Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts

Monday, October 14, 2019

Melihat Langsung Komodo di Pulau Komodo yang Cantik

Dulu saya hanya kesampaian lihat Komodo di Kebun Binatang. Hewan yang mirip biawak tapi lebih besar ini salah satu hewan langka yang habitat aslinya hanya ada di Indonesia, tepatnya di Kawasan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur yang terdiri dari Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Pulau Rinca.

Nah, awal September lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo, khususnya di Pulau Padar dan Pulau Komodo. Kalau ke Pulau Padar tujuannya untuk naik ke Puncak Pulau untuk melihat pemadangan yang sangat memukau (Baca : Lihat Pemandangan Pantai dan Bukit Terbaik di Pulau Padar). Namun, di Pulau Komodo tujuan kami ya melihat Komodo, padahal Pantainya juga sangat jernih dan cantik, sayang untuk dilewatkan.

Pulau Komodo baru-baru ini ada wacana untuk ditutup, bahkan alternatif lainnya adalah dengan rencana dikenakannya tarif masuk yang sangat mahal yaitu Rp14 juta, WOW....! Pulau Komodo saat ini dikelola langsung oleh Balai Taman Nasional Komodo di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Di Pulau Komodo dilengkapi dermaga yang cukup representatif untuk disinggahi speedboat, kapal-kapal layar,  ataupun kapal pesiar berukuran kecil.

Berjalan sekitar 200 meter dari dermaga menuju Pulau, kita akan disambut gerbang bertuliskan Welcome to Komodo National Park. Terlihat bangunan-bangunan seperti gazebo besar, kantor administrasi, dan bangunan dengan berbagai pajangan poster yang menggambarkan profil Komodo.

Sebelum tracking ke hutan melihat komodo, kami diberi briefing terkait bagaimana sebaiknya perilaku kita ketika tracking dan berdekatan dengan Komodo oleh petugas taman nasional yang seringkali disebut Ranger yang akan mengawal kami untuk bertemu hewan prasejarah ini.

Saat itu kami sengaja memilih jalur tracking yang paling dekat karena keterbatasan waktu, sehingga kira-kira kami hanya berjalan 300 meter ke arah hutan sampai ketemu semacam restoran/cafe, nah di samping restoran itulah ada beberapa komodo yang sedang tidur-tiduran. Ranger menjelaskan kalau Komodo itu aktifnya pagi hari untuk mencari mangsa, dan ketika siang hari mereka cenderung malas-malasan ataupun menghangatkan badan karena mereka termasuk hewan berdarah dingin.

Yang berbahaya dari Komodo adalah air liurnya yang mengandung bakteri-bakteri mematikan. Komodo seringkali melumpuhkan mangsanya dengan menyerangnya dari arah belakang. Jadi ketika di Pulau Komodo kita perlu terus waspada dan jangan jauh-jauh dari para Ranger, apalagi ketika musim kemarau seperti sekarang ini, warna kulit komodo hampir menyerupai warna pohon-pohon ataupun rumput-rumput yang mengering atau menyerupai batu, sehingga berbahaya sekali jika kita lengah.

Lebih lengkap terkait cerita saya, bisa dilihat pada video di bawah ini:


Sunday, January 17, 2016

Wisata Kuliner di Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta

MEnikmati Deburan Ombak Pantai Depok dari Warung Lesehan Tepi Pantai
Jogja memang ngangeni.... gudegnya, angkringannya, objek wisatanya, serba murahnya. Kebetulan akhir tahun kemarin, aku bersama anak dan istriku berkesempatan untuk liburan di Jogja. Maksud utama kami ke Jogja adalah silaturahmi ke keluarga besar Jogja, nyekar ke makam eyang, dan tentunya sambil liburan, hehe.....

Hari itu, kebetulan hari senin 28 Desember 2015, hari kedua aku berada di Jogja. Bersama anak dan istriku, dan juga kebetulan ada adik iparku yang sedang libur co-ass, kami berangkat menuju Pantai Depok, yang terletak di barat Pantai Parangtritis. Kira-kira kami berangkat pukul 2 siang dari rumah pamanku di Perumahan Perwita Jalan Paris.

Mengapa aku memilih Pantai Depok, karena Pantai ini selain menawarkan panorama pantai layaknya Parangtritis tapi juga bertebaran warung makan yang menyajikan aneka ragam masakan laut. Nah, itu tujuanku, aku mau wisata kuliner sambil menikmati udara laut!

Menempuh kira-kira 25 km dari rumah pamanku, menyusuri Jalan Parangtritis (Jalan Paris) yang kondisinya cukup bagus sampailah kami ke gerbang Pintu Masuk Kawasan Pantai Parangtritis. Kami nggak masuk ke gerbangnya, melainkan belok ke arah kanan, ke jalan persis sebelum gerbang masuk Parangtrits. Melewati pedesaan Bantul yang khas dengan keteduhan pohon kelapanya. Kurang lebih 10 menit dari kami belok di dekat gerbang Parangtritis, sampailah kami di semacam pos masuk Pantai Depok yang dijaga beberapa petugas yang mungkin dari Dinas Pariwisata. Tiket masuk per orang dewasa adalah Rp5000,- sudah termasuk Jasa Raharja Rp250,-. Lumayan murah kan.....

Tiket Masuk Pantai Depok

Parkiran utama lumayan penuh dengan mobil-mobil berplat luar kota, kami pun muter-muter ke ke bagian barat ke arah Masjid, dan berhentilah kami di depan warung makan yang tidak menghadap langsung ke Pantai. Maksud kami bukan untuk makan ke warung itu, melainkan hanya memarkir mobil kami dan mau berjalan ke arah Pantai. Belum sampai kami keluar dari mobil, kami sudah dihampiri oelh seorang wanita yang menyampaikan kalau parkir di situ harus makan di warungnya. Kontan aja kami urungkan niat kami parkir di situ, dan melajukan kembali mobil kami ke arah Masjid yang malah lengang parkirannya. Kami parkirlah mobil kami di parkiran masjid, gratis sih tapi nggak ada penjaganya. Nggak papa lah, InsyaAllah aman....

Parkiran Masjid Pantai Depok yang terlihat lengang
Dari parkiran masjid, kami pun berjalan menuju pantai. Kami memang ingin mencari warung makan yang menghadap ke Pantai, jadi kami bisa menikmati masakan laut sambil memandang laut lepas. Agak bingung mencari warung makan yang representatif dan kayaknya masakannya enak, akhirnya kami menemukan warung makan yang lumayan besar menghadap langsung ke Pantai dan kebetulan ada tempat duduk yang kosong, namanya Lesehan Ngangeni yang dalam bahasa Indonesia artinya Lesehan yang bikin kangen.

Poster Dalai Lama di Dinding Warung Lesehan Ngangeni
Daftar menunya sangat variatif dengan berbagai macam masakan, tapi di daftar menu itu tertera harga yang murah sekali. Eits tunggu dulu bukan harganya murah, melainkan itu adalah tarif ongkos masaknya. Sebenarnya, warung-warung yang ada itu menjual jasa memasakkan ikan mentah, kerang, cumi, udang, kepiting, atau lainnya yang bisa dibeli di Tempat Pelelangan Ikan alias Pasar ikan di Komplek Pantai Depok, namun jika pengunjung tidak membawa ikan mentah untuk dimasakkan, juga bisa memesannya langsung di warung makan itu, toh harganya juga nggak mahal-mahal amat.

Kami memesan Kepiting Asam Pedas 1/2 kg, cumi-cumi masak rica-rica 1/4 kg, dan ikan Bawal Laut bakar 1/2 kg, cah kangkung, es kelapa muda dan es teh tentunya buat Manggala. Kira-kira menunggu selama 20 menit, akhirnya masakan pesanan kami pun datang.

Tampaknya masakan yang dihidangkan sangat menggoda dari sisi penampilannya. Kucoba satu persatu, ternyata luar biasa maknyusss.... terutama untuk Kepiting Asam Pedasnya, selain bumbunya yang pas, Kepitingnya juga terasa segar, nyam-nyam-nyam...... tahu gitu pesan 1 kg saat itu, mau pesan lagi pasti nunggu lama lagi...

Narsis sebelum makan

Cumi rica-ricanya juga cukup enak, dengan rasa pedas yang pas. Ikan bawal laut bakarnya juga enak, cukup besar. Recommended lah pokoknya Lesehan Ngangeni memang bener-bener bikin kangen, Joss Gandos! Besok kalau ke Pantai Depok harus mampir lagi ke Lesehan Ngangeni terutama pesan Kepiting Asam Pedasnya.

Puas makan, kami pun bersiap untuk pulang. Menu sebanyak itu, kalau nggak salah ingat nggak sampai Rp200ribu. Worth it lah.... Sekitar pukul setengah enam sore kami pun meninggalkan kawasan Pantai Depok yang saat itu masih terang benderang, tanpa sedikitpun menyentuh air lautnya, hehe..... Kapan lagi ya bisa ke Pantai Depok???

