Tuesday, August 14, 2018

Parung Panjang Deritamu Kini (Bagian ke-2)

Setelah lima tahun lebih nggak berkunjung ke daerah Parungpanjang, Kabupaten Bogor, Sabtu 14 Agustus 2018 kemarin aku berkesempatan 'napak tilas' petualanganku kala itu. Namun, kali ini aku ke Parungpanjang bersama temanku naik mobil, nggak naik motor seperti dulu kala, jadi lumayan nyaman lah, apalagi nggak aku sendiri yang nyetir, haha.....

Lima tahun berlalu, tentu bukan waktu yang singkat. Lima tahun untuk perkembangan suatu daerah biasanya menunjukkan perubahan yang sangat signifikan apalagi daerah yang relatif dekat dengan ibukota. Akses tercepat menuju parungpanjang dari ibukota tentunya dengan KRL. Waktu tempuhnya dari stasiun Tanah Abang ke Stasiun Parungpanjang kira-kira 51 menit (menurut jadwal KRL yang dirilis). Kalau, naik kendaraan pribadi berapa lama? Bagaimana kondisinya? Nah, itu nanti yang akan kubahas di sini.

Pertama kali aku menjejakkan kaki di Parungpanjang lebih dari lima tahun yang lalu, yangmana pengalamanku itu juga kutuliskan di artikel blog ini "Parung Panjang Deritamu Kini". Lalu bagaimana kondisi Parungpanjang saat ini?

Dulu aku ke sana dengan tujuan mengantar kakakku yang sedang mencari rumah. Alasan yang mirip menjadi latar belakang mengapa aku tempo hari ke Parungpanjang lagi, padahal dulu ketika aku ke Parungpanjang aku mengucap sumpah serapah kapok maen ke Parungpanjang karena macet, debu dan jalan rusaknya. Sebenarnya saat itu aku dan temanku berniat mau ke Maja, mau lihat perumahan Citra Maja Raya yang dikembangkan oleh Ciputra. Namun, sebelum ke Maja temanku malah mengajakku mengunjungi dulu Parungpanjang, soalnya dia habis booking satu rumah di salah satu Perumahan terbaru di selatan Stasiun Parungpanjang, yaitu Forest Hill. Dia mau menunjukkan kepadaku kondisi perumahan yang dia booking, kali aja aku juga berminat ikutan booking, jadi nanti kami tetanggaan, gitu kali yang ada di pikirannya.

Dari kawasan Bintaro sektor 5, kami pun menuju tol Bintaro - BSD keluar di pintu keluar paling ujung. Menyusuri Boulevard BSD ke arah ICE, kami pun keluar dari kawasan BSD menuju daerah selatan ICE melalui jalan-jalan sempit yang akhirnya tembus ke jalan raya menuju Parungpanjang.

Belum sampai Parungpanjang, kami sudah disergap kemacetan. Apa yang kupikirkan sebelumnya terkait kemajuan Parungpanjang yang mungkin sudah banyak berubah lima tahun terakhir ini mulai sirna. Pelan tapi pasti aku mengalami perjalanan yang hampir mirip dengan lima tahun lalu. Truk-truk besar mulai terlihat berseliweran di sisi kami. Debu berterbangan, sungguh tidak seperti daerah yang dekat dengan ibukota.

Sepanjang jalan raya Legok - Parungpanjang, jalanan tetap macet, bahkan tidak bergerak sama sekali selama beberapa menit. Untung aku berada di dalam mobil ber-AC jadi tidak kepanasan dan terbebas dari derita debu 'abadi'. Dari balik jendela mobil sambil diiringi lantunan musik radio, kuhanya bisa memandang miris ke arah luar, melihat para pengendara motor yang notabene masyarakat setempat menggunakan masker, bahkan tidak sedikit yang tidak memakai masker berkendara di belakang truk-truk besar pengangkut pasir, batu, ataupun tanah urug (bahan galian C) dengan hanya menutupi hidung mereka dengan tangan. Ya Tuhan..... apakah hal itu terjadi setiap hari selama ini? Sudah lima tahun berlalu hampir tidak ada yang berubah dengan kondisi di Parungpanjang.

