Tanpa kusengaja ternyata sekarang ini aku menjadi seorang Fanboy, sebutan bagi penggila gadget-gadget keluaran Apple Inc. Ya sejak kubeli iPod Nano 2nd Generation Tahun 2006 lalu, sejak saat itulah aku percaya pada kualitas produk-produk perusahaan berlogo buah apel keroak itu.
Nah, sejak diluncurkannya iPad generasi pertama sekitar tahun 2010 aku mulai kepincut dengannya. Kubayangkan iPhone dalam bentuk besar yang mana pastinya akan puas banget berselancar di dunia maya dengan layar 9,7 inch. Tapi kuurungkan niatku saat itu untuk membelinya karena alasan ketiadaan kamera, dan aku masih kurang puas dengan spesifikasi generasi pertama iPad itu. Biasanya generasi pertama produk Apple itu untuk menguji respon pasar, dan ternyata saat itu meskipun pasar merespon cukup baik, tapi masih banyak yang kurang puas, bukan karena performanya, melainkan kurangnya fitur-fitur standar yang ada.
Tahun 2011, munculah iPad 2. Ada banyak peningkatan signifikan dari iPad generasi pertama, disamping prosesor yang lebih cepat, ada penambahan kamera belakang dan kamera depan untuk video call. Kubelilah satu unit iPad 2 saat itu di eStore Ratu Plaza yang seri 16GB Wifi+3G berwarna hitam, seharga kalau gk salah 5,9jt. Saat itu aku merasa beruntung mendapatkannya, karena ternyata aku membeli stok terakhir ipad yang Wifi+3G, yang ternyata lebih laris dari seri Wifi only karena bisa lebih mobile terkoneksi dengan internet dimana saja. Aku membelinya tidak lama setelah launching iPad 2 di Indonesia, dan beberapa minggu kemudian harganya melonjak signifikan karena habisnya stok iPad 2 terutama yang seri Wifi+3G di reseller-reseller produk Apple semacam iBox, eStore, Emax, Infinity, dll.
iPad 2 ini sengaja kubelikan untuk ibuku, dan ternyata sampai sekarang sudah 4 tahun performanya masih mumpuni dan masih bisa diupdate dengan sistem operasi terakhir iOS 8.4 dan nanti jika iOS 9 muncul juga masih bisa di-update. Coba bayangkan kalau aku dulu membeli Samsung Galaxy Tab yang bersistem operasi android, pasti sekarang sudah sangat ketinggalan zaman baik dari sisi hardware maupun software karena rata-rata produk android update firmware-nya tidak didukung berkelanjutan seperti Apple, paling hanya satu atau dua tahun saja, setelah itu ya sudah nggak bisa di-update lagi. (NB: Sebelum membeli iPad 2 aku pernah mengantre mau beli Samsung Galaxy Tab di Pasific Place, dan ternyata kehabisan. Tapi justru aku malah beruntung kehabisan Galaxy Tab saat itu).
Karena aku percaya dengan kualitas hardware dan user experience menakjubkan dari software Apple, maka tahun lalu ketika mau membeli tablet untuk istriku kubelikanlah dia iPad Mini, dan bulan lalu aku juga membeli iPad Mini Retina Display.
Tablet-tablet android memang menawarkanspesifikasi hardware yang mumpuni dengan harga yang cukup terjangkau, beda jauh dengan iPad. Namun, meskipun hardware iPad tidak seheboh produk-ptoduk android, tapi kombinasi hardware dan software cukup ciamik sehingga menawarkan pengalaman pengguna yang luar biasa, tidak nge-lag, awet banget baterainya, tidak cepat panas, dan tentunya awet bertahun-tahun dan tersedia update firmware-nya sampai bertahun-tahun kemudian, jadi tidak lekas usang. Kombinasi terbaik antara hardware dan software itulah yang sulit disaingi produk-produk android.
Jadi sudah tahu kan mengapa aku memilih iPad....
NB: Ada satu yang kusayangkan pada produk iPad, yaitu ada beberapa aplikasi populer yang tidak di-supportnya seperti halnya Whataspp (kecuali kalau dijaibreak ataupun diakali dengan instalasi yang tidak direkomendasikan oleh Apple).