Tuesday, May 19, 2015

Perjalanan ke Objek Wisata Pemandian Air Panas Tirta Sanita Gunung Kapur, Ciseeng, Bogor (Bagian II)

Kesan pertama begitu aku memasuki Objek Wisata ini adalah sepi dan kurang terawat. Aku sedikit ragu dengan kondisi objek wisata di dalamnya. Disambut dengan lahan kosong luas yang dipenuhi rumput sebagai tempat parkir. Saat kami kesana terlihat sekitar 3 bus besar parkir dan tidak sampai 50 motor dan cuma beberapa mobil yang parkir.

Usai memarkir motor kami, kami pun langsung menuju gerbang loket tiket masuk. Untuk orang dewasa harus membayar Rp10.000 per orang, jika anak di bawah 4 tahun masih gratis, untungnya Manggala masih belum genap 3 tahun, plus tarif parkir motor Rp3000. Sebelumnya, kami bertanya kepada Mbak-mbak penjaga loket, apakah ada kolam renangnya. Mbaknya pun menjawab,

"Ada Pak di sana, kalau area bermain anak baru dibuka nanti sekitar pukul 4 sore?"

"Waduh, apa-apaan arena bermain anak dibuka mulai pukul 4 sore, sudah mulai mencurigakan nih....!" pikirku saat itu.

Kami pun masuk lokasi wisata dan disambut dengan arena bermain anak-anak yang tidak beroperasi, padahal ada kereta api mini, yang pastinya Manggala senang sekali menaikinya kalau beroperasi. di sampingnya ada danau buatan yang dilengkapi semacam sampan, bebek-bebekan, dan sebuah gelembung bola yang bisa dimasuki orang untuk berjalan-jalan didalamnya sambil menggelinding di atas permukaan danau yang semuanya sedang tidak beroperasi.

Beberapa langkah dari Danau kami disambut batu besar berwarna putih, itulah Gunung Kapur yang mengeluarkan sumber mata air panas. Kami berjalan menuju ke atas bukit kapur dengan pohon-pohon trembesi yang cukup besar berusia puluhan bahkan ratusan tahun membuat teduh di tengah gersangnya lingkungan di sekitarnya. Para penjual makanan minuman banyak yang tutup, tapi tetap ada yang buka dan menawarkan kepada kami kelapa muda, tikar, dan sebagainya.

Ternyata Gunung Kapurnya cukup kecil, cuma kami kelilingi sekitar 5 menit dengan berjalan santai sudah sampai ke tempat semula. Kami pun menghentikan langkah di sebuah rumah pemandian air panas namanya Rumah Bougenvile. Di rumah pemandian air panas itu lagi ramai dengan Ibu-Ibu beserta anak-anak yang habis mandi air panas. Kami pun berniat untuk berendam air panas di situ. Untuk Mandi Air panas di bilik-bilik semacam kamar mandi yang dilengkapi dengan bak dikenakan tarif Rp10.000 per orang. Kami menggunakan satu bilik, cuma Aku dan Manggala yang berendam air panas, sedangkan istriku hanya duduk melihat tingkah polah kami sambil mengabadikannya dengan kamera.

Bak mandinya terlihat putih dengan lapisan kapur seperti stalakmit gua. cukup hangat airnya, dan anehnya airnya ternyata ASIN. malahan Manggala yang tahu lebih dulu kalau airnya sin karena tak sengaja mengecap airnya "Asin-Asin Pak!", ujarnya sambil menjulur-julurkan lidahnya. Dia nampak senang sekali berendam di air hangat itu meskipun berasa asin. Rasa Asin itu mungkin karena tingginya kandungan mineral di air hangat itu, atau jangan-jangan terhubung ke laut, haha.....

Tidak lama-lama kami berendam, karena bahaya jika lama-lama. Sekitar 20 menit berendam, kami pun beranjak keluar bilik dan segera membilas mandi di pancuran air tawar. Puas berendam air panas, kami pun bersantai di bawah pohon besar yang rindang sambil menyewa tikar dan memesan kelapa muda. Senang sekali rasanya bisa berkumpul dengan keluarga kecilku, melihat tawa riang manggala dan senyum mengembang dari istri tercintaku, sayang momen-momen indah seperti itu jarang kami lalui bersama.

Sekitar pukul 1 siang, kami pun beranjak meninggalkan kompleks pemandian air panas, tak lupa kami berfoto dengan background gunung kapur yang eksotis. Kami pulang tidak melewat jalan saat berangkat, melainkan kami pulang melewati Parung seperti yang disarankan si tukang parkir karena jalannya jauh lebih bagus. kami pun dari pintu gerbang belok ke kiri menuju perempatan Ciseeng, menjelang perempatan Ciseeng, jalannya buruk sekali ditambah genangan yang seperti kubangan, huh parah banget, itu jalan terburuk yang pernah kutemui di Jabodetabek. Untungnya nggak terlalu panjang, begitu sampai perempatan dan belok ke kiri menuju parung jalannya pun sudah bagus. Jalan yang Kami tempuh ternyata lebih jauh, tapi nggak papa lah yang penting jalannya bagus. Melewati Pasar Parung ekmudian lurus ke utara menuju daerah Sawangan Depok, dan lurus menuju Ciputat, Kami pun berbelok menuju jalan Aria Putra, dan karena sudah lapar kami pun mampir ke Baksi TiToTi yang cukup terkenal di pinggir jalan Aria Putra, kira-kira 100 meter kanan jalan sebelum belokan jalan Sarua Raya - Bukit Indah.

Lumayan melelahkan perjalanan wisata hari itu, tapi kami puas sudah membuat manggala gembira.



Perjalanan Ke Objek Wisata Pemandian Air Panas Tirta Sanita Gunung Kapur, Ciseeng, Bogor

Minggu lalu kurang lebih seminggu kami berada di Jakarta (coret), alias di Tangerang Selatan. Ya saya dan istri sengaja mengambil cuti agar bisa liburan bersama sambil menengok rumah kami di Tangsel. Mosok seminggu di rumah terus, mal, dan pasar, pengen juga cari suasana baru alias berekreasi ke objek wisata.

Sebelumnya saya pernah googling objek wisata di dekat Tangerang Selatan, eh ternyata nemu yang namanya Pemandian Air Panas Tirta Sanita. "Wow di daerah yang dekat dengan ibukota dan jauh dari  pegunungan, eh ternyata ada pemandian air panas! Wah penasaran juga nih pengen liat....!", pikirku saat itu. Berbekal dengan pengalaman perjalanan yang diunggah oleh seorang blogger, kami pun mencoba untuk touring ke Pemandian Air Panas Tirta Sanita.

Selasa, 12 Mei 2015 sekitar pukul 9 pagi kami bertiga (bersama istri dan anak) dari perumahan kami di Grand Serpong 2 naik motor butut menuju Gunung Kapur, Ciseeng. Tak lupa kami penuhi dulu bensin motor kami di SPBU jalan Ciater Raya. Kami dari BSD menuju Puspitek Serpong arah Gunung Sindur. Jalan menuju Puspitek sudah cukup bagus dibandingkan sekitar 4 tahun yang lalu ketika aku dan istriku pertama kalinya melewati jalan itu nyasar nyari BKD Tangsel. Nah, begitu melewati Gerbang Perbatasan Wilayah Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor, jalannya mulai memburuk dengan iringan truk-truk bertonase besar yang silih berganti melewati motor bututku. Aku nggak berani melaju cepat-cepat karena membawa anak dan istri mengingat jalan yang jelek, berdebu plus truk-truk besar yang seolah-olah menjadi penguasa jalanan. Tidak sepenuhnya jalan yang kami tempuh jelek, adapula jalan yang cukup baik. Ya kira kira perbandingan ruas jalan yang baik dan buruk 60  : 40 lah....

Capek dengan jalanan dan kurang bersahabat, kami memutuskan untuk mampir ke Alfamart di pinggir jalan beli minuman dingin sambil mengistirahatkan mesin motor. Kutanya pada kasir Alfamart, "Mas lokasi Pemandian Air Panas masih jauh ya?"

"Gunung Kapur ya Mas?, sahutnya.

"Iya Gunung Kapur, Tirta Sanita!", sahutku balik

"O, itu mah udah dekat dari sini, ya kira-kira 15 menit lah dari sini, sebelum perempatan Ciseeng, kiri jalan!"

