Showing posts with label lounge. Show all posts
Showing posts with label lounge. Show all posts

Friday, August 16, 2019

Menikmati Concordia Lounge Bandara Ahmad Yani Semarang dengan Kartu BNI Visa Platinum Garuda

Ornamen Meja Saji Ciri Khas Concordia
Jarang-jarang saya terbang dari bandara Ahmad Yani Semarang, seingatku aku terbang dari Semarang kira-kira tahun 2012 lalu, ketika Manggala masih bayi. Bandara Ahmad Yani Semarang tentunya sudah banyak berubah tidak seperti dulu lagi. Terminalnya baru dan jauh lebih besar dari terminal lama, begitu pun fasilitas penunjangnya yang super lengkap saat ini.

Sekitar habis maghrib aku pun sampai di Bandara Ahmad Yani Semarang. Usai nge-print boarding pass, aku pun langsung bertanya ke petugas dimana letak Concordia Lounge. Lokasinya kalau nggak salah di lantai 2 atau 3 ya saya agak lupa, hehe..... Yang saya ingat ketika saya diantar petugas bandara ke pintu menuju lounge di lantai 1, kemudian disambut oleh petugas lounge dan didampingi naik ke atas melalui lift khusus sampai di depan lounge.

Sesampainya di resepsionis lounge langsung kucoba kartu BNI Garuda yang baru kuterima beberapa hari sebelumnya. Eh, ternyata bisa gratis, hehe.... dasar pemburu gratisan. Ya beginilah kalau belum jadi orang kaya beneran, ya ngorek-ngorek yang gratisan, haha.....!
Meja Bar untuk menikmati aneka kopi

Masuk Lounge langsung kumenuju mushola, kesan pertam
anya musholanya seingat saya lebih luas daripada yang di Concordia Terminal 2 Juanda Surabaya. Usai sholat langsung saja saya masuk ke ruang utamanya. Dan "Wah gede banget loungenya, kupikir yang di Surabaya itu sudah yang paling gede!", gumamku dalam hati.
Nampak lengang suasananya

Untuk makanan, minuman, ataupun camilan kue-kue mirip dengan yang di Surabaya, perbedaan satu-satunya yang paling mencolok adalah ruangannya yang lebih luas dan lega dan terkesan lebih mewah.      Tapi dari semua itu yang penting gratis dan bisa makan kenyang sebelum terbang, hehe......

Thursday, August 8, 2019

Asik Gratis Lounge dengan Kartu Kredit BNI Garuda Visa Platinum

Dulu setelah mendapat akses gratis Lounge bertahun-tahun dengan Kartu Kredit SKYZ Mandiri, kemudian pakai Kartu BNI JCB Platinum, dan yang terbaru sekarang ini saya memakai Kartu Kredit BNI Visa Platinum yang bekerja sama dengan Garuda Indonesia.

Lumayan banyak lounge yang bisa diakses dengan kartu ini, diantaranya adalah:

  1. Concordia Lounge Terminal 2 Bandara Juanda Surabaya
  2. Concordia Lounge Terminal A Bandara Adi Sucipto Yogyakarta
  3. Concordia Lounge Terminal Bandara Ahmad Yani Semarang
  4. Concordia Lounge Terminal Domestik Bandara Ngurah Rai Denpasar
  5. Concordia Lounge Terminal Domestik Bandara Sultan Hasanudin Makasar
  6. Concordia Lounge Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin
  7. Blue Sky Lounge Bandara Sepinggan Balikpapan
  8. Saphire Blue Sky Lounge Bandara Kualanamu Medan
  9. Saphire Lounge Terminal 3 Domestik Bandara Sukarno Hatta Jakarta
  10. Minangkabau Lounge Bandara Minangkabau padang
  11. Lembayung Lounge Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru
  12. Sentani Lounge Bandara Sentani Jayapura
  13. Juwata Lounge Bandara Juwata Tarakan
Sebenarnya aku tidak mengajukan secara langsung untuk apply kartu kredit BNI co branding garuda, tapi mungkin karena track record-ku dalam bertransaksi menggunakan kartu BNI JCB lumayan bagus maka aku ditawari untuk apply. Sebenarnya aku tidak mau menambah kartu baru lagi, lha wong kartu BNI JCB Platinumku saat itu kan udah gratis lounge di beberapa terminal bandara domestik, tapi setelah kupikir-pikir nggak ada salahnya aku apply toh setahun gratis iuran tahunan dan untuk tahun selanjutnya tinggal menghubungi CS-nya untuk dihapus iuran tahunannya. 