Showing posts with label iPad. Show all posts
Showing posts with label iPad. Show all posts
Friday, July 10, 2015
Tuesday, July 7, 2015
Pengalaman Membuat Nano SimCard untuk iPad Mini Retina Display
Akhirnya sampai juga pesanan iPad Mini Retina Display yang kupesan di Elevenia setelah lebih dari seminggu kunanti. Sudah di tangan, muncul lagi persoalan yang lain. Simcard yang digunakan di iPad Mini ataupun iPad Air sudah menggunakan standar Nano Simcard, seperti halnya yang digunakan mulai pada produk iPhone 5.
Nano Simcard jelas ukurannya lebih kecil dari Micro Simcard. Berbeda dengan Micro simcard yang sudah menjadi standard simcard untuk smartphone-smartphone ataupun tablet terbaru saat ini, terkecuali untuk produk-produk besutan Apple yang sudah meninggalkan Micro Simcard beralih ke Nano Simcard. Persoalannya, nano simcard ini tidak dijual bebas di toko-toko pulsa ataupun kartu perdana di pinggir jalan, melainkan hanya di gerai-gerai resmi operator seluler saja. Hampir semua operator seluler menyediakan nano simcard yang memang penggunanya terbatas pada Fanboy Apple.
Aku memilih kartu Tri untuk iPad-ku. Kebetulan sekarang aku berdomisili di Pontianak, dan meluncurlah aku ke 3Store Pontianak di Jalan Ahmad Yani samping BRI Syariah bermaksud untuk membeli kartu perdana jenis nano simcard. Setelah sekitar 30 menit mengantri, akhirnya tiba juga giliranku.
"Mas ada nano simcard untuk iPad?", tanyaku kepada salah satu customer service-nya.
"Maaf Mas, stok nano simcard disini sedang kosong, dan kalaupun mau memotong kartu biasa, pemotongnya kebetulan rusak", jawab si Mas-nya
"O, kartu standar bisa dipotong to? bukannya yang bisa dipotong hanya untuk menjadi micro simcard ya?', tanyaku lagi.
"Lisa kok Mas!", jawabnya singkat.
"Ya udah mas, saya beli perdana kartu standar saja, nanti coba saya potong sendiri.", sahutku.
Aku pun pulang dengan perasaan kurang puas, udah jauh-jauh kusamperin, panas-panas pula pakai motor, eh hasilnya nihil juga. Kalau cuma kartu standar seharga 5000 perak, di toko pinggir jalan dekat kantor pun ada. Huh...
Sesampainya di kantor, kusamperin toko penjual pulsa sekaligus kartu perdana di sebelah kantor, kali aja punya pemotong kartu. eh ternyata nggak punya. Nggak sabar mau nyobain kartu, aku berinisiatif untuk memotongnya sendiri.
Kalau googling tutorial memotong simcard standard menjadi nano simcard biasanya memakai pola standar nano simcard di kertas kemudian kita potong kartunya sesuai pola itu. Tapi hal itu tidak kulakukan. Kupotong sedikit demi sedikit sisi simcard menggunakan cutter kemudian kucoba kumasukkan ke tray (wadah) simcard iPad. Kupotong tanpa penggaris, sedikit demi sedikit terus coba kupaskan ke tray, kuulangi terus cara tersebut sampai akhirnya pas masuk di tray, dan Voila.... bisa nyambung internet juga akhirnya.
Sedikit tips kalau motong sedikit demi sedikit, jangan sampai terpotong bagian chipnya yang kuning. Tapi lebih baik kalau bisa membeli kartu nano yang asli dari operator malah lebih bagus daripada motong sendiri yang tentunya lebih ribet dan pasti ada risiko gagal.
Nano Simcard jelas ukurannya lebih kecil dari Micro Simcard. Berbeda dengan Micro simcard yang sudah menjadi standard simcard untuk smartphone-smartphone ataupun tablet terbaru saat ini, terkecuali untuk produk-produk besutan Apple yang sudah meninggalkan Micro Simcard beralih ke Nano Simcard. Persoalannya, nano simcard ini tidak dijual bebas di toko-toko pulsa ataupun kartu perdana di pinggir jalan, melainkan hanya di gerai-gerai resmi operator seluler saja. Hampir semua operator seluler menyediakan nano simcard yang memang penggunanya terbatas pada Fanboy Apple.