"Jalannya buruk ya mas?, tanyaku lagi

"Iya rusak, tapi nggak semuanya kok!, ujar si mas kasir dengan ramah

Istirahat sekitar 10 menit kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Selatan menuju Gunung kapur. Ternyata benar jalannya rusak berat, apalagi jalan setelah perempatan alfamart tadi. Waduh kasihan banget Manggala, andai saja bisa kami bawa si hitam ke Jakarta, kan bisa melibas jalanan keparat ini dengan mudah, dan Manggala bisa tidur nyenyak tanpa terkena debu. Tapi ya sudah, kami nikmati saja perjalanan itu.

Seperti yang dibilang Mas Kasir tadi, sekitar 15 menit beranjak dari alfamart, kami pun sampai di Pintu Gerbang Objek Wisata Pemandian Air Panas Tirta Sanita. (bersambung)

Sunday, April 5, 2015

Pantai Mimi Land [Batu Payung] Singkawang

Sunset di Pantai Mimi Land Singkawang (dok. pribadi)
Puas melihat Singkawang dan pantai-pantainya dari atas bukit, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pantai Batu Payung atau yang lebih dikenal dengan Pantai Mimi Land. Mimi Land bisa diibaratkan Ancolnya Singkawang dengan berbagai wahana permainan di tepi pantainya namun dengan pemandangan Pantai yang lebih indah dipadu dengan pulau kecil di hadapannya yang dengan apik membingkai matahari yang akan tenggelam ke peraduannya. Pemandangan Sunset di Pantai ini sungguh luar biasa. Matahari tenggelam dengan anggun di antara dua pulau di seberang pantai. Cahaya keemasannya pun memantul di pasir pantai yang tersibak debur ombak.

Cottage-Cottage di Bibir Pantai Mimi Land (dok. pribadi)
Penginapan bergaya Mediterania di bawah bukit (dok.pribadi)
Kami memilih Mimiland, karena kondisi Pantainya jauh lebih bersih dan bagus dibanding pantai-pantai tetangganya. Dikelola secara profesional dan menurutku sangat potensial sekali dikembangkan. Sayang kami datang ke pantai sudah lebih dari pukul 5 sore sehingga berbagai wahana bermain yang ada sudah berhenti beroperasi. Tapi untungnya cuaca saat itu sedang cerah sehingga kami bisa melihat sunset yang indah.

Mimiland berada di antara Kota Singkawang dan Mempawah. Bisa ditempuh kira-kira 2,5 jam dari kota Pontianak. Ketika kami menuju Mimiland, kami kebablasan masuk ke kampung-kampung Tionghoa di sekitar pantai, yang mana juga banyak wisatawan lokal yang mampir di pantai-pantai gratis yang dikelola warga setempat dengan kedai-kedai makan di pinggirnya. Kalau masuk ke kawasan Mimiland memang harus membayar Rp25ribu per orang, yang mana saat itu kami hanya ditarik tiket Rp60ribu untuk empat orang. Entahlah, atau karena sudah sore maka tiketnya didiskon ya, hehe....

Tapi nggak rugi dengan tiket segitu, kita bisa menikmati pemandangan yang indah dengan kondisi pantai yang bersih lengkap dengan fasilitasnya. Di Mimiland juga terdapat cottage-cottage yang berjejer apik di bawah bukit pinggir pantai. Penginapan bergaya mediterania yang sangat cocok untuk liburan keluarga.

Deretan pohon cemara udang juga menambah keasrian pantai ini. Perlu promosi dan diadakan berbagai event untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke pantai ini, karena sepengamatanku sekilas, Pantai ini sepi pengunjung padahal aku datang pas akhir pekan, apalagi kalau weekdays, pasti sepi banget.

Komedi Putar di Arena Taman Bermain Mimi Land (dok. pribadi)
Wahana bermain di pantai ini lumayan lengkap untuk sekelas objek wisata daerah. ada semacam ontang-anting seperti di ancol, bianglala, komedi putar, arena flying fox yang lumayan panjang dari bukit ke tepi pantai, dan berbagai macam wahana lainnya yang nggak sempat kuamati secara lengkap karena hari sudah mulai gelap saat itu. pantai ini juga relatif aman untuk berenang dengan ombaknya yang tidak besar karena sudah terhalang oleh pulau-pulau kecil di seberang pantai. Namun, untuk anak-anak tetap perlu mendapat pengawasan orang tua ketika berenang di pantai. Pasir pantai Mimi land termasuk pasir yang agak padat sehingga cocok untuk bermain anak-anak membuat istana pasir.

Singkawang memang mengukuhkan dirinya sebagai kota wisata di Kalimantan Barat. Tak salah memang dengan klaim itu, mengingat Singkawang mempunyai berbagai macam objek wisata yang cukup lengkap mulai dari pantai-pantainya yang indah, perbukitannya yang asri, kebun binatang, sampai dengan wisata kotanya yang nggak kalah seru.

Kalau ke Kalimantan Barat mampir ke Singkawang ya....

Narsis bersama kawan (dok. pribadi)

Tuesday, March 24, 2015

Perjalanan Ke Candi Penampihan Tulungagung

Minggu 22 Maret 2015 Kebetulan aku masih di Tulungagung, melepas rindu dengan anak istri di kampung sebelum aku pindah tugas ke Pontianak Jumat ini. Minggu pagi setelah dari pasar mengantar istri belanja, dan mengajak Manggala jalan-jalan ke Alun-alun kota, kami sekeluarga besar mertuaku berencana berwisata ke lereng Gunung Wilis, tepatnya di Candi Penampihan.

Gunung Wilis dari Tulungagung berada di Barat Laut. Sebelum ke Candi Penampihan kami mampir di Pesanggrahan Gunung Wilis. Di Pesanggrahan Gunung Wilis yang terletak di Kecamatan Sendang,  tersedia bungalow, taman bermain anak-anak, dan adapula gua pertapaan. Manggala senang sekali bermain jungkat-jungkit dengan Pak Dhe-nya. Dia senang sekali naik turun tangga bangunan yang mirip punden berundak yang kondisinya kurang terawat dan tidak aman untuk anak sekecil Manggala. Jadi yang membawa balita perlu diperhatikan terus karena juga terdapat jurang yang lumayan dalam di tepi taman.

Banyak buah-buahan di taman itu, ada pohon durian yang sangat menggoda buahnya, adapula pohon manggis yang baru berbuah, kebetulan mobil kami di parkir di bawah pohon manggis. Seumur-umur baru kali itu aku melihat langsung pohon manggis yang sedang berbuah, biasanya cuma pohonnya atau bibitnya saja. Hawa udara di taman kurang begitu sejuk, dengan pengunjung yang relatif sedikit. Mobil hanya ditarik parkir Rp5000 saja, dan tidak ada tiket masuk, seperti dikelola seadanya.

Setelah sekitar setengah jam puas menikmati suasana taman sambil berfoto bersama plus selfie-selfie pakai tongsis adik ipar, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Candi Penampihan. Dari Pesanggrahan Gunung Wilis masih sekitar 30 menit perjalanan dengan medan yang relatif menanjak dan jalan yang semakin menyempit.

Setelah berbelok ke arah kanan dari jalan utama, jalanan berganti dengan medan yang lebih berat dengan aspal yang sudah terkelupas berubah menjadi jalan makadam yang terjal. setelah sekitar 10 menit menyusuri jalan terjal kami pun sampai di pelataran parkir Candi Penampihan dengan perjuangan bertanya kesana kesini dengan orang yang kebetulan berpapasan di jalan.

Ternyata kami satu-satunya pengunjung Candi yang memakai mobil, yang lainnya mayoritas anak-anak muda yang mengendarai sepeda motor. Ya maklum saja medannya yang relatif berat untuk wisata, jadinya sepi pengunjung terutama kalangan keluarga.

Udara segar dan sejuk menyeruak menyambut kami ketika pintu mobil dibuka. "Ah segarnya....!" ujarku sambil menghirup dalam-dalam udara pegunungan yang sejuk dan segar. Di situ terlihat Kebun Teh Mini yang luasnya paling hanya beberapa ratus meter persegi, tapi entahlah kalau dibalik bukit masih ada kebun the lagi. "Dimana ya letak candinya?", pikirku sambil tengok kanan kiri. Ternyata candinya ada di bawah pohon besar.

Kami pun bergegas menuju kompleks Candi yang kebetulan saat itu ditutup pintu pagarnya, namun Ibu penjaganya dengan ramah membukakan pintunya sehingga kami pun bisa masuk dengan leluasa. Manggala senang sekali berlari kesana-kemari, dan naik turun tangga candi yang hanya tersisa reruntuhannya saja seperti punden berundak dan sebuah prasasti di dekat pintu masuk yang kutak tahu apa artinya, mungkin ditulis dengan huruf Palawa berbahasa Sanskerta.

Candi Penampihan adalah Candi Hindu, bisa dilihat dengan adanya simbol siwa berupa Lingga yang berada sebelum pintu masuk yang sekarang tinggal replikanya saja, yang asli mungkin sudah diamankan di museum.