Ternyata kartu kredit BNI Garuda ini lebih 'ampuh' dalam masuk lounge daripada kartu sebelumnya, dalam artian lebih banyak lounge yang bisa diakses gratis dengan kartu ini. Selain itu setiap pembelanjaan kelipatan tertentu akan mendapatkan miles garuda, yang nanti bisa kukonversi menjadi tiket garuda kalau sudah mencapai nominal tertentu.

Saran saya kalau ambil kartu kredit yang bebas iuran tahunan dan syukur-syukur bisa memberikan fasilitas tambahan semacam free lounge yang ditawarkan kartu kredit BNI Visa Platinum co branding Garuda ini. Lumayan kan ke bandara nggak usah nyari restoran buat ngisi perut atau sekedar nongkrong nunggu boarding pesawat, haha.....!

Monday, March 23, 2015

Menikmati Legen di Blue Sky Lounge Juanda

Legen ditaruh di tabung bambu (dok. pribadi)
 Udah lama nggak minum Legen Asli alias air nira, air tetes sari dari bunga kelapa ataupun siwalan. Nah, kebetulan sebulan yang lalu saat kumampir di Blue Sky Lounge Juanda Surabaya dan hari ini aku mampir lagi ke Blue Sky Juanda ada sajian Air Legen.....! Asikkk.... bisa menikmati minuman asli Indonesia yang luar biasa rasanya ini. Legen yang disajikan di Blue Sky Juanda ini dari bunga SIwalan

Legen, yang berarti legi, manis dalam bahasa Jawa sebenarnya bahan baku gula jawa.  Kalau untuk menjadi gula jawa air nira harus direbus terus sampai mengental menjadi semacam karamel, untuk bisa dinikmati sebagai minuman, tidak perlu direbus, paling hanya disaring, kalau saja ada serpihan pelepah kelapa atau siwalan.

Pernah dengar arak atau tuak, air nira ini kalau disimpan lama akan mengandung alkohol yang tinggi, bahkan beberapa hari saja disimpan sudah mulai masam rasanya dan alkoholnya mulai keluar. Jadi kalau mau menikmati legen yang benar-benar fresh paling tidak setelah diambil dari pohon, bisa langsung dinikmati. Ditambah dengan es batu pasti akan lebih segar.....

Legen ini rasanya manis segar, ada sedikit sensasi kemrenyessnya layaknya soda, tapi kalau baru diambil dari pohon dan belum disimpan lebih dari satu hari itu rasa legen asli, nggak ada rasa masamnya, nggak ada kemrenyessnya, enak banget rasanya.....

Yang di Blue Sky ini menurutku udah lebih dari sehari, karena mungkin distribusinya dari bahan baku air niranya di daerah Pantura. Lain halnya Legen yang kunikmati dulu sewaktu kecil di rumah kakek di Bantul Jogja yang banyak pohon kelapa. Rasanya benar-benar legit manis dan segar, sekalipun tidak memakai es.

Banner yang menjelaskan Legen di Blue Sky (dok. pribadi)
Di Blue Sky ini, Legen disajikan dalam tabung bambu yang dilengkapi dengan kran seperti yang ada di dispenser, dan di angkringkan di sadel belakang sepeda unta. Diseting layaknya legen yang dijual di keliling kampung. Airnya berwarna putih bening, layaknya air kelapa. Khasiatnya mirip air kelapa sebagai cairan isotonik yang bisa memulihkan cairan tubuh yang hilang setelah berolahraga.

Legen plus es batu (dok. pribadi)

Bagi Anda yang kebetulan di Bandara Juanda dan belum pernah menikmati legen, mampirlah di Blue Sky Lounge. Lumayan terobati lah kerinduanku dengan Legen.

Baca juga: Bersantai di Blue Sky Lounge Balikpapan

Wednesday, March 18, 2015

Bersantai di Mandiri Lounge Soetta

Suasana di Mandiri Lounge Terminal 2F Soetta (Dok. Pribadi)
Seringkali kalau ke Cengkareng aku sudah berangkat dari rumah di Tangsel 3 jam sebelumnya, maklum meskipun lewat tol, kemacetan di jakarta sulit diprediksi kapan dan dimana terjadinya. So, aku nggak mau ambil risiko terlambat, lebih baik menunggu daripada ketinggalan pesawat atau ditolak cek in. Hal yang tidak pernah kulakukan jika terbang dari Balikpapan berhubung jarak kantor ataupun kosku yang relatif dekat dengan bandara Sepinggan, cuma 5-10 menit! Enak banget ya....

Nah, lantas kalau masih 2 atau 3 jam lagi waktu boardingnya, harus ngapain dong di bandara, bisa-bisa mati gaya menunggu lama di ruang tunggu. Ya modal dikit lah, mampir ke lounge gitu, kan lumayan bisa bersantai sambil menunggu boarding.

Tapi untungnya aku bisa gratisan di beberapa Lounge Bandara. Kebetulan saat artikel ini kutulis, aku sedang berada di Mandiri Executive Lounge, Terminal 2 Soetta. Kartu SKYZ -ku bisa kugunakan gratis di lounge ini. Sebanarnya aku lebih prefer ke Blue Sky Lounge seperti di Balikapapan ataupun Surabaya, tapi berhubung di Soetta Blue Sky berada di Terminal 1C jadi nggak memungkinkan.

Nah, untungnya ini nggak weekend jadi lumayan nggak terlalu rame. Untuk makanan yang disajikan tergolong biasa saja dibandingkan dengan Blue Sky. Makanan beratnya hanya satu macam, ada sup, ada roti tawar yang dilengkapi dengan toaster, minuman ada jus jeruk (lebih mirip orson), jus jambu yang encer banget (kayak jambu instan biasa), air mineral gelas (saat ini merek club bukan aqua) dan softdrink coca-cola ataupun sprite. Ada kopi teh juga. Gorengannya yang enak menurutku tempe mendoannya, meskipun kecil tapi terasa enak rasanya. Oiya resolesnya lumayan enak. Adapula roti-roti kecil yang cukup empuk dan enak juga rasanya.

Mengenai fasilitas lainnya, yang pasti ada akses free WiFi, mini library berisikan beberapa majalah, toilet yang cukup bersih, disediakan pula beberapa desktop yang terhubung dengan internet plus gratis pemandangan taman-taman hijau diluar yang bisa dilihat dari dinding kaca.

Lounge-nya cukup sempit. Dinginnya ruangan menurutku kurang begitu dingin, padahal selain sudah ada AC central juga terpasang beberapa standing AC. Namun, leherku masih terasa gerah.

Untuk menikmati lounge ini jika sekedar menggunakan gratisan fasilitas kartu kredit, masih worth it lah. Namun, jika bayar sendiri karena nggak punya kartu kredit, aku secara pribadi tidak merekomendasikan.

Baca juga: Menikmati Legen di Blue Sky Lounge Juanda Surabaya

Monday, March 16, 2015

Bersantai di Blue Sky Lounge Sepinggan Balikpapan

Salah Satu Sudut Blue Sky Lounge Sepinggan Balikpapan (Dik. Pribadi)

Sambil boarding ya asiknya nunggu di Lounge. Kebetulan saat kutulis artikel ini aku sedang bersantai nunggu boarding pukul 19.25 WITA di Blue Sky Lounge, salah satu Lounge yang ada di Bandara Sepinggan.

Sok kaya banget sih aku setiap kali mau terbang mampir ke lounge dulu. Bukannya sok kaya, tapi memanfaatkan kesempatan mumpung gratis. Lho kok bisa gratis? Bisa dong kan pakai Mandiri SKYZ! xixixix..... Eh, pakai poin kartu halo juga bisa kok, atau kartu kredit lainnya yang menawarkan gratis Lounge ( Syarat dan Ketentuan Berlaku, hehe....)

Lumayan sepi sore ini, soalnya ini hari senin, nggak seperti jumat malam yang pengunjungnya membludak. Tapi aku malah seneng suasana seperti ini, nggak uyel-uyelan kayak di pasar!

Blue Sky Lounge Sepinggan terletak di pojok barat dari Terminal. Jadi jika kita telah melalui pos pemeriksaan, langsung belok kanan, lumayan cukup jauh berjalannya melewati dua travelator pendek. Nggak tahu kenapa ya, Blue Sky kok milih tempat yang mojok, nggak seperti BRI Lounge yang dekat dengan Gate 3, gate untuk penumpang Garuda ataupun Citilink Boarding. Padahal kebanyakan pengunjung Blue Sky itu penumpang Garuda, tapi nggak masalah lah itung-itung olahraga, dan yang penting Gratis Tis Tis Tis.....!

Sajian yang dihidangkan di Blue Sky Lounge ini sudah bisa kutebak. Sejak pindah ke terminal baru ini, menu-menu di Blue sky mudah ditebak. Mulai dari minuman ada 5 macam, air putih, jus jeruk, jus semangka, jus melon, dan Lemon Tea. Padahal dulu ada minuman bersoda lho, bahkan aku pernah bawa pulang minuman bersoda yang kaleng.

Untuk makan beratnya standar saja, kalau nggak ayam di opor, mie goreng, ya ikan goreng, nasi putih atau nasi goreng putih, dan standar lah, seringkali aku nggak nafsu dengan menu beratnya. Adapula mie ayam yang lumayan enak kuahnya yang jarang kulewatkan meskipun buru-buru.

Tak lupa gado-gado yang cukup enak pula rasa bumbu kacangnya, namun sayangnya sayurnya dingin karena kena hembusan AC. Ada pula kue-kue kecil disandingkan dengan jajanan pasar. Nah, yang ngangenin adalah aneka gorengannya terutama pisang goreng keju bertabur gula (bukan gula merah, tapi seperti gula coklat serbuk, lupa aku namanya).

Buah potong segar untuk dessert dipadukan dengan bumbu rujak manis. Cocok buat lidah pecinta rujak manis sepertiku.

Di Blue Sky Lounge juga dilengkapi dengan Mushola, Toilet yang bersih. Ada pula desktop yang dilengkapi dengan koneksi internet dan tentunya fasilitas WiFi gratis.

Tersedia komputer berjaringan internet (Dok. Pribadi)


Nggak terasa nulis artikel ini sudah mau waktunya boarding. Ntar kita sambung lagi kalau ada yang menarik tentang Blue Sky Lounge.

Baca juga: Bersantai di Mandiri Lounge Soetta

Tuesday, June 3, 2014

Terminal 2 Bandara Juanda Surabaya

Landing di Juanda Jumat malam itu terasa lebih mulus tidak seperti penerbanganku dengan CRJ 1000 sebelumnya yang limbung bikin sport jantung. Namun sesaat setelah landing, pesawat bukannya belok ke kiri menuju apron seperti biasanya melainkan berbelok ke arah kanan. Pikirku semula jangan-jangan si pilot lupa kalau terminalnya berada di sisi utara landas pacu.

Beberapa saat kemudian dari jendela pesawat terlihat beberapa pesawat komersial yang parkir di apron selatan landas pacu. Begitu turun dari pesawat barulah nampak sebuah bangunan terminal yang tampaknya baru, itulah terminal 2 Bandara Juanda dengan bangunan moderen yang berdiri di bekas terminal lama bandara Juanda.

Begitu masuk di terminal baru, timbul kekhawatiran tidak ada fasilitas Bus Damri Bandara, namun hal itu terbukti hanya kekhawatiran yang tak beralasan. Aku pun naik Damri menuju Terminal Bungurasih. Di terminal baru itu sudah nampak ramai dengan tenant-tenant terutama food and beverage, dengan counter Roti 'O' yang tentunya ada di terminal baru ini.