Aku memilih kartu Tri untuk iPad-ku. Kebetulan sekarang aku berdomisili di Pontianak, dan meluncurlah aku ke 3Store Pontianak di Jalan Ahmad Yani samping BRI Syariah bermaksud untuk membeli kartu perdana jenis nano simcard. Setelah sekitar 30 menit mengantri, akhirnya tiba juga giliranku.
"Mas ada nano simcard untuk iPad?", tanyaku kepada salah satu customer service-nya.
"Maaf Mas, stok nano simcard disini sedang kosong, dan kalaupun mau memotong kartu biasa, pemotongnya kebetulan rusak", jawab si Mas-nya
"O, kartu standar bisa dipotong to? bukannya yang bisa dipotong hanya untuk menjadi micro simcard ya?', tanyaku lagi.
"Lisa kok Mas!", jawabnya singkat.
"Ya udah mas, saya beli perdana kartu standar saja, nanti coba saya potong sendiri.", sahutku.
Aku pun pulang dengan perasaan kurang puas, udah jauh-jauh kusamperin, panas-panas pula pakai motor, eh hasilnya nihil juga. Kalau cuma kartu standar seharga 5000 perak, di toko pinggir jalan dekat kantor pun ada. Huh...
Sesampainya di kantor, kusamperin toko penjual pulsa sekaligus kartu perdana di sebelah kantor, kali aja punya pemotong kartu. eh ternyata nggak punya. Nggak sabar mau nyobain kartu, aku berinisiatif untuk memotongnya sendiri.
Kalau googling tutorial memotong simcard standard menjadi nano simcard biasanya memakai pola standar nano simcard di kertas kemudian kita potong kartunya sesuai pola itu. Tapi hal itu tidak kulakukan. Kupotong sedikit demi sedikit sisi simcard menggunakan cutter kemudian kucoba kumasukkan ke tray (wadah) simcard iPad. Kupotong tanpa penggaris, sedikit demi sedikit terus coba kupaskan ke tray, kuulangi terus cara tersebut sampai akhirnya pas masuk di tray, dan Voila.... bisa nyambung internet juga akhirnya.
Sedikit tips kalau motong sedikit demi sedikit, jangan sampai terpotong bagian chipnya yang kuning. Tapi lebih baik kalau bisa membeli kartu nano yang asli dari operator malah lebih bagus daripada motong sendiri yang tentunya lebih ribet dan pasti ada risiko gagal.
Saturday, September 27, 2014
Kualitas Produk Apple Inc.
Akhir-akhir ini para penggemar berat iPhone dikejutkan dengan berita miring kalau iPhone 6 jika terlalu lama ditaruh di celana jadi bengkok. Benar atau tidaknya isu itu, aku punya pendapat sendiri tentang kualitas iPhone.
Orang yang belum pernah memiliki iPhone mungkin selama ini lebih tergiur dengan smartphone dengan spesifikasi hardware seperti kecepatan prosesornya, resolusi kameranya, memorinya, ataupun lebar layarnya. Nah, berbeda dengan smartphone kebanyakan. Apple adalah satu-satunya perusahaan teknologi yang berhasil memadukan hardware dan software-nya sendiri. Berbeda dengan pabrikan lain yang lebih mengandalkan software dari Google (saat ini). Dengan demikian, Apple tahu spesifikasi hardware yang bagaimana yang sesuai dengan software-nya ataupun sebaliknya. Jadi jangan heran dengan prosesor yang secara tertulis tertera kecepatannya lebih lambat daripada prosesor kompetitornya, namun di iPhone jarang terjadi nge-lag alias aplikasi berjalan dengan smooth. Begitu pula kamera iphone dengan megapiksel yang sama atau lebih rendah daripada kompetitornya, tak jarang kualitasnya jepretannya lebih bagus.
Hampir lima tahun yang lalu aku membeli iPhone 3GS saat launching di Plasa Senayan. Rp7,2 juta kutebus untuk sebuah HP layar sentuh yang tercanggih di zamannya itu. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi aku memang tertarik dengan fiturnya yang memang benar-benar baru saat itu dan percaya akan kualitas produk Apple Inc.