Asik berfoto ria di kompleks Candi dan mengabadikan momen-momen dengan video, kami pun beranjak ke spot lainnya, yaitu sumber air TIRTA AMERTA. Sumber air ini sangat jernih, segar, dan dingin. kubasuh muka dan tanganku, tak lupa juga kuminum langsung airnya tiga teguk meskipun belum dimasak. Manggala pun tak mau kalah, dia mandi di sumber air yang dingin itu dan tentunya menggigil kedinginan.

Tak komplit jika belum berfoto ria dengan background sumber air yang setingnya mirip seperti suasana di Bali itu, karena ada semacam patung yang disarungi atau dikeramatkan. Puas berfoto ria dengan background sumber air, kami pun menuju parkiran untuk bergegas pulang. Namun, sebelum kami pulang, tak lupa berfoto ria lagi di tengah-tengah kebun teh. Haha....serasa di Puncak Pass!

Ternyata Tulungagung selain mempunyai wisata Pantai yang menarik, juga mempunyai objek wisata di Lereng Gunung Wilis yang potensial untuk dikembangkan.

Tuesday, March 10, 2015

Family Gathering di Pantai Ambalat (Ambarawang Laut), Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur

Pantai Ambalat (dok. pribadi)
Namanya seperti Blok di perbatasan Kalimantan Utara dan Malaysia yang diklaim Malaysia sebagai wilayahnya karena potensi kandungan minyaknya yang besar. Namun, Pantai yang satu ini adalah singkatan dari nama Ambarawang Laut disingkat AMBALAT.

Letaknya sekitar satu jam perjalanan dari kota Balikpapan ke arah Timur, melewati objek wisata di Balikpapan yang sudah terkenal diantaranya Pantai Manggar Segarasari, Pantai Lamaru, Penangkaran Buaya di Teritip dan melewati Pondok Pesantren Hidayatulloh yang terkenal itu. Tepatnya di Kecamatan Semboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kebetulan kami sekantor pada hari Minggu, 1 Maret 2015 kemarin mengadakan Kegiatan Capacity Building dan Family Gathering di Pantai Ambalat. Aku nebeng teman yang kebetulan bawa mobil. Aku sudah pernah sebelumnya ke Pantai Ambalat saat survei lokasi untuk kegiatan ini, namun agak lupa-lupa ingat. Yang kuingat hanya belokannya itu setelah Gerbang Perbatasan wilayah antara Balikpapan dan Kutai Kartanegara dan setelah kebun-kebun rambutan.

Nah, saat melewati gerbang perbatasan, tidak lama setelah itu, temanku yang berada di bangku deretan tengah bagian samping kanan, melihat plang spanduk Pantai Ambalat.

Papan Plang lusuh yang hampir ambruk penanda arah Pantai Ambalat (dok. pribadi)
Dia bilang ada telah lewat tulisan Pantai Ambalat, aku mulai ingat kalau belokan ke Ambalat itu jalan kecil dengan plang Penunjuk Pantai yang sudah lusuh. Temanku yang memberitahu tadi juga tidak yakin, karena plangnya yang sudah lusuh dan setengah ambruk. Aku meminta kawanku untuk putar balik, karena aku yakin lokasinya sudah lewat. eh, malahan teman satu mobil pada nggak percaya dan bilang masih jauh, padahal jalanan mulai menanjak dan berkelok, jalan yang nggak pernah kulalui saat pertama kali ke Ambalat sebelumnya. Aku meminta temanku berhenti sebentar agar aku bisa bertanya ke penduduk sekitar. Lokasi berhenti kami saat itu telah melewati Pemancingan Widuri, Ternyata dugaanku benar, Belokan ke Pantai Ambalat sudah terlewat. Kami pun putar balik. Sesampainya di belokan ke Pantai Ambalat dari Jalan Utama, kesempatkan memotret plang lusuh yang setengah ambruk penanda arah ke Pantai Ambalat. Rencananya memang mau kuposting di blog agar orang-orang yang mau berkunjung ke Pantai Ambalat tidak kebablasan.

Dalam perjalanan menuju pantai, kami pun sempat berhenti sebentar untuk membeli Cempedak yang dijajakan penduduk setempat dengan harga yang cukup murah tapi dengan aroma yang sudah wangi semerbak menandakan buah cempedak yang sudah matang. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pantai kira-kira 20 menit menyusuri jalan beton yang sudah cukup bagus dan relatif lebar untuk ukuran daerah setempat.

Gazebo di Tepi Pantai (dok. pribadi)
Sebelum memasuki daerah Pantai kami sebenarnya diharuskan membayar retribusi yang dikelola penduduk setempat, tapi berhubung kami rombongan entah berapa panitia membayarnya, aku lupa nanya. Pemda Kutai Kartanegara tidak mengelola Pantai ini, melainkan dikelola secara swadaya oleh desa setempat. Mungkin Pemda Kutai Kartanegara sudah terlalu kaya, dan mungkin jika dikelola biaya operasionalnya tidak sebanding dengan pemasukkannya ke Kas Daerah, ditambah lagi lokasinya yang sangat jauh dari Ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) di Tenggarong yang bisa mencapai lebih dari 100 km dari Ambalat. Wow luas banget ya wilayah Kukar, kayak provinsi sendiri.

Sesampainya di Pantai, mobil yang kutumpangi berbelok ke arah kanan dari portal masuk menuju suatu lokasi pemancingan yang kira-kira sekitar 500 meter dari pintu masuk. Suasanya cukup sejuk karena masih sekitar pukul 9 pagi kami sampai sana, dengan lahan parkir yang rindang dinaungi deretan pohon cemara udang yang membuat teduh suasana pantai. Di lokasi itu juga dilengkapi berbagai Gazebo untuk bersantai menikmati udara Pantai Ambalat yang sungguh segar tanpa bau amis sedikit pun.

Setelah semua rombongan hadir, segera kami kumpulkan semua peserta kegiatan di ruang terbuka sekitaran parkiran. Kami mulai dengan stretching Chicken Dance dan sedikit Brain Gym untuk Ice Breaking. Setelah itu kami gelar berbagai lomba mulai dari makan krupuk dengan kontestan Anak yang digendong bapaknya bersama-sama makan kerupuk yang digantung, lomba memindahkan kelereng dengan sendok secara estafet antara orang tua dan anaknya, lomba  memasukkan paku ke dalam botol, lomba lari bolak-balik dengan menggendong istri masing-masing, lomba hulahop, lomba goyang dumang, dan terakhir lomba tarik tambang yang membuat badanku pegal-pegal selama beberapa hari.

Setelah menyelesaikan berbagai lomba, segera kuarahkan para peserta untuk menuju pemancingan di belakang parkiran. Ada beberapa kolam pancing yang cukup luas namun tetap teduh karena di pinggirnya didominasi pohon cemara udang. Kami pun menggelar lomba pancing, dengan ketentuan siapa yang memperoleh ikan paling kecil dengan cara dipancing, itulah pemenangnya.

Kolam Pancing paling depan (dok. pribadi)

Pemandangan Kolam Pancing dengan gubuk di penggirnya (dok. pribadi)
Teman-teman beserta keluarganya terlihat sangat gembira saat itu. anak-anak berlarian main kesana kemari, ada yang memecah kelapa muda sambil menikmatinya di bawah rindangnya pohon cemara, ada pasangan-pasangan muda pegawai yang hanya duduk-duduk santai berdua di bawah terpal biru yang sengaja kami pasang di bawah pohon cemara di tepi kolam pancing, karena keterbatasan jumlah gazebo. Ataupun aku yang memilih tiduran sejenak karena sakit semua badanku setelah ikut tarik tambang dan sempat jatuh bangun bahkan sampai suaraku habis karena harus teriak-teriak memberikan semangat kepada teman satu timku, padahal aku juga harus jadi MC acara itu, habislah suaraku.

Setelah agak mendingan, aku pun mencoba jalan-jalan menyusuri kolam pancing sambil memotret dan membuat video yang rencananya ku-upload di Youtube, hehee.... Saat kuberjalan-jalan menuju kolam pancing di belakang yang katanya banyak ikan yang besar-besar, kutertarik dengan dahan-dahan cemara udang yang sedang berbuah. kupetiklah beberapa buah cemara udang yang rencananya akan kusemai bijinya dan kutanam di kantor. Tak lupa kupotret juga buahnya.

Buah Cemara Udang (dok. pribadi)
Usai Makan siang, kami undi doorprize dan kami bagikan hadiah-hadiah bagi pemenang lomba-lomba sebelumnya. setelah itu, kami beralih ke tepi Pantai, aku pun tak menyia-nyiakan waktu di tepi pantai untuk memotret panorama Pantai 180 derajat dengan bantuan tripod. sedangkan teman-teman yang membawa anak-anak terlihat asik bermain dengan air pantai. Kondisi pantai saat itu masih surut namun berangsur-angsur beranjak pasang, dengan pasir pantai coklat yang cukup bersih.

Puas menikmati suasana Pantai, kami pun meninggalkan Pantai sekitar pukul setengah tiga siang, karena takutnya kalau kesorean akan terjebak macet di kawasan pantai Manggar yang sedang menyelenggarakan Pesta Laut.

Sunday, March 8, 2015

Perjalanan Asik ke Pantai Prigi, Trenggalek

Pemandangan Pantai Prigi (dok. pribadi)
Liburan Imlek bulan lalu aku pulang ke Tulungagung, Jawa Timur. Senang rasanya bisa ketemu lagi dengan Manggala dan Ibunya, sejak akhir tahun lalu. Libur Imlek hari Kamis, dan aku izin hari Jumatnya, jadi lumayan bisa 4 hari di Tulungagung. Bahagia, damai, tentram bisa berkumpul dengan anak istri tercinta di kampong. Kebersamaan yang jarang kami nikmat selamati ini, paling-paling setahun nggak nyampai 12 kali kami sekeluarga bisa berkumpul. Loh kok malah curhat…..

Oke, selama empat hari itu lebih banyak kuhabiskan di rumah bermain dengan Manggala. Nah, hari Sabtu, tanggal 21 Februari tiba-tiba saja aku kepikiran kepengen Ayam Lodho yang katanya cukup enak yang berada di Kecamatan Bandung (Baca: Mbandung) Tulungagung. Kami bertiga pun merencanakan untuk kesana mencicip kuliner asli Tulungagung ini.

Sekitar Pukul 10 pagi kami bertiga pun berangkat naik mobil menuju Mbandung. Sudah lama nggak nyetir mobil rasanya kaku semua tangan dan kaki ini. Sekitar setengah jam perjalanan dari rumah mertua di daerah Jepun Tulungagung, kami pun sampai di rumah makan yang terkenal dengan Ayam Lodho-nya itu. Tapi berhubung baru sekitar jam setengah sebelas kami sampai sana dan perutku masih terasa kenyang karena pagi harinya aku makan banyak sekali, maka kami pun melanjutkan perjalanan terus ke selatan menuju pantai Prigi, Trenggalek.

Sekitar 15 menit dari Mbandung jalanan mulai menanjak, Jalanan berkelak-kelok naik turun gunung dengan tingkungan curam dan tanjakan tajam mengiringi perjalanan wisata dadakan kami siang itu. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan khas perbukitan dengan banyak pohon durian yang berbuah lebat dan siap  panen. Benar, di sepanjang tepi jalan, banyak pedagang Durian yang menggelar lapak seadaanya. “Wah pasti murah-murah nih Duriannya, nanti pulangnya kita mampir ya cinta…”, pintaku mesra ke istri, haha….

“Iya sayang ntar pulangnya aja…. Manggis juga banyak tuh, sayang mau?”, balas istriku tak kalah mesra membuatku seolah menjadi pria tertampan di dunia, wkwkwkwkwk…

Jalan yang kami lalui tergolong mulus beraspalkan hotmix dengan lebar yang lumayan untuk jalan di perbukitan. Jalanan pun agak sepi, tapi aku heran kok ada spanduk artis Arumi Bachsin dan suaminya yang anak mantan wakil menteri PU itu si Dardak-dardak siapa tu namanya, lupa….. Sekitar pukul 11 kami pun sampai di Pantai Prigi. Di portal retribusi obyek wisata, kami ditarik karcis 15 ribu untuk dua orang dewasa, balita nggak dihitung, dan 5 ribu rupoiah untuk parker. Kami pun tak kesulitan mencari parkiran tepat di pinggir pantai di bawah keteduhan pohon waru. Kebetulan kondisi saat itu pantainya sedang sepi.

Bermain Air Bersama Manggala (dok. Pribadi)
Kami pun segera keluar dari mobil, si Manggala nampaknya nggak sabar mau bermain di pantai. Aku pun tak lupa membawa kamera dan tripod. Cukup bersih pantai dengan hamparan pasir coklat dengan jalanan di sepanjang pantai beretepikan pepohonan yang membuat teduh di tengah teriknya sinar matahari. Berderet pula penjaja makanan dan penjual kelapa muda disebelah sisi jalan yang lain, memberikan kesan lumayan rapi dan tertata. Pantai Prigi memang terletak di sebuah teluk yang diapit perbukitan hijau, sehingga ombaknya tidak besar, makanya terdapat sebuah bermaga perahu nelayan tradisional di sisi timurnya.

Kebetulan di dekat parkir mobil kami terdapat semacam gazebo. Kami pun duduk di situ sambil menaruh barang-barang bawaan. Kukeluarkan Tripod, kupasang kamera di atasnya kujeprat-jepret sekitar 180 derajat untuk membuat foto panorama. Tak lupa kupotret aksi manggala saat duduk-duduk di Gazebo. Kami pun berfoto bertiga dengan background Pantai Prigi yang bertepikan perbukitan hijau yang mengelilinginya.

Deretan Penjaja Makanan dan Souvenir (Dok. Pribadi)
Manggala nggak sabar untuk menjejak ke laut. Dicopotlah bajunya dan celananya hanya menggunakan singlet dan pampers, Manggala kugandeng menuju tepi pantai. Senang sekali dia bisa bermain air, apalagi sambil menunggu ombak mengguyurnya. Tapi aku tidak berani melepasnya, khawatir tiba-tiba ada ombak besar. Setiap kali ada ombak datang dia pengen menantangnya, begitu terguyur ombak di tertawa lebar menjerit gembira. Istriku kuminta memotret aksi kami berdua. Puas dengan bermain air, Manggala pun dibawa Ibunya ke Toilet untuk mandi. Sambil menunggu manggala mandi kunikmati Kelapa Muda yang dipesankan oleh istriku. Tenang, damai, bahagia rasanya bersama keluarga kecil kami berada di pantai yang udaranya segar ini. Sejenak kuberpikir, “Mengapa momen-momen kebersamaan seperti ini suatu hal yang sangat mahal dan langka bagi kami, kapan kami bisa bersatu dalam satu rumah…” Ah, sudahlah yang penting kami masih bisa bergembira bersama.

Manggala Makan Duren (Dok. Pribadi)
Nggak lama kami di Pantai Prigi siang itu. Kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah, tapi sebelumnya pengen mampir ke rumah makan Ayam Lodho dulu. Sebelum sampai ke rumah makan itu kami mampir membeli Durian dan manggir yang banyak dijajakan di pinggir jalan perbukitan. Cukup murah harganya….


Kami pun makan siang di rumah makan Ayam Lodho (baca: Wisata Kuliner Ayam Lodho). Kami pesan ayam setengah ekor, karena hanya boleh pesan ukuran setengah ekor atau satu ekor, nggak boleh milih per potong. Kenyang dengan ayam Lodho, kami pun langsung melanjutkan perjalanan pulang.  Sampai di rumah sekitar pukul 3, dan Durian yang kami beli pun kami pecah, dan Manggala pun tenyata suka sama Durian padahal baru 2,5 tahun. Sebenarnya durian kurang baik sih untuk anak sekecil Manggala, karena bisa menimbulkan panas di perut. Untungnya Manggala nggak makan banyak-banyak, dia agak jijik dengan jemeknya durian, tapi suka akan rasanya. Geli lihat manggala belepotan makan durian.

Update: Ternyata spanduk-spanduk bergambar Arumi Bachsin dan Suaminya (Emil Dardak) dalam rangka kedatangan Emil Dardak ke Festival Prigi keesokan harinya tanggal 22 Februari 2015. Si Emil Dardak rencananya mau maju sebagai calon Bupati Trenggalek (Tribunnews.com, 23-2-2015).

Wednesday, August 27, 2014

Wisata Kuliner Balikpapan (part 2) : Tahu Telor Blora

Tahu Telor Blora dengan alas daun pisang (Sumber: Foto Pribadi)
Balikpapan yang baru-baru ini di Survei suatu lembaga dinobatkan sebagai kota ternyaman untuk tinggal di Indonesia (tapi kayaknya bukan menurutku, he he....) ternyata banyak kulinernya yang mampu menggoyang lidah. Bukan asli masakan setempat, melainkan 'impor' dari Pulau Jawa, tepatnya dari Kabupaten Blora, Jawa Tengah apalagi kalau bukan Tahu Telor Blora.

Lokasi tepatnya berada di kawasan Jl. Ruhui Rahayu (Ring Road) Balikapapan, di depan ruko-ruko samping gerbang Perumahan Rengganis. Bukan warung permanen, melainkan warung tenda layaknya warung-warung penyetan Lamongan.

Sebenarnya sajian masakan di warung ini tidak hanya tahu telor, melainkan ada nasi goreng ataupun mie goreng. Namun, yang otentik dari warung ini adalah Tahu Telornya yang maknyus...!