Rumah di kanan kiri jalan dipenuhi dengan debu terutama bagian atapnya. Bahkan, pohon-pohon di kanan kiri jalan tidak lagi berwarna hijau melainkan berwarna kelabu karena penuh dengan debu. Kondisi itu diperparah dengan kondisi jalan di beberapa ruas yang mengalami kerusakan dan sedang dalam masa perbaikan sehingga menambah kemacetan yang sudah lumrah terjadi pada hari-hari biasa. Aku jadi membayangkan bagaimana kesehatan masyarakat di Parungpanjang terutama yang bermukim di sepanjang jalan yang dilalui truk-truk galian C itu? Bagaimana nasib kesehatan anak-anak mereka? bayi-bayi mereka? Bagaimana anak-anak bermain, kenapa tega merenggut keceriaan mereka, malah memberikan 'bonus' infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) kepada masyarakat yang bahkan tidak mendapatkan dampak positif sama sekali dari aktivitas ekonomi  keberadaan tambang galian C.

Bahan galian C yang ditambang dari daerah Parungpanjang dan sekitarnya mempunyai andil besar terhadap proyek-proyek berskala nasional di Jabodetabek, termasuk berbagai megaproyek  pemerintah pusat. Namun, apa yang diperoleh masyarakat Parungpanjang? Sudahlah, aku hampir tidak bisa berkata apa-apa......

Apa yang terjadi sebenarnya? Masyarakat parungpanjang sudah berteriak bertahun-tahun akan derita yang mereka alami. Namun, hasilnya tetap nihil, dan aku membuktikannya sendiri. Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini?

Coba kita tengok dan telisik. Parungpanjang adalah salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Bogor. Mungkin orang Bogor pun banyak yang tidak tahu kalau Parungpanjang masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Bogor (bukan Kota Bogor). Bisa dimaklumi karena lokasinya yang amat teramat jauh dari pusat Pemerintahan Kabupaten Bogor di Cibinong. Jarak Cibinong ke Parungpanjang jelas puluhan kilometer. Cibinong di daerah Timur, sedangkan parungpanjang di ujung barat. Kabupaten Bogor memang agak unik, bentuk wilayahnya seperti tapal kuda yang mengelilingi Jakarta, Depok, Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. Kabupaten Bogor merupakan kabupaten keempat terluas di Jawa Barat setelah Sukabumi, Cianjur, dan Garut. Apakah karena saking luasnya wilayah dan lokasinya yang jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Bogor ini yang  menyebabkan Parungpanjang jauh dari perhatian alias seperti dianaktirikan?

Saya memang bukan masyarakat Parungpanjang, tapi saya miris dengan apa yang terjadi di sana. Sampai kapan keberadaan tambang Galian C itu menghancurkan kenyamanan masayarakat Parungpanjang. Sangat Kontras sekali melihat Parungpanjang dengan BSD, tetangga di sebelah timurnya yang hanya terpaut beberapa kilometer saja. Dulu cuma Perumnas dan pengembang-pengembang kecil lainnya yang membangun perumahan di Parungpanjang, dengan kondisi yang terlihat memprihatinkan. Baru beberapa tahun terakhir ini mulai bermunculan pengembang-pengambang besar yang membangun perumahan-perumahan modern di Parungpanjang, seperti halnya Sentraland Paradise (bekerja sama dengan Perumnas), The River, Forest Hill, bahkan Millenium City yang digadang-gadang akan menjadi kota mandiri. Namun, asumsiku perumahan-perumahan  bersakala besar itu bisa menjadi magnet pertumbuhan ekonomi Parungpanjang jika lalu-lalang truk-truk pengangkut bahan galian C dibatasi, dialihkan, bahkan yang paling ekstrim dihentikan atau jika tidak mau dihentikan, Pemerintah membuat jalan baru khusus untuk truk-truk galian C itu yang tentunya jauh dari kawasan perumahan ataupun perekonomian. Sampai saat ini kondisi sebaliknya yang kutemui di sana. Di salah satu perumahan besar yang kukunjungi beberapa hari lalu itu, rumah-rumah yang sudah jadi sebagian besar masih kosong, hanya satu dua rumah yang dihuni padahal sepertinya sudah satu tahunan lebih rumah-rumah itu jadi. Masak harus jadi perumahan hantu sih.....