Prosesornya tidak sampai 1GHz, RAM-nya jelas jauh dari smartphone zaman sekarang, Memorinya 16GB, kameranya 3 MP, layarnya 3,5 inch. Dengan spesifikasi yang seperti itu iPhone 3GS-ku masih berfungsi baik sampai sekarang ini.
Usia hampir 5 tahun untuk sebuah smartphone merupakan prestasi tersendiri. Apalagi sejak beli dari awal tahun 2010 sampai dengan sekarang tidak pernah terjadi masalah yang berarti dan tidak pernah opname di service center. Dalam kurun waktu tersebut mulai dari iOS 3 sampai dengan mengadopsi iOS 6 selalu ku-update sistem operasinya. Coba bandingkan dengan smartphone lain yang paling-paling hanya bisa di-update sistem operasinya satu versi di atasnya. Baru pada tahun 2013 saat launching iOS 7, si iPhone 3GS-ku sudah tidak bisa diupdate dengan sitem operasi yang baru. Tapi hal itu nggak masalah, toh tetap berjalan lancar dan smooth.
Performa baterainya pun masih cukup bagus sampai saat ini. Kualitas warna di layarnya pun masih prima. Padahal si iPhone juga sering banget berjam-jam kukantongi di celana yang seringkali suhunya terlalu panas untuk menyimpan smartphone.
Aku cukup puas dengan produk Apple sampai saat ini. Bahkan iPod nano 2nd generation yang kubeli tahun 2006 saat ini masih bisa muter musik dengan kualitas yang hampir tidak berubah, cuma baterainya saja yang sudah ngedrop. iPad 2 yang kubeli tahun 2011 juga performanya masih OK, tidak pernah ada masalah apalagi sampai ke service center. Begitu pula yang terakhir adalah iPad mini yang kubeli Bulan April kemarin sangat bagus performanya sampai saat ini.
Seringkali orang mencerca produk-produk Apple sebagai produk berspesifikasi biasa untuk gengsi semata yang dibanderol dengan harga selangit. Namun, aku melihatnya sebagai hal yang berbeda. Harga mahal sangat pantas untuk produk Apple, bukan hanya untuk kualitas hardware-nya, melainkan untuk keindahan desainnya dan tentunya yang utama adalah inovasinya. Pantas saja apapun cercaan terhadap produk Apple, para penggemar setianya tidak mempedulikan dan selalu penasaran dan menantikan produk-produk inovasi terbarunya.
Orang yang belum pernah memiliki iPhone mungkin selama ini lebih tergiur dengan smartphone dengan spesifikasi hardware seperti kecepatan prosesornya, resolusi kameranya, memorinya, ataupun lebar layarnya. Nah, berbeda dengan smartphone kebanyakan. Apple adalah satu-satunya perusahaan teknologi yang berhasil memadukan hardware dan software-nya sendiri. Berbeda dengan pabrikan lain yang lebih mengandalkan software dari Google (saat ini). Dengan demikian, Apple tahu spesifikasi hardware yang bagaimana yang sesuai dengan software-nya ataupun sebaliknya. Jadi jangan heran dengan prosesor yang secara tertulis tertera kecepatannya lebih lambat daripada prosesor kompetitornya, namun di iPhone jarang terjadi nge-lag alias aplikasi berjalan dengan smooth. Begitu pula kamera iphone dengan megapiksel yang sama atau lebih rendah daripada kompetitornya, tak jarang kualitasnya jepretannya lebih bagus.
Hampir lima tahun yang lalu aku membeli iPhone 3GS saat launching di Plasa Senayan. Rp7,2 juta kutebus untuk sebuah HP layar sentuh yang tercanggih di zamannya itu. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi aku memang tertarik dengan fiturnya yang memang benar-benar baru saat itu dan percaya akan kualitas produk Apple Inc.
Prosesornya tidak sampai 1GHz, RAM-nya jelas jauh dari smartphone zaman sekarang, Memorinya 16GB, kameranya 3 MP, layarnya 3,5 inch. Dengan spesifikasi yang seperti itu iPhone 3GS-ku masih berfungsi baik sampai sekarang ini.
