Showing posts with label hobi. Show all posts
Showing posts with label hobi. Show all posts

Wednesday, November 8, 2017

Bunga Lidah Mertua Cocok untuk Tanaman Indoor

Lidah Mertua Mini cocok ditaruh di atas meja kerja (dok. pribadi)
Lidah Mertua, nama tanaman hias ini sangat unik dan menggelitik. Ciri khasnya dengan daun panjang, tebal, dan lancip/tajam di ujungnya seakan-akan merepresentasikan lidah sang mertua yang seringkali dikonotasikan negatif seperti cerewet, kata-katanya pedas, dan nyebelin, haha......

Meskipun bunga ini mempunyai nama yang 'kejam', tapi penampakan maupun manfaatnya cukup bagus. Tanaman dengan nama latinnya Sansevieria sp. ini secara fisik mempunyai bentuk daun yang meruncing, tebal dilapisi lapisan mirip lilin, dengan jenis yang bermacam-macam. Ada yang panjang, ada yang pendek, ada yang warnanya hija kelabu, hija belang-belang, hijau dengan pinggiran kuning, ada yang panjang adapula yang pendek, cukup variatif.

Lidah Mertua berwarna hijau agak kelabu (dok. pribadi)
Manfaat dari tanaman ini menurut berbagai macam sumber bisa menyaring udara kotor alias sebagai penyaring udara alami. Tanaman ini juga bandel dan mudah sekali perawatannya dan cocok untuk ditaruh di dalam ruangan karena:

  1. Tidak memakan banyak tempat, tumbuhnya cenderung ke atas ramping
  2. Mampu membersihkan udara di ruangan 
  3. Tidak perlu banyak sinar matahari
  4. Tidak butuh banyak air, cukup dua hari sekali saja menyiramnya.
  5. Tidak gampang busuk
  6. Tidak menggugurkan daun
  7. Bagus ditaruh di sudut-sudut ruangan, ataupun di meja (khusus yang jenisnya kecil)
  8. Tidak perlu perawatan yang intensif ataupun pemupukkan secara khusus.
Lidah MErtua Panjang cocok ditaruh di pojok ruang (dok. pribadi)
Perbanyakan tanaman lidah mertua ini juga cukup mudah. Tinggal kita potong rimpang (semacam batang di dalam tanah dan berakar) yang ada anakkannya, lemudian kita pindahkan ke pot yang sudah diberi media tanam tanah. Bisa pula dicampur dengan kompos, pupuk kandang ataupun sekam, tapi tetap komposisi tanahnya yang paling banyak. Penyiraman bisa dilakukan sehari atau dua hari sekali, karena tanaman ini tidak butuh banyak air, tapi menyimpan air.

Saturday, April 4, 2015

Hobi Berkebun: Belimbing Wuluh

Belimbing Wuluh nyelip diantara daun (dok. pribadi)
Berkebun memang hobi yang mengasyikkan bagi sebagian orang, termasuk diriku. Tanganku gatal kalau lihat ada tanah kosong yang nggak ada tanaman produktifnya. Dulu saat aku pertama kali menghuni rumah baru pada pertengahan tahun 2012 lahan masih banyak lahan tersisa di sekeliling rumah, maklum rumahnya sangat mungil cuma 39 m2, padahal keseluruhan luas tanah rumahku yang kebetulan berada di hook itu seluas 135 m2, lumayan luas untuk ukuran lahan rumah menengah bawah di Jabodetabek yang kini rata-rata hanya seluas 60-72 m2 saja.

Nggak mau nunggu lama-lama segera kutanami berbagai macam tanaman produktif di sisa tanah di depan, samping dan belakang rumah. Salah satu yang kutanam adalah Belimbing Wuluh. Kubeli bibitnya di Toko Trubus Sektor 9 Bintaro. Mengapa aku menanam Belimbing Wuluh, kan buahnya nggak enak dimakan, beda banget sama belimbing buah alias Star Fruit yang enak dibikin rujak atau dimakan langsung. Iya memang belimbing wuluh tidak dikonsumsi sebagai buah, melainkan sebagai pelengkap masakan asam. Kebetulan aku penggemar sayur asem, garang asem, pepes ikan yang kesemuanya jika diberi irisan belimbing wuluh semakin segar rasanya.

Baru denger namanya saja, apalagi membayangkan buahnya, sudah bereaksi kelenjar ludah di mulut ini terbayang akan rasa masamnya, hmmmm...... Belimbing wuluh untuk masakan-masakan tertentu bisa digunakan sebagai pengganti asam jawa ataupun tomat muda. Namun, keberadaannya tidak dibudidayakan secara masal layaknya tomat, karena memang penggemarnya yang terbatas.

Buah bergelantungan di dahan (dok. pribadi)
Belimbing wuluh sangat mudah dibudidayakan. Seringkali dibudidayakan dengan perbanyakan generatif yang berarti dari biji. Biasanya di bawah pohon belimbing wuluh yang sudah berbuah tidak jarang dijumpai anakan-anakan belimbing wuluh yang tumbuh dari biji buah yang sudah matang dan terjatuh di tanah. Belimbing wuluh termasuk tanaman yang tahan hama dan tidak terlalu tinggi pohonnya, sehingga cocok ditanam di sekitar rumah. Perlu sinar matahari yang cukup  banyak untuk pertumbuhan pohon yang baik.

Belimbing wuluh akan cepat berbuah jika mendapat asupan nutrisi yang cukup, sinar matahari dan air yang cukup. Bunga belimbing wuluh yang berwarna merah keunguan akan muncul di sepanjang batang ataupun dahan, dan jika terserbuki akan berubah menjadi belimbing wuluh yang bergerombol.

Belimbing wuluh yang kutanam di pojok pekarangan rumah bahkan jarang kupupuk dan terdesak dengan pertumbuhan pohon bambu jepang yang ada di sepanjang pagar rumah, namun tetap saja buahnya sangat banyak dan tentunya nggak habis kukonsumsi sendiri, bisa dibagi-bagi ke tetangga lah.......

Belimbing wuluh sangat cocok ditanam di pekarangan yang sempit karena tajuk pohonnya yang nggak terlalu lebar dan lebat, sehingga nggak mengganggu bangunan rumah atau jalan di sekitarnya.

Bergerombol kayak anggur (dok. pribadi)
Nah, pertengahan Maret kemarin aku kebetulan ada tugas ke Jakarta, kusempatkan lah mampir ke rumah di Tangerang Selatan. Betapa terkejutnya aku melihat Belimbing Wuluh milikku berbuah sangat lebat dan ukurannya besar-besar. Seneng banget rasanya, meski aku nggak sempat menikmatinya, toh masih bisa dibagikan ke tetangga-tetangga.

Ayo Menanam!

Baca juga: Menanam Jeruk Chokun

Thursday, February 12, 2015

Menanam Jeruk Chokun

Pohon Jeruk Chokun dalam Pot Besar (Dok. Pribadi)
Kalap menanam.... Ya itulah yang kerap kulakukan ketika aku sedang bertugas di Jakarta, sekalian mampir ke rumahku di daerah Tangsel, tepatnya di Grand Serpong 2 Residence.

Hampir setiap kali aku ke Jakarta kusempatkan mampir ke rumah. Nah, setiap kali aku di rumah, aku merasa damai, nyaman, apalagi melihat tanaman-tanaman yang menghijau di sekitar rumah. Setiap melihat jengkal-jengkal tanah yang tersisa di halaman depan, samping dan belakang rumah, tanganku rasanya gatal untuk menanaminya. Karena hasrat menanamku yang tak terbendung, jadilah aku sering meluncur ke Toko Trubus di kawasan Bintaro Sektor 9.

Kemarin tgl 7 Februari, kusempatkan mampir di Toko Trubus Bintaro. Kubeli bibit Jeruk Chokun dan Delima Merah. Tak lupa kubeli pupuk kandang. Keesokan harinya aku kembali ke Toko yang sama. Kubeli bibit Jambu Jamaika, Media Tanam, dan Pot besar untuk menanam bibit Jeruk Chokun.

Kutanam Jeruk Chokun di pot besar dengan media tanah yang kuambil di sekitar taman, media tanam Trubus, dan Pupuk Kandang. Kuletakkan Pot Jeruk Chokun di atas septictank yang terletak di depan rumah. Sekiranya 1-2 tahun ke depan, jeruknya sudah mulai berbuah. Sedangkan delimanya ku tanam di dekat pohon durian bawor, yang kutanam dua bulan sebelumnya.

Jambu Jamaika-nya sengaja kutanam di luar pagar samping rumah, karena jenis pohonnya yang relatif besar. Sebenarnya aku kemarin itu ke Trubus hanya ingin mencari bibit Jeruk Chokun, tapi ternyata ngelirik delima merah dan jambu jamaika juga. Sengaja kupilih Jeruk Chokun, karena salah satunya dikasih tahu sama bosku jika jeruk jenis ini, bisa ditanaman tabulampot dan cepat berbuah, selan rasa daging buahnya yang manis legit dan segar, sehingga seringkali dijuluki jeruk madu.

Senang rasanya berada di rumah yang dikelilingi hijaunya tanaman. Udara jadi segar, air hujan bisa diserap sempurna ke tanah, iklim mikro pun menjadi lebih sejuk. Tinggal di lingkungan perumahan ki kota metropolitan memang harus pandai-pandai mengelola tanah yang tersisa agar di rumah menjadi lebih nyaman dan tidak mudah stres, salah satunya ya dengan menanaminya dengan tanaman yang bermanfaat.

Nggak sabar bisa pindah lagi ke Jakarta agar bisa merawat tanaman-tanaman yang selama ini kutanam. Kapan ya???

Baca juga: Menanam Durian Bawor

Monday, December 1, 2014

Menanam Durian Bawor

Bibit Durian Bawor tinggi +- 100 cm (Dok. Pribadi)
Penyiapan Lubang Tanam (50x50x50)cm (Dok Pribadi)

'Kaki' Tiga Bibit Bawor dari Trubus (Dok. Pribadi)



Ditanam Pada Sore Hari (Dok. Pribadi)

Ditanam di Pekarangan Rumah (Dok. Pribadi)


Sunday, August 25, 2013

Hobi Berkebun

Kebun Mini usia 1 bulan (dok. pribadi)

Bermula dari keinginan untuk ada aktivitas di waktu-waktu luangku yang sangat banyak di Balikpapan, aku mencoba mengeksplor hobi yang kira-kira bisa kubangkitkan segera di Pulau seberang ini.

Di Balikpapan aku kos di dekat kantor. Seringkali akhir pekan aku hanya menghabiskan waktuku untuk bersih-bersih kamar, mencuci, menyetrika, dan tentunya nonton TV seharian. Mau jalan-jalan atau nonton TV hanya jika ada teman yang ngajak pakai motornya.

Hobi Ngeblog termasuk artikel ini, semakin intensif kulakukan karena banyak waktu luang. Aku punya hobi lain, yaitu berkebun. Aku paling suka dengan tanaman. Sejak kecil aku juga sudah diajari Ibu untuk bercocok tanam sayur-sayuran yang mudah ditanam seperti bayam dan tomat, dan sampai sekarang pun hobi tanam-menanam sudah mendarah daging di jiwaku.

Bibit Sawi usia 3 hari (dok. pribadi)
Kebetulan kosku masih banyak ruang kosong dan sangat terasa panas dan gersang jika terik matahari Balikpapan bersinar seharian. Namun, kendalanya ruang kosong itu disemen dan di keramik jadi tidak bisa ditanami. Kondisi tersebut bukan masalah bagiku. Ruang kosong itu bisa kumanfaatkan untuk menanam sayur-sayuran walaupun tidak bisa kutanami pohon, yang penting masih tercurah sinar matahari yang sangat diperlukan tanaman untuk berfoto sintesis.

Akhirnya aku berencana untuk berkebun dengan menggunakan polybag. Mencari info dimana dijual polybag di Balikpapan ternyata tidaklah gampang, untungnya ada account twitter pehobi berkebun di balikpapan dengan akun @Bpnberkebun. jadilah aku minta tolong temanku untuk bertanya kepada @Bpnberkebun dimana tempat jual benih tanaman, polybag dan tetek bengek keperluan berkebun di Balikpapan. Akhirnya kami pun dikasih tahu ada toko pertanian di dekat perempatan Rapak, di ruko-ruko seberang Polsek, sekitar 50 meter dari perempatan.

Kubeli polybag, benih kangkung dan sawi, serta pupuk cair. Sedangkan untuk media tanamnya aku membeli media organik siap tanam di deretan penjual tanaman hias di Jl. Ruhui Rahayu (Ring Road).

Kucoba menanam kangkung cabut dan sawi dalam polybag-polybag ukuran sedang. Seumur-umur aku baru tahu kalau biji kangkung dan sawi ternyata bentuknya tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Biji kangkung kira-kira dua puluh kali lebih besar dari biji sawi. Biji sawi sangatlah kecil, berbentuk bulat dan berwarna kelabu kecoklatan. Sedangkan biji kangkung kira besarnya seperlima dari biji kedelai.

Sehari biji-biji yang kusemai kusiram dua kali, pagi dan sore hari. Biji sawi lebih cepat berkecambah, dalam waktu satu hari sudah mulai berkecambah. Sedangkan biji kangkung pada hari ketiga baru muai berkecambah. Sebenarnya untuk mempercepat perkecambahan, biji kangkung harusnya kurendam semalaman, tapi biasalah karena alasan praktisnya (padahal malas), bijinya langsung kutebar di media tanam.

Bibit Sawi Usia 10 hari (dok. pribadi)
Senang rasanya punya 'sedikit' kesibukan untuk merawat tanaman. Rasanya segar sekali pandangan mata ini setiap kali melihat hijaunya daun kangkung ataupun sawi yang tumbuh subur. Melihat pertumbuhannya dari hari ke hari, satu satu lembar daun kecil, membesar dan bertambah tinggi batangnya terus semakin rimbun daunnya menjadikan kita lebih bersyukur akan karunia-Nya dan lebih menghargai cucuran keringat para petani yang bekerja keras memproduksi bahan pangan bagi kita.

Bibit Kangkung Usia 10 Hari (dok. pribadi)

Hari Jumat kemarin aku pun mencoba menanam kangkung di sepetak tanah di pojok kantor, mungkin satu bulan kemudian baru bisa kulihat hasilnya.

Sawi Usia 1 Bulan (dok. pribadi)
Tadi pagi saat aku merebus mie instan, kutambahkan sawi usia 1 bulan hasil dari kebun miniku. Saat kucabut sawinya, tidak tega rasanya. Akhirnya kucabut satu batang sawi dan kucampurkan ke dalam mie rebusku. Rasanya sih sebnarnya biasa saja, tapi karena hasil menanam sendiri menjadi lebih lahap dan nikmat saat menyantapnya. hmmm..... sedap....

Kangkung Usia 1 Bulan (dok. pribadi)
Aku selalu berkeinginan di sekitar rumahku dikelilingi pohon-pohon dan tanaman sayuran yang menyejukkan mata dan menyediakan udara segar bagi keluargaku. Kuingin suatu saat berkebun sayu-sayuran di lahan yang lebih luas, atau aku harus menunggu sampai masa pensiunku tiba? Jawabannya tentu TIDAK

Ayo berkebun!






Saturday, July 20, 2013

Hobi Menanam

Menanam menurutku hobi yang mengasyikkan. Sejak kecil aku belajar menanam. Mulai dari menanam sayuran semacam bayam dan tomat, sampai dengan menanam pohon buah-buahan semacam nangka, jambu bol, nangka, sirsak, matoa, dan buah-buahan lainnya yang kutanam di sekitar pekarangan rumah.

Kecintaanku akan tanaman terutama pepohonan berkayu keras, membawaku untuk menuntut ilmu di Fakultas Kehutanan UGM. Saat aku ke hutan pun atau di lapangan seringkali aku mengumpulkan biji-bijian yang kemudian kusemaikan dan kutanam. Sebagai 'korbanya' adalah pekarangan kosku di daerah Pringgolayan Jogja, di rumah Bapak Tresno Utomo tepatnya kutanami berbagai jenis tanaman dari tanaman hias, buah-buahan sampai tanaman keras yang parahnya semua itu semula kutanam di polybag dan tidak kutanam di dalam tanah melainkan hanya kuletakkan di atas pekarangan yang semuanya di paving. Jadilah akar-akar tanaman yang semula di polybag menerobos sela-sela paving untuk menembus tanah. Akhirnya tanaman-tanaman di polybag semakin besar dan rimbun, bahkan tanaman pepaya emas-ku sampai berbuah lebat.

Pekarangan rumah eyangku di Bantul pun tak bisa terhindar dari jamahan tanganku. Tangan ini serasa gatal jika melihat ada sisa tanah di pekarangan yang kosong tak tertutup vegetasi. Matoa salah satu tanaman yang kutanam di pekarangan eyangku kini sudah berbuah.

Hobi menanamku berlanjut saat aku pindah ke Jakarta. Kantorku di Bintaro kutanami berbagai buah-buahan dari kelengkeng, kurma, matoa (ketiganya sudah RIP), jambu jamaika, jambu air, sawo, kepel, rambutan bijai, rambutan rapiah, dan rambutan parakan.

Rumahku di kawasan Tangsel juga kutanami berbagai jenis tanaman mulai dari kelengkeng, durian petruk dan montong (ketiganya sudah RIP), belimbing wuluh, jambu air kecil, jeruk bali, jambu air besar, mangga, kurma, rambutan rapiah, jeruk nipis, sirsak, jambu biji, sampai pisang cavendish dan bambu Jepang serta empon-empon memenuhi setiap sudut halaman rumahku yang sempit itu.

Mutasi ke Balikpapan pun tak menyurutkan hobiku untuk menanam pohon. Pagi tadi aku hunting bibit tanaman bersama temanku ke wilayah Jalan Senayan, Karangrejo Balikpapan untuk mencari bibit buah-buahan. Sampailah kami ke kebun persemaian kepunyaan Pak Achmad yang memajang berbagai jenis tanaman buah-buahan.

Kami sempat diajak Pak Achmad melihat koleksi tanamannya di rumahnya yang hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari kebunnya. Banyak tanaman langka dan aneh-aneh yang baru kulihat saat itu. Ada serikaya gundul berwarna merah, apel india, anggur brazil, dan sejumlah tanaman buah langka lainnya.

Semula aku ingin mencari bibit duku, namun karena stoknya kosong aku akhirnya membeli bibit kelengkeng (aku lupa jenisnya) seringgi 1,5 m seharga 100rb dengan bonus bibit matoa (jenis kelapa) yang biasanya dibanderol 15rb rupiah. Beliau awalnya menawarkanku bibit matoa, namun karena aku sudah terbiasa membudidayakan matoa di kampungku, aku tidak begitu tertarik, namun kalau dikasih sebagai bonus aku tidak menolaknya, he he....

Sore ini akhirnya kutanam Matoa di tepi lapangan di depan kantor karena matoa memang butuh intensitas cahaya yang relatif tinggi. Sedangkan si kelengkeng kutanam di samping kantor, yang lokasinya tidak banyak dilalui orang dengan harapan pertumbuhannya tidak terganggu dengan tangan-tangan jahil.

Tadi juga kusempatkan untuk membeli benih kangkung dan sawi beserta pupuk organik yang rencananya kutanam besok minggu di polybag yang sudah kubeli di toko yang sama dua bulan yang lalu.

Harapanku di sini adalah kuingin menumbuhkan rasa cinta akan tanaman dan menjadikan hobi menanam sebagai gaya hidup setidaknya bagi teman-teman kantorku. Aku juga ingin kantorku dipenuhi dengan tanaman buah-buahan yang selain rindang juga memberikan hasil berupa buah yang bisa dinikmati semua pegawai.

Tantangan hobi menanam di Balikpapan adalah jenis tanahnya yang miskin hara yaitu tanah podzol (kuning) yang miskin hara. Perlu ekstra perhatian untuk memelihara tanaman di sini, berbeda dengan di Jawa yang tidak dipupuk pun sudah tumbuh subur. Yang menguntungkan di sini adalah melimpahnya sinar matahari dan hujan yang turun sepanjang tahun, sehingga tidak terlalu khawatir kekeringan dan tidak direpotkan dengan ritual penyiraman, karena sudah disirami oleh alam, kecuali tidak turun hujan selama 3 hari lebih, tetap harus disiram.

Ayo galakkan hobi menanam sejak dini!

Monday, May 20, 2013

Hobi Membaca atau Sekedar Koleksi ? (part 2)

Hobiku mengkoleksi buku dan majalah semakin menjadi-jadi saat aku di Jakarta. Tanpa lagi tergantung uang saku dari Ibu, aku semakin leluasa membelanjakan hasil keringatku sendiri. Tidak hanya buat gadget-gadget mahal semacam iPhone, membeli buku sudah semacam menjadi candu.

Koleksi Buku dan Majalahku (dok. pribadi)
Kekalapanku membeli buku semakin menjadi-jadi jika ada diskon terlebih Gramedia Grand Indonesia dan Central Park yang pernah memberikan diskon 30% all item tanpa syarat harus dari penerbit mana, atau minimal transaksi berapa, atau pakai kartu kredit apa. Buku-buku yang kuincar sudah lama ataupun yang kelihatannya menarik langsung saja kusambar saat diskon besar-besaran itu. Tinggal aku gesek kartu debit (saat itu aku belum punya credit card) nongolah angka yang menurutku berlebihan hampir 1 juta rupiah untuk hanya membeli buku yang belum tentu kubaca semua. Terbukti sampai saat ini masih banyak koleksi bukuku yang tersegel dan belum kubaca sedikit pun. Ha ha....

Aku pernah melihat segerombolan anak muda di Gramedia yang sepertinya merupakan komunitas pecinta buku yang sedang berperan sebagai pelayan toko sementara di Gramedia. Mereka memakai baju hitam-hitam bertuliskan "90% buku yang dibeli tidak habis dibaca". Ungkapan itu seolah menohokku, karena itu "Aku Banget!". Sampai saat ini masih banyak koleksi bukuku yang teronggok rapi di rak buku tanpa aku pernah sedikitpun membuka segelnya. Entah apa aku tidak punya waktu membacanya atau memang benar aku bukan seorang yang hobi membaca, melainkan hanya sekedar hobi mengkoleksi buku? Apalagi saat ini buku-bukuku itu merana di rumahku di Jakarta yang pasti setiap kali aku menengok rumah itu kutemukan buku-buku baru yang berdebu yang mungkin kalau buku-buku itu bisa ngomong mereka mengatakan "Hai Son, menyesal kami ikut denganmu. Kembalikan kami ke toko buku agar kami mendapat majikan baru yang lebih menghargai kami sebagai sumber pengetahuan!". Untungnya buku-buku itu hanya menjadi saksi bisu keangkuhanku untuk memborongnya tanpa membacanya sedikitpun.

Di Jakarta aku juga berlangganan Majalah National Geographic Indonesia (NGI). Hobiku membaca dan mengkoleksi Majalah National Geographic bermula saat aku masih kuliah di Jogja. Di Jogja aku sering main ke kantor kompas di Jogja sekedar mencari majalah-majalah NGI lawas yang masih baru dalam artian stok lama yang belum terjual. Aku membelinya dengan harga diskon yang lumayan. Begitu pula saat ada pameran buku di Jogja Expo Center, stan Kompas-Gramedia lah yang pertama kali kutuju untuk sekedar mencari majalah NGI lawas yang didiskon lumayan banyak. Puas rasanya kalau berhasil mendapatkan majalah NGI lawas dengan kondisi masih baru. Saat di Jakarta pun kulanjutkan berlangganan NGI. Disamping mendapat bonus kaos, sabuk, maupun tas, sebagai pelanggan NGI aku mendapatkan Kartu Member NGI yang bisa digunakan untuk mendapatkan diskon 10% untuk pembelian buku-buku terbitan Kompas-Gramedia di jaringan Toko Buku Gramedia.

Entah sampai kapan hobi mengkoleksi buku ini melekat padaku. Mungkin sampai akhir hayatku. Yang pasti buku-buku itu tak akan kubawa ke liang lahatku. Kuingin koleksiku itu tetap terawat dan bermanfaat bagi yang membacanya.

Sunday, May 19, 2013

Hobi Membaca atau Sekedar Koleksi ?

Pertanyaan itu sering timbul di benakku.

Bobo adalah majalah pertama yang kubaca di awal 90-an saat aku masih SD. Rasanya senang sekali membaca cerita Bona si gajah kecil, Oki dan Nirmala di majalah terpopuler untuk anak-anak kala itu. Seingatku harga majalah Bobo saat itu masih beberapa ratus perak saja, yang sekarang ini cuma cukup untuk membeli beberapa gelintir permen.

Koleksi Buku dan Majalah-ku (dok. pribadi)
Kegemaranku membaca seingatku bermula sebelum aku masuk SD. Aku suka melihat ATLAS dan mengahafal nama-nama ibukota propinsi, Ibu kota negara. Aku juga suka membaca buku pintar yang dulu terkenal dengan sebutan RPUL.

Nah kegemaranku membaca mendorongku untuk mengkoleksi apa yang kubaca. Hoopla, tabloid anak-anak yang sering kubaca saat SD sampai SMP merupakan koleksi pertamaku. Memang agak aneh mengoleksi Tabloid, biasanya kan orang-orang mengoleksi Buku atau paling tidak majalah. Namun, aku merasa sangat sayang sekali kalau membiarkan tabloid favoritku teronggok di kolong meja ruang keluarga, jadilah kusimpan rapi untuk kukoleksi dan sampai sekarang Tabloid Hoopla itu masih tersimpan rapi di lemari di rumah orang tuaku di PATI lengkap dengan bonus-bonus poster artis cilik ataupun remaja.

Koran pun tidak luput dariku. Rasa hausku untuk terus membaca mendorongku untuk melahap bagian per bagian dari koran yang kubaca. Mungkin berbeda dengan orang-orang sibuk di ibukota yang terkadang hanya membaca headline-nya saja bahkan karena terburu-buru berangkat kerja mereka tidak sempat membacanya secuil artikel pun. Bapak ibuku tahu kegemaranku membaca koran jadinya sering membawakan koran sepulang aku sekolah. Kalau tidak Suara Merdeka ya Kedaulatan Rakyat. Aku pun sering berpesan kepada beliau untuk tidak lupa membeli koran. Kami juga tidak berlangganan koran, karena menurtku agak mahal jika berlangganan minimal sebulan, jadilah sekedar membeli eceran. Untuk koran aku tidak begitu berminat untuk mengkoleksinya, disamping kertanya tidak menarik dan gampang kucel, juga memakan banyak tempat yang jika jarang disentuh akan banyak timbul debu.

Menginjak SMP, aku sering meminjam buku dan majalah di perpustakaan. Majalah yang menarik perhatianku saat itu adalah INTISARI. Majalah berukuran kecil dan kompak yang isinya sangat kaya dan lengkap seperti nama majalahnya sendiri, dan tentunya sangat menarik bagiku saat itu. Aku suka membaca majalah intisari yang walaupun sudah usang dan lusuh namun informasi yang ada di dalamnya sangat menarik bagiku. Sejujurnya aku lebih suka dengan pengetahuan umum dan populer daripada ilmu-ilmu pasti seperti matematika, fisika ataupun kimia. Keinginanku melihat informasi dunia yang luas seolah terakomodir oleh intisari. Dulu aku belum mengenal internet dan tentu saja saat itu belum lahir 'Mbah Google' ataupun 'Mbak Wikipedia'.

Aku ingin mengoleksi intisari, namun di toko buku yang ada di kotaku sering tidak tersedia intisari, kalaupun ada akan segera habis. Aku tidak berpikir untuk berlangganan karena tentunya akan membebani finansial orang tuaku ataupun agak ribet menurutku untuk berlangganan saat itu. Akhirnya aku mendapat kesempatan mengoleksi Intisari saat Ibu sering mondar-mandir kuliah ke Jogja setiap akhir pekan. Dan aku tentunya titip ke beliau untuk membeli intisari. Bertahun-tahun aku membeli intisari eceran, sampai pada akhirnya harganya yang melonjak signifikan menjadi Rp25 ribu-lah yang membuatku berhenti membelinya, karena aku kecewa dengan kebijakan harganya. Coba bayangkan dari semula seharga Rp6000,- saat aku mulai mengoleksinya hanya sekitar 3-4 tahun bertahap naik sampai menjadi Rp25 ribu kalau nggak salah. Jadilah aku memboikot untuk membelinya.

Sejak Mahasiswa aku mulai tidak rutin membeli intisari, namun aku membelinya jika benar-benar edisinya menarik. Aku beralih ke majalah Tamasya. Aku suka melihat foto-foto pemandangan alam ataupun objek-objek wisata yang menarik. Dalam majalah Tamasya aku menemukan hal itu. Panduan dan tips-tips perjalanan wisata terutama di dalam negeri memberiku mimpi untuk suatu hari nanti aku akan mengelilingi Kepulauan Nusantara dengan segenap eksotikanya.

Aku termasuk orang yang perfeksionis dalam hal memperlakukan koleksiku. Aku seakan tidak rela jika majalah ataupun buku-buku kesayanganku terlipat covernya atau lusuh. Apalagi jika dibaca oleh temanku dengan kasar, pasti dalam hatiku pasti dongkol sekali. Makanya, agar tidak terjadi hal-hal tersebut sebelum temanku meminjam untuk membacanya pasti kuwanti-wanti agar membaca dan membuka halaman per halamannya jangan terlalu kasar.

Sewaktu kuliah di Jogja kegemaranku mengkoleksi buku dimulai. Di Jogja banyak terdapat toko buku diskon, salah satunya adalah Toga Mas. Aku senang main ke Toko ini karena koleksi bukunya tergolong lengkap, dapat diskon, dapat sampul mika gratis (termasuk disampulkan langsung), ada wifinya dan yang pasti dekat dengan kosku. Buku-buku motivasi semacam Chicken Soup, ataupun buku-buku tentang Soft Skill banyak kubeli di toko ini.

Untuk buku-buku impor berbahasa Inggris aku beli di Gramedia. Harganya yang relatif mahal sampai ratusan ribu membuatku harus sedikit demi sedikit menyisihkan uang sakuku untuk kubelikan buku itu. Dan buku termahal yang pernah kubeli adalah Buku Security Analysis yang kubeli dari sebuah toko buku impor di daerah Sagan Yogyakarta yang aku lupa namanya. Buku itu merupakan buku legendaris karangan Benjamin Graham yaitu guru dari Investor Tersukses sepanjang sejarah yaitu Warren Buffet. Buku itu juga sempat nongol di film Will Smith yaitu 'The Pursuit of Happyness'. Aku ingin mempunyai buku itu karena penasaran seperti apa buku yang fenomenal itu. Ternyata Toko buku itu harus memesan dulu di Amazon.com, aku pun menunggu kurang lebih satu bulan. Sekarang buku itu teronggok di dalam lemari bersama buku lainnya, hanya beberapa lembar saja yang pernah kubaca.

(Bersambung.....)

Tuesday, December 25, 2012

Galau Jadi PNS (part 1)


Aku adalah PNS di sebuah Kementerian yang menurut sebagian besar orang dianggap cukup bergengsi di Negeri ini. Sudah hampir 4 tahun ku-'mengabdikan' diri pada institusi ini. Pengalaman-pengalaman baru, ritme kerja yang dinamis (seperti swasta), dan teman-teman dari berbagai latar belakang menemaniku sejak awal 2009 silam.

Kejenuhan seringkali menghinggapi pikiranku. Walaupun sudah termasuk yang terdepan melakukan transformasi birokrasi, sebagai PNS aku masih belum merasa puas dan bangga akan statusku saat ini. Kadangkala terbesit dalam pikiranku untuk meninggalkan pekerjaan ini, namun aku masih gamang untuk menjalani. Bingung mau bisnis apa jika aku keluar dari PNS.

Sebenarnya take home pay-ku sebagai PNS juga sudah cukup lumayan jika dibandingkan dengan PNS lainnya. Gaji, tunjangan, honor-honor mengajar dan kegiatan lainnya sudah pantas untuk hidup layak di kota besar semacam Jakarta. Namun, batinku serasa ingin memberontak untuk mengeluarkan segala kreativitas dan bakatku yang selama ini terpendam rapi dalam sudut otakku agar bisa kukeluarkan untuk modal berwiraswasta.

Berwirausaha tidak semudah kiat-kiat ataupun tips-tips yang sering dikomersilkan dalam di rak-rak toko buku. Banyak yang berhasil dengan wirausaha berawal dari hobi yang ditekuninya. Aku mulai bertanya-tanya, apa hobiku ya? Apa bakatku ya? Apa yang sering membuatku tertarik ya? Apa.... apa????????

Coba aku korek satu per satu hobi, bakat, ataupun sesuatu yang membuatku tertarik:
1. Bercocok tanam
Aku suka akan kegiatan yang satu ini. Dari kecil aku sudah sering menanam mulai dari tomat, bayam, cabe rawit, ataupun melakukan stek tanaman. Aku juga suka membibitkan tanaman-tanaman buah ataupun pohon-pohon lainnya untuk kemudian menanamnya.
2. Menulis di Blog
Sejak mahasiswa aku sering membuat bermacam-macam blog. Namun seringkali keinginan untuk menulis itu tidak ada sampai berbulan-bulan, tapi terkadang keinginan untuk menulis datang menggebu-nggebu dan bisa menyelesaikan beberapa tulisan dalam sehari. Dari sejumlah blog yang pernah kubuat, blog ini yang masih sering ku-update meski kadang tanpa postingan terbaru dalam beberapa bulan.
3. Mengkoleksi Buku
Aku suka mengkoleksi majalah dan buku, meskipun banyak dari buku yang kubeli belum kubaca tuntas bahkan belum kubuka segel pembungkusnya (parah.....)
4. Jalan-jalan
Aku selalu merasa penasaran akan tempat-tempat baru. Kadang aku jalan-jalan sendirian (seringnya pakai motor) menyusuri jalan yang belum pernah kulalui tanpa tujuan yang jelas yang tidak jarang menemukan tempat-tempat eksotis yang belum banyak terekspos.
5. Belanja Online
Tiga tahun terakhir ini aku sering berbelanja online. Mulai dari antivirus, celana, sprei, koin, nomor perdana, cutter cimcard, kolam renang bayi, buku, sampai dengan tiket pesawat.
6. Dongeng
Menurut beberapa temanku, aku punya bakat untuk mendongeng. Aku pun merasakan hal itu, saat aku membaca suatu cerita di hadapan orang banyak, aku seringkali larut dalam cerita itu tentunya dengan intonasi dan gaya bicara sesuai dengan ceritanya.
7. Arsitektur
Cita-cita masa kecilku adalah menjadi arsitek. Aku senang melihat bangunan yang menarik dan ikonik. Aku pun sering menyambangi forum-forum di internet yang membicarakan bangunan ikonik, landscape kota, maupun bangunan pencakar langit.
8. Wisata Alam
Aku selalu tertarik akan keindahan alam. Hutan, pantai, pegunungan selalu membuatku tertarik untuk mengunjunginya karena bisa memberikan kedamaian hati dan kesejukan mata dan pikiran.
9. Teh Ijo
Aku penyuka minuman yang satu ini. Disamping menyehatkan juga membuatku merasa rileks.

Beberapa hal tadi mungkin perlu kusarikan untuk menjadi sebuah ide kreatif untuk bekal kuberwiraswasta kelak. Ada yang bisa kasih ide?

Balikpapan, 25-12-'12