Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Sunday, November 15, 2015

Pengalaman Sewa Film di iTunes Apple

Screenshot Halaman Rental Film di iTunes 
Bermula dari keinginanku memberikan hiburan gratis untuk mahasiswaku yang sebagian besar datang dari luar Pulau Kalimantan ini, aku akhirnya berkenalan dengan salah satu fitur di iTunes yaitu sewa film kualitas HD yang ketajaman gambar dan kualitas suaranya nggak perlu diragukan lagi.

Kubermaksud memberikan hiburan layar tancap buat anak-anak yang kesepian itu setiap akhir pekan. Kan nggak lucu kalau mau bikin acara nonton bareng kualitas gambarnya asal-asalan alias dari film bajakan, so kuputuskan untuk sewa film di iTunes saja, murah meriah......!   Berbagai macam film hollywood maupun dari berbagai belahan dunia termasuk film Indonesia disediakan oleh iTunes. Bisa dibeli ataupun disewa. Jika beli harganya kisaran Rp100-an ke atas, kalau sewa sekitar Rp25ribu s.d. Rp29ribu, atau bahkan ada yang lebih murah dari itu kalau nggak salah pernah kulihat ada film yang disewakan sehargaRp19ribu.

Harga sewa yang cukup murah, malah jauh lebih murah dari nonton di XXI di kotaku yang jika weekdays saja Rp40rb. Apalagi bisa dinikmati rame-rame dengan kualitas yang memuaskan lah pokoknya, meskipun layar yang kami pakai tidak selebar layar bioskop.

Ketika film kualitas HD kita nikmati sendiri di laptop atau komputer maka tak menjadi masalah. Namun ketika kita ingin menikmatinya rame-rame maka harus kita hubungkan dengan proyeltor LCD, nah di sini permasalahannya. Ketika kuhubungkan dengan kabel VGA biasa ternyata nggak mau keluar gambarnya di layar, dan selalu ada warning di layar laptop kalau LCD yang digunakan harus support HDCP alias High bandwidht Digital Content Protection yang ternyata setelah kugoogling solusinya harus minimal menggunakan kabel HDMI. Langsung saja kupesan kabel connector Miniport Display to HDMI untuk macbook air-ku. 

Setelah pesanan kabelku datang tak sabar langsung kucoba. Harap-harap cemas akhirnya  keluar juga gambarnya dan voila....... gambarnya tajam banget apalagi kuputar dengan proyektor LCD yang relatif bagus, dengan soundnya yang membuat bergetar jendela kelas, haha...... 

Oiya hampir lupa, untuk sewa waktunya dibatasi sampai 30 hari setelah proses download tuntas. Bukan berarti selama 30 hari itu kita bisa memainkannya setiap hari, melainkan kita hanya bisa memutarnya selama 48 jam dalam rentang waktu 30 hari. Jadi begitu kita memutar filmnya maka kita hanya bisa menontonya berulangkali hanya selama 48 jam sejak pertama kali diputar, setelah itu film otomatis akan hilang dari komputer kita.





Saturday, August 24, 2013

Review (Sisi Lain) Elysium

Beberapa hari yang lalu kulihat sebuah review film baru yang dibintangi oleh Matt Damon. Elysium, itulah judulnya yang menurut Wikipedia adalah konsep surga dalam mitos Yunani Kuno. Namun Elysium dalam film ini berupa modul ruang angkasa raksasa yang berisikan alam artifisial yang mirip kehidupan di bumi yang berisikan manusia yang tinggal dengan sangat nyaman, dengan keindahan alam dan udara yang bersih dan fasilitas kesehatan yang menakjubkan dan bisa mengobati segala penyakit bahkan mampu merekonstruksi bagian tubuh yang rusak terkena bom ataupun semacamnya.

Berseting di Tahun 2154 dimana bumi dipenuhi dengan penyakit dan kekacauan. Orang-orang kelas atas tidak terpengaruh oleh kondisi tersebut karena mereka tinggal di Elysium yang berada puluhan ribu kilometer mengangkasa dari Bumi. Mereka yang tinggal di Elysium bagai tinggal di surga. Fasilitas kesehatan sangat menakjubkan, kematian yang disebabkan oleh penyakit pun bisa dinihilkan, bahkan manusia bisa senantiasa awet muda.

Bermula dari seorang penduduk Bumi bernama Max yang terkena radiasi di pabrik tempat dia bekerja ingin pergi ke Elysium untuk menghindarkan dirinya dari kematian. Penduduk Bumi tidak bisa mengakses ke Elysium kecuali dengan penerbangan illegal dengan taruhan nyawa tentunya.

Untuk bisa masuk ke Elysium Max berusaha untuk meretas data yang ada di otak salah satu warga Elysium yang kebetulan berbisnis di bumi. Dia pun berhasil dan ternyata data yang di dapatnya berupa data terpenting tentang pemograman sistem inti dari Elysium.

Akhirnya dia bisa memprogram ulang sistem Elysium sehingga penduduk bumi pun bisa mengakses manfaat dari teknologi Elysiun terutama teknologi kesehatannya.

Yang menari dari film ini adalah, secara tidak langsung film ini menyindir kondisi sosial masyarakat kita dewasa ini. Akses kesehatan masyarakat dunia saat ini sangatlah mahal dan sebagian besar masyarakat hanya mampu mengakses kesehatan dasar yang elatif masih terjangkau. Kondisi itu mirip dengan gambaran di film Elysium, dimana penyakit seganas apapun dapat disembukan di Elysium yang hanya dapat diakses oleh warganya yang super kaya.

Yang unik lagi dalam film ini bahwa perpindahan data, tidak hanya dilakukan antar media penyimpan data misalnya dari komputer ke flash disk, melainkan bisa dari otak manusia yang satu ke otak manusia yang lain, ataupun dari otak manusia ke komputer dan sebaliknya. Mungkin konsep itu bisa saja menjadi suatu kenyataan pada masa mendatang.

Elysium merupakan film bergenre Sci-Fi yang menyentil kondisi sosial masyarakat sekarang ini. Meskipun rating IMDB-nya hanya 7,1 namun sebagai penonton aku puas terutama dengan ide ceritanya yang menurutku orisinil.

Review (Sisi Lain) The Conjuring

Malam Jumat biasanya terkenal dengan serem-seremnya. Nah, kebetulan aku dan teman2 kantor ingin nonton malam jumat itu, dan agar lebih afdol maka kami nonton film horor. Pilihan film yang kami tonton jatuh pada The Conjuring, sebuah film horor Hollywood yang telah dirilis sekitar 3 minggu lalu.

Sebelum nonton sebuah film, aku punya kebiasaan untuk melihat ratingnya di IMDB sebuah portal yang menjadi acuan untuk melihat review dan rating sebuah film, dan aku kira cukup valid. Setelah kucek rating film ini 7,8 yang merupakan angka yang cukup tinggi dan hampir dapat dipastikan dari segi kualitas film ini cukup bagus. Semakin mantaplah kami nonton film horor ini.

Film ini diangkat dari sebuah kisah nyata sepasang suami istri pengusir hantu yang menolong satu keluarga yang baru pindah rumah. Seting film ini ada di rumah tua di pinggiran kota dan tidak mempunyai tetangga satu pun. Seting waktunya terjadi pada awal dekade 70-an.

Film ini ceritanya cukup sederhana dan klasik, sebuah rumah tua berhantu bekas lokasi pembunuhan. Dan penghuni baru diganggu oleh hantu-hantu yang bergentayangan.

Kisahnya yang biasa namun dengan pengemasan dan alur cerita yang pas ditambah dengan efek suara yang sering membuat kaget penonton, menjadikan film ini layak tonton untuk pecinta fim horor.

Kali ini saya tidak akan mereview tentang jalannya cerita atau kualitas dari fim ini melainkan sisi lain dari film ini yang secara tidak langsung dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Mari kita lihat satu per satu:

1. Dikisahkan satu keluarga dengan 5 anak yang semuanya perempuan dengan anak tertuanya yang kira-kira sudah seusia anak SMA, dan anak terkecil yang kira-kira baru berumur 4 tahun. Mereka baru pindah rumah (memiliki rumah sendiri) setelah anak-anak mereka beranjak dewasa. Ternyata kesulitan mempunyai sebuah rumah yang representatif tidak hanya dialami keluarga di Indonesia. Warga Amerika yang notabene lebih makmur juga tidak sedikit yang mempunyai kendala dalam memiliki rumah. Di Indonesia banyak keluarga yang sampai usia pensiun pun tetap tidak memiliki rumah sendiri, hanya mampu mengontrak rumah karena penghasilan yang habis untuk keperluan sehari-hari.

2. Rumah tua berhantu yang menjadi seting film itu, dikisahkan dibeli dengan harga yang relatif miring saat lelang oleh bank. Pada masyarakat kita banyak yang tidak mampu membeli rumah baru, kalau pun mampu mungkin hanya cukup untuk membeli rumah baru bertipe kecil dengan lokasi yang tidak strategis. Rumah second biasanya bisa jauh lebih murah dan kalau beruntung kita malah dapat rumah second yang masih bagus dan cukup luas dengan harga yang miring. Rumah second masih menjadi pilihan hingga saat ini, dimana harga rumah-rumah baru meningkat tajam tak terkendali.

Keberadaan rumah second dengan harga yang sangat miring apalagi di lokasi strategis tentunya mengundang tanda tanya. Biasanya di masyarakat kita senang mengkaitkannya dengan hal-hal berbau mistis. Misalnya rumah itu bekas lokasi pembunuhan atau banyak hantunya.

Berarti pesan tersirat dalam film ini, kita perlu berhati-hati dalam membeli rumah second terutama yang sangat miring harganya. Jangan sampai karena tergoda harga miring, namun setelah dihuni banyak hantuinya, hiii....

3. Keluarga yang dikisahkan dalam rumah ini mempunyai 5 orang anak perempuan (belum kenal KB kali ya, haha....). Banyaknya anggota keluarga tentunya menjadi beban keluarga itu semakin besar sehingga penghasilan terkuras untuk kebutuhan sehari-hari dan tidak mampu membeli rumah ketika masih awal-awal berumah tangga sekali pun mencicilnya. Terlebih lagi jika yang bekerja hanya sang suami seperti halnya dalam film itu, sang suami yang hanya bekerja sebagai sopir antar kota, pastinya akan semakin berat untuk mempunyai rumah sendiri. Berarti salah satu pesan dalam film ini, sebuah rumah tangga perlu KB? Ha ha.... Kalau keluarga kaya raya mungkin tidak masalah dengan anak banyak, namun jika sebaliknya, perlu juga mempertimbangkan untuk mengikuti program KB.

4. Dalam The Conjuring, anjing si pemilik rumah tidak mau masuk ke dalam rumah dan terus menggonggong sejak keluarga itu pindah ke rumah tua itu dikarenakan si anjing tahu kalau di rumah itu ada hantunya. Memang hewan seringkali bisa merasakan hal-hal yang tidak nampak atau tidak dapat dirasakan oleh manusia, seperti halnya tanda-tanda gunung akan meletus ataupun keberadaan hantu atau sejenisnya.... (berarti kalau anjing menggonggong tanpa sebab itu pertanda ada hantu dong???)

5. Melihat rumah tua di The Conjuring, membuat kita terpukau dengan ruang-ruang bawah tanahnya yang seperti labirin. Berbeda dengan rumah-rumah di Indonesia yang jarang sekali terdapat ruang bawah tanah. Di Amerika banyak terdapat rumah yang mempunyai ruang bawah tanah yang seringkali berfungsi sebagai gudang atau bungker.

6. Diceritakan pula si Ibu yang kesurupan dan berniat membunuh anaknya sendiri. Di kehidupan nyata sekitar kita, adakalanya digegerkan dengan berita seorang ibu kandung yang tega membunuh buah hatinya. Seringkali karena alasan ekonomi, marah dengan suami, stress/gila, ataupun alasan lain yang masih misterius.

Itulah sekelumit tentang sisi lain yang aku cermati dalam film The Conjuring.