Kalau di Jawa khususnya di pantura timur Jawa Tengah, masakan tahu telor ini disebut juga tahu campur. Rasanya juga mirip-mirip dengan masakan kupat tahu magelang. Meskipun sama-sama menggunakan bumbu dominan kacang, tapi jelas berbeda dengan pecel.

Tahu Telor Blora ini berkuah, dengan toping bumbu kacang uleg kasar, seledri, jeruk nipis, taoge rebus, irisan kol, tahu yang digoreng bersama telor dadar, serta lontong sebagai pengganti nasi. Tentunya masih banyak bumbu rahasia sang penjual yang tidak kuketahui.

Istimewanya tahu telor Blora di Ring Road ini adalah dibuat satu per satu sesuai pesanan, bisa pesan pedas ataupun sedang. Nah, karena dibuat satu per satu dan langsung diracik ketika dipesan maka tahu telor yang tersaji sangatlah fresh dan konsistensi rasanya tetap terjaga.

Rasa tahu telor ini menurutku sangat pas baik itu rasa kacangnya, jeruk nipisnya, tahu dan telornya, pedasnya sungguh seimbang, tidak berlebihan ataupun hambar. Saya akui, si Ibu peracik memang spesialis tahu telor Blora.

Warung tahu telor ini mulai buka kira-kira selepas maghrib. Warungnya buka tiap hari tapi terkadang di hari-hari tertentu siap+siap saja kecewa karena tutup (tidak ada jadwal pasti tutupnya). O iya mengenai harga cukup murah untuk standar harga makanan di kota minyak ini. Satu porsi Tahu Telor pakai lontong atau nasi dibanderol Rp12rb, cukup ramah di kantong bagi anak kos-kosan sepertiku, he he...

Tuesday, August 13, 2013

Cerita Mudik Lebaran 2013

Lebaran tahun ini aku tidak ambil cuti tahunan, karena cuti bersama selama 3 hari plus libur lebaran 2 hari sudah menggenapkan menjadi 9 hari libur yang kuanggap cukup untuk mudik lebaran tahun ini.

Jumat, 2 Agustus 2013
Pukul 16.30 WITA aku langsung fingerprint absensi, dan diantar ke bandara oleh teman kantor. Aku menggunakan Garuda Indonesia yang menggunakan pesawat Bombardier CRJ1000 dengan jadwal take off pukul 17.25 WITA. Hanya 10 menit dari  kantorku di kawasan MT Haryono Dalam Balikpapan menuju Bandara Sepinggan. Sebelum boarding kusempatkan beli 2 bungkus Roti O untuk tambahan berbuka di pesawat meskipun nantinya di dalam pesawat juga dapat snack.

Sekira pukul 18.00 WIB pesawat landing di bandara Juanda Surabaya. Langsung kulanjutkan dengan naik Bus DAMRI menuju Terminal Purabaya di Bungurasih Surabaya. Sialnya aku tidak kebagian tempat duduk jadinya berdiri sampai terminal, untungnya hanya sekitar 30 menitan saja.

Sesampainya di Terminal aku langsung mencari Bus Patas Harapan Jaya jurusan Surabaya-Tulungagung, untungnya masih ada tempat duduk tersisa. Lega rasanya tidak berebutan naik bus seperti Idul Adha tahun lalu.

Sekitar pukul 23.00 WIB aku sudah sampai di Tulungagung dan disambut istriku tercinta. Sedangkan anakku tentunya jam segitu sudah tidur pulas. Indomie rebus plus sayuran buatan istri cukup mengenyangkan perut yang sepanjang perjalanan hanya dipenuhi roti dan minuman.

Sabtu, 3 Agustus 2013
Pagi-pagi kuantar istri ke tempat kerjanya di Puskesmas Sembung, Tulungagung. Setelah usai memeriksa pasien-pasiennya, kami pun berkeliling kota untuk membeli baju-baju dan sandal cit- cit buat Manggala. Sore harinya kami ke Sate Kambing "Moro Lego" langganan kami untuk berbuka puasa.

Minggu, 4 Agustus 2013
Puas bermain-main dengan Manggala seharian, malam harinya kami sekeluarga besar menjenguk kerabat yang melahirkan di RSUD Tulungagung, dan diakhiri makan mie godog di pinggir jalan.

Senin, 5 Agustus
Kami bertiga plus adik iparku berangkat naik mobil untuk mudik ke Pati, tempat tinggal orang tuaku. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 6,5 jam. Seperti tidak terasa saat  mudik, karena jalanan lengang dan lancar. Kami melalui rute Tulungagung - Kediri - Nganjuk - Caruban - Ngawi - Cepu - Blora - Rembang - Pati. Sepanjang jalan Ngawi - Cepu banyak jalan yang dilebarkan dan dibeton, namun belum selesai 100%. Jalanan rusak semakin sedikit, hanya beberapa ruas antara Cepu-Blora dan Blora - Rembang. Memasuki Pantura Rembang-Pati yang tahun-tahun kemarin terkenal macet parah karena proses pembetonan danpelebaran jalan, sekarang kondisinya mulus, lebar dan lancar.

Sepanjang perjalanan Manggala tidur nyenyak beberapa kali dalam tempo yang relatif lama. Dia memang senang jika naik mobil, semakin keras goncangannya semakin nyenyak tidurnya. Sesekali dia rewel  ingin duduk di kursi kemudi. Sesampainya di Pati Kakek Nenek-nya pun menyambutnya dengan suka cita.

Selasa, 6 Agustus 2013
Kami berwisata menuju kawasan Colo, di Lereng Gunung Muria. Perjalanan kami putuskan melalui kota Kudus karena akses jalannya yang lebih bagus dan tidak terlalu curam. Saat menuju kota Kudus, kami sempatkan mampir ke Kios oleh-oleh Kacang Dua Kelinci di Jalan Raya Pati - Kudus. Ternyata tidak hanya sekedar kios oleh-oleh, Kacang Dua Kelinci membuka rest area bagi para pemudik di lingkungan pabriknya yang asri dan tertata rapi dengan berbagai fasilitas. Ada pijat gratis, ada potong rambut gratis, bahkan yang berani dipotong gundul akan mendapat bingkisan produk Dua Kelinci senilai 120 ribu rupiah. Ada permainan bola sepak. Mushola dan toiletnya pun sangat bersih. Parkir  yang luas dan rindang menambah kenyamanan pengunjung.

Manggala sempat duduk di kursi pijat, dan dia merasa nyaman dan betah di situ. Tak lupa kami berfoto-foto dengan patung kelinci yang ada di taman-taman sekitar pabrik. Istri dan Ibuku juga menyempatkan diri untuk potong rambut mumpung gratis. Aku sempat mencoba kursi pijatnya, ternyata enak juga, ha ha.....

Usai berbelanja produk-produk dua kelinci, kami pun melanjutkan perjalanan ke Gunung Muria. Gunung Muria terkenal dengan wisata religi, yaitu adanya Makam Sunan Muria, salah satu anggota Wali Songo yang terkenal sebagai penyebar Islam di Pulau Jawa. Selain wisat religi, Gunung Muria juga menyimpan banyak potensi wisata alam, diantaranya Air Terjun Monthel, Air Tiga Rasa, Area Perkebunan Kopi, dan Hutan Alam yang masih asri.

Sesampainya di kawasan Wisata Gunung Muria, terlihat sangat sepi sekali. Warung-warung penjual makanan dan cenderamata semuanya tutup. Di kawasan ini biasanya banyak bertebaran penjual uwi, gembili dan umbia-umbian lainnya, namun saat itu tidak terlihat satu pun penjual, mungkin karena masih bulan puasa. Tujuan kami ke Muria bukan untuk berziarah ke Makam SUnan Muria melainkan hanya untuk melihat air terjun Monthel. Para pengemudi ojek pun segera mendekati kami menawarkan jasa ojeknya. Kami menyewa 3 ojek untuk menuju air terjun dengan tarif Rp8000,- per orang. Ibu tidak ikut dan hanya memilih beristirahat di gedung pelatihan tempat dimana mobil kami parkir karena beliau tidak kuat jika harus jalan menuruni tebing menuju air terjun mengingat kondisi kaki beliau setelah kecelakaan 2 tahun silam.

Ojek tidak bisa turun sampai di tepi air terjun. Kami masih harus menuruni anak tangga sekitar 150 meter. Udara sejuk langsung menyergap dan sayu-sayu terdengar gemericik air terjun. Sekitar 10 menit berjalan kaki menuruni anak tangga yang sudah dilapisi batu-batu kerikil yang tertata rapi.