Usia hampir 5 tahun untuk sebuah smartphone merupakan prestasi tersendiri. Apalagi sejak beli dari awal tahun 2010 sampai dengan sekarang tidak pernah terjadi masalah yang berarti dan tidak pernah opname di service center. Dalam kurun waktu tersebut mulai dari iOS 3 sampai dengan mengadopsi iOS 6 selalu ku-update sistem operasinya. Coba bandingkan dengan smartphone lain yang paling-paling hanya bisa di-update sistem operasinya satu versi di atasnya. Baru pada tahun 2013 saat launching iOS 7, si iPhone 3GS-ku sudah tidak bisa diupdate dengan sitem operasi yang baru. Tapi hal itu nggak masalah, toh tetap berjalan lancar dan smooth.
Performa baterainya pun masih cukup bagus sampai saat ini. Kualitas warna di layarnya pun masih prima. Padahal si iPhone juga sering banget berjam-jam kukantongi di celana yang seringkali suhunya terlalu panas untuk menyimpan smartphone.
Aku cukup puas dengan produk Apple sampai saat ini. Bahkan iPod nano 2nd generation yang kubeli tahun 2006 saat ini masih bisa muter musik dengan kualitas yang hampir tidak berubah, cuma baterainya saja yang sudah ngedrop. iPad 2 yang kubeli tahun 2011 juga performanya masih OK, tidak pernah ada masalah apalagi sampai ke service center. Begitu pula yang terakhir adalah iPad mini yang kubeli Bulan April kemarin sangat bagus performanya sampai saat ini.
Seringkali orang mencerca produk-produk Apple sebagai produk berspesifikasi biasa untuk gengsi semata yang dibanderol dengan harga selangit. Namun, aku melihatnya sebagai hal yang berbeda. Harga mahal sangat pantas untuk produk Apple, bukan hanya untuk kualitas hardware-nya, melainkan untuk keindahan desainnya dan tentunya yang utama adalah inovasinya. Pantas saja apapun cercaan terhadap produk Apple, para penggemar setianya tidak mempedulikan dan selalu penasaran dan menantikan produk-produk inovasi terbarunya.
Labels:
apple,
gadget,
iPad,
iPhone,
iPhone 3GS,
ipod,
pengalaman,
smartphone
Tuesday, July 15, 2014
Kecanduan iPad
"Endi iPad-e.... endi iPad-e.....!", kata-kata yang seringkali diucap Manggala ketika berada di kamar akhir-akhir ini. "Nyetel utub..nyetel utub...!, rengek dia ke Ibunya. Maksudnya ngajak ibunya muter video streaming di youtube. "Lagi loading-lagi loading....!", kata lain yang sering diucapkan ketika proses buffering di youtube sedang berjalan ditandai dengan tanda semacam roda putih yang berputar sebelum video-nya muncul. "Ojo Na......!", teriaknya ketika tantenya (Bu Nana) yang ngusilin saat dia asik nonton youtube dengan iPad-nya.
Anakku, Manggala akhir-akhir ini mulai kecanduan nonton video streaming di Youtube dengan iPad Ibunya. Kebetulan di rumah Ibunya berlangganan Internet dari Telkom Speedy yang sekaligus dipasangi WiFi Router agar bisa diakses nirkabel melalui laptop ataupun perangkat mobile lainnya. Istriku langganan internet sebenarnya untuk keperluan prakteknya juga untuk update data ke BPJS yang harus melalui internet.
Nah kira-kira dua bulan yang lalu aku membelikan iPad Mini untuk istriku, Nining. Maksudku kala itu, karena dia perlu banget sebuah perangkat mobile yang praktis untuk update data ataupun untuk presentasi dan tentunya terhubung dengan internet. Nah, mau tak mau, disengaja ataupun tidak iPad itu mulai 'diakuisisi' Manggala. Bagaimana tidak, ketika di rumah dia selalu ingat dengan iPad dan nonton video-video streaming entah itu video Lokomotif Thomas dan telur-telurnya, video edukasi dari TuTiTu, Marsha & The Bear, Lagu Anak-anak, Permainan Lego, sampai dengan kesukaannya melihat video Traktor, Back Hoe, ataupun alat-alat berat lainnya.
