicks niaga. Berulang kali kucoba gagal terus akhirnya kutinggal mandi. Mandi pun aku jadi terburu-buru sampai tidak ingat lagi kebiasaan 'panggilan alam' karena saking khawatirnya kehabisan waktu. Habis mandi langsung kupegang lagi tablet miniku dan kucoba transfer terus melalui CIMB Niaga. Akhirnya berhasil dan datanglah email konfirmasi dari tiket.com ke emailku berisikan kode booking yang bisa ditukarkan dengan tiket asli atau diprint langsung di Stasiun Gambir.

Mengenai biayanya ternyata yang harus ditambahkan dalam transfer sebesar Rp11.500,-. Jadi total yang kutransfer Rp491.500,- Total biaya termasuk ongkos transfer melalui jaringan ATM bersama jadinya Rp496.500,00. Jika kita membeli tiket di situs KAI akan dikenakan biaya Rp7.500, berarti dalam hal ini selisih sebesar Rp4000,- adalah fee untuk tiket.com.

Homepage Paditrain di iOS (dok. pribadi)
Kejadian yang sedikit berbeda saat tadi malam aku pesan tiket untuk balik tanggal 5 Agustus 2014. Semula membuka situs KAI lancar dan tiket termurah Argo Anggrek pagi seharga 260ribu masih ada. langsung saja ku-booking, kemudian aku mengisi biodata, begitu lanjut tidak bisa connect dengan server KAI, selalu terputus meski kuulang beberapa kali. Aku juga mencoba menggunakan aplikasi mobile PadiTrain yang memungkinkan untuk memesan tiket melalui aplikasi di smartphone. Namun aku berulang kali gagal memilih tanggal keberangkatan, aku pikir ini mungkin ada bug di sistem aplikasinya. aku mencoba membuka tiket.com belum juga berhasil menampilkan jadwal tiket. akhirnya sekitar setengah dua pagi, aku berhasil membuka tiket.com. Di tiket .com tertulis keterangan tiket termurah seharga 260rb sudah habis. aku kemudian mencoba tiket yang setingkat lebih mahal yaitu seharga 300rb, namun berkali-kali gagal. akhirnya aku refresh dan memilih untuk tiket seharga 340rb dan langsung berhasil.
Kali ini aku memilih menggunakan pembayaran melalui mandiri clickpay (kan sudah gajian.... he he...). Biaya tambahan yang harus kubayar untuk kali ini adalah sekitar 17.500, aku kurang tahu rincian biayanya, mungkin 7500 untuk sistem KAI, 3500 untuk fee tiket.com dan sisanya biaya clickpay mandiri, atau entahlah gimana rinciannya yang pasti aku sudah mendapatkan tiket.

Seni berburu tiket secara online, ternyata gampang-gampang susah. Gampang karena nggak perlu lagi ke stasiun, namun ketika diakses melalui internet susah nyambungnya! Tips berburu tiket kereta lebaran adalah menggunakan website agen tiket semacam tiket.com yang mungkin mempunyai akses ke server KAI lebih baik ketika banyak calon pembeli lain yang menyerbu situs KAI. Tidak masalah nambah sedikit biaya fee, yang penting bisa berkumpul dengan keluarga tercinta di kampung halaman saat lebaran.

Selamat Berburu Tiket untuk momen-momen selanjutnya!

Sunday, January 26, 2014

Suka Duka Naik Kereta Gajayana (Liburan Akhir Tahun Part 2)

Kurang lebih jam 7 malam, Gajayana datang dari arah selatan Stasiun Kediri. Aku pun sudah tak sabar menaikinya untuk bertemu anakku yang pastinya tambah besar (tentunya kangen ibunya juga, he he....). Begitu kereta berhenti, aku langsung naik ke gerbong 2 dan kucari-cari anak dan istriku. Dari kejauhan di deretan bangku belakang, kulihat lambaian istriku dan anakku yang sedang berdiri di kursi.

Langsung kuciumi anakku yang sudah tidak kutemui 2 bulan lamanya. Manggala bertambah besar, tambah putih kulitnya, dan berbinar-binar matanya. "Emmmuahh-emmmuah.....!", kuciumi pipinya yang tembem kayak bakpao.

Manggala sangat aktif sekali. Dia tidak betah duduk diam ataupun berdiri di kursi. Dia selalu ingin jalan-jalan di lorong kereta. Ketika bertemu dengan anak-anak lain seumurannya di gerbong, dia pun mengajak bersalaman dan ingin bermain bersama kenalan barunya itu. Aku sempat kewalahan menuntunnya mondar-mandir di lorong.

Goyangan kereta yang cukup kencang tak cukup menggoyahkannya untuk kembali duduk di kursi. Dia malah semakin senang jika kereta bergerak dan bergoyang kencang. Aku tak begitu lama menuntunnya mondar-mandir di lorong, karena ia ingin ditemani ibunya. Mungkin dia masih menganggapku orang asing dan kurang nyaman denganku.

Sampai sekitar jam 12 malam Istriku menemaninya mondar-mandir di gerbong. Manggala tidak mau dipegangin tanggannya, dia inginnya berjalan sendiri, jadinya istriku hanya memegangi bagian jaket yang dikenakan manggala di bagian tengkuknya.

Saat dia bermain botol minuman yang masih ada isinya, tiba-tiba botolnya jatuh mengenai punggung telapak kakinya, dia pun menangis. Langsung saja istriku sigap memberinya ASI dan akhirnya Manggala pun tertidur. Memang sangat sulit menidurkan Manggala, terlebih di kereta api yang sempit bangkunya untuk tidur, padahal ia terbiasa tidur di dipan yang lumayan lebar sehingga dia bebas guling-guling kesana kemari.

Sekitar pukul 6 pagi kurang kami pun sampai di Stasiun Jatinegara. Kami naik taksi menuju rumah kami di Grand Serpong 2, Tangerang Selatan melalui Tol Jagorawi yang nyambung dengan Tol JORR. Keluar dari Pintu Tol Bintaro Sektor 7, jalanannya sudah berubah signifikan sejak 6 bulan yang lalu, terakhir aku di Jakarta. Ada Mall Baru yang gede banget namanya Bintaro Jaya Xchange. Ada underpass baru, ada jalan-jalan baru yang mengelilingi mall. Sebenarnya rumahku lebih dekat dengan pintu Tol BSD namun karena Jalan Ciater di mulut pintu tol sedang diperlebar, dengan kemungkinan kemacetan yang tinggi, jadinya kami keluar di Pintu Tol Bintaro Sektor 7. Melalui Jalan Tegal Rotan, Jalan Merpati Raya, Jalan Aria Putra, dan Jalan Sarua Raya, akhirnya Jam 7 kurang kami pun sampai di rumah.

9 hari kami berada di Tangerang Selatan. Hujan dan mendung sebagian besar menyelimuti Jabodetabek kala itu. Manggala pun hanya sempat kuajak jalan-jalan di pusat perbelanjaan dan Kebun Binatang Ragunan.

Sabtu, 28 Desember 2013 kami pun pulang ke Tulungagung dengan kereta Gajayana lagi. Perjalanan kali ini tidak selancar sebelumnya. Gerbong kereta eksekutif 1 yang kami tumpangi terpaksa harus diganti di Stasiun Purwokerto karena mengalami kerusakan. Waktu saat itu menunjukkan pukul 12 malam. Petugas memerintahkan untuk seluruh penumpang di Gerbong 1 untuk turun dan membawa semua bagasinya."Sial, tengah malam kayak gini disuruh turun ganti kereta, mana bagasi banyak sekali, parahnya lagi si Manggala sedang tidur nyenyak, huh... Kayak angkot saja dioper-oper, nggak profesional nih KAI", umpatku dalam hati.

Kami pun turun dengan barang bawaan yang cukup banyak. Manggala akhirnya terbangun, jadinya istriku kerepotan lagi menenangkannya. Sekitar sejam kami berhenti di Stasiun Purwokerto untuk menunggu penggantian Gerbong. Akhirnya Manggala pun bisa tidur kembali sekitar pukul setengah dua malam. Gerbong pengganti kualitasnya ternyata lebih buruk daripada sebelumnya. Gerbongnya agak tua, kursinya goyang-goyang tidak stabil, kalau pantat ini goyang, kursinya pun ikut goyang (oglek-oglek). Bagasi kabin di atas juga tidak tertutup layaknya gerbong Gajayana sebelumnya yang sudah seperti bagasi pesawat.

Kami tiba di Tulungagung keesokan harinya sekitar pukul 9 pagi, terlambat lebih dari 2 jam. Dan kami akhiri perjalanan kami di stasiun Tulungagung dengan menyantap nasi Soto Ayam langgananku di kompkes Parkiran seberang stasiun Tulungagung.

Thursday, June 12, 2008

Profesi di Lorong Gerbong Kereta

Selama perjalanan dari Jogja ke Jakarta dengan KA Fajar Utama aku mengamati ada 6 pekerjaan informal yang berlangsung dalam lorong sempit gerbong kereta.

1. Pedagang Asongan
Profesi inilah yang paling banyak berkeliaran di lorong kereta api bisnis ataupun ekonomi. Mulai penjual minuman, rokok, makanan, mainan, buku, alat masak sampai dengan penjaja voucher isi ulang seluler. Tak jemu-jemunya mereka menawarkan berbagai dagangan dengan sabar. Namun tak urung ada sebagian yang sedikit memaksa ataupun mengganggu penumpang yang sedang tidur. Walaupun dianggap sebagian orang menganggu, namun para penjaja ilegal itu juga memberikan solusi alternatif yang bervariasi bagi para penumpang yang merasa lapar, atau sedang butuh barang-barang yang mereka jajakan.

2. Pengamen
Pengamen di kereta api tidak sebanyak jumlahnya dengan profesi sejenis di bus. Jumlah mereka juga kalah signifikan dengan pedagang asongan di kereta. Namun ada satu pengamen yang unik karena serpertinya aku sudah pernah melihatnya di bus jurusan kebumen-jogja 2 tahun silam sewaktu aku KKN di Kebumen. Pengamen itu adalah pengamen waria yang senang menyanyika lagu wer ewer ewer ......yang terdengar lucu di telinga. Pengamen itu juga kulihat mengamen jam 4 pagi saat perjalananku naik Kereta Senja Utama Jogja dari Stasiun Pasar Senen sampai di kawasan wates Jogjakarta.

3. Pengemis
Pengemis yang kujumpai dalam kereta api juga relatif sedikit. Mungkin mereka kalah saingan dengan penjual asongan.

4. Tukang pembersih lantai
biasanya profesi ini digeluti oleh anak-anak yang membawa sapu untuk menyapu sampah bagian bawah bangku dan meminta imbalan sukarela dari penumpang.

5. Tukang semprot pewangi
mereka biasanya beraksi dengan menyemprotkan spray pewangi ruangan di kolong bangku penumpang dan mereka meminta imbalan sukarela dari penumpang. Namun serigkali bukan bau wangi yang ditimbulkannya melainkan bau menyengat yang bikin perut mual dan kepala pening.

6. Peminta Sumbangan
kebetulan yang kujumpai saat itu adalah orang yang meminta sumbangan untuk pembangunan pondok pesantren.

Profesi lainnya yang kujumpai sepanjang perjalanan adalah pengemis kecil. Mereka itu adalah anak-anak kecil yang meminta-minta uang dari balik jendela kereta saat kereta berhenti di stasiun. Mereka terlihat di Kawasan Stasiun kecil di Ketanggungan.





Wisata Kuliner di Kereta Api

Ada fenomena unik yang kuamati sepanjang perjalananku naik kereta api Fajar Utama dari Jogja ke Jakarta. Membayangkan saja perjalanan kereta api bisnis itu yang bisa mencapai 8 jam lebih membuatku nggak nyaman dengan perjalanan itu. Belum lagi penjual asongan yang memenuhi lorong kereta silih berganti. Namun ada yang unik dari perjalananan hari Senin, 9 Juni 2008 itu.

Kereta api berangkat pukul 8.00 tepat, semua penumpang sudah duduk dibangku masing-masing. Kebetulan dalam gerbong yang kunaiki terdapat sekelompok remaja yang duduk di depan bangkuku. Jumlahnya sekitar 5 orang lebih. Tampaknya mereka usai berlibur di Jogja, terlihat dari bawaan mereka yang dipenuhi souvenir-souvenir. Menariknya yang kulihat dari kelompok ini adalah mereka merasa sangat enjoy naik KA bisnis itu. Di sepanjang perjalanan, tak habis-habisnya mereka makan, dari bekal mereka sampai yang dibeli dari penjaja makanan di kereta. Sampai tak terhitung barang apa saja yang mereka beli dalam kereta itu.

Pecel pincukan yang dijajakan penjual wanita separuh baya berkacamata dengan gincu merah merona di bibirnya mereka lahap habis. Si penjual pun tak kalah berpromosi sambil menyajikan lontong pecel racikannya di lorong sempit kereta. "pecelnya ini bersih terjamin kok Mas, pasti enak banget, pakai bakwan cuma 4000",katanya. Sempat juga lidah ini tergiur karena melihat remaja-remaja itu dengan lahap menyantapnya. Lalu lalang penjual asongan lainnya di lorong kereta itu, tak menyurutkan si penjual untuk melayani "kliennya". Dalam sekejap pun onggokan sampah daun pembungkus lontong teronggok di bawah bangku kereta, padahal awalnya si penjual menyelipkan sampah pembungkus itu di bakulnya dan membuatku terkesan, tapi eh ternyata.....!

Tak puas dengan pecel kelompok remaja itu juga memborong barang dagangan penjual asongan lainnya, mulai dari jeruk, rujak sampai batik pekalongan.....!" Wah ini mudik atau wisata belanja kereta" pikirku. Aku tak habis pikir kelompok remaja yang semua laki-laki itu bisa sedemikian menikmatinya perjalanan di kereta yang sangat membosankan itu, aku sempat iri melihatnya. Badan mereka yang bongsor-bongsor cenderung obesitas, nunjukkin kalau mereka memang doyan makan banget.....! Andai saja semua penumpang kereta kayak mereka, pastilah semua penjual asongan bakal ketiban rejeki nomplok!