Sesampainya di air terjun, kami langsung melepaskan alas kaki dan duduk-duduk di batu kali yang diatas sungai jernih yang dialiri air dari air terjun Monthel. AIr yang begitu dingin dan sejuk membuat manggala sangat senang. Dia bermain air sambil sesekali memasukkan air ke mulutnya untuk diminum.

Puas bermain air dan berfoto di air terjun, kami pun kembali ke parkiran mobil dengan ojek juga. Namun ojek yang datang menjemput kami kali ini cuma dua saja, satu motor bebek dan satu motor 'lanang'. istriku dengan manggala digendongnya naik motor bebek, sedangkan aku dan adik iparku berboncengan tiga naik motor 'lanang'. Agak serem juga naik ojek di sini karena jalanannya yang curam, tapi aku percaya mereka sudah handal mengemudikannya.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju masjid menara kudus yang di dalam kompleksnya juga terdapat Makam Sunan Kudus. Letaknya memang tidak berada di barat Alun-alun melainkan di jalan sempit daerah Kauman. Kami sempat berputar-putar mencarinya dan bertanya kepada beberapa orang. Sayangnya saat kami kesana, Menara Kudus baru direnovasi sehingga kurang terlihat anggun untuk dinikmati dan menjadi objek foto.

Kami akhiri perjalanan wisata hari itu dengan membeli salah satu masakan khas kudus yaitu pindang kerbau di pujasera dekat alun-alun kudus untuk menu berbuka puasa sore harinya.

Rabu, 7 Agustus 2013
Siang harinya kami diajak Bapak untuk ke pasar burung membeli pakan burung. manggala sudah pasti kami ajak. Ternyata  Manggala suka dengan burung parkit yang berwarna-warni, sehingga kami pun membeli sepasang parkit warna biru beserta sangkarnya seharga Rp160 ribu. Kami kemudian melanjutkan untuk berwisata ke Waduk Gunung Rowo di Lereng Muria Bagian Timur. Udara sejuk dan pemandangan air waduk yang melimpah dengan pepohonan ridang di tepiannya menjadikan kami betah berlama-lama menikmati pemandangan waduk dengan menghirup udara segar plus semilir angin berhembus. Di tepi waduk berjejer warung-warung makan yang sedang membakar ikan, yang tentunya menggoda nafsu kami yang kebetulan saat itu masih berpuasa. Tak disangka Bapak membeli setandan Kelapa Muda berisikan 20-an buah kelapa seharga Rp150rb. Kelapa muda yang dibeli ternyata kualitasnya bagus dengan airnya yang manis dan daging kelapanya yang pas (klamut-klamut).

Sore Harinya, kami menuju Pujasera pati untuk berbuka puasa. Kami memesan Lontong Tahu Telur, Bakso Tangkar, Nasi Gandul, Soda Gembira. Tak disangka anakku si Manggala suka sekali minum Soda Gembira, padahal usianya baru 13 bulan. (bersambung.....)



Friday, May 24, 2013

Objek Wisata Balikpapan 2 - Pantai Manggar Segarasari

Manggar kalau di Jawa itu adalah nama bunga kelapa yang biasanya 'dideres' untuk diambil niranya (legen) bahan baku pembuatan gula merah. Namun, kalau di Balikpapan nama Manggar adalah suatu kawasan pantai sekitar 20 km dari pusat kota Balikpapan yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit dari Terminal Damai naik angkot berwarna hijau tua nomor 7.
Persewaan Pelampung Ban dan Bebek di Pantai Manggar (dok. pribadi)

Pantai Manggar Segarasari nama lengkapnya, namun lebih populer disebut Pantai Manggar saja. Dengan tiket masuk yang ramah di kantong membuat semua kalangan bisa menjangkau kawasan wisata ini. Dari jalan raya Pantai bisa ditempuh dalam jarak kurang lebih 500 meter. Di kanan kiri sepanjang jalan masuk terdapat kebun-kebun warga yang ditanami pepaya, mungkin sejenis California karena pohonnya masih relatif pendek namun buahnya banyak sekali. Ada pula hamparan tanaman kangkung, dan yang pasti kebun Kelapa.

Sekitar pertengahan bulan Oktober 2012, aku dan teman sekantorku yang juga teman sekosku, main ke Pantai Manggar. Karena weekend bingung mau kmana dan status kami yang bujang lokal, daripada mati gaya di kos jadilah kami ngeluyur menyambangi sudut-sudut Balikpapan yang merupakan kota baru buat kami yang pindah tugas ke kota ini awal Oktober 2012.

Kami naik angkot dari depan Balikpapan Super Blok dengan naik Angkot Nomor 7. Kami bilang ke sopir untuk diantar sampai ke Pantai Manggar. Ternyata setelah kurang lebih 40 menit perjalanan, sebagai penumpang yang masih tersisa di angkot itu, kami pun turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 10 menit menuju pantai. Kami pun melewati gerbang tiket masuk ke pantai, tapi mungkin karena kami berjalan kaki, petugas pun tidak menarik tiket kepada kami. Kami pun sengaja tidak mau bertanya ke petugas itu, dan dengan PeDe santai tetap berjalan kaki seperti penduduk sekitar. Oiya, ongkos angkotnya cuma 6000rupiah berdua.

Hamparan Pasir Putih pantai Manggar dengan deretan pohon cemara udang (dok. pribadi)
Tak lama kami pun disambut Pantai berpasir putih dengan deretan cemara udang di sepanjang pantainya. Bedanya dengan pantai Lamaru adalah cemara yang ada disini masih relatif sedang belum sebesar di Lamaru, juga jumlahnya jauh lebih sedikit, cuma beberapa baris memanjang saja, berbeda dengan Pantai Lamaru yang sudah matang tegakan cemara udangnya.

Keteduhan Cemara udang di pinggir pantai Manggar (dok. pribadi)
Kami pun menyewa tikar seharga 5000 rupiah dan memesan es kelapa muda seharga 10000 per buahnya sambil duduk-duduk dan merebahkan badan di bawah cemara sambil menikmati udara pantai yang menyegarkan. Namun bukan pantainya yang kucermati melainkan rasa kelapa mudanya yang menurutku aneh. Daging buah kelapanya memang tebal dan empuk, namun hampir tidak ada rasanya alias hambar. Sangat berbeda dengan rasa kelapa di Pulau Jawa yang manis dan gurih. Mungkin karena di Kalimantan tidak ada perbedaan musim kemarau atau musim hujan. Logikanya curah hujan yang tinggi akan mengurangi rendemen, dalam hal ini menjadikan kelapa tidak manis melainkan cenderung tawar.

Di pantai ini banyak penjual makanan, tidak seperti di Pantai Lamaru. Fasilitas penunjang seperti toilet dan Mushola juga ada di sini plus lahan parkir yang memadai.

Untuk saat iniPantai Manggar lebih populer daripada Pantai Lamaru, namun sepertinya kepopuleran itu akan segera melekat ke Pantai Lamaru jika pengelola tidak kreatif dalam mengelola objek wisata pantai ini.

Ayo berwisata,
segarkan pikiran,
segarkan jiwa,
hidup kan lebih bahagia.


Thursday, May 23, 2013

Objek Wisata Balikpapan - Pantai Lamaru

Jaraknya bisa ditempuh sekitar 25 km dari pusat kota Balikpapan. Angkot No. 7 berwarna hijau tua dari Terminal Damai Balikpapan juga melewati rute ini.
Cemara Udang dengan background pantai di Lamaru (dok. pribadi)

Inilah Pantai Lamaru. Pantai di pinggiran kota Balikpapan ini memberikan suasana yang kontras dengan hiruk pikuk Balikpapan yang sedang berkembang menjadi kota metropolitan. Pantai ini menyajikan pemandangan Selat Makassar dengan pasir putih yang memanjang di pantai berkontur landai ini. Yang membedakan dengan Pantai yang lain adalah hamparan Cemara Udang yang menghijau membuat udara di pantai ini sejuk.

Luasnya tegakan Cemara Udang yang mendominasi pantai ini, membuat suasana pantai ini cocok untuk kegiatan berkumpul bersama keluarga tercinta ataupun family gathering.

Awal Mei kemarin, aku berkesempatan mengunjungi pantai ini. Kebetulan saat itu aku dan teman-teman kantor sedang mendampingi kegiatan latihan menembak para siswa diklat Kesamaptaan Bea Cukai di Lapangan Menembak Dodikjur Rindam VI Mulawarmandi kawasan Manggar. Karena lokasinya yang relatif dekat, mampirlah kami ke Pantai Lamaru. Kebetulan dari kami berlima, hanya satu teman kami yang pernah ke pantai ini. Aku baru mendengar keindahan Pantai ini dari cerita teman-teman kantor.