Para pengembang seringkali memberikan daya tarik bahwa wilayah Parungpanjang akan dilewati jalan tol Serpong - Balaraja. Namun, progress tol-nya saja masih sangat lambat, pembangunan baru terlihat di kawasan BSD saja dekat AEON Mall. Keberadaan pintu tol yang rencananya dibuat di Jalan Raya Legok-Parungpanjang menjadi daya pikat tersediri bagi para konsumen. Namun perlu diingat, jika pun tol tersebut sudah jadi, tetapi masih tetap saja berseliweran truk-truk galian C, kita tetap terpaksa harus menempuhnya dalam kemacetan berdebu dengan jalan yang rusak abadi plus berjibaku dengan truk-truk bertonase besar yang bikin stress juga, meskipun dari Parungpanjang ke pintu tol hanya beberapa kilometer saja. Mau?

Membentuk Kabupaten baru mungkin merupakan solusi satu-satunya jika kondisi saat ini masih tetap berlangsung dan aspirasi masyarakat setempat tidak didengar sama sekali. Sudah saatnya Parungpanjang dan beberapa kecamatan di sekitarnya menjadi Kabupaten baru, dimekarkan dari Kabupaten Bogor. Dengan keberadaan kabupaten baru, tentunya potensi yang ada diwilayahnya bisa digali, dimanfaatkan, dan dikelola dengan lebih optimal. Namun, pembentukan kabupaten baru tentunya prosesnya tidak semudah membalik telapak tangan, perlu proses yang lumayan panjang, tetapi hal itu bukanlah hal yang mustahil.

Saya jadi membayangkan, jika Parungpanjang tanpa ada tambang galian C pasti sudah berkembang pesat.  Parungpanjang yang lokasinya cukup strategis dekat dengan ibukota, dilalui akses KRL, dan rencananya ada tol Serpong Balaraja harusnya sangat cocok untuk kawasan pemukiman seperti halnya daerah Tangerang Selatan. Aktivitas perekonomian pun pasti akan tumbuh pesat, dan pendapatan asli daerah (PAD) tentunya akan meningkat signifikan meskipun tidak punya kawasan industri besar. Kita tengok saja contohnya Kota Tangerang Selatan yang perekonomiannya berkembang pesat karena ditopang keberadaan perumahan-perumahan besar berskala kota. Ayo masyarakat Parungpanjang dan sekitarnya berjuanglah untuk bisa menjadi Kabupaten baru (Kabupaten Bogor Barat) agar bisa menentukan nasib kehidupan kalian jauh lebih baik lagi. Amin!

Ini ada beberapa video kondisi jalan menuju Parungpanjang terkini beserta perumahan-perumahan baru yang ada di sekitarnya.

1. Kondisi Jalan di Parungpanjang

2. Perumahan Forest Hill

3. Perumahan Sentraland Paradise

4. Perumahan The River


Friday, June 1, 2018

Nyobain Sleeper Seat Bus Harapan Jaya Double Decker (Rute Tulungagung - Jakarta)

Tidak pernah terlintas sebelumnya untuk naik bus ke Jakarta dari Tulungagung, karena naik kereta api eksekutif saja aku nggak tahan, apalagi naik bus.....! Namun, ternyata aku penasaran juga bagaimana rasanya naik bus dari Tulungagung ke Jakarta.

Kebetulan minggu lalu aku mendadak pulang ke Tulungagung karena istriku melahirkan anak kedua. Saat itu aku belum beli tiket pesawat untuk pulang. Nah, kebetulan karena belum beli tiket pesawat aku pun agak galau, mau pulang naik pesawat, kereta atau bus. Akhirnya setelah lama berpikir, kuputuskan untuk mencoba mampir ke pool bus Harapan Jaya yang jaraknya hanya beberapa puluh meter sebelah timur rumah. Aku pun bertanya adakah yang kursi Super eksekutif dengan konfigurasi kursi 2-1. Petugas agennya bilang ada sambil memberikan informasi tambahan, bahwa di bus itu juga ada kursi yang bisa digunakan untuk tidur alias Sleeper Seat. Tanpa basa-basi aku pun memilih Sleeper Seat seharga Rp460 ribu (tarif normalnya Rp510 ribu).

Busnya dilengkapi juga dengan toilet yang cukup bersih, TV LCD, dispenser air panas dan dingin, ruang merokok yang dilengkapi kursi pijat, Power Outlet untuk nge-charge HP. Khusus di kelas sleeper seat ada bantal guling, selimut, dilengkapi lampu baca, USB power outlet dan stop komtak, layar LCD kecil yang bisa dibuka dan ditutup.

Selain itu, penumpang juga diberi cup berisikan gula sachet, kopi mix instan, teh celup, sehingga kita bisa menyeduhnya sendiri. Tak lupa Tissue dan air mineralpun disediakan gratis untuk kita. Khusus untuk penumpang sleeper seat diberi tambahan Sandal jepit berlogo Bus Harapan Jaya.

Bus ini juga dilengkapi dengan WiFI gratis dan media hiburan mulai dari music, film Indonesia ataupun asing yang bisa kita akses melalui gawai masing-masing.

Dibalik segala kemewahan fasilitasnya yang jauh lebih unggul dari bus-bus pada umumnya, ada beberapa catatan untuk perbaikan pelayanan bus ini ke depan:

  1. Jadwal berangkatnya perlu ditingkatkan lagi ketepatannya, karena saat aku naik bus ini hari Senin lalu, di jadwal tertera pukul 12.00 WIB dan penumpang diharusnkan sudah standby pukul 11.30 WIB. Namun pada kenyataannya bus berangkat sekitar pukul 1 siang.
  2. Stop kontak, USB power outlet, Layar LCD tidak selalu hidup sepanjang perjalanan, sehingga kemarin salah satu HP-ku sampai low bat. Setali tiga uang, lampu baca pun juga tidak bisa dinyalakan jika power outletnya tidak berfungsi.
  3. Posisi sleeper seat dengan lantai yang lebih tinggi menjadikan ruang sleeper seat terkesan sempit karena ruang vertikalnya jadi kecil. Beberapa kali kepalaku terantuk atap /lantai 2.
  4. Bentuk Kursi sleeper seat sangat nyampan jika digunakan untuk tidur terlentang, tetapi kalau untuk tidur ming tidak enak sama sekali, karena pantat kita akan terasa menggantung, karena bentuk kursinya memberikan cekungan di bagian pantat.
  5. Setelan AC-nya perlu dikaji lagi untuk standar suhunya, karena saat saya naik udaranya sangat dingin, bahkan di kursi yang biasa di belakang sleeper seat atapnya jadi berembun dan meneter ke penumpang di bawahnya. Untungnya di sleeper seat ada pintu kacanya sehingga tidak sedingin di luarnya.
  6. Sarana hiburan seperti film berjalan cukup lancar, tetapi gambarnya tidak bisa disetel secara landscape di HP kita.
Semoga semakin banyak bus sleeper seat dari Harapan Jaya, dan semoga semakin banyak dikenal orang sehingga okupasi busnya tidak sejarang saat saya naik yang hanya berkisar 10 orang saja. Semoga pihak manajemen juga memikirkan ulang desain bilik sleeper seat, karena satu-satunya dari sleeper seat yang menggangguku adalah atapnya yang rendah sehingga kita perlu merunduk, berjalan jongkok ataupun merangkak saat keluar masuk dari bilik sleeper seat.

Dalam perjalanan Tulungagung - Jakarta, bus akan berhenti di rumah makan Duta di Ngawi untuk makan malam. Saat saya naik pas sampai RM Duta, sudah tiba waktu berbuka puasa. Kita juga akan mendapatkan snack pagi, tetapi karena berhubung bulan ramadhan, maka snack paginya diganti menu sahur.

Saya sampai di tujuan terakhir di Ciputat, Tangerang Selatan sekitar pukul setengah delapan pagi. Lumayan lama ya..... Tapi tunggu dulu, itu termasuk cepat kalau naik bus, karena saat itu jalan tol maupun non tol lancar jaya.

Untuk lebih jelasnya liat interior dan eksterior Bus Harapan Jaya Double Decker bisa dilihat video di bawah ini:






Monday, May 21, 2018

Bersihnya Mushola Mall Alam Sutera



Ruang Utama Mushola Mal Alam Sutera
Hari Minggu kemarin kebetulan aku main sama kakakku ke Mall Alam Sutera untuke sekedar nonton Deadpool 2 dan belanja baju diskonan, hehe...... Sebenarnya aku nggak terlalu suka ke Mall. Ke mall paling cuma nonton atau ke gramedia, kalau jajan jarang apalagi nongkrong di coffee shop.

Sukanya ke Mall Alam Sutera ini karena mall-nya lumayan sepi. Mal-mal di Jabodetabek yang umumnya ramai banget saat akhir pekan, di Mall ini tidaklah demikian. Sayang banget menurutku mal segede ini tapi pengunjungnya relatif sedikit. Saat nonton di bioskop pun kayaknya saat itu nggak sampai 10 orang yang nonton, haha.... nggak rugi apa ya XXI-nya...!

Usai nonton bioskop, kami mampir ke sebuah toko jeans yang lagi obral. Lumayan murah dan kayaknya itu toko satu-satunya yang ramai saat itu. Asyik pilih-pilih jeans dan baju, tak terasa hampir sudah lebih dari pukul 2 siang, padahal aku belum sholat Dzuhur, wah parah nih..... buru-buru aku nyari mushola. Setelah dua kali nanya petugas informasi, ternyata musholanya terletak di lantai Basement 1. Dari atrium utama, kalau kita datang dari pintu masuk utama langsung menuju ke kanan, nah nanti ketemu outlet Breadlife, di belakangnya ada eskalator menuju ke basement 1. Usai menuruni eskalator kita langsung ketemu petunjuk mushola ada di sebelah kanan.

Mushola yang luas dan bersih
Kesan pertama melihat musholanya, cukup bersih dengan karpet merah yang terawat dan tidak berbau apek. Lumayan luas musholanya, dengan sekat antara jamaah pria dan perempuan. Tempat wudhu-nya pun cukup representatif, juga dilengkapi rak-rak untuk penyimpanan sandal sepatu, taupun kalau kita mau lebih aman bisa kita titipkan sepatu/sandal ke loker yang dijaga petugas. Mushola Mall Alam Sutera sepengamatanku merupakan salah satu yang terbaik diantara mushola-mushola di mal-mal Jabodetabek. Empat Jempol buat Mall Alam Sutera.

Rak-rak sepatu dan sandal, dilengkapi pula dengan bangku

Tempat Wudhu yang bersih

Bersih dan rapi


Saturday, May 19, 2018

Tips Mudah Praktis Mencegah Kucing Buang Kotoran (Berak) Sembarangan di Pekarangan Rumah

Pasti sangat menjengkelkan menemukan kotoran kucing di pekarangan kita, apalagi kalau sampai terinjak, behhhh..... baunya minta ampunnn....! Sampai bosan aku membersihkan kotoran kucