Showing posts with label bandara. Show all posts
Showing posts with label bandara. Show all posts

Friday, August 16, 2019

Menikmati Concordia Lounge Bandara Ahmad Yani Semarang dengan Kartu BNI Visa Platinum Garuda

Ornamen Meja Saji Ciri Khas Concordia
Jarang-jarang saya terbang dari bandara Ahmad Yani Semarang, seingatku aku terbang dari Semarang kira-kira tahun 2012 lalu, ketika Manggala masih bayi. Bandara Ahmad Yani Semarang tentunya sudah banyak berubah tidak seperti dulu lagi. Terminalnya baru dan jauh lebih besar dari terminal lama, begitu pun fasilitas penunjangnya yang super lengkap saat ini.

Sekitar habis maghrib aku pun sampai di Bandara Ahmad Yani Semarang. Usai nge-print boarding pass, aku pun langsung bertanya ke petugas dimana letak Concordia Lounge. Lokasinya kalau nggak salah di lantai 2 atau 3 ya saya agak lupa, hehe..... Yang saya ingat ketika saya diantar petugas bandara ke pintu menuju lounge di lantai 1, kemudian disambut oleh petugas lounge dan didampingi naik ke atas melalui lift khusus sampai di depan lounge.

Sesampainya di resepsionis lounge langsung kucoba kartu BNI Garuda yang baru kuterima beberapa hari sebelumnya. Eh, ternyata bisa gratis, hehe.... dasar pemburu gratisan. Ya beginilah kalau belum jadi orang kaya beneran, ya ngorek-ngorek yang gratisan, haha.....!
Meja Bar untuk menikmati aneka kopi

Masuk Lounge langsung kumenuju mushola, kesan pertam
anya musholanya seingat saya lebih luas daripada yang di Concordia Terminal 2 Juanda Surabaya. Usai sholat langsung saja saya masuk ke ruang utamanya. Dan "Wah gede banget loungenya, kupikir yang di Surabaya itu sudah yang paling gede!", gumamku dalam hati.
Nampak lengang suasananya

Untuk makanan, minuman, ataupun camilan kue-kue mirip dengan yang di Surabaya, perbedaan satu-satunya yang paling mencolok adalah ruangannya yang lebih luas dan lega dan terkesan lebih mewah.      Tapi dari semua itu yang penting gratis dan bisa makan kenyang sebelum terbang, hehe......

Wednesday, August 14, 2019

Praktis dan Murah Naik Bus JA Connexion dari BSD ke Bandara Soetta

Dulu awal-awal aku tinggal di dekat BSD, ketika mau ke bandara kalau tidak pakai taksi ya pakai travel Xtrans. Namun, sekarang semakin banyak pilihan untuk ke bandara dari BSD. Sekitar satu tahun lalu mulai ada Perum PPD membuka layanan Bus JA Connexion dari Intermark BSD ke Bandara Soetta. Lokasi keberangkatannya di depan Gedung Intermark BSD/ Hotel Swissbell Intermark, jalur Pintu keluar Tol Bintaro - BSD arah Pamulang-Ciputat berdekatan dengan Pasar Modern BSD.

Jadwal keberangkatan dari BSD mulai pukul 4 pagi sampai dengan jam 21. Interval keberangkatan setiap satu jam sekali. Sangat nyaman sekali naik bus JA Connexion apalagi sementara ini penumpangnya jarang penuh. Harga tiketnya cuma Rp35 ribu, lebih murah daripada tiket Bus Damri WTC Serpong-Bandara dengan harga tiket Rp40 ribu.

Keberadaan JA Connexion di intermark ini sangat memudahkanku untuk dari dan ke  Bandara. Dari Intermark ke Bandara langsung masuk tol BSD-Bintaro, kemudian masuk JORR dan Tol Bandara. Jika tolnya lancar, bisa ditempuh kurang lebih 40 menit, lumayan cepat.

Nah, kalau kita dari bandara ke BSD untuk di terminal 1 kita bisa langsung menunggu bus JA Connexion di pemberhentian bus di seberang terminal kedatangan 1A, 1B, ataupun 1C. Namun, jika kita di terminal 2 kita perlu menuju semacam halte bus di pojok dekat terminal 2F, lumayan jalan kaki agak jauh jika kita landing di terminal 2D ataupun 2E. Nah di semacam terminal bus kecil itu, kita perlu membeli tiket terlebih dahulu sebelum naik bus. Ada mesin khusus untuk memesan tiket, kita pilih tujuannya Intermark BSD, terus kita pilih metode pembayarannya melalui Link Aja atau bayar langsung di Loket. Saat itu karena saldo Link aja saya menipis, jadilah saya pilih metode pembayaran lewat loket. Kita kemudian dapat print out pemesanan tiket kita. Saya pun menuju loket Bus PPD untuk membayar sejumlah Rp35 ribu dan kita pun diberi tiket. Untuk boarding menuju bus, kita perlu men-scan QR code pada tiket kita di gerbang keberangkatan agar bisa terbuka pintunya. Agak ribet memang kalau terburu-buru, apalagi kalau busnya sudah siap-siap berangkat. Secara umum worthit lah naik JA Connexion.... Murah Meriah.....!

Thursday, August 8, 2019

Asik Gratis Lounge dengan Kartu Kredit BNI Garuda Visa Platinum

Dulu setelah mendapat akses gratis Lounge bertahun-tahun dengan Kartu Kredit SKYZ Mandiri, kemudian pakai Kartu BNI JCB Platinum, dan yang terbaru sekarang ini saya memakai Kartu Kredit BNI Visa Platinum yang bekerja sama dengan Garuda Indonesia.

Lumayan banyak lounge yang bisa diakses dengan kartu ini, diantaranya adalah:

  1. Concordia Lounge Terminal 2 Bandara Juanda Surabaya
  2. Concordia Lounge Terminal A Bandara Adi Sucipto Yogyakarta
  3. Concordia Lounge Terminal Bandara Ahmad Yani Semarang
  4. Concordia Lounge Terminal Domestik Bandara Ngurah Rai Denpasar
  5. Concordia Lounge Terminal Domestik Bandara Sultan Hasanudin Makasar
  6. Concordia Lounge Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin
  7. Blue Sky Lounge Bandara Sepinggan Balikpapan
  8. Saphire Blue Sky Lounge Bandara Kualanamu Medan
  9. Saphire Lounge Terminal 3 Domestik Bandara Sukarno Hatta Jakarta
  10. Minangkabau Lounge Bandara Minangkabau padang
  11. Lembayung Lounge Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru
  12. Sentani Lounge Bandara Sentani Jayapura
  13. Juwata Lounge Bandara Juwata Tarakan
Sebenarnya aku tidak mengajukan secara langsung untuk apply kartu kredit BNI co branding garuda, tapi mungkin karena track record-ku dalam bertransaksi menggunakan kartu BNI JCB lumayan bagus maka aku ditawari untuk apply. Sebenarnya aku tidak mau menambah kartu baru lagi, lha wong kartu BNI JCB Platinumku saat itu kan udah gratis lounge di beberapa terminal bandara domestik, tapi setelah kupikir-pikir nggak ada salahnya aku apply toh setahun gratis iuran tahunan dan untuk tahun selanjutnya tinggal menghubungi CS-nya untuk dihapus iuran tahunannya. 

Ternyata kartu kredit BNI Garuda ini lebih 'ampuh' dalam masuk lounge daripada kartu sebelumnya, dalam artian lebih banyak lounge yang bisa diakses gratis dengan kartu ini. Selain itu setiap pembelanjaan kelipatan tertentu akan mendapatkan miles garuda, yang nanti bisa kukonversi menjadi tiket garuda kalau sudah mencapai nominal tertentu.

Saran saya kalau ambil kartu kredit yang bebas iuran tahunan dan syukur-syukur bisa memberikan fasilitas tambahan semacam free lounge yang ditawarkan kartu kredit BNI Visa Platinum co branding Garuda ini. Lumayan kan ke bandara nggak usah nyari restoran buat ngisi perut atau sekedar nongkrong nunggu boarding pesawat, haha.....!

Monday, November 6, 2017

Damri Jurusan Bandara Soetta - WTC Serpong

Kemarin malam kebetulan aku landing di Soetta dari Juanda Surabaya. Karena naik Air Asia, jadinya turunnya di Terminal 2F. Dulu terminal 2F ini, dikhususkan untuk Garuda Indonesia, tapi setelah Garuda pindah ke Terminal 3, trminal ini jadi basecamp maskapai Sriwijaya Airlines dan Air Asia Indonesia.

Kalau dulu di zaman awal-awal taksi online, begitu turun di bandara, sebelum keluar dari area bagasi, aku segera memesan taksi online, seringnya UBER kala itu. Cukup murah dan cepat dapatnya. Namun, akhir-akhir ini aku lebih sering naik DAMRI selain jauh lebih murah, naik taksi online di bandara Soetta menurutku tidak worth it lagi. Gimana tidak, tarifnya bisa gila-gilaan, bahkan bisa lebih mahal daripada taksi biasa. Kemarin malam saja iseng-iseng aku coba buka pakai Go Car tarifnya kena Rp200 ribuan tujuan ke rumahku di Tangsel. Alasan lainnya, seringkali orderku dibatalkan oleh si driver, karena mentang-mentang aku bayarnya pakai kartu kredit yang biasa kulakukan jijka aku naik UBER. Sangat memakan waktu dan menguras pikiran. Kembalilah aku ke transportasi bandara idolaku dulu, yaitu DAMRI!

Lokasi rumahku di Tangerang Selatan, dekat dengan Kantor Walikota Tangsel. Cukup dekat pula dengan kawasan Bumi Serpong Damai (BSD). Nah, untuk mencapai rumahku jika menggunakan transportasi umum bisa menggunakan travel Xtrans, nanti turun Giant BSD lanjut dengan ojek, atau dengan DAMRI nanti turun pas pemberhentian terakhir yaitu di WTC Serpong, sebelum memasuki kawasan BSD.

Di Terminal 2F ada shelter khusus DAMRI yang dapat kita akses begitu keluar pintu kedatangan langsung belok kiri lurus ikuti petunjuk kira-kira 100 meter lah jalan kaki. Tempatnya sekarang lumayan nyaman, tempat duduknya juga banyak, adapula berbagai gerai makanan cepat saji yang berjejer rapi di ruang tunggu. Di situ ada loket DAMRI ataupun loket-loket travel terutama jurusan Bandung.

Sampai di shelter DAMRI sekitar pukul 19.30 WIB. Aku pun menunggu dengan sabar Bus DAMRI yang akan mengantarku ke WTC Serpong. DAMRI ini rutenya adalah Bandara kemudian masuk Tol Bandara, kemudian masuk tol JORR, lanjut ke Tol Tangerang, dan keluar pintu Tol Alam Sutra. Jadi untuk yang berdomisili di Alam Sutra juga bisa naik DAMRI ini. Tarifnya cukup murah sebesar Rp40 ribu, kita sudah tidak lagi bayar tol.

Waktu menunjukkan pukul 20.20 WIB, berarti sudah 45 menit aku menunggunya, dan belum tiba juga DAMRI yang  kutunggu. Aku pun bertanya ke petugas DAMRI yang biasanya meneriakkan jurusan bus DAMRI yang datang, dan memang bus jurusan WTC Serpong belum datang. Akhirnya penantian panjangku usai juga, sekitar pukul 20.40 Bus DAMRI jurusan WTC Serpong pun datang. Lega rasanya.....

Di dalam bus masih kosong, ternyata shelter di terminal 2F dihampiri DAMRI ini yang pertama kali. Kabar buruknya jelas, DAMRI ini nanti sebelum keluar bandara, nyari penumpang dulu ke Terminal 1A, 1B, 1C dan terakhir di Terminal 3. Kurang lebih 30 menit muter-muter dari terminal ke terminal. Ughh....

Waktu menunjukkan sekitar pukul 21.15 akhirnya Bus melaju keluar bandara menuju tol yang kondisinya lancar jaya. Namun, laju bus agak tersendat ketika memasuki Tol Tangerang. Kemacetan yang lumayan panjang, meskipun masih bisa terus jalan perlahan menyergap di bekas gerbang tol Karangtengah, sekitar 15 menit bus berjalan perlahan. Akhirnya sekitar pukul 22.10 kami pun sampai di WTC Serpong. Segera kupesan Gojek yang malam itu tarifnya cuma Rp11.000 kalau bayar pakai Go Pay atau Rp15.000 kalau bayar tunai. Untungnya langsung dapat dan sekitar 15 menit kemudian aku sudah sampai di rumah dengan selamat. Alhamdulillah.....

Dengan pengalamanku naik Bus DAMRI jurusan WTC Serpong yang susah dapatnya itu, aku jadi berpikir, pantesan bus ini setiap kali aku naik tidak pernah penuh, dan aku selalu duduk sendiri, mungkin warga Serpong dan sekitarnya malas pakai bus ini karena harus lama dan sabar menunggu. Bayangkan kemarin aku menunggu totalnya sampai keluar bandara lebih dari 1,5 jam. Meskipun murah, mungkin warga Serpong lebih memilih naik Xtrans atau Taksi. Mengapa aku tidak naik Xtrans dari bandara, karena jalur yang dilewatinya rawan macet, karena tidak masuk tol melainkan lewat Kota Tangerang.

Yo wis, yang penting selamat dan murah, haha..... Ono Rego Ono Rupo!



Monday, October 9, 2017

Transport dari Bandara Soetta ke Serpong

Tadi malam sekitar pukul 19.04 WIB aku landing di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Usai mengambil bagasi, waktu menunjukkan sekitar pukul 19.30. Bergegas kutinggalkan area kedatangan menuju shelter Bus di Terminal 2F.

Tidak seperti biasanya ketika tiba di Soetta yang langsung memesan taksi online semacam Uber ataupun Grab dan Go Car, kemarin malam kuputuskan untuk naik bus DAMRI saja menuju rumahku di daerah Serpong. Beberapa tempo lalu semakin lama saja menemukan taksi online yang mau dibayar dengan kartu kredit, berkali-kali pernah orderku ditolak. Aku juga maklum karena para sopir taksi online itu, ketika pembayarannya menggunakan kartu kredit harus menunggu pencairan dananya selama beberapa hari atau bahkan lebih dari seminggu, padahal mereka juga rakyat kecil yang harus nalangin dulu beli bensin atau untuk keperluan hidup sehari-hari, makanya mereka lebih senang jika si penumpang membayarnya dengan uang tunai. Pembayaran dengan uang elektronik penyedia aplikasi semacam Grabpay, GoPay juga seringkali ditolak oleh driver taksi online bandara, apalagi kalau si pelanggan menggunakan kode voucher diskon, bakal siap-siap nggak dapat driver meskipun order diulang beberapa kali.

Nah, karena kejadian-kejadian itu, aku sekarang di Soetta agak males kalau pakai taksi online, dan akhirnya kembali lagi ke DAMRI. Kebetulan untuk jurusan Serpong ada bus DAMRI tujuan WTC Serpong, jadi destinasi terakhir adalah Mal WTC Serpong di Jalan raya Serpong.

Sebenarnya disamping bus DAMRI ada pula angkutan lain untuk menuju Serpong yaitu travel Xtrans yang dulu sering kutumpangi, tapi karena tadi malam jadwal yang paling dekat adalah pukul 20.30 dan waktu yang kuperkirakan untuk menuju Serpong lebih lama daripada jika naik DAMRI, maka kuurungkan niatku naik Xtrans. 

Mengapa bisa lebih cepat naik DAMRI daripada Xtrans untuk menuju Serpong, hal itu dikarenakan jika kita naik Xtrans maka rutenya adalah melalui jalur Perimeter kemudian melalui Kota Tangerang, tembus jalan raya Serpong, dan di beberapa ruas jalan kita akan mengalami kemacetan. Sebaliknya jika kita naik DAMRI jurusan WTC Serpong, kita akan langsung lewat Tol Bandara, nyambung tol JORR kemudian nyambung lagi Tol Tangerang, dan keluar di pintu tol Alam Sutra. Alhasil dari Bandara ke WTC Serpong hanya sekitar 30 menit, itu saja jalannya sudah santai. DAMRI ini juga banyak dimanfaatkan oleh warga Graha Raya yang letaknya bersebelahan dengan Alam Sutra dengan turun di Giant Alam Sutra.

Sebenarnya naik Travel Xtrans juga ada kelebihannya meskipun tarifnya sedikit lebih mahal daripada DAMRI (mungkin selisih Rp10 ribu). Xtrans bisa masuk sampai kawasan BSD, mampir di agen Xtrans di Ruko-ruko kawasan ITC BSD, bisa lewat juga Mal Teraskota ataupun Giant BSD, sebelum masuk tol  menuju Bintaro. Dulu ketika naik Xtrans aku sering turun di Teraskota atau di halte bus seberang Giant Bintaro.

Tarif Damri Bandara memang cukup murah, cuma Rp40ribu saja. Coba bandingkan jika kita naik taksi konvensional ataupun taksi online yang harus bayar tol yang tidak murah tentunya. Cukup ngirit, hehe..... 

Sesampainya di WTC Serpong segera kupesan Gojek dengan tujuan ke rumahku dekat dengan kantor Walikota Tangsel di daerah Serua, Tangsel. Cuma Rp11 ribu kalau pakai Gopay atau Rp15 ribu jika bayar tunai dengan jarak tempuh lebih dari 9 km. Coba kubandingkan jika aku pakai taksi online rata-rata habis sekitar Rp130 ribu (termasuk tol) atau kalau pakai taksi konvensional bisa habis sekitar Rp200rb. Lumayan ekonomis to.....

Saturday, March 4, 2017

JCB Lounge di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta


Jumat akhir pekan lalu kebetulan aku melakukan perjalanan ke Surabaya dengan pesawat Air Asia paling malam. Seperti biasa selepas tet tot kantor jam 17.00 WIB dari kawasan Bintaro, Tangsel aku langsung meluncur naik UBER ke Bandara Soetta Terminal 2F.

Dulu ketika terminal 2F masih jadi homebase-nya Garuda, aku seringkali mampir ke Mandiri Lounge untuk sekedar makan gratisan, hehe...... Tapi sekarang Lounge-lounge di terminal 2F sebagian besar tutup ataupun pindah ke Terminal 3 Markas garuda saat ini.

Karena aku sudah nge-print sendiri boarding pass dan nggak ada bagasi (sehingga nggak perlu cetak boarding pass lagi di check in counter, langsung saja aku menuju ke ruang tunggu. Sebelum ke ruang tunggu aku berniat mengambil uang di ATM Bank Mandiri di dekat bekas Mandiri Lounge dulu yang nampaknya masih aktif dari kejauhan. Nah, saat mendekati ATM Mandiri, entah mengapa mataku tertuju ke Lounge yang berjarang beberapa meter dari bekas Mandiri Lounge dan ternyata setelah kudekati tulisannya JCB Lounge.

"Wah aad JCB Lounge ternyata, kali aja bisa gratisan di sini, kan aku punya Kartu BNI Platinum JCB!" seruku dalam hati. Langsung saja aku menuju ke Lounge kecil itu dan menanyakan ke Mbak-mbak resepsionisnya apakah bisa menggunakan CC BNI JCB dengan gratis. Ternyata benar gratis, hehe..... syukur-syukur nggak perlu beli makan malam, dasar gratisan maniak.

Masuklah aku ke JCB Lounge dan kesan sempit, sepi segera menyergapku. Kalau nggak salah hanya ada sepasang suami istri (mungkin), satu orang perempuan, dan satu orang Bapak-bapak yang lagi asik menelpon, dan beberapa pegawai Lounge yang mondar-mandir. Segera kuletakkan tasku di sofa di pojok ruangan. Ada minuman jus, dan hanya ada dua jenis makanan berat saat itu, semacam bubur ayam dan ayam yang dimasak semacam opor serta sayur kacang panjang, ada pula beberapa bungkusan roti. Segera saja kuambil jus, nasi putih dan sayur kacang plus ayam opor, dan beberapa bungkus roti kecil. Langsung kududuk di pojok sambil mengamati ruangan lounge yang terasa aneh bagiku.

Aku tidak berniat berlama-lama di Lounge itu meskipun waktu boarding masih relatif lama. Aku buru-buru menghabiskan makananku yang terasa agak hambar karena sayur kacangnya yang seolah tanpa rasa, apa lidahku yang lagi nggak beres ya, hehe..... Dalam benakku, "Mungkin sebentar lagi lounge ini tutup ya, lha sepi kayak gini, sempit pula, plus makanan yang 'ala kadarnya', hiks!" Tapi aku masih bersyukur, dapat makanan dan minuman gratis, Terima Kasih JCB...... (pengalaman berbeda 180 derajat kurasakan di Concordia Lounge Juanda Surabaya yang jauh lebih bagus meski sama-sama dapat gratisan dari kartu BNI JCB.)

Begitu makanan di piring sudah habis (gitu kok katanya nggak enak, haha.... karena lapar apapun jadi enak, hiks) aku langsung bergegas ke ruang tunggu. Nggak sampai 15 menit kuhabiskan waktuku di Lounge bandara terkecil dan terminimalis (dalam arti sebenarnya) yang pernah kukunjungi selama ini. Positifnya perutku lumayan kenyang, haha...... Oiya dulunya JCB Lounge ini namanya Sunda Kelapa Lounge.

Saturday, December 19, 2015

Ke Bandara Naik Xtrans

Nomor Reservasi Tiket Xtrans di Jakarta dan Bandung
Rumahku yang berada di wilayah Kota tangerang Selatan lumayan jauh dari Bandara Soekarno-Hatta. Sekitar 40 km jaraknya jika melalui Tol Serpong-Ulujami, nyambung Tol JORR dan Tol Bandara. Jarak yang begitu jauh tentunya cukup banyak biaya yang perlu dikeluarkan terutama jika menggunakan taksi. Bisa lebih dari 170 ribu belum termasuk biaya tol yang kalau nggak salah nominal totalnya Rp30.500, so kalau mau ke bandara naik taksi ya siap-siap saja minimal uang Rp200ribu.
-
Nah, Minggu kemarin saat aku mau balik ke Pontianak aku agak bingung mau naik pakai moda transportasi apa. Untuk taksi, kupikir-pikir terlalu mahal, sayang rasanya kalau sekedar buat ongkos taksi, mending untuk traktir temen, haha.....

Sebenarnya pengen lagi mencoba taksi Uber, namun karena keberadaannya sangat jarang di sekitar perumahanku, akhirnya kubookinglah travel Xtrans jurusan bandara yang berangkat dari kawasan BSD, tepatnya di kompleks Ruko Golden Road Sektor VII Blok S No. 119 BSD City (021-53154871) atau mudahnya di ruko-ruko samping ITC BSD. Tapi kubooking bukan melalui nomor telepon pool Xtrans BSD melainkan ke nomor telepon reservasi Xtrans di nomor (021-3150555). Cukup telepon saja, dan kita akan ditanya mau berangkat ke mana melalui pool xtrans mana. Untuk pembayaran nanti dilakukan langsung di pool keberangkatan yang kita pilih. Untuk ke bandara dari BSD cuma Rp50ribu, murah to... Oiya masing-masing pool keberangkatan tidak melayani reservasi melalui telepon, tapi sekarang sudah melayani pemesanan dengan datang ke pool-nya langsung

Selain melalui Pool Xtrans BSD, aku juga sering naik melalui pool Xtrans Bintaro yang terletak di Bintaro Trade Center (BTC), Sektor VII, Ruko Blok D2 No.15 Area Food Court (021-7450303). Hampir sama sih jaraknya antara pool BSD dan Bintaro dari rumahku, tapi karena kondisi jalan menuju pool BSD yang lebih lebar dan lancar, maka sering kupilih berangkat melalui BSD.

Keberangkatan Xtrans jurusan Bandara dari BSD maupun Bintaro setiap 30 menit sekali. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dengan kondisi jalan ramai lancar. Rute yang ditempuh tidak melalui Tol, jadi sangat rawan jika sewaktu-waktu ketemu macet di jalan. Baru-baru ini Xtrans punya layanan travel ke bandara yang melalui jalan Tol sehingga lebih cepat namun juga tarifnya lebih mahal.


Friday, May 29, 2015

Pengalaman Naik Travel Xtrans dari Bandara Soetta (Cengkareng)

Biasanya kalau ke Jakarta, dari Cengkareng aku naik Taksi sampai ke rumahku di Sarua, Tangsel.  Nah, Sabtu minggu lalu kebetulan aku ke Jakarta, dan karena masih pagi dan tidak terburu-buru, kucobalah naik Xtrans dari Bandara.

Keluar dari Terminal 2F, aku langsung berjalan belok ke arah kiri menuju halte Bus Damri. Yah kira-kira jalan 150 meter lah dari pintu keluar terminal 2F. Nah, di halte Bus Damri itu juga terdapat loket-loket Travel seperti Xtrans dan Cipaganti. Tanpa basa-basi kubeli tiket tujuan Bintaro seharga Rp50ribu. Coba bandingkan dengan ongkos taksi yang rata-rata habis 200-an ribu sampai persis depan rumahku.

Terlanjur kubeli tiket jurusan Bintaro, ternyata setelah kupikir-pikir dari rumahku lebih dekat jika aku turun di BSD. Xtrans jurusan Bintaro akan melewati daerah BSD dulu sebelum ke Bintaro. Jika di BSD akan berhenti di kawasan ITC, dan kalau ke Bintaro akan berhenti di kawasan Bintaro Trade Center (BTC), tempat pool Xtrans.

Tidak sampai setengah jam aku menunggu, travelnya sudah datang. Mobil Elf berkapasitas 9 penumpang plus satu sopir. Cukup luas mobilnya dan kursinya pun nggak terlalu sempit, dengan ruang kaki yang cukup luas.

Rencana-nya kalau aku berhenti di BSD akan turun di sebelum pintu masuk Tol BSD dekat Jalan Ciater, ternyata setelah kutanya tidak lewat daerah situ, jadilah aku kepikiran untuk berhenti ke Teraskota. Sambil nunggu jemputan kakakku, kan bisa nge-mall dulu, haha....

Total waktu dari Bandara sampai BSD kurang lebih satu jam, kalau ke Bintaro tinggal tambah saja sekitar 20 menit kalau tidak macet.

Naik Travel dari Bandara memang solusi lebih murah, asal destinasi kita masuk dalam rutenya, haha.....

Saturday, April 18, 2015

Tarif Taksi dari Bandara Soetta (Cengkareng)

Tempat Tunggu Taksi Express di Terminal 2F (dok. pribadi)
Paling males kalau sudah harus gonta-ganti angkutan umum dari bandara ke rumah, apalagi kalau sudah malam, arghhh..... bikin puyeng. Beberapa waktu lalu ketika Bus Damri Jurusan Bandara - Lebak Bulus masih lewat Slipi - Palmerah - Permata Hijau - Kebayoran - Pondok Indah, bisa turun di Stasiun Palmerah lanjut ke Stasiun Sudimara. Nah, beberapa bulan yang lalu aku pikir rute Bus Damri Bandara - Lebak Bulus masih sama, ternyata semenjak Tol JORR W2 Ulujami - Kebon Jeruk udah nyambung, busnya sekarang lewat tol terus sampai lebak bulus, memang cepat sih, tapi ya itu tujuan akhir cuma Lebak Bulus doang, akhirnya naik taksi juga dari Lebak Bulus ke rumah, hampir sama ongkosnya sama naik taksi dari Bandara ke rumah di Tangsel.

Nggak mau kejadian seperti itu lagi, dan pengen lebih praktis aja, sekarang aku lebih sering naik taksi dari bandara Cengkareng. Seringnya aku naik taksi Ekspress yang masih pakai tarif bawah, ya murahan dikit lah dibandingkan si burung biru. Tempat tunggu atau pemesanan taksi ekspress kalau di Terminal 2F, dari pintu keluar kedatangan langsung belok ke kiri. Di situ ada berbagai operator taksi.

"Pamulang Bang", seruku kepada petugas dari taksi ekspress yang mencatat setiap order. Kita bisa nanya sedang antre berapa orang, sambil nunggu giliran, kita bisa rehat sejenak di kursi tunggu yang sudah disediakan. Naik taksi dari Bandara kena tambahan biaya tergantung jauh dekatnya jarak tujuan. Ada 3 zona charge, semakin jauh semakin sedikit tambahan biayanya, dengan asumsi semakin jauh kan semakin mahal pula tarif taksinya, jadi charge-nya nggak begitu banyak.

Zona 1 (charge Rp10.500) : Tangerang, Kalideres, teluk Naga, Cipondoh, Pantai Indah Kapuk, Cengkareng, Grogol, Kebon Jeruk

Zona 2 (charge Rp9.000) : Penjaringan, Pademangan, Tanjung Priok, Kemayoran, Cempaka Putih, Tambora, Tanah Abang, Jatinegara, Tebet, Mampang, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Ciledug, Pondok Aren, Bumi Serpong Damai (BSD)

Zona 3 (charge Rp7.500) : Koja, Kelapa Gading, Cilincing, Pulo Gadung, Cakung, Duren Sawit, Pondok Gede, Kp. Makasar, Kodya Bekasi, Kramat Jati, Pasar Minggu, Pasar Rebo, Ciracas, Cipayung, Limo, Jati Sampurna, Cilandak, Jagakarsa, Ciputat, Pamulang, Sawangan, Kodya Bogor, kab. Bogor, Kodya Depok

Charge Taksi Bandara  per zona yang tertera pada Tiket Taksi (dok. pribadi)
Sebetulnya rumahku masih berada dalam wilayah Ciputat, namun berdekatan dengan wilayah Pamulang, tapi orang-orang lebih sering menyebut daerah perumahanku masuk wilayah Pamulang. Untungnya rumahku mudah diakses melalui jalan Tol. Jadi dari Bandara bisa langsung ke rumahku melalui tol Kebon Jeruk - Ulujami, nyambung tol Serpong, keluar di pintu keluar pertama BSD arah Ciputat Pamulang.

Dari Pintu keluar kira-kira 2,5 km menyusuri jalan Ciater Raya nyambung jalan Sarua Raya, sampailah ke rumah. Waktu tempuh nggak sampai 1 jam, paling cuma sekitar 40 menit saja. Sedangkan tarif di taksinya sendiri habis sekitar Rp170ribu plus biaya tol Rp30.500. Lumayan mahal ya tolnya, tapi yang penting cepat dan lancar jaya. Biasanya untuk membayar tol kupakai kartu indomaret yang bisa berfungsi sebagai e-toll card salah satu produk dari e-money Bank Mandiri. Lebih praktis, tidak perlu bolak-balik ngambil uang dari dompet saat di gerbang tol. Cukup kasih si sopir taksi e toll card dan bisa kita tinggal tidur, hehe...... eitss tunggu dulu jangan lupa untuk mengecek saldo e-money kita, siapa tahu sudah mepet, jangan sampai sudah terlanjur masuk Gerbang Toll Otomatis (GTO), saldonya abis, malulah kita....

Lumayan mahal memang naik taksi dari Bandara ke rumahku di Tangerang Selatan, ya kira kira habis Rp210 ribuan lah.... Kalau mau ngirit sebenarnya bisa pakai travel Xtrans dari Bandara jurusan BSD ataupun Bintaro, tapi masih harus dijemput agak jauh. Ya, memang sebuah kenyamanan itu mempunyai harga tersendiri, haha.....

Wednesday, March 18, 2015

Bersantai di Mandiri Lounge Soetta

Suasana di Mandiri Lounge Terminal 2F Soetta (Dok. Pribadi)
Seringkali kalau ke Cengkareng aku sudah berangkat dari rumah di Tangsel 3 jam sebelumnya, maklum meskipun lewat tol, kemacetan di jakarta sulit diprediksi kapan dan dimana terjadinya. So, aku nggak mau ambil risiko terlambat, lebih baik menunggu daripada ketinggalan pesawat atau ditolak cek in. Hal yang tidak pernah kulakukan jika terbang dari Balikpapan berhubung jarak kantor ataupun kosku yang relatif dekat dengan bandara Sepinggan, cuma 5-10 menit! Enak banget ya....

Nah, lantas kalau masih 2 atau 3 jam lagi waktu boardingnya, harus ngapain dong di bandara, bisa-bisa mati gaya menunggu lama di ruang tunggu. Ya modal dikit lah, mampir ke lounge gitu, kan lumayan bisa bersantai sambil menunggu boarding.

Tapi untungnya aku bisa gratisan di beberapa Lounge Bandara. Kebetulan saat artikel ini kutulis, aku sedang berada di Mandiri Executive Lounge, Terminal 2 Soetta. Kartu SKYZ -ku bisa kugunakan gratis di lounge ini. Sebanarnya aku lebih prefer ke Blue Sky Lounge seperti di Balikapapan ataupun Surabaya, tapi berhubung di Soetta Blue Sky berada di Terminal 1C jadi nggak memungkinkan.

Nah, untungnya ini nggak weekend jadi lumayan nggak terlalu rame. Untuk makanan yang disajikan tergolong biasa saja dibandingkan dengan Blue Sky. Makanan beratnya hanya satu macam, ada sup, ada roti tawar yang dilengkapi dengan toaster, minuman ada jus jeruk (lebih mirip orson), jus jambu yang encer banget (kayak jambu instan biasa), air mineral gelas (saat ini merek club bukan aqua) dan softdrink coca-cola ataupun sprite. Ada kopi teh juga. Gorengannya yang enak menurutku tempe mendoannya, meskipun kecil tapi terasa enak rasanya. Oiya resolesnya lumayan enak. Adapula roti-roti kecil yang cukup empuk dan enak juga rasanya.

Mengenai fasilitas lainnya, yang pasti ada akses free WiFi, mini library berisikan beberapa majalah, toilet yang cukup bersih, disediakan pula beberapa desktop yang terhubung dengan internet plus gratis pemandangan taman-taman hijau diluar yang bisa dilihat dari dinding kaca.

Lounge-nya cukup sempit. Dinginnya ruangan menurutku kurang begitu dingin, padahal selain sudah ada AC central juga terpasang beberapa standing AC. Namun, leherku masih terasa gerah.

Untuk menikmati lounge ini jika sekedar menggunakan gratisan fasilitas kartu kredit, masih worth it lah. Namun, jika bayar sendiri karena nggak punya kartu kredit, aku secara pribadi tidak merekomendasikan.

Baca juga: Menikmati Legen di Blue Sky Lounge Juanda Surabaya

Tuesday, June 3, 2014

Terminal 2 Bandara Juanda Surabaya

Landing di Juanda Jumat malam itu terasa lebih mulus tidak seperti penerbanganku dengan CRJ 1000 sebelumnya yang limbung bikin sport jantung. Namun sesaat setelah landing, pesawat bukannya belok ke kiri menuju apron seperti biasanya melainkan berbelok ke arah kanan. Pikirku semula jangan-jangan si pilot lupa kalau terminalnya berada di sisi utara landas pacu.

Beberapa saat kemudian dari jendela pesawat terlihat beberapa pesawat komersial yang parkir di apron selatan landas pacu. Begitu turun dari pesawat barulah nampak sebuah bangunan terminal yang tampaknya baru, itulah terminal 2 Bandara Juanda dengan bangunan moderen yang berdiri di bekas terminal lama bandara Juanda.

Begitu masuk di terminal baru, timbul kekhawatiran tidak ada fasilitas Bus Damri Bandara, namun hal itu terbukti hanya kekhawatiran yang tak beralasan. Aku pun naik Damri menuju Terminal Bungurasih. Di terminal baru itu sudah nampak ramai dengan tenant-tenant terutama food and beverage, dengan counter Roti 'O' yang tentunya ada di terminal baru ini.

Seminggu lebih setelah liburanku di Tulungagung, Jawa Timur dan Pati, Jawa Tengah aku harus kembali lagi ke Balikpapan tanggal 1 Juni Kemarin. Kali ini aku kembali menggunakan Garuda yang sudah pasti memakai Bombardier CRJ 1000 untuk rute SBY - BPN. Sesampainya di terminal Bungurasih kucoba bertanya kepada Petugas, Armada Bus Damri yang tujuannya ke terminal 2. Jika salah tujuan ke terminal 1 bisa berabe karena antara terminal 1 dan 2 terpisahkan oleh landas pacu yang tidak terhubung satu sama lain. Beberapa bulan yang lalu jika kita ke terminal bungurasih tidak perlu bertanya bus damri yang jurusan mana karena semua akan diantar ke terminal 1, namun sejak pertengahan Februari kemarin dari terminal Bungurasih ada 2 jurusan Bus Damri Bandara.

Terminal 2 berada di sisi selatan Landas Pacu dan jarak tempuh ke Terminal Bungurasih Surabaya bisa ditempuh lebih singkat sekitar 10 menit. Lumayan bisa lebih cepat...

Tarif sebesar 20 ribu Rupiah sama dengan tarif Bus Damri jurusan terminal 1 meski dengan jarak tempuh yang lebih pendek. Bus Damri yang menuju terminal 2 biasanya tidak lebih banyak penumpangnya daripada yang menuju terminal 1. Hal ini dikarenakan untuk sementara ini setahuku baru maskapai Garuda Indonesia dan Air Asia yang memakai terminal ini, tapi kemarin aku juga melihat counter tiket citilink, jangan-jangan citilink sudah pindah juga ke terminal 2?

Ngomong-ngomong soal terminal baru (terminal 2) Bandara Juanda Surabaya kesan moderennya terlihat dari desain bangunan yang didominasi warna silver, dengan atap rangka baja yang terkesan kokoh dan pemakaian kaca-kaca lebar dengan plafon tinggi yang memungkinkan cahaya masuk lebih banyak dan sirkulasi udara lebih baik. Kontras dengan terminal 1 yang kesan Bangunan Jawa sangat kental. Jujur untuk desain dan konsepnya saya lebih memilih terminal satu, karena menunjukkan karakter Budaya Jawa yang kental.

Sesampainya di terminal 2 Juanda, aku langsung menuju mushola di sisi pojok paling barat serambi terminal. Usai dari mushola menuju ke pintu masuk terminal pandanganku tertuju ke sebuah benda mirip wastafel lengkap dengan krannya yang dari stainless steel, dan terpampang tulisan 'air kran siap minum'. "Wow seperti di negara-negara maju saja ada air kran siap minum!", pikirku saat itu.

Masuk ke terminal Bandara disambutlah pengunjung dengan deretan tenant-tenant semacam mall mini yang merupakan meeting point bagi calon penumpang, pengantar, ataupun penjemput yang semuanya bisa masuk berbelanja atau sekedar nongkrong di mall mini itu. Seperti konsep di Bandara Sepinggan Balikpapan yang baru. Ada toko reseller Apple yaitu EMAX, adapula Starbucks, Roti O, Hokben, dan tenant-tenant lainnya. Masuk ke arah kiri menuju ruang check in yang cukup luas dan lengang. Lampu-lampu pun sedikit yang menyala bahkan untuk lampu di atap tidak ada yang menyala karena sudah terang dari cahaya alami matahari yang masuk melalui kaca-kaca besar yang mendominasi bandara ini. Pengelola Bandara yaitu pihak Angkasa Pura I mengklaim terminal ini adalah terminal Eco friendly yang seminimal mungkin menggunakan energi listrik.

Kebetulan boardingku melalui Gate 1. Gate ini ternyata tidak terletak di lantai 2 seperti halnya gate lainnya melainkan di dekat area meeting point. Seperti di Bandara Sepinggan Baru, pemeriksaan X-Ray hanya dilakukan satu kali setelah check in menuju waiting room. Mungkin karena dengan naik CRJ 1000 tidak bisa menggunakan garbarata makanya terletak di lantai 1. Waiting Room di Gate 1 tidak cukup luas, paling tidak hanya cukup untuk menampung sekitar 100 orang.

Toilet di Terminal 2 pada umumnya lebih luas dan lebih bersih dari terminal 1. Tapi soal hiasan bunga hidup semacam Anggrek Bulan maupun Krisan yang banyak bertebaran di terminal 1 tidak kujumpai sama sekali di terminal 2 ini.

Satu Fasilitas lagi yang sangat kusayangkan belum ada di terminal 2 yaitu LOUNGE GRATIS. Kalau di terminal 1 aku bisa mampir di Blue Sky Executive Lounge atau di Singosari Lounge. Pantesan akhir-akhir ini saat aku di Blue Sky tidak seramai sebelumnya ternyata sebagian pelanggannya yang penumpang Garuda sudah pindah di terminal 2.

Terminal 2 ini katanya mampu menampung 6 juta penumpang per tahun, sedangkan terminal 1 mampu menampung 7 juta penumpang per tahun. Dengan kapasitas 13 juta penumpang per tahun tetap saja Bandara Juanda mengalami over capacity, mengingat saat ini penumpang di Juanda sudah mencapai 17 juta lebih dalam setahun. Terkesan pembangunan terminal 2 nanggung, tidak dimaksimalkan, entah kurang dana atau ada alasan lainnya. Entahlah...

Menurut berbagai kabar yang ada pihak AP I mau membangun landas pacu baru bahkan rencananya dua landas pacu sekaligus mengingat kepadatan jadwal take off dan landing semakin tinggi frekuensinya. Ya moga saja benar adanya kabar tersebut.

Wednesday, April 23, 2014

Bandara New Sepinggan Balikpapan

Antrean di Counter Check In Garuda Indonesia (dok. pribadi)
Sudah sebulan lebih Terminal Baru Bandara Sepinggan Balikpapan beroperasi. Terminal Bandara termegah di kawasan Timur Indonesia ini membuat decak kagum berbagai kalangan, namun tidak senorak seperti di daerah lain yang bandara barunya sebagai 'objek wisata' dadakan. Bagunan yang luas dan lapang yang terdiri dari 4 lantai ditambah fasilitas gedung parkir-nya yang gede bingits... (kata anak zaman sekarang) seakan tak mau kalah dengan megahnya gedung terminal.

Bandara New Sepinggan ini dilengkapi pula dengan mal yang sampai saat ini belum banyak tenant-tenant yang buka. Antara lantai satu dengan lainnya dihubungkan dengan eskalator maupun elevator. Konsep taman indoor pun melengkapi bandara baru ini.

Ayo kita review berbagai fasilitas di terminanl bandara Sepinggan yang baru ini:
1. Ruang keberangkatan
Ruang ini terletak di lantai tiga bangunan utama. Seperti di Bandara Soetta Jakarta dimana calon penumpang bisa diantar langsung ke lantai dua bandara, namun di Sepinggan ternyata terletak lebih tinggi yaitu di lantai tiga yang mana mobil bisa langsung naik ke atas. Jika calon penumpang terlanjur tiba di lantai dasar maka harus naik ke lantai 3 melalui atrium mal dengan eskalator maupun elevator.
Ruang Check In Sepinggan (dok. pribadi)

Di ruang keberangkatan terdapat ruang-ruang check in yang berbentuk seperti payung (mirip jamur) dengan list lampu berwarna hijau. Ruang check in ini jauh lebih luas jika dibandingkan dengan terminal lama, sehingga tidak terlihat bejubel penumpang antre di counter check in.
Monitor Raksasa yang menampilkan flight update (dok. pribadi)


Ada pula monitor raksasa yang menayangkan jadwal keberangkatan maupun kedatangan pesawat. Di ruang check ini ini juga terdapat taman-taman indoor yang didominasi tanaman palem-paleman. dominan warna hijau. Memang keberadaan taman-taman yang luas di dalam terminal ini membuat mata menjadi segar, namun yang patut disayangkan adalah pemilihan jenis tanamannya yang terkesan asal-asalan, tidak disesuaikan dengan kondisi ruangan yang ber-AC. Nampak banyak tanaman yang layu dan mulai mengering daunnya (padahal belum seminggu usai peresmian), debu yang melapisi daun-daun, ataupun pot-pot tanaman yang berwarna hitam dari plastik yang jauh dari kesan mewah dan elegan. Penataan taman pun terkesan seadanya, komposisi tanamannya kurang diperhatikan, terlihat asal hijau saja konsepnya. Harusnya Manajemen Bandara menggunakan jasa konsultan taman indoor yang profesional agar jauh dari kesan seadanya.
Taman indoor yang cukup asri (dok. pribadi)

Penataan taman kurang rapi (dok. pribadi)

Taman dilihat dari lantai 3 ruang check in (dok. pribadi)




2. Pemeriksaan X-Ray
    Berbeda dengan sistem pemeriksaan pada terminal lama yang harus melalui 2 mesin X-Ray, yaitu saat mau masuk ke ruang check in dan ketika mau masuk ke ruang tunggu, di terminal baru pemeriksaan cukup hanya sekali saja yaitu ketika mau ke masuk ke ruang tunggu. Hal ini lebih praktis bagi penumpang, namun menuntut kecermatan petugas x-ray yang lebih baik.

3. Ruang Tunggu
    Ruang tunggu di terminal baru ini sangat luas dari timur ke barat. ruang tunggu antar gate tidak dibatasi sekat apa pun, tempat duduknya dengan dominasi warna hijau ada yang berbentuk bangku deret, ada pula yang berbentuk sofa berbetuk melengkung dengan kesan minimalis moderen yang kuat. ada pula menara-menara berbentuk semacam pohon berwarna putih seperti miniatur menara-menara pohon di Gardens by The Bay Singapore yang  aku kurang tahu fungsinya hanya sekedar ornamen atau semacam lampu ruang yang menyala ketika malam hari atau tiang penyembur hembusan air conditioner, entahlah aku nggak sempat memperhatikan detail ketika itu.
Ruang Tunggu dengan nuansa modern (dok. pribadi)


Ketika aku mencari lokasi Blue Sky Lounge di ujung barat ruang tunggu, aku melihat travelator yang relatif pendek, yang menurutku sia-sia saja. Lha gimana tidak, cuma jarak beberapa meter saja kok diberi travelator???
Travelator yang ukurannya cukup nanggung (dok. pribadi)


4. Garbarata
Tidak seperti terminal lama yang tidak dilengkapi garbarata, di terminal baru ini dilengkapi garbarata. Penumpang yang boarding tidak lagi naik bus atau berjalan kaki menuju pintu pesawat, melainkan cukup turun ke lantai 2 dengan eskalator dan langsung menuju lorong garbarata. Dinding garbaratanya juga dibuat dari kaca sehingga tidak terkesan berjalan di lorong sempit.
Garbarata yang didominasi material baja dan kaca (dok. pribadi)


5. Toilet
Keberadaan toilet di Terminal baru ini relatif banyak dan luas, bahkan terkesan banyak ruang sisa sehingga mengesankan kurang efisien dalam penggunaan ruang. Desain toiletnya cukup bagus dan lapang, namun dari sisi kebersihan perlu ditingkatkan, sayang kan kalau closetnya yang bermerek Kohler dang pastinya kelasnya premium dan mahal tapi kurang bersih dalam perawatannya.

6. Mobilitas Pengunjung
Karena didesain ada mal-nya, maka terminal baru ini berkonsep terbuka yang memungkinkan pengunjung selain calon penumpang bisa masuk ke area terminal sampai batas ruang tunggu. Hal ini berarti menuntut tingkat pengamanan yang lebih tinggi karena celah yang semakin terbuka lebar jika tidak disikapi dengan tepat.

7. Sistem bagasi
Ketika datang di terminal kedatangan saat baru keluar garbarata, terlihat mesin yang menggerakkan bagasi dalam rangkaian yang panjang seperti peralatan di pabrik besar yang mungkin mampu mendeteksi bagasi penumpang ini dari penerbangan apa nomor berapa sehingga tidak salah tempat sewaktu pengambilan di bagasi counter karena sewaktu aku melihatnya, mesin seolah-olah memilah-milah tas ini masuk pintu pengambilan bagasi mana dan tas yang lain ke pintu mana. Aku kurang begitu tahu kecanggihan apalagi di sistem bagasi bandara baru ini.

8. Area Parkir
Bandara ini dilengkapi dengan gedung parkir 5 lantai  yang mampu menampung ribuan mobil. Namun patut disayangkan sementara ini hanya ramah pada penumpang yang diantar jemput dengan mobil, sedangkan penumpang yang diantar jemput dengan motor harus berjalan cukup jauh kira-kira 200 meter ke arah timur dari area kedatangan, tepatnya di depat terminal B Bandara lama.


Sunday, March 9, 2014

Bandara Cengkareng Out of Date?

Indonesia sedang marak dengan 'persaingan' antar bandara di sejumlah kota besar. Mulai dari Bandara Ngurah Rai yang baru di Bali, Kuala Namu di Sumatra Utara, dan terakhir Sepinggan di Balikpapan yang akan diresmikan akhir Maret nanti sebagai Bandara terbesar di Indonesia Timur atau lebih tepatnya di Kalimantan dengan dilengkapi Mal di dalam terminalnya serta gedung parkir 5 lantai yang mampu memuat ribuan mobil.

Ramai dibicarakan di forum-forum kalau Bandara satu paling hebat dan megah dibandingkan dengan bandara lainnya. Mereka saling beradu argumentasi jika bandara di daerahnya yang paling moderen dan megah. Bagaimana dengan Bandara Cengkareng? Mayoritas forumer sepakat nggak memasukkan Cengkareng di bursa perasaingan bandara di Indonesia? Why?? Karena mereka menganggap Cengkareng sudah out of date!

Ada yang menganggap Bandara Kuala Namu yang menggantikan Bandara Polonia sebagai bandara yang paling megah, canggih, dan terintegrasi dengan moda kereta api sampai ke kota Medan serta runway-nya bisa didarati pesawat jumbo jet. Adapula yang menyebut Bandara Ngurah Rai sebagai bandara yang paling canggih dan nyaman saat ini mengalahkan bandara-bandara lainnya di Indonesia. Tak mau kalah forumer dari Balikpapan yang mengganggap Terminal baru bandara Sepinggan adalah yang paling bagus desainnya, megah, dan satu-satunya yang punya mal di dalamnya.

Upgrade bandara lama ataupun pembangunan bandara-bandara baru di Indonesia yang dikelola oleh PT Angkasa Pura I dan II mulai marak dilakukan mulai tahun 2000-an seiring dengan mulai maraknya bisnis penerbangan murah yang dimotori maskapai Lion Air dan Adam Air. Sebelumnya praktis hanya Bandara Cengkareng yang layak disebut bandara internasional.

Apa benar Bandara Cengkareng sudah out of date? Memang ada benarnya juga karena Cengkareng sekarang sudah sangat padat sekali, apalagi pada musim liburan yangh suasananya sudah seperti di Terminal Bus antar kota. Akses ke Bandara yang susah diprediksi karena kemacetan di Tol ataupun banjir yang tidak terduga yang tidak diimbangi dengan alternatif moda transportasi kereta, selalu membuat dag dig dug jika terburu-buru ke Bandara. Antrean panjang saat check in menjadi hal lumrah. Laporan bagasi-bagasi yang dibobol seolah tidak ada habisnya. Tindak penipuan juga marak terutama terhadap TKW yang baru datang dari luar negeri.

Itu mengenai pelayanannya. Tapi mengenai desain bangunan dan landscape bandaranya menurutku tidak out of date melainkan cukup unik, tidak membosankan dan Indonesia banget. Terbukti pada dekade 90-an Bandara Cengkareng beserta landscape-nya mendapat Penghargaan Aga Khan Award for Architecture, penghargaan berkelas international untuk arsitektur.

Tidak seperti bandara-bandara baru yang dikembangkan saat ini yang konsepnya terlihat kurang jelas walaupun mengusung konsep bangunan moderen futuristik dengan bangunan yang didominasi baja dan kaca, Bandara Cengkareng mempunyai konsep Garden Airport dengan Arsitektur Jawa yang terlihat dominan dengan gaya Joglo atau Pendopo untuk ruang tunggunya di kelilingi dengan Taman di Kanan Kiri lorong menuju ruang tunggu yang hanya dibatasi dengan dinding kaca bening, sehingga pandangan kita bisa sejuk melihat taman yang hijau dan terawat rapi. Setelah kita di ruang tunggu pun, desainnya yang bergaya jawa terlihat sangat anggun, mungkin bangku-bangku-nya yang perlu diganti agar lebih manis dan nyaman. Untuk setiap Gate ruang tunggu dilengkapi dengan mushola dan toilet di lantai bawahnya. Bahkan di toilet pun kita masih bisa memandang taman di luar dari balik dinding kaca yang membatasi toilet dengan taman.

Toilet Cengkareng yang dulu terkenal jorok, sekarang terlihat bersih dan rapi. Bunga-bunga anggrek dan lainnya juga tersebar di penjuru bandara. Menjadikan bandara ini lebih bersih dan indah.

Konsep Terminal 1 dan 2 yang menurutku paling OK diantara bandara-bandara di Indonesia, tidak diterapkan pihak angkasa pura dalam pembangunan Terminal 3. Terminal 3 dengan gaya modern futuristiknya seperti kapsul luar angkasa di film-film fiksi ilmiah yang diklaim menerapkan konsep green building yang hemat energi. Penggunaan lampu yang diminimalisir dengan dominasi penggunaan kaca pada terminal ini ditambah dengak desain interior ruang tunggu yang cozy dan nyaman tidak seperti terminal 1 dan 2 yang konvensional membuat terminal 3 ini banyak mendapatkan acungan jempol. Dan sekarang Terminal 3 sedang dikembangkan jauh lebih besar untuk menambah kapasitas penumpang yang semakin membludak dari tahun ke tahun. Tapi, terus terang saya kurang sreg dengan desainnya, dan terkesan biasa dibandingkan bandara-bandara di luar negeri. Apalagi tidak dilengkapi dengan taman-taman yang bisa meneduhkan pandangan mata. Berbeda dengan terminal 1 dan 2 yang desainnya mencerminkan budaya Indonesia dengan beragam motif ukiran dari berbagai daerah di Indonesia yang terpampang apik di pilar-pilar maupun plafon terminal plus keberadaan taman bisa dinikmati penumpang yang akan berangkat ataupun yang baru datang.

Pihak Angkasa Pura II selaku operator Bandara Cengkareng dan pihaK PT KAI saat ini sedang membangun jaringan kereta Bandara yang akan menghubungkan dengan pusat kota Jakarta, walaupun dirasakan terlambat hal itu masih jauh lebih baik daripada tidak ada alternatif moda transportasi lain ke Bandara selain Mobil ataupun Bus.

Dari segi desain bangunan, Terminal 1 dan 2 harus tetap dipertahankan, namun dari segi interior-nya yang sebaiknya di desain ulang agar sejajar dengan bandara internasional di negara-negara lain bahkan lebih baik. Penambahan fasilitas ruang tunggu yang memberikan kenyamanan lebih bagi penumpang mutlak dilakukan dan yang pasti kapasitas bandara terbesar di Indonesia ini harus tetap ditingkatkan seiring pertumbuhan penumpang.

Jadi tidak tepat jika forumer menganggap Cengkareng out of date dari segi desain dan konsep terminalnya, justru Cengkareng yang berkode CGK dan bernama resmi Soekarno Hatta International Airport itu mempunyai desain dan konsep yang luar biasa yang sudah diakui dunia internasional. Hanya saja perlu upgrade dalam sisi pelayanan dan fasilitasnya. Kita tunggu saja awal tahun 2015 nanti dengan wajah Soekarno Hatta yang baru, apakah layak menjadi tolok ukur bandara-bandara lain di Indonesia? Dengan catatan proyeknya tidak molor, ha ha...