Di pintu Gerbang Masuk disambutlah kami oleh penjaga loket. Tertera di tiket per orang dikenai biaya Rp10ribu, sedangkan mobil Rp15rb, Jadilah total Rp65ribu yang harus kami bayarkan. Aku agak terkejut dengan mahalnya tiket di pantai ini, padahal di Pantai Manggar Segarasari di sebelahnya cuma sekitar 3ribu rupiah saja. Usut punya usut, Pantai Lamaru pengelolaannya sudah diambil alih oleh swasta, dan sekarang baru proses pelebaran jalan akses masuk dan pembangunan fasilitas pendukung lainnya.

Sekitar 100 meter dari gerbang masuk, kami disambut hamparan tegakan Cemara Udang yang kira-kira rata-rata berketinggian 15 - 20 meter. Yang menambah segar pemandangan adalah di bawah tegakannya ditumbuhi rumput yang menghijau. Menggodaku untuk menghamparkan tubuh yang capek ini diatasnya sambil menikmati angin pantai sepoi-sepoi.

Pantai berpasir putih dengan tegakan cemara udang di Lamaru (dok. pribadi)
Usai kami memarkir mobil di bawah tegakan cemara, kami berjalan menuju pantai. Tak ingin melewatkan momen ini segera kukeluarkan iphone lawasku untuk memotret berbagai spot menarik di pantai ini. Puas memotret sana sini, segera kuupload foto dengan aplikasi panoramio agar bisa muncul di Google Earth namun berkali-kali mencoba selalu gagal, mungkin koneksinya yang sedang tidak bagus.

Kami berlima kemudian duduk-duduk di rerumputan bawah pohon cemara sambil mengamati tingkah polah beberapa rombongan keluarga ataupun instansi yang sedang melakukan family gathering di pantai ini. Di Pantai ini memang cocoknya duduk-duduk santai di atas tikar sambil menikmati segarnya udara pantai dan sejuknya iklim mikro di bawah tegakan cemara udang.

Pantai Lamaru yang bersih, tegakan cemara udang yang menghampar luas, plus suasananya yang tidak terlalu ramai bagus untuk merefresh pikiran yang suntuk dan cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta.

Puas rasanya mengunjungi Pantai Lamaru. Namun yang masih mengganjal di hatiku adalah tiketnya yang relatif mahal untuk ukuran kantongku..... He he....

Sunday, December 23, 2012

Perjalanan Ke Canopy Bridge Bukit Bangkirai

Liburan panjang natal tahun ini aku tidak pulang ke Jawa. Libur Natal, cuti bersama plus libur kerja hari Sabtu dan Minggu membuat liburan akhir pekan kali ini terasa panjang. Tak mau mati gaya di kos-kosan, aku pun merencanakan liburan bersama teman-teman kantorku yang sama-sama tidak pulang kampung.

Gerbang Menuju Canopy Bridge (dok. pribadi)


Bukit Bangkirai! Itulah obyek yang pertama kali terlintas untuk kukunjungi liburan kali ini. Sudah hampir 3 bualn aku di Balikpapan, paling jauh aku berwisata ke Pantai Manggar yang berpasir putih dengan deretan pohon cemara udangnya yang rimbun. Namun, kali ini aku tidak berminat wisata pantai, melainkan wisata ke hutan yang membuatku penasaran. Bukit Bangkirai di bawah naungan Inhutani I memang terkenal sejak satu dekade terakhir. Bukan karena keanekaragaman flora faunanya, melainkan jembatan gantung yang melintang di ketinggian sekitar 30 meter diatas lantai hutan yang bertengger di puncak pohon-pohon Bangkirai. Canopy Bridge, ya itulah nama kerennya.

Tapi rencana kami itu hampir gagal karena untuk kesana kami tidak punya mobil, mau pinjam kantor mobilnya baru diservis, kalau mau naik motor terlalu jauh dan takutnya nggak kuat soalnya menurut teman-teman yang sudah pernah kesana jalannya lumayan jelek dan menanjak. Kemudian timbul ide dari salah satu teman kami untuk menyewa angkot saja. Awalnya aku sempat ragu, apakah kuat ya angkot kesana, namun karena kuatnya keinginan untuk melihat yang namanya Canopy Bridge ini, kami pun mengiyakan ide temanku itu.

Pagi ini, kami pun berkumpul di Kantor. Untungnya tidak hujan, namun masih saja berawan. Dari Kantor kami di Kawasan MT Haryono Dalam, kami naik angkot menuju Terminal Batu Ampar. Dari terminal Batu Ampar, kami menyewa sebuah angkot dengan tarif Rp200rb. Harusnya tarifnya cuma Rp 150rb, berhubung kami tertipu sama si Calo angkot, nambahlah 50rb buat si Calo. Tapi ya sudahlah itung-itung bagi-bagi rezeki.

Kami berempat dengan sopir angkot yang asli Bugis melaju dengan tujuan KM 38 Jl. Balikpapan - Samarinda. Kami termasuk si sopir belum pernah ada yang ke Bukit Bangkirai. Sepanjang perjalanan, kami mengobrol dengan si sopir, dia ternyata bisa berbahasa Jawa seperti kami karena dulu pernah bekerja di Batam dan teman-teman mess-nya ternyata sebagian besar orang Malang, jadilah dia bisa berbahasa Jawa sampai sekarang.

Sesampainya di KM. 38 ada pertigaan besar dan ada penunjuk kekiri jika Bukit Bangkirai masih 20 KM lagi namun sebelumnya kami tidak melihat angka 20 km itu, baru ketahuan setelah pulangnya. Pantesan saat berangkat kok rasanya jauh sekali masuk ke dalamnya nggak sampai-sampai. Kami pun berbelok kekiri sesuai arahan petunjuk di jalan itu, kira-kira kami masuk sekitar 11 km jalanan beraspal yang seringkali masih ada yang berlubang dengan turunan dan tanjakan namun masih relatif tidak tajam tikungannya. Kemudian setelah sekitar 11 km ada plang ke arah Bukit Bangkirai di kiri jalan. Kami pun masuk ke dalam kira-kira 9 km dengan kondisi jalan yang sedikit lebih jelek dari jalan utama tadi.

Tiket Masuk seharga Rp20ribu (dok. pribadi)
Akhirnya sekitar jam 12 siang kami pun sampai di pelataran parkir Bukit Bangkirai. Kayaknya cuma rombongan kami satu-satunya yang nekat membawa angkot ke situ Tak mau berlama-lama kami langsung menuju Canopy Bridge. Di sepanjang trek yang kami lalui banyak terdapat pohon ulin dan Bangkirai. Kami berjalan sekitar 400 m sampai dengan gerbang Canopy Bridge.

Kami pun langsung membeli tiket seharga 20rb rupiah per orang untuk naik ke canopy bridge. Kami pun menawari si sopir namun begitu melihat jembatan gantung di atas yang tinggi sekali, beliau nggak mau ikut naik takut jantungnya kumat. Naiklah kami berempat menyusuri puluhan anak tangga dari kayu setinggi kurang lebih 30 m. Di atas ternyata ada 3 jembatan yang panjang kira-kira sepanjang 15 m dan ada 1 jembatan yang pendek kira-kira cuma 5 m. Kami pun mencoba menyeberanginya, walaupun yakin 100 % aman namun awalnya ada sedikit rasa takut untuk menyeberanginya. Seperti anak muda lainnya, kami pun berpose di atas jembatan tak lupa aku coba menengok ke bawah agar bisa merasakan kengerian dari ketinggian segitu. Pemandangan di atas jembatan cukup bagus, bisa melihat puncak-puncak pohon tinggi lainnya di hutan.

Menyeberang di Canopy Bridge (dok. pribadi)


Kira-kira sekitar satu setengah jam kami di Bukit Bangkirai. Sebenarnya masih banyak jalur trek yang patut dicoba di kawasan Bukit Bangkirai ini, namun karena waktu kami pun memutuskan untuk mencobanya di lain kesempatan.

Dalam perjalanan pulang sebenarnya kami ingin mampir ke Kawasan Konservasi Beruang Madu, namun berhubung sudah agak sore dan sepertinya si sopir kelelahan maka kami putuskan langsung pulang ke kantor. Di perjalanan kami juga mampir ke penjual salah di tepi jalan, karena aku penasaran ingin mencoba rasanya, pikirku kok salah bisa tumbuh bagus juga ya di Kalimantan. Aku beli 4 kg seharga 30rb rupiah. Salahnya aku tidak mencobanya karena terburu-buru, aku pikir itu salak yang hampir sama dengan salak pondoh Jogja yang manis. Namun setelah kucoba di dalam angkot ternyata salaknya agak masam dan sedikit sepat. Teksturnya dan rasanya hampir seperti salak Bali, namun dengan buah yang lebih besar dan rasa yang sedikit sepat.

Liburan kali ini memang berkesan, dengan 70rb sudah bisa ke Canopy Bridge Bukit Bangkirai dan menikmati keasrian dan kesejukan hutan alamnya.

Balikpapan, 23-12-'12