Seminggu lebih setelah liburanku di Tulungagung, Jawa Timur dan Pati, Jawa Tengah aku harus kembali lagi ke Balikpapan tanggal 1 Juni Kemarin. Kali ini aku kembali menggunakan Garuda yang sudah pasti memakai Bombardier CRJ 1000 untuk rute SBY - BPN. Sesampainya di terminal Bungurasih kucoba bertanya kepada Petugas, Armada Bus Damri yang tujuannya ke terminal 2. Jika salah tujuan ke terminal 1 bisa berabe karena antara terminal 1 dan 2 terpisahkan oleh landas pacu yang tidak terhubung satu sama lain. Beberapa bulan yang lalu jika kita ke terminal bungurasih tidak perlu bertanya bus damri yang jurusan mana karena semua akan diantar ke terminal 1, namun sejak pertengahan Februari kemarin dari terminal Bungurasih ada 2 jurusan Bus Damri Bandara.

Terminal 2 berada di sisi selatan Landas Pacu dan jarak tempuh ke Terminal Bungurasih Surabaya bisa ditempuh lebih singkat sekitar 10 menit. Lumayan bisa lebih cepat...

Tarif sebesar 20 ribu Rupiah sama dengan tarif Bus Damri jurusan terminal 1 meski dengan jarak tempuh yang lebih pendek. Bus Damri yang menuju terminal 2 biasanya tidak lebih banyak penumpangnya daripada yang menuju terminal 1. Hal ini dikarenakan untuk sementara ini setahuku baru maskapai Garuda Indonesia dan Air Asia yang memakai terminal ini, tapi kemarin aku juga melihat counter tiket citilink, jangan-jangan citilink sudah pindah juga ke terminal 2?

Ngomong-ngomong soal terminal baru (terminal 2) Bandara Juanda Surabaya kesan moderennya terlihat dari desain bangunan yang didominasi warna silver, dengan atap rangka baja yang terkesan kokoh dan pemakaian kaca-kaca lebar dengan plafon tinggi yang memungkinkan cahaya masuk lebih banyak dan sirkulasi udara lebih baik. Kontras dengan terminal 1 yang kesan Bangunan Jawa sangat kental. Jujur untuk desain dan konsepnya saya lebih memilih terminal satu, karena menunjukkan karakter Budaya Jawa yang kental.

Sesampainya di terminal 2 Juanda, aku langsung menuju mushola di sisi pojok paling barat serambi terminal. Usai dari mushola menuju ke pintu masuk terminal pandanganku tertuju ke sebuah benda mirip wastafel lengkap dengan krannya yang dari stainless steel, dan terpampang tulisan 'air kran siap minum'. "Wow seperti di negara-negara maju saja ada air kran siap minum!", pikirku saat itu.

Masuk ke terminal Bandara disambutlah pengunjung dengan deretan tenant-tenant semacam mall mini yang merupakan meeting point bagi calon penumpang, pengantar, ataupun penjemput yang semuanya bisa masuk berbelanja atau sekedar nongkrong di mall mini itu. Seperti konsep di Bandara Sepinggan Balikpapan yang baru. Ada toko reseller Apple yaitu EMAX, adapula Starbucks, Roti O, Hokben, dan tenant-tenant lainnya. Masuk ke arah kiri menuju ruang check in yang cukup luas dan lengang. Lampu-lampu pun sedikit yang menyala bahkan untuk lampu di atap tidak ada yang menyala karena sudah terang dari cahaya alami matahari yang masuk melalui kaca-kaca besar yang mendominasi bandara ini. Pengelola Bandara yaitu pihak Angkasa Pura I mengklaim terminal ini adalah terminal Eco friendly yang seminimal mungkin menggunakan energi listrik.

Kebetulan boardingku melalui Gate 1. Gate ini ternyata tidak terletak di lantai 2 seperti halnya gate lainnya melainkan di dekat area meeting point. Seperti di Bandara Sepinggan Baru, pemeriksaan X-Ray hanya dilakukan satu kali setelah check in menuju waiting room. Mungkin karena dengan naik CRJ 1000 tidak bisa menggunakan garbarata makanya terletak di lantai 1. Waiting Room di Gate 1 tidak cukup luas, paling tidak hanya cukup untuk menampung sekitar 100 orang.

Toilet di Terminal 2 pada umumnya lebih luas dan lebih bersih dari terminal 1. Tapi soal hiasan bunga hidup semacam Anggrek Bulan maupun Krisan yang banyak bertebaran di terminal 1 tidak kujumpai sama sekali di terminal 2 ini.

Satu Fasilitas lagi yang sangat kusayangkan belum ada di terminal 2 yaitu LOUNGE GRATIS. Kalau di terminal 1 aku bisa mampir di Blue Sky Executive Lounge atau di Singosari Lounge. Pantesan akhir-akhir ini saat aku di Blue Sky tidak seramai sebelumnya ternyata sebagian pelanggannya yang penumpang Garuda sudah pindah di terminal 2.

Terminal 2 ini katanya mampu menampung 6 juta penumpang per tahun, sedangkan terminal 1 mampu menampung 7 juta penumpang per tahun. Dengan kapasitas 13 juta penumpang per tahun tetap saja Bandara Juanda mengalami over capacity, mengingat saat ini penumpang di Juanda sudah mencapai 17 juta lebih dalam setahun. Terkesan pembangunan terminal 2 nanggung, tidak dimaksimalkan, entah kurang dana atau ada alasan lainnya. Entahlah...

Menurut berbagai kabar yang ada pihak AP I mau membangun landas pacu baru bahkan rencananya dua landas pacu sekaligus mengingat kepadatan jadwal take off dan landing semakin tinggi frekuensinya. Ya moga saja benar adanya kabar tersebut.

Wednesday, August 14, 2013

Cerita Mudik Lebaran 2013 (part 2)

Kamis, 8 Agustus 2013
Gema takbir berkumandang sepanjang malam. Kami pun bersiap menuju masjid pada pukul 6 pagi. Manggala didandani dengan baju koko yang seragam denganku. Ibu-Ibu merasa gemas dengan tingkah polah lucu manggala saat mereka Sholat Id.

Tidak banyak kerabat yang berkunjung ke rumah pada hari pertama lebaran, karena tradisi di desaku, Lebaran yang 'sesungguhnya' itu adalah hari lebaran ke-2 nasional. Para tetangga dan kerabat pun banyak yang datang pada hari kedua lebaran.

Manggala tak lupa beraksi di hadapan kerabat-kerabat yang datang. Dia salami satu per satu, dia kasih snack ke tamu yang datang, kadang dia juga berjoget membuat para kerabat terheran-heran gemas kegirangan oleh tingkahnya.

Malam harinya usai maghrib kami jalan-jalan ke Pati dengan maksud mengajak Manggala ke Alun-alun kota melihat permainan-permainan. Sebelumnya kami pun mampir ke Nasi Gandul 'Romantis" pak Sardi di Desa Gadjahmati Pati yang sangat terkenal enaknya. Aku sendiri kalau tidak makan nasi gandul di situ rasanya kurang mantap, soalnya kurasain nasi gandul di tempat lain apalagi di kota lain rasanya kadang nggak karuan. Untungnya kami langsung dilayani, padahal biasanya saat lebaran pengunjungnya membludak, pas saat kami datang sudah lengang, namun saat kami makan langsung berbondong-bondong pengunjung datang. kami pun tak berlama-lama makan di situ, kasrena kasihan sudah banyak yang antre, meskipun begitu aku sudah sempat menghabiskan 2 porsi nasi gandul, puas dah.....

Di alun-alun Manggala terlihat senang sekali melihat berbagai macam permainan dengan lampu warna-warninya, kembang api yang dimainkan anak-anak, sampai dengan petasan besar yang dinyalakan. Bahkan dia malah tertarik dengan suara petasan yang menggelegar, dan bermaksud mendekati petasan yang sedang dinyalakan. Sekarang jika ada suara petasan, Manggala sering menirukannya dengan mengucap "Dug". Tak lupa kubelikan sebuah mainan yang ada lampunya warna-warni semacam bola bergerigi yang bisa bergetar menggelinding dengan lampu warna-warni plus ada suara musiknya. Dia terlihat senang banget bermain dengan mainan barunya. Sebelum pulang kami membeli martabak telur di sekitar alun-alun dekat Gedung DPRD pati.

Jumat, 9 Agustus 2013
Sekitar pukul 10 pagi, kami berempat berangkat kembali ke Tulungagung. Sambil jalan, aku mampir ketemuan dengan temanku di dekat terminal Sleko Pati. Temanku itu sekarang bertugas di Jakarta, dan karena dia masih lajang ada niatan untuk kekunalkan dengan adik iparku yang masih lajang juga, he he.....

Kami balik ke Tulungagung melalui jalur yang sama melewati Rembang - Blora - Cepu - Ngawi - Nganjuk - Kediri - Tulungagung. Bawaan pulang kami sangat banyak, ada sepasang burung parkit beserta sangkarnya, sepasang kelinci, Sekarung kecil Buah Matoa, kelapa muda, dan oleh-oleh lain semacam kacang dua kelinci dan Jenang kudus.

Arus balik terlihat lebih ramai. Kemacetan terjadi di beberapa titik sepanjang Ngawi - Nganjuk. kami pun beristirahat untuk makan siang di Rest Area dadakan yang diadakan oleh Mie Sedap. Kami pun pesan mie sedap sambil membuka bekal yang kami bawa dari rumah. Harga mie dan minuman yang disajikan sangat murah, kami hanya habis sekitar 13ribu rupiah saja.

Pukul 7 malam kami sampai Tulungaagung. Tidak langsung ke rumah melainkan mencari sate kambing, dan ternyata banyak warung sate yang tutup, kalaupun ada yang buka, pengunjungnya bejubel. Kami pun berhenti di warung sate yang aku sendiri sudah tahu bahwa kualitas dan rasanya kurang enak. Dagingnya keras dan membakarnya terlalu gosong, dan lebih mahal dari sate kambing langgananku di 'Moro Lego'. Tapi karena adik iparku sangat pengen sekali sate kambing, jadilah kami kesitu.

Sesampainya di rumah, manggala sudah disambut tante-tantenya yang berebutan menggendong Manggala. Tragisnya, salah satu kelinci yang kami bawa ternyata terbujur kaku meregang nyawa, padahal setiap kami berhenti selalu jendela mobilnya kami buka sebagian.

Sabtu, 10 Agustus 2013
Pukul 10 pagi kami menghadiri acara reuni keluarga dari Eyang kakungnya Manggala (bapak mertuaku) di Restoran Batavia dekat dengan rumah mertuaku. Manggala pada acara itu memakai beskap jawa dengan blangkon khas pantura yang ada 'kliwirnya'. Dalam acara itu manggala tidak begitu ceria karena dia terlihat ngantuk. Para kerabat yang datang pun bergantian menggendong dan berfoto bersama Manggala.

Sesampainya di rumah usai reuni, Manggala malah kembali lincah dan asik bermain kesana kemari sambil sesekali berjoget ala reog ponorogo. Kontan saja aksinya mengundang gelak tawa para kerabat yang mampir ke rumah.

Sore harinya, kami makan mie godog dan nasi goreng Pak Latip yang terkenal antre lama. Namun untungnya pas kami kesana masih sepi karena usai Maghrib kami langsung berangkat. Di situ manggala naik kereta putar dengan lampu warna warni yang kebetulan ngetem di seberang warung pak Latip.

Minggu, 11 Agustus 2013
Pukul 6 pagi aku berangkat menuju terminal. Untungnya manggala sudah bangun jadi bisa kupamiti. Naik Bus patas harapan Jaya menuju Surabaya. Aku berangkat pagi dengan asumsi jika terjadi kemacetan di daerah Jombang, kira-kira masih bisa nggak telat untuk penerbangan Garuda pukul 14.15 WIB.

Sampai di Bandara sekitar pukul 12 siang. Sholat ke Mushola langsung cek in, naik ke lantai dua, membeli majalah Natinal Geographic, dan kulanjutkan beristirahat sambil makan siang di Blue Sky Lounge (mumpung gratis, hix).

Sekitar pukul 17.00 WITA aku mendarat di Sepinggan. Naik ojek ke kosku di Jl. MT Haryono Dalam cuma Rp20ribu, namun kukasih Rp25ribu, itung-itung buat ongkos parkir si ojek di bandara yang kulihat si tukang ojek abis 4000 perak buat parkir saja.

Demikian cerita mudikku di tahun 2013 ini.




Saturday, April 27, 2013

Asiknya Lounge Gratis di Bandara dengan Kartu SKYZ

Beberapa tahun yang lalu aku apply kartu kredit mandiri tidak berhasil disetujui. Ketika itu aku masih bertugas di Jakarta. Aku juga heran kala itu, kok bisa-bisanya nggak disetujui ya.... Padahal payroll-ku lewat Bank Mandiri, aku pun tidak punya pinjaman ke bank. Aneh..... Kali aja analis kartu kreditnya sedang 'khilaf' saat itu, he he.....

Selang beberapa tahun aku sudah melupakan hal itu. Dan sekarang aku bertugas di Balikpapan. Aku pun sudah punya kartu kredit CIMB Niaga yang sudah cukup membantu keperluanku. Namun dua bulan yang lalu tiba-tiba ada tawaran membuat kartu kredit Mandiri ke kantor dengan promo free annual fee 3 tahun pertama. Aku pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Ku apply kartu kredit mandiri tipe SKYZ yang memberi berbagai benefit bagi orang yangh sering melakukan perjalanan udara. Satu fiturnya yang paling menarik perhatianku adalah Lounge Free di berbagai Bandara di Indonesia.

Aku pun cuma melampirkan fotocopy name tag kantor dan form pendaftaran. Aku pun tak terlalu berharap banyak diapprove oleh Bank Mandiri. Tapi ternyata pertengahan bulan Maret 2013, aku dikirimi Kartu Kredit SKYZ Mandiri yang ternyata free annual fee for life, plus satu kartu kredit Visa Mandiri Gold yang sampai saat ini belum kuaktifkan.

Awal april kebetulan aku melakukan perjalanan ke Jakarta. Saat mau membayar airport tax, pandangan mataku tertuju pada tulisan Blue Sky Lounge di pojok kanan ruang check in Bandara Sepinggan Balikpapan. Kuberanikan diriku untuk sekedar mampir kesitu untuk mencoba fasilitas Lounge Gratis dari SKYZ card. Kutanyakan pada resepsionis Lounge, ternyata benar-benar gratis. Di slip tagihan hanya tertulis Rp 1,- yang menurutku hanya sekedar formalitas untuk bisa tercetak bill-nya. Lumayan bisa makan, ngemil, dan minum gratis plus bisa nge-charge HP dengan nyaman sambil menunggu boarding.

Saat akan kembali ke Balikpapan beberapa hari kemudian, aku juga mampir ke Mandiri Lounge di Terminal 2F Soeta. Kebetulan aku belum makan siang saat itu, dan lagi-lagi gratis aku makan disitu yang menunya hari itu adalah Gudeg Jogja dan berbagai kue-kue dan makanan kecil lainnya. Akses Wifi pun gratis di lounge ini.

Sudah gratis Lounge, dapat diskon jika beli tiket beberapa maskapai penerbangan, juga bisa dapat cicilan 0% selama 12 bulan di berbagai merchant. Beruntung rasanya dulu saat masih di Jakarta apply-ku tidak diapprove oleh Bank Mandiri. Saat aku mudik melalui bandara Juanda Surabaya aku juga mampir di Blue Sky Lounge yang berada di samping Garuda Lounge dekat dengan Gate 8. Malahan Lounge yang di Surabaya ini jauh lebih luas dan lebih komplit makanannya.

Kartu kredit memang perlu penanganan yang bijak dalam penggunaannya. Bayarlah penuh sejumlah tagihan sebelum jatuh tempo agar tidak terkena beban bunga yang relatif besar. Jangan menarik uang tunai di ATM dengan kartu kredit karena bunganya sangat besar, serta jangan kalap dalam berbelanja. Hitunglah kemampuan kita dalam membayar cicilan setiap bulannya sebelum memutuskan membeli barang. Jika tidak cermat, cerdas, dan bijak menggunakan kartu kredit, bersiap-siaplah untuk dikejar-kejar debt collector jika terlilit oleh hutang yang sedikit-sedikit menjadi bukit.