Kegemarannya melihat video di iPad akhir-akhir ini semakin menjadi-jadi dan membuat tidurnya bertambah semakin malam karena asik dengan iPadnya. Kalau dilarang dia akan marah sekali dan teriak-teriak dengan kencang padahal umurnya baru 2 tahun 1 Juli kemarin. Puncaknya adalah dua hari yang lalu ketika malam hari saat mau tidur dia menanyakan iPadnya. Istriku yang sudah capek sekali akhirnya sampai ketiduran, dan si Manggala main ipad sendiri, pencet video yang satu, selesai bosan ganti pencet video lainnya. Kalau videonya error ataupun lama loadingnya, di suka bilang "Error-Error...!", dengan pelafalan huruf R yang sangat jelas untuk anak seusianya. Atau kalau sudah gregetan, di teriak "Piye iki...piye iki...!". Akhirnya malam itu, dia baru bisa tidur dan merengek ke Ibunya minta mimik susu sekitar pukul setengah dua belas malam. Istriku yang kebetulan belum tinggal serumah denganku dan masih tinggal di rumah orang tuanya di Tulungagung pun mendapat protes dari Ibu Mertuaku, Beliau khawatir kecanduan Manggala akan ipad berpengaruh buruk terhadap kesehatan matanya.
Memang salah kami juga dulu, yang mengenalkan Manggala dengan memutarkan video dari Youtube di iPad untuk menenangkan Manggala yang lagi rewel....eh malah sekarang mulai kecanduan. Aku tadi googling tentang kecanduan iPad anak Balita, ternyata ada Balita di Inggris yang kecanduan iPad dan biaya rehabilitasi dengan detoksifikasi digital yang biayanya sangat mahal sekitar Rp237 juta per bulannya (Baca: Artikel Balita Kecanduan iPad). Gila..... amit-amit jangan sampai anakku seperti itu, angka segitu tuh uang semua, bukan krikil......!
Berikut saya cantumkan beberapa artikel tentang Bahaya kecanduan iPad pada anak:
1. Baca artikel dari Kompas.com
2. Baca artikel dari Intisari Online
3. Baca artikel dari Liputan6.com
Kecanduan akan Gadget semacam iPad tentunya akan sangat berbahaya bagi tumbuh kembang anak jika dibiarkan berlarut-larut, dan aku nggak mau hal itu terjadi pada Manggala. Pada kasus Manggala bisa kuanalisis beberapa hal sebagai berikut:
Aku tahu kesulitan istriku dalam mengurus Manggala karena kesibukannya yang luar biasa sebagai seorang paramedis, dan aku belum tinggal serumah dengan mereka, tapi walaupun kami belum serumah, mengenai tumbuh kembang Manggala kami selalu berdiskusi untuk yang terbaik. Kami memang harus mulai mengaplikasikan batasan yang tegas untuk Manggala dalam bermain iPad. Coba aku bisa tinggal serumah dengan Manggala, pastinya dia akan lebih banyak kuajak bermain, dan ketika Ibunya praktek dia tidak merengek-rengek untuk bermain iPad.
Kesimpulannya, melihat video youtube di iPad sih boleh-boleh aja asalkan tidak dalam waktu yang berlebihan, apalagi melihat video edukasi yang memang terbukti bagus untuk kognitif anak. Tapi kegemaran anak melihat iPad yang memang penuh warna dan menggoda sudah seharusnya diimbangi dengan permainan fisik yang merangsang perkembangan motorik anak. Kita sebagai orang tua memang harus aktif mengajak anak kita bermain, ngobrol, bercanda ataupun diskusi, jangan sampai kebersamaan kita dengan anak-anak terlewat begitu saja karena kita asik sendiri dengan gadget kita, dan akhirnya anak-anak juga meniru tingkah laku kita asik dengan gadget. Aku ingin anakku tidak hanya pandai secara kognitif melainkan pintar pula bersosialisasi dan bagus perkembangan motoriknya.
Sumber:
1. tempo.co
2. kompas.com
3. liputan6.com
4. intisari-online.com
Anakku, Manggala akhir-akhir ini mulai kecanduan nonton video streaming di Youtube dengan iPad Ibunya. Kebetulan di rumah Ibunya berlangganan Internet dari Telkom Speedy yang sekaligus dipasangi WiFi Router agar bisa diakses nirkabel melalui laptop ataupun perangkat mobile lainnya. Istriku langganan internet sebenarnya untuk keperluan prakteknya juga untuk update data ke BPJS yang harus melalui internet.
Nah kira-kira dua bulan yang lalu aku membelikan iPad Mini untuk istriku, Nining. Maksudku kala itu, karena dia perlu banget sebuah perangkat mobile yang praktis untuk update data ataupun untuk presentasi dan tentunya terhubung dengan internet. Nah, mau tak mau, disengaja ataupun tidak iPad itu mulai 'diakuisisi' Manggala. Bagaimana tidak, ketika di rumah dia selalu ingat dengan iPad dan nonton video-video streaming entah itu video Lokomotif Thomas dan telur-telurnya, video edukasi dari TuTiTu, Marsha & The Bear, Lagu Anak-anak, Permainan Lego, sampai dengan kesukaannya melihat video Traktor, Back Hoe, ataupun alat-alat berat lainnya.
Kegemarannya melihat video di iPad akhir-akhir ini semakin menjadi-jadi dan membuat tidurnya bertambah semakin malam karena asik dengan iPadnya. Kalau dilarang dia akan marah sekali dan teriak-teriak dengan kencang padahal umurnya baru 2 tahun 1 Juli kemarin. Puncaknya adalah dua hari yang lalu ketika malam hari saat mau tidur dia menanyakan iPadnya. Istriku yang sudah capek sekali akhirnya sampai ketiduran, dan si Manggala main ipad sendiri, pencet video yang satu, selesai bosan ganti pencet video lainnya. Kalau videonya error ataupun lama loadingnya, di suka bilang "Error-Error...!", dengan pelafalan huruf R yang sangat jelas untuk anak seusianya. Atau kalau sudah gregetan, di teriak "Piye iki...piye iki...!". Akhirnya malam itu, dia baru bisa tidur dan merengek ke Ibunya minta mimik susu sekitar pukul setengah dua belas malam. Istriku yang kebetulan belum tinggal serumah denganku dan masih tinggal di rumah orang tuanya di Tulungagung pun mendapat protes dari Ibu Mertuaku, Beliau khawatir kecanduan Manggala akan ipad berpengaruh buruk terhadap kesehatan matanya.
Memang salah kami juga dulu, yang mengenalkan Manggala dengan memutarkan video dari Youtube di iPad untuk menenangkan Manggala yang lagi rewel....eh malah sekarang mulai kecanduan. Aku tadi googling tentang kecanduan iPad anak Balita, ternyata ada Balita di Inggris yang kecanduan iPad dan biaya rehabilitasi dengan detoksifikasi digital yang biayanya sangat mahal sekitar Rp237 juta per bulannya (Baca: Artikel Balita Kecanduan iPad). Gila..... amit-amit jangan sampai anakku seperti itu, angka segitu tuh uang semua, bukan krikil......!
Berikut saya cantumkan beberapa artikel tentang Bahaya kecanduan iPad pada anak:
1. Baca artikel dari Kompas.com
2. Baca artikel dari Intisari Online
3. Baca artikel dari Liputan6.com
Kecanduan akan Gadget semacam iPad tentunya akan sangat berbahaya bagi tumbuh kembang anak jika dibiarkan berlarut-larut, dan aku nggak mau hal itu terjadi pada Manggala. Pada kasus Manggala bisa kuanalisis beberapa hal sebagai berikut:
- Setiap hari Manggala ketika dititipkan ke Saudara yang ngemong dia saat istriku bekerja, dia tidak bermain iPad atau gadget apapun. Dia lebih banyak bermain yang membutuhkan aktifitas fisik dan motoriknya dengan bermain dengan teman-teman sebanyanya dan sama sekali tidak menanyakan tentang iPad-nya.
- Dia mulai ingat kembali dengan iPad-nya ketika tidak ada teman-temannya bermain atau dia tidak sedang bermain, dalam hal ini ketika dijemput pulang kembali ke rumah usai istriku bekerja. Di rumah pun ketika dia asik bermain dengan kakek neneknya ataupun dengan tante dan ibunya, dia juga tidak menanyakan iPad-nya dan tetap asik bermain.
- Ketika dia melihat video di Youtube lebih banyak melihat video edukasi balita dan anak-anak yang penuh warna yang menurutku dalam batas kewajaran merangsang perkembangan kognitifnya.
- Dalam sehari rata-rata waktu kumulatif Manggala melihat video di Youtube adalah 3 jam sehari, dan itu sebenarnya masih dalam batas kewajaran, tapi menurutku secara pribadi itu sudah terlalu lama untuk anak seusia dia karena aku juga sangat mengkhawatirkan kesehatan matanya.
- Selama ini kami memang terkesan memanjakan Manggala dan jarang memberikan batasan waktu yang tegas dan sering mentoleransi jika dia menggunakan senjatanya yaitu menangis dan teriak-teriak.
Aku tahu kesulitan istriku dalam mengurus Manggala karena kesibukannya yang luar biasa sebagai seorang paramedis, dan aku belum tinggal serumah dengan mereka, tapi walaupun kami belum serumah, mengenai tumbuh kembang Manggala kami selalu berdiskusi untuk yang terbaik. Kami memang harus mulai mengaplikasikan batasan yang tegas untuk Manggala dalam bermain iPad. Coba aku bisa tinggal serumah dengan Manggala, pastinya dia akan lebih banyak kuajak bermain, dan ketika Ibunya praktek dia tidak merengek-rengek untuk bermain iPad.
Kesimpulannya, melihat video youtube di iPad sih boleh-boleh aja asalkan tidak dalam waktu yang berlebihan, apalagi melihat video edukasi yang memang terbukti bagus untuk kognitif anak. Tapi kegemaran anak melihat iPad yang memang penuh warna dan menggoda sudah seharusnya diimbangi dengan permainan fisik yang merangsang perkembangan motorik anak. Kita sebagai orang tua memang harus aktif mengajak anak kita bermain, ngobrol, bercanda ataupun diskusi, jangan sampai kebersamaan kita dengan anak-anak terlewat begitu saja karena kita asik sendiri dengan gadget kita, dan akhirnya anak-anak juga meniru tingkah laku kita asik dengan gadget. Aku ingin anakku tidak hanya pandai secara kognitif melainkan pintar pula bersosialisasi dan bagus perkembangan motoriknya.
Sumber:
1. tempo.co
2. kompas.com
3. liputan6.com
4. intisari-online.com
Saturday, July 16, 2011
I've got My 1st iPad 2
| iPad 2 yang baru kubeli di eStore Ratu Plaza (dok. pribadi) |
Hari ini selepas dari kantor kurencanakan untuk membeli iPad di iBox Gandaria City, namun tadi kok tiba-tiba aku membelokkan motorku ke Ratu Plaza yang lebih dekat dengan kantorku. Sesampainya di sana, langsung kulajukan langkahku menuju eStore. To the point kutanyakan apakah ada iPad 2 di situ. Ternyata masih ada yg 16 GB 3G! Kucoba sebentar dan kutanyakan harganya, ternyata selisih hampir 200 ribu lebih murah daripada di Reseller Apple lainnya. Langsung aja kuputuskan membeli iPad 2 warna hitam 16 GB 3G. Untungnya di eStore menerima pembayaran transfer via Mandiri. Tanpa basa-basi kukeluarkan token Mandiriku dan kutransfer lewat internet banking.
Momen aku beli iPad saat itu sangat pas sekali dengan stok terakhir iPad 3G 16 GB di eStore Ratu Plaza, he he ..... Sebenarnya iPad ini akan kuberikan kepada Ibuku untuk 'mainan' menemani masa pensiunnya yang sebentar lagi tiba. Semoga iPad ini bisa membuat hari- hari Ibuku yang usai menjalani bulan- bulan yang berat pasca operasi setelah kecelakaan Februari lalu menjadi lebih ceria.
Ibu.... iPad ini tentunya tak akan pernah menggantikan segala kasih sayang dan apa-apa yang telah Ibu berikan kepada putramu ini. Ibu..... ananda sayang Ibu!
Jakarta, 16-07-2011
Subscribe to:
Posts (Atom)