Tuesday, August 17, 2010

17 Agustus 2010

Hari ini Selasa 17 Agustus 2010, bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-65, kuhabiskan waktuku hanya di kamar kos. Tadi pagi aku tidak ikut upacara bendera karena hari ini aku tidak mendapat giliran dari kantorku untuk ikut upacara tujuh belasan di Lapangan Banteng. Dari kamarku yang sempit aku menonton tayangan upacara 17 Agustus di Istana Merdeka yang disiarkan live oleh Metro TV. Di Metro TV juga sekilas menayangkan wawancara singkat reporter Metro TV kepada Dewi Soekarno, wanita Jepang istri mendiang Presiden Pertama RI Ir. Soekarno yang kebetulan saat itu sedang menghadiri Upacara Peringatan HUT RI di Universitas Bung Karno sekaligus peresmian Patung Bung Karno di Halaman Universitas itu. Sudah lama aku penasaran dengan sosok Dewi Soekarno yang sering terdengar dengan kontroversinya di luar negeri, terutama setelah aku membaca buku "Sakura di tengah Prahara" yang menceritakan sepotong kisah hidupnya.

Siang harinya temanku si Gendut yang juga se-kos denganku menyarankanku untuk melihat DVD bajakan "Up in The Air" yang dibintangi oleh bintang Ocean Eleven, George Clooney. Film Drama yang menyajikan tema cerita yang tidak biasa ini memang sangat menarik. Film ini berkisah tentang seseorang bernama Ryan Bingham yang mempunyai pekerjaan yang tidak biasa yaitu bekerja pada perusahaan yang spesialisasinya untuk memberikan jasa kepada perusahaan lain yang ingin mem-PHK seseorang dalam pekerjaannya. Karena banyaknya perusahaan-perusahaan yang menginginkan jasanya untuk menghadapi karyawan yang akan di-PHK, dia selalu melakukan perjalanan dari perusahaan satu ke perusahaan lain di berbagai negara bagian di Amerika Serikat. Hal itu berkonsekuensi dirinya lebih sering di udara daripada di rumahnya di Omaha. Ryan juga tidak percaya akan komitmen dan manfaat dari pernikahan sehingga hingga usianya yang setengah baya dia masih melajang. Suatu saat dalam perjalanannya dia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya terpesona dan menganggap bahwa wanita tersebut juga mempunyai prinsip seperti dia. Terinspirasi dengan pernikahan adiknya dan kegundahan hatinya tentang arti sebuah pasangan hidup, menuntunnya untuk menemui wanita yang dikenalnya itu di rumahnya, Chicago dengan harapan membina hubungan yang lebih serius. Namun ternyata wanita yang dicintainya itu sudah mempunyai anak dan suami, dan dia dianggap hanya sebagai pelarian saja.

Film ini menyuguhkan konflik antara pekerjaan dengan perasaan. Pekerjaan untuk mem-PHK orang adalah pekerjaan yang sulit karena tentu menyakiti hati seseorang yang di-PHK itu dan jelas membutuhkan mental yang kuat untuk tetap menjalaninya. Nah, George Clooney dalam hal film ini menyuguhkan akting yang sangat memukau, dengan mencirikan keahlian bernegosiasinya dan gayanya yang flamboyan, menjadikan film ini terlihat natural dan tidak membosankan. Hal lain yang aku cermati dalam film ini adalah, sisi komersialnya. Dalam beberapa scene terlihat sang aktor menggunakan Blackberry ataupun sesuai tema film ini yang banyak menggunakan setting pesawat terbang, film ini juga mempromosikan betapa banyak benefit yang kita dapatkan jika kita tetap setia dengan maskapai penerbangan tertentu, seperti kemudahan dalam check in, reservasi di hotel pilihan, ataupun club-club yang menawarkan gaya hidup kelas atas. Yang bisa kupetik dari film ini adalah tentang conflict of interest dalam pekerjaan itu adalah hal yang biasa dan harus dilalui dengan cara yang smart, dan komitmen yang kuat terhadap pasangan harus senantiasa dipupuk untuk melanggengkan ikatan pernikahan.

Melihat film "Up in The Air", aku membayangkan bagaimana jika sosok Ryan Bingham yang ada dalam film itu adalah diriku. Ha ha ha.....ngaco ah...!