Showing posts with label Garuda Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Garuda Indonesia. Show all posts

Thursday, August 8, 2019

Asik Gratis Lounge dengan Kartu Kredit BNI Garuda Visa Platinum

Dulu setelah mendapat akses gratis Lounge bertahun-tahun dengan Kartu Kredit SKYZ Mandiri, kemudian pakai Kartu BNI JCB Platinum, dan yang terbaru sekarang ini saya memakai Kartu Kredit BNI Visa Platinum yang bekerja sama dengan Garuda Indonesia.

Lumayan banyak lounge yang bisa diakses dengan kartu ini, diantaranya adalah:

  1. Concordia Lounge Terminal 2 Bandara Juanda Surabaya
  2. Concordia Lounge Terminal A Bandara Adi Sucipto Yogyakarta
  3. Concordia Lounge Terminal Bandara Ahmad Yani Semarang
  4. Concordia Lounge Terminal Domestik Bandara Ngurah Rai Denpasar
  5. Concordia Lounge Terminal Domestik Bandara Sultan Hasanudin Makasar
  6. Concordia Lounge Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin
  7. Blue Sky Lounge Bandara Sepinggan Balikpapan
  8. Saphire Blue Sky Lounge Bandara Kualanamu Medan
  9. Saphire Lounge Terminal 3 Domestik Bandara Sukarno Hatta Jakarta
  10. Minangkabau Lounge Bandara Minangkabau padang
  11. Lembayung Lounge Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru
  12. Sentani Lounge Bandara Sentani Jayapura
  13. Juwata Lounge Bandara Juwata Tarakan
Sebenarnya aku tidak mengajukan secara langsung untuk apply kartu kredit BNI co branding garuda, tapi mungkin karena track record-ku dalam bertransaksi menggunakan kartu BNI JCB lumayan bagus maka aku ditawari untuk apply. Sebenarnya aku tidak mau menambah kartu baru lagi, lha wong kartu BNI JCB Platinumku saat itu kan udah gratis lounge di beberapa terminal bandara domestik, tapi setelah kupikir-pikir nggak ada salahnya aku apply toh setahun gratis iuran tahunan dan untuk tahun selanjutnya tinggal menghubungi CS-nya untuk dihapus iuran tahunannya. 

Ternyata kartu kredit BNI Garuda ini lebih 'ampuh' dalam masuk lounge daripada kartu sebelumnya, dalam artian lebih banyak lounge yang bisa diakses gratis dengan kartu ini. Selain itu setiap pembelanjaan kelipatan tertentu akan mendapatkan miles garuda, yang nanti bisa kukonversi menjadi tiket garuda kalau sudah mencapai nominal tertentu.

Saran saya kalau ambil kartu kredit yang bebas iuran tahunan dan syukur-syukur bisa memberikan fasilitas tambahan semacam free lounge yang ditawarkan kartu kredit BNI Visa Platinum co branding Garuda ini. Lumayan kan ke bandara nggak usah nyari restoran buat ngisi perut atau sekedar nongkrong nunggu boarding pesawat, haha.....!

Friday, March 27, 2015

Perjalanan Ke Pontianak (Part 1)

Semalam aku cuma tidur kurang lebih empat jam. Kusetel alarm HP pukul 04.24 agar aku bisa melanjutkan packing yang rasanya kok nggak kelar-kelar juga. Akhirnya jam setengah enam pagi selesai sudah packingku dengan satu kardus besar berisikan berbagai macam barnag, satu koper berisikan full pakaian, 3 buah tas punggung berisikan 2 laptop dan entah barang-barang apa lagi yang membuat seluruh tasku overcapacity.

Setengah 7 pagi saatnya kumeninggalkan kos Hj. Lilis di MT Haryono Dalam yang telah menaungiku selama 2,5 tahun di Balikpapan. Kebetulan aku diantar Mas Totok Satpam Kantor dan ditemani teman kosku si Rahmat ke Bandara Sepinggan.

Sesampainya di Bandara, kulangsung Check In, dan tibalah saat menimbang bagasi.

"Mas, ini over 26 kg ya!", ujar si mbak petugas di counter check in

"Per kilonya berapa mbak?", sahutku.

"Ke Pontianak sekilonya ke charge Rp38ribu. Memang paling mahal Pontianak Mas, ke Jakarta aja cuma Rp33rb.", ujar mbaknya santai.

"Hah, gila tau gitu kuposkan aja bagasi ini. masak hampir 1juta sendiri bayar bagasi, masak hampir sama dengan harga tiketnya!", ujarku dalam hati.

"Gini aja mas, mas saya bantu 600 ribu di sini.", kata si mbak yang membuatku tambah bingung.

"Lha terus sisanya saya harus bayar kemana?, tanyaku balik setengah kebingungan.

"Maksud saya, mas cuma bayar 600rb saja."

"Oh gitu.....nggak ada diskon lagi nih?", pintaku sambil memendam rasa penasaran.

Langsung saja kubayar tunai 600 ribu di tempat, dan si mbak menyuruhku meninggalkan bagasiku yang kardus gede di situ aja, padahal sebelumnya si mbak menyuruhku membawa bagasi kardus ke x-ray khusus bagasi kardus.

Aku masih penasaran, kenapa kok bisa ada diskon over bagasi, dan prasangka burukku pun mulai bekerja! jangan-jangan...... Ah entahlah, yang penting aku nggak perlu repot-repot membawa kardus segede gaban itu sendiri!

Buru-buru kumenuju pintu pemeriksaan, dan masih kubawa tas punggung dua buah, tas kamera, dan tas kecil lainnya. Ku langsung menuju Blue Sky untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan..... Jam delapan kumeninggalkan lounge menuju ke ruang tunggu. Betapa terkejutnya aku, ternyata sesamainya di Gate 4, boarding yang seharusnya jam 08.10 ditunda, dan diinformasikan pesawat akan diberangkatkan jam 09.20! Buset dah, delay 50 menit. padahal penerbangan pagi, kok ada delay segala, mungkin masalah teknis mesin. Kami pun diberikan snack dari pihak maskapai. "Huh Garuda kok ikut-ikutan delay!", gerutuku dalam hati.

Kurang dari jam sepuluh pesawat pun diberangkatkan. Ternyata pesawat yang digunakan adalah ATR 200! Oh no....pakai pesawat baling-baling bambu! pantesan jadwalnya lama banget, pakai ATR to!  jadi rute pesawat ini memang untuk menghubungkan kota-kota di Kalimantan. Dari Balikpapan, ke Palangkaraya, kemudian ke Pontianak, dan lanjut ke Puttusibau pedalaman Kalimantan Barat.

Aku duduk dibangku paling depan di kursi nomor 21K dekat jendela sebelah kanan dan pas di pintu darurat. Lumayan lega pastinya, dan sepanjang perjalanan pun kumanfaatkan untuk motret sana sini plus mengambil video pemandangan saat landing dan take off dari pesawat.

Kurang dari satu jam perjalanan, pesawat pun mendarat di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya dan berhenti sekitar 20 menit untuk menaik turunkan penumpang dan bagasi. Aku pun tetap berdiam di dalam pesawat. Saat perjalanan dari Baliaakpapan ke Palangkaraya tempat duduk di sebelahku kosong jadi aku lebih bisa leluasa, namun setelah dari Palangkaraya tempat duduk sebelahku terisi oleh Bapak-Bapak berwajah oriental.

Selama di pesawat yang sedemikian lamanya perjalanan melebihi lama penerbangan Balikpapan-Jakarta, penumpang hanya diberi dua kali snak saja, nggak ada makanan berat. Saat dari Balikpapan - Palangkaraya hanya diberi snack berisikan risoles daging, roti kacang, dan aqua gelas mini. Hampir sama, rute Pangkaraya-Pontianak yang ditempuh selama 1 jam 20 menit hanya mendapatkan snack berupa arem-arem, roti, dan aqua botol kecil, plus minuman yang bisa kita request mau jus, kopi, teh, soda, ataupun susu.

Sekitar pukul setengah 12 WIB kami pun mendarat di Bandara Supadio Pontianak. Aku di jemput sama temanku satu angkatanku Bang Yudha dan driver kantor Mas Barqie. 

I'm Coming Pontianak!!!...... (bersambung)

Note: Artikel ini kutulis di kos baruku di dekat kantor menjelang tengah malam.


Tuesday, March 17, 2015

Pengalaman Kelebihan Bagasi Garuda Indonesia

Salah satu hal yang menjengkelkan dari pindah tempat tugas adalah memindah barang-barang dari tempat tinggal lama ke tempat baru. Nah, Bulan Maret ini aku mendapat kabar yang sempat membuatku galau karena nggak sesuai prediksiku yang 'harusnya' pindah ke Jakarta, ternyata pindahnya masih dalam satu pulau, sekarang di Timur Bulan depan di Barat, alias sekarang masih di Balikpapan, Bulan depan pindah ke Pontianak, arghhh.......!

Tapi dinikmati saja lah, toh mumpung aku masih muda, biar banyak pengalaman. Nah, kembali lagi soal mindah-mindahin barang. Untungnya aku nggak bawa keluarga di Balikpapan jadinya barang-barang pribadiku sendiri yang kubawa pindah. Ya, besok pagi ada pelantikan di Jakarta, kemarin malam aku terbang ke Jakarta sekalian membawa sebagian barangku mau kutaruh di rumah Tangerang Selatan. Nah, berhubung kartu GFF-ku yang selama 3 tahun terakhir ini berwarna Silver yang dalam hal ini dapat tambahan bagasi 5 kg menjadi 25 kg, per Maret ini kartu GFF-ku downgrade berubah jadi biru, soalnya selama setahun kemarin aku hanya sembilan kali terbang dengan Garuda Indonesia di bawah batas minimum sepuluh kali terbang jika ingin tetap Silver kartunya.

OK, saatnya menimbang bagasi. Kebetulan kemarin aku membawa TV 19 inch, Tas rangsel kecil, Tas  rangsel besar (tas gunung), dan kardus dengan dimensi sekitar (35x35x35)cm. Yang kubawa ke kabin ya tas rangsel kecil plus TV yang kukemas dalam kardusnya. Praktis yang jumbo-jumbo nggak bisa kubawa ke kabin dan harus di bagasi. di timbangan ternyata berat keduanya 23,8 kg. Oh no..... melebihi batas maksimal 20 kg untuk penumpang ekonomi atau pemegang GFF Biru. "Wah bisa kena charge biaya lagi nih!", pikirku saat itu.

Ternyata di luar dugaanku, si mbaknya nggak mengenakan charge untuk kelebihan bagasiku. Aku jadi ingat kejadian sekitar 10 tahun yang lalu ketika aku di Aceh membawa bagasi yang overload dengan pesawat Lion dan tidak dikenakan charge. Mungkin petugasnya saat itu kasihan dengan wajahku yang memelas dengan tubuh yang masih cungkring kala itu, apalagi saat itu aku memang sudah hampir kehabisan uang saku, hix!

Ah, Lega rasanya nggak jadi tambah bayar kelebihan bagasi. Diberilah aku dua tanda semacam karcis yang menunjukkan nomor bagasi yang ditempel ke boardingpass-ku. Ini yang namanya pelayanan dalam tingkat surprise dalam tangga kepuasan konsumen. o iya ternyata di sepinggan, untuk bagasi yang bentuknya kardus harus melewati x-ray tersendiri, aku belum tahu alasannya, kenapa yang tas nggak ya..???

Sesampainya di Cengkareng, usai membuang 'panggilan alam' langsung kumenuju conveyor belt untuk penerbangan GA 575 dari Balikpapan.Ternyata barang-barangku termasuk kloter pertama yang diturunkan. Kubawa ke troli sambil menuju keluar untuk mencari taksi. Tapi ada yang aneh, kok ini dari petugas Garuda kok nggak ada yang ngecek 'karcis' bagasi penumpangnya ya.... Sampai aku clingak-clinguk sepanjak jalan keluar, dan tak satupun petugas yang menghampiriku, padahal sudah kusiapkan 'karcis' bagasiku.

Wah nggak bener nih, bisa-bisa bagasi diambil bukan pemiliknya, wah ini koreksi besar untuk manajemen Garuda!

Monday, November 24, 2014

Pengalaman Mengesankan Bersama Garuda Indonesia

"Kamu mudik naik Apa?", tanya si A kepada si B

Si B pun dengan mantap menjawab, "Naik Garuda dong....!"

Percakapan seperti itu seringkali kita dengar baik antara kita dengan teman, antar kolega kita, bahkan dalam keluarga besar kita sendiri. Aku pun sering menjadi seperti si B, setidaknya naik Garuda Indonesia seolah-olah statusku ikutan naik kelas, ha ha.....

Sumber: emarketing@email.edm-garuda-indonesia.com

Tidak hanya kesan eksklusif, melainkan juga rasa nyaman, aman dan on time itulah yang sudah menjadi mind set kita saat mendengar kata Garuda Indonesia. Pelayanan yang ramah oleh pramugari-pramugari cantik merupakan competitive advantage yang sering ditonjolkan oleh Garuda Indonesia. Wajar saja kalau Garuda Indonesia diganjar menjadi The World's Best Airline Cabin Crew Tahun 2014 versi Skytrax mengalahkan Cathay Pasific dan Singapore Airlines di peringkat kedua dan ketiga.

Garuda Frequent Flyer Saya (dok. pribadi)
Ngomong-ngomong soal pengalaman dengan Garuda Indonesia, aku sudah lebih dari lima tahun ini mondar-mandir naik Garuda Indonesia. Sudah nggak kehitung berapa kali, yang pasti aku belum pernah setahun lebih dari 30 kali, soalnya kelihatan dari kartu Garuda Frequent Flyer-ku yang warna masih setia Silver belum berubah jadi Gold, hehe....

Ketika aku memutuskan untuk membeli tiket pesawat pastinya pertimbangan nomor satu adalah faktor keamanannya. Untuk yang satu ini aku sangat percaya dengan Garuda Indonesia dimana GMF Aero Asia yang sangat berkompeten untuk melayani jasa perawatan pesawat terbang dengan standar yang tinggi menjadi salah satu anak perusahaannya. Pastinya kita nggak mau dong pakai pesawat dengan ban vulkanisir ataupun kita dengar di berita bahwa ada pesawat maskapai lokal yang bagian kecil sayapnya jatuh di perkampungan penduduk, Oh amit-amit, jangan sampai itu terjadi dengan Garuda Indonesia.

Pertimbangan Kedua adalah harga tiket. Harga tiket penerbangan saat ini tidak jauh berbeda antara maskapai yang satu dengan yang lainnya. Garuda Indonesia sebagai Maskapai Terbaik Indonesia selama ini mempunyai kesan maskapai eksklusif dengan harga tiket yang terkenal mahal. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar, penawaran Tiket Pesawat Murah oleh Garuda Indonesia sering diadakan. Misalnya di Event Garuda Indonesia Travel Fair yang biasa digelar di Kota-kota besar Indonesia seperti yang kemarin baru digelar adalah Garuda Indonesia Travel Fair di Samarinda yang menawarkan berbagai promo diskon menarik, cashback ataupun cicilan 0% menggunakan kartu kredit Bank Mandiri dan berbagai promo menarik lainnya. Bahkan jika kita berlangganan e-mail penawaran promo dari Garuda kita sering dikirimi email pemberitahuan jika ada tiket promo, diskon, harga early bird ataupun event-event travel fair dimana banyak diskon tiket Garuda Indonesia untuk berbagai tujuan di Tanah Air maupun Mancanegara.
Iklan Garuda Indonesia Travel Fair di Samarinda (sumber: emarketing@email.edm-garuda-indonesia.com)

Aku seringkali mendapat tiket murah untuk Garuda Indonesia, bahkan lebih murah dari tiket maskapai penerbangan dalam negeri lainnya,  ekstremnya lagi malah GRATIS! Khusus tiket gratis itu, karena aku menukarkan sejumlah poin dari Garuda Frequent Flyer (GFF) dengan tiket Garuda Indonesia. Ketika itu aku menukarkannya di Kantor Perwakilan Garuda Balikpapan dengan tiket jurusan Balikpapan-Surabaya untuk penerbangan pas liburan panjang akhir Mei yang lalu. Lumayan, pas kantong cekak, pas ada tiket gratisan....... Nah untuk tiket pulangnya dari Surabaya ke Balikpapan saat itu aku mendapatkan harga promo plus tambahan diskon 10% karena aku melakukan transaksi dengan Kartu Kredit Mandiri SKYZ. Sudah dapat harga promo, dapat diskon tambahan pula... Oh senangnya.... 

Promo Beli 2, Harga Lebih Hemat (Sumber: www.garuda-indonesia.com)
Lebih nyamannya lagi saat saya menukarkan poin dengan tiket, mbak-mbak customer service di Kantor Perwakilan Garuda Balikpapan melayani dengan sabar dan ramah meskipun saya termasuk pelanggan yang banyak tanya sana sini alias cerewet. Yang membuatku senang lagi, ternyata si mbaknya secara proaktif memberikan informasi promo-promo terbaru dari Garuda yang kebetulan saat itu ada diskon untuk transaksi menggunakan kartu kredit Mandiri. Aku yang tidak tahu promo itu, jelas merasa diuntungkan. Si Mbak bisa saja cuek tidak memberikan info promo terbaru dan aku membayar dengan harga normal, namun hal itu tidak terjadi. Ternyata tidak hanya prima pelayanannya di udara, melainkan di darat pun tak kalah prima.

Yang kusuka setiap perjalananku dengan Garuda adalah:

Pertama
Hampir seluruh penerbanganku dengan Garuda Indonesia, proses check in kulakukan melalui web check in. Selain bisa mencetak boarding pass sendiri, kita tidak perlu antre di check in counter bandara, dan tidak perlu terburu-buru ke bandara. Dengan web check in kita juga bisa memilih kursi sendiri, mau di dekat jendela ataupun di lorong. Praktis banget!

Kedua
On Time! Maskapai Terbaik Indonesia ini sudah lekat dalam ingatan masyarakat tentang ketepatan waktunya. Citra suatu maskapai yang paling utama ditentukan oleh ketepatan waktunya, apalagi buat penumpang dengan tipe sepertiku yang sangat tidak sabar jika disuruh menunggu boarding apalagi sampai delay berjam-jam.

Ketiga
Cover Majalah Colours Edisi Maret 2014
(sumber: www.garuda-indonesia.com)
Layanan Kabinnya sangat memuaskan. Pertama kali kita masuk di pintu pesawat sudah tersedia beberapa jenis koran lokal maupun nasional yang bisa kita ambil untuk bacaan selama perjalanan. Sesampainya di tempat duduk, kita juga disuguhi majalah bulanan Colours Garuda yang menyajikan eksotisme alam Indonesia dan liputan perjalanan di tempat-tempat wisata dunia.

Dengan ruang kaki yang lebih lebar dari rata-rata maskapai nasional, menjadikan duduk dalam waktu berjam-jam masih tetap nyaman. Untuk rute jarak menengah seperti Balikpapan - Jakarta yang sering kujalani, Garuda menyajikan menu makan besar. Menunya sendiri terdiri dari dua jenis berbeda. Misalnya Nasi Daging atau Pasta Ikan, Nasi Ikan atau Pasta Ayam, dan banyak lagi menu variasi lainnya. Semuanya disajikan dalam kondisi hangat, yang menurutku tetap terasa lezat, padahal berdasarkan penelitian indra perasa manusia kurang peka terhadap rasa makanan saat dalam penerbangan di ketinggian ribuan meter dari permukaan tanah. Dengan kata lain, kualitas dan citarasa makanan yang disajikan Garuda mempunyai standar yang tinggi sehingga dapat mengantisipasi permasalahan tersebut. Menurut salah satu teman kantorku yang paling membuatnya berkesan terbang dengan Garuda adalah makanannya, dia pernah berkata,"Makanan di Garuda itu meskipun porsinya sedikit tapi Ueeenak Tenan yo Mas,.......!",  jelas aku sependapat dengannya. Selain itu, di dalam kotak makanan yang dibagikan ada menu dessert-nya juga, biasanya berupa roti lembut, atau dulu pernah juga kujumpai berupa es krim ataupun potongan buah segar. Komplit lah....

Untuk minumannya tersedia mulai dari air mineral, minuman bersoda, teh dan kopi hangat, susu, jus apel, jeruk, dan jambu biji.


"Mau minum apa Pak?", dengan ramah si Pramugari menyapaku.

"Jambu pakai es ya...", pintaku dengan otomatis karena aku jarang memesan minuman jenis lain selain jus jambu biji dingin.

Ketika sudah selesai makan pun, Mbak-mbak pramugari seringkali menawari, "Mau nambah minum Pak?"

"Terima Kasih, sudah cukup.", balasku. 
Sebenarnya dalam hati aku pengen nambah, tapi berhubung aku termasuk orang yang gampang kebelet buang air kecil, aku pun membatasi asupan minumanku.

Rute-Rute Baru Garuda di Kalimantan (sumber: emarketing@email.edm-garuda-indonesia.com)
Berbeda dengan rute jarak menengah ataupun jauh yang pasti mendapatkan jatah makan besar, untuk rute pendek yang kira-kira satu jam-an waktu tempuhnya, semisal rute Balikpapan-Surabaya, atau Surabaya-Jakarta yang sering kunaiki tidak diberikan makan besar melainkan snack dan minuman, mengingat penyajian makanan berat yang tidak memungkinkan jika penerbangan hanya berkisar satu jam-an. Tapi hal itu nggak masalah bagiku.

Berikutnya adalah entertainment flight. Naik Garuda Indonesia sekarang nggak perlu takut mati gaya sekalipun di kelas ekonomi. Kita dengan mudah menikmati hiburan dari layar LCD di depan kursi kita masing-masing yang berisikan berbagai macam tayangan, mulai dari film-film Box Office, film terkini, film-film Jepang, Korea, Cina, ataupun film-film lokal. Tayangan komedi sampai dengan liputan daerah-daerah wisata ada semuanya di layar sentuh yang kira-kira selebar 8 inch. Perjalanan yang membosankan selama kira-kira 2 jam dari Balikpapan ke Jakarta pun tidak terasa, tahu-tahu pramugari mengumumkan kalau pesawat sudah siap mendarat.

Entertainment Flight di Kelas Ekonomi Garuda Indonesia (Sumber: www.garuda-indonesia.com)

Sepanjang perjalanan, aku jarang tidur di kabin. Selain membaca majalah ataupun nonton film, aku punya hobi mengamati gerak-gerik sang pramugari. Bukan karena mataku yang hobi jelalatan, tapi ingin membuktikan kalau keramahan dan pelayanan pramugari Garuda Indonesia memang jawaranya di dunia penerbangan. Ternyata dugaannku sama dengan kebanyakan orang yang biasa menggunakan jasa Garuda Indonesia untuk perjalanannya. Dimulai dari senyum ramah mengembang ketika penumpang memasuki pintu pesawat, gesit membantu penumpang yang kesulitan menaikkan tasnya di bagasi kabin, dan tanggap dengan memberikan mainan kepada penumpang anak-anak ataupun selimut kepada ibu-ibu yang kedinginan.  Ketika menyajikan makanan pun sekiranya ada penumpang yang tertidur, mbak pramugari berusaha membangunkan dengan suara yang halus, kalau pun terpaksa si penumpang tidak bangun maka meja kecil di sandaran kursi di depan si penumpang dibukakan dan diletakkannya makanannya di situ. Dalam menyajikan makanan dan minuman, para pramugari tersebut lumayan cepat dalam menyajikan, sehingga penumpang tidak terlalu lama untuk menunggu. Dan yang menarik dari pramugari Garuda Indonesia adalah pakaiannya yang elegan dan bernuansa Indonesia banget. Rambut mereka pun ditata dengan disanggul modern simpel sehingga uraian rambut mereka tidak mengganggu dalam menyajikan makanan dan meminimalisir potensi rambut mengenai wajah penumpang.

Senyum Ramah Pramugari Garuda Indonesia (Sumber: www.garuda-indonesia.com)
Pengalaman saya yang sangat berkesan dengan pelayanan Pramugari Garuda Indonesia adalah ketika saya dari Jakarta menuju Balikpapan membawa TV LED 19 inch yang saya bawa masuk ke kabin. Ada kekhawatiran saya, "Jangan-jangan TV ini tidak diperbolehkan masuk kabin. Jangan-jangan TV ini nanti tergencet dengan barang-barang penumpang lain di bagasi kabin..." Ternyata segala kekhawatiranku itu hilang seketika, saat tiba-tiba seorang Pramugari menyapaku,

"Maaf pak, barang yang dibawa itu monitor ya?"

"Iya betul Mbak!', jawabku lugas

Langsung saja saya masukkan ke bagasi kabin, dan si mbak pramugari dengan sigap langsung menutup bagasi itu yang di dalamnya hanya ada TV dan tas bawaanku saja, sehingga tidak tergencet dengan barang-bawaan penumpang lainnya. Aku merasa terkejut  dan tentunya sangat puas saat itu. Ternyata sang pramugari juga peduli dengan barang bawaan penumpangnya. Ini salah satu bukti bahwa Garuda Indonesia telah menerapkan service excellent dengan sangat baik, tidak sekedar keramahan ataupun pelayanan  standar yang bisa diprediksi melainkan sudah sampai tahap surprising bahkan unbelievable (tahapan tertinggi dalam tangga kepuasan konsumen), yang mana si pelanggan merasa terkejut dan tidak pernah membayangkan sebelumnya mendapatkan pelayanan  sebaik  itu. Wow!

Garuda Indonesia, dengan pencapaianmu kini dan pelayananmu yang senantiasa prima, aku yakin tahun depan kamu bisa jadi The World's Best Airline.

Sumber Gambar:
1. Foto Dokumentasi Pribadi
2. www.garuda-indonesia.com
3. E-mail dari Marketing Garuda Indonesia (emarketing@email.edm-garuda-indonesia.com)


Tuesday, June 3, 2014

Terminal 2 Bandara Juanda Surabaya

Landing di Juanda Jumat malam itu terasa lebih mulus tidak seperti penerbanganku dengan CRJ 1000 sebelumnya yang limbung bikin sport jantung. Namun sesaat setelah landing, pesawat bukannya belok ke kiri menuju apron seperti biasanya melainkan berbelok ke arah kanan. Pikirku semula jangan-jangan si pilot lupa kalau terminalnya berada di sisi utara landas pacu.

Beberapa saat kemudian dari jendela pesawat terlihat beberapa pesawat komersial yang parkir di apron selatan landas pacu. Begitu turun dari pesawat barulah nampak sebuah bangunan terminal yang tampaknya baru, itulah terminal 2 Bandara Juanda dengan bangunan moderen yang berdiri di bekas terminal lama bandara Juanda.

Begitu masuk di terminal baru, timbul kekhawatiran tidak ada fasilitas Bus Damri Bandara, namun hal itu terbukti hanya kekhawatiran yang tak beralasan. Aku pun naik Damri menuju Terminal Bungurasih. Di terminal baru itu sudah nampak ramai dengan tenant-tenant terutama food and beverage, dengan counter Roti 'O' yang tentunya ada di terminal baru ini.

Seminggu lebih setelah liburanku di Tulungagung, Jawa Timur dan Pati, Jawa Tengah aku harus kembali lagi ke Balikpapan tanggal 1 Juni Kemarin. Kali ini aku kembali menggunakan Garuda yang sudah pasti memakai Bombardier CRJ 1000 untuk rute SBY - BPN. Sesampainya di terminal Bungurasih kucoba bertanya kepada Petugas, Armada Bus Damri yang tujuannya ke terminal 2. Jika salah tujuan ke terminal 1 bisa berabe karena antara terminal 1 dan 2 terpisahkan oleh landas pacu yang tidak terhubung satu sama lain. Beberapa bulan yang lalu jika kita ke terminal bungurasih tidak perlu bertanya bus damri yang jurusan mana karena semua akan diantar ke terminal 1, namun sejak pertengahan Februari kemarin dari terminal Bungurasih ada 2 jurusan Bus Damri Bandara.

Terminal 2 berada di sisi selatan Landas Pacu dan jarak tempuh ke Terminal Bungurasih Surabaya bisa ditempuh lebih singkat sekitar 10 menit. Lumayan bisa lebih cepat...

Tarif sebesar 20 ribu Rupiah sama dengan tarif Bus Damri jurusan terminal 1 meski dengan jarak tempuh yang lebih pendek. Bus Damri yang menuju terminal 2 biasanya tidak lebih banyak penumpangnya daripada yang menuju terminal 1. Hal ini dikarenakan untuk sementara ini setahuku baru maskapai Garuda Indonesia dan Air Asia yang memakai terminal ini, tapi kemarin aku juga melihat counter tiket citilink, jangan-jangan citilink sudah pindah juga ke terminal 2?

Ngomong-ngomong soal terminal baru (terminal 2) Bandara Juanda Surabaya kesan moderennya terlihat dari desain bangunan yang didominasi warna silver, dengan atap rangka baja yang terkesan kokoh dan pemakaian kaca-kaca lebar dengan plafon tinggi yang memungkinkan cahaya masuk lebih banyak dan sirkulasi udara lebih baik. Kontras dengan terminal 1 yang kesan Bangunan Jawa sangat kental. Jujur untuk desain dan konsepnya saya lebih memilih terminal satu, karena menunjukkan karakter Budaya Jawa yang kental.

Sesampainya di terminal 2 Juanda, aku langsung menuju mushola di sisi pojok paling barat serambi terminal. Usai dari mushola menuju ke pintu masuk terminal pandanganku tertuju ke sebuah benda mirip wastafel lengkap dengan krannya yang dari stainless steel, dan terpampang tulisan 'air kran siap minum'. "Wow seperti di negara-negara maju saja ada air kran siap minum!", pikirku saat itu.

Masuk ke terminal Bandara disambutlah pengunjung dengan deretan tenant-tenant semacam mall mini yang merupakan meeting point bagi calon penumpang, pengantar, ataupun penjemput yang semuanya bisa masuk berbelanja atau sekedar nongkrong di mall mini itu. Seperti konsep di Bandara Sepinggan Balikpapan yang baru. Ada toko reseller Apple yaitu EMAX, adapula Starbucks, Roti O, Hokben, dan tenant-tenant lainnya. Masuk ke arah kiri menuju ruang check in yang cukup luas dan lengang. Lampu-lampu pun sedikit yang menyala bahkan untuk lampu di atap tidak ada yang menyala karena sudah terang dari cahaya alami matahari yang masuk melalui kaca-kaca besar yang mendominasi bandara ini. Pengelola Bandara yaitu pihak Angkasa Pura I mengklaim terminal ini adalah terminal Eco friendly yang seminimal mungkin menggunakan energi listrik.

Kebetulan boardingku melalui Gate 1. Gate ini ternyata tidak terletak di lantai 2 seperti halnya gate lainnya melainkan di dekat area meeting point. Seperti di Bandara Sepinggan Baru, pemeriksaan X-Ray hanya dilakukan satu kali setelah check in menuju waiting room. Mungkin karena dengan naik CRJ 1000 tidak bisa menggunakan garbarata makanya terletak di lantai 1. Waiting Room di Gate 1 tidak cukup luas, paling tidak hanya cukup untuk menampung sekitar 100 orang.

Toilet di Terminal 2 pada umumnya lebih luas dan lebih bersih dari terminal 1. Tapi soal hiasan bunga hidup semacam Anggrek Bulan maupun Krisan yang banyak bertebaran di terminal 1 tidak kujumpai sama sekali di terminal 2 ini.

Satu Fasilitas lagi yang sangat kusayangkan belum ada di terminal 2 yaitu LOUNGE GRATIS. Kalau di terminal 1 aku bisa mampir di Blue Sky Executive Lounge atau di Singosari Lounge. Pantesan akhir-akhir ini saat aku di Blue Sky tidak seramai sebelumnya ternyata sebagian pelanggannya yang penumpang Garuda sudah pindah di terminal 2.

Terminal 2 ini katanya mampu menampung 6 juta penumpang per tahun, sedangkan terminal 1 mampu menampung 7 juta penumpang per tahun. Dengan kapasitas 13 juta penumpang per tahun tetap saja Bandara Juanda mengalami over capacity, mengingat saat ini penumpang di Juanda sudah mencapai 17 juta lebih dalam setahun. Terkesan pembangunan terminal 2 nanggung, tidak dimaksimalkan, entah kurang dana atau ada alasan lainnya. Entahlah...

Menurut berbagai kabar yang ada pihak AP I mau membangun landas pacu baru bahkan rencananya dua landas pacu sekaligus mengingat kepadatan jadwal take off dan landing semakin tinggi frekuensinya. Ya moga saja benar adanya kabar tersebut.

Sunday, March 3, 2013

Serba-Serbi Garuda Indonesia

Serba-serbi Terbang Bersama Garuda Indonesia:
1. Reservasi Tiket
Jika kita memilih harga tiket "ekonomi harga terbaik" atau harga promo maka setelah 4 jam dari pembelian kita sudah tidak dapat lagi mengubah jadwalnya.
2. Airport Tax
Garuda adalah satu-satunya maskapai di Indonesia yang sudah menggabungkan harga tiket dengan airport tax, jadi kita tidak perlu lagi membayar airport tax di Bandara.
3. Web Check in
Pemilihan kursi saat web check in tidak dikenai biaya tambahan. Web check in dibuka 24 jam sebelum penerbangan, dan ditutup 4 jam sebelum penerbangan.
4. Tiket Promo
Jika kita anggota GFF maka tiket promo tidak mendapatkan mileage, tapi frekuensi penerbangan tetap dihitung.
5. Di Bandara Cengkareng
Check in di Terminal 2F untuk penerbangan domestik dan 2E untuk internasional. Ada counter check in khusus untuk penumpang tanpa bagasi.
6. Makanan
Untuk penerbangan +- 1 jam tidak mendapatkan makanan berat, hanya makanan ringan/snack. Untuk makanan berat biasanya ada 2 pilihan menu dalam setiap penerbangan. Untuk minuman ada buavita (rasa jambu, jeruk, dan apel), coke, air mineral, susu ultra, kopi, dan teh. Dessert biasanya puding, roti, buah potong atau es krim.
7. Pramugari
Pramugari Garuda Indonesia menurutku terlihat cantik dan elegan, tanpa meninggalkan identitas Indonesia dengan kebaya dan sanggul modernnya.
8. Ketepatan waktu
Garuda merupakan maskapai paling on time di Indonesia
9. Koran Gratis
Jika kita masuk pesawat melalui garbarata atau pintu depan biasanya tersedia koran dari berbagai media yang disediakan di dekat pintu. Hal yang sama tidak kita temukan jika masuk melalui pintu belakang.
(bersambung.....)

Friday, December 28, 2012

Web Check In Garuda Indonesia, Citilink, Air Asia, Lion Air

Internet memang sudah sangat sulit dipisahkan dari rutinitas masyarakat modern. Salah satunya adalah kemudahan untuk melakukan check in penerbangan melalui web atau yang populer disebut Web Check In. Beberapa penerbangan yang pernah kurasakan kemudahannya dalam memberikan pelayanan web check in diantaranya Garuda Indonesia, Citilink, Air Asia, dan Lion Air.

Biasanya web check in akan dibuka mulai 24 jam sebelum jadwal penerbangan, kecuali Air Asia yang sudah membukanya sejak 14 hari sebelum jadwal penerbangan.

1. Garuda Indonesia
Untuk bisa check in melalui web, diperlukan daftar kota keberangkatan dan kode booking. Selanjutnya diperlukan empat angka terakhir yang tercantum dalam nomor tiket dan kita bisa memilih tempat duduk (gratis), dan mencantumkan nomor GFF (kalau punya). Tinggal klik, muncullah boarding pass kita. Ada opsi untuk mendownload file boarding pass-nya dalam bentuk pdf, kemudian siap untuk dicetak.

File boarding pass-nya  yang bisa kita simpan sangat membantu jika boarding pass kita hilang, padahal perjalanan kita dibiayai oleh institusi yang harus menunjukkan boarding pass maka kita bisa mencetakknya kembali, coba kalau kita check in di counter bandara, sekali hilang yang susah mengurusnya. Oh iya, untuk garuda web check in ditutup 4 jam sebelum jadwal penerbangan.

2. Citilink
Nomor Konfirmasi, nama belakang, dan email yang digunakan saat pembelian tiket diperlukan untuk mengisi form web check in. Di sini kita tidak bisa memilih posisi tempat duduk, karena sebagai penerbangan murah posisi kursi penumpang mereka jual saat proses pembelian tiket, jadi kita untung-untungan mendapat posisi tempat duduknya. Seringkali aku sendiri mendapat tempat duduk di barisan depan dengan Abjad 'B' yang berarti diapit kedua penumpang di kanan kirinya. Sebelum proses selesai web check in, akan ditampilkan opsi Anda ingin membeli makanan atau tidak. Aku selalu meng-cancel opsi ini. Baru kemudian muncul boarding pass, dan siap dicetak.Citilink juga menerapkan 4 jam sebelum jadwal penerbangan untuk penutupan fasilitas web check in.

3. Air Asia
Air Asia sedikit berbeda memberlakukan aturan web check in-nya. 14 hari merupakan waktu yang relatif panjang dan fleksibel untuk melakukan web check in. Penutupannya juga sampai 1 jam sebelum penerbangan berlangsung. daftar Kota keberangkatan, nomor booking, dan nama terakhir pemesan pelu dicantumkan dalam form web check in-nya. Web Check In untuk air asia ini sangatlah bermanfaat, karena jika melakukan check in di counter bandara akan dikenakan charge sekitar Rp 30ribu (kalau nggak salah lho...). Sama dengan Citilink, pemilihan kursi saat web check in tidak diperkenankan dan sudah given by system, karena penumpang hanya bisa memilih dengan membayarkan biaya tambahan saat pembelian tiket melalui internet.

4. Lion Air
Aturan waktu buka tutupnya web check in seperti halnya Garuda, dan juga bisa memilih kursi tanpa dikenai biaya tambahan. Kode Booking dan nama depan atau nama belakang (pilih salah satunya) diperlukan untuk mengisi form web check in.

Beberapa penerbangan domestik belum memberikan fasilitas web check in, mungkin belum siap secara IT-nya. Namun, bagaimana pun juga web check in sangat membantu jika kita terburu-buru atau mepet dengan jadwal. Terlebih penumpang dari Jakarta yang tidak bisa memperkirakan kemacetan yang terjadi untuk menuju Cengkareng. Apalagi jika saat liburan atau weekend yang seringkali terjadi antrean yang panjang di counter check in membuat ketidaknyamanan tersendiri, namun bisa teratasi jika kita sudah check in melalui website maskapai dengan catatan kita tidak membawa bagasi (kalau membawa bagasi, mau tidak mau harus ke counter check in juga). Namun ada yang patut disayangkan seperti yang pernah aku alami di Bandara Juanda Surabaya tidak terdapat counter airport tax yang terpisah, sehingga walaupun sudah web check in masih harus ke counter check in maskapai untuk membeli airport tax dan terpaksa harus menyodok langsung ke barisan terdepan untuk membeli karcis airport tax ke petugas counter kalau sudah begini apa gunanya melakukan web check in jika ujung-ujungnya harus ke counter check in bandara hanya sekedar untuk membeli airport tax. Akan lebih mudah lagi jika maskapai mengintegrasikan airport tax ke dalam harga tiket seperti yang baru-baru ini sudah diberlakukan oleh Garuda (2 jempol buat Garuda).



Sunday, December 4, 2011

Garuda Indonesia

Garuda Indonesia, maskapai penerbangan BUMN terbaik di Indonesia. Berkantor baru di kompleks Bandara Soekarno-Hatta dan menempati terminal 2F. Warna hijau membentuk logo kepala burung adalah simbolnya.

Sekarang ini Garuda Indonesia tidak lagi menjadi BUMN sakit yang menguras pundi-pundi negara. Beberapa tahun terakhir ini Garuda Indonesia sudah mencatatkan laba yang memuaskan pemerintah. Oleh karenanya, beberapa waktu lalu Garuda sudah berani melalukan IPO sahamnya dan siap menjadi perusahaan publik yang transparan dan akuntabel sebagai konsekuensinya.

Disini aku tidak ingin mengulas lebih lanjut profil garuda, tapi kuhanya sedikit bercerita tentang pengalamanku naik Garuda.
*****

Pertama kali aku naik pesawat yaitu pada tahun 2005 saat aku mau ke Banda Aceh. Kala itu aku masih berstatus mahasiswa semester 7 di Fakultas Kehutanan UGM. Bukan Garuda, maskapai yang aku coba pertama kali, melainkan Lion Air. Senang rasanya kala itu, akhirnya aku bisa naik pesawat terbang, suatu hal yang kuidam-idamkan sejak aku kecil. Periode 2005 s.d. 2008 aku hanya berkutat dengan penerbangan-penerbangan murah yang semakin sering kulakukan semakin miris aku dengan jaminan keselamatan yang ditawarkan mereka, karena dalam periode itu juga banyak terjadi kecelakaan pesawat. Lion Air, Wings Air, Adam Air (sudah almarhum), menjadi favoritku karena tiketnya yang relatif murah. Tak terbayang dalam pikiranku untuk membeli tiket Garuda Indonesia karena harganya yang relatif mahal.

Pengalaman pertama naik Garuda Indonesia kulakukan saat penerbangan ke Medan pada Juli 2009 karena ada tugas dari kantor, dan tentunya tiketnya gratis. Perbedaan signifikan kualami membandingkan pelayanan Garuda dengan penerbangan-penerbangan low cost. Dulu saat ke Banda Aceh dari Yogyakarta naik Lion tidak dikasih makan, saat naik Garuda dari Jakarta ke Medan yang lebih dekat dikasih makan siang. Jarak ruang kaki dengan kursi di depannya dalam kabin Garuda pun lebih lebar daripada kabin maskapai low cost. Ketepatan waktu yang menjadi nilai lebih Garuda juga lebih memuaskan dibandingkan maskapai-maskapai low cost yang seringkali delay.

Perjalananku ke Manado, Pekanbaru, Makassar, Jogja, Semarang, Surabaya, Malang sekarang ini lebih banyak kutempuh dengan Garuda Indonesia baik itu yang dibayarin kantor, ataupun dari kantong sendiri. Frekuensi terbangku dengan garuda yang lumayan, mendorongku untuk membuat Garuda Frequent Flyer (GFF). Sekarang aku tak lupa meminta petugas garuda memasukkan poin setiap kali aku check in di counter Garuda. Lumayan nanti bisa ditukarkan merchandise ataupun diskon-diskon lainnya.

Makanan berat yang biasanya disediakan Garuda adalah Nasi Ayam atau Nasi Ikan. Mungkin yang ke luar negeri lebih variatif, maklum belum pernah, hix....! Sedangkan minumnya ada jus instant berbagai rasa, teh, kopi, soda, ataupun air mineral. Untuk snack yang diberikan dulu kalau nggak salah ada beberapa jenis makanan kecil dan air mineral kemasan gelas kecil yang didesain khusus untuk garuda. Namun, aku agak terkejut dengan snack yang diberikan garuda saat penerbanganku november kemarin ke Jogja dan Malang yang hanya ada satu buah roti dan satu botol air mineral 'Nes***' ukuran 330 ml dengan kardus snack yang terkesan eksklusif. Tapi masih mending lah daripada tanpa snack dan makanan berat di low cost flight.

Karena selama ini aku sering terbang dengan Garuda, ketika aku dibelikan tiket dari kantor dengan penerbangan Lion Air dari Jogja ke Jakarta dengan jadwal pukul 18.50 WIB aku langsung gelisah. Yang ada dipikiranku saat itu pasti nanti delay beberapa jam, apalagi itu minggu malam saat orang-orang yang mudik akhir pekan kembali lagi ke ibukota, wah bisa tengah malam aku nyampai Jakarta. Aku pun langsung menelpon call center Lion Air untuk memajukan jadwalku lebih awal, namun jadwalku hanya berhasil dimajukan menjadi pukul 17.40 WIB, karena penerbangan-penerbangan sebelumnya sudah sold out. Aku pun harus membayar sejumlah 91 ribu untuk mengubah jadwalku itu.

Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata Lion Air yang kutumpangi saat itu tepat waktu. Di luar ekspektasiku, ON TIME! Nah Gitu dong, jangan sampai di media massa hanya ada berita delay. Salut buat Lion Air kala itu. Di tengah stigma negatif dari masyarakat tentang Lion Air, tapi maskapai ini membuat langkah fenomenal dengan melakukan perjanjian pembelian ratusan pesawat dari Boeing dengan nilai ratusan triliun rupiah, yang mana perjanjian itu disaksikan sendiri oleh Presiden Obama saat menghadiri ASEAN Summit di Bali November silam.

Pengalamanku naik Garuda Indonesia selama ini lumayan memuaskan, walaupun pernah juga terkena delay tapi tidak terlalu lama. Garuda Indonesia sebagai pemain tunggal yang fokus di full service flight tanpa kompetitor dalam negeri akankah ditumbangkan oleh maskapai dalam negeri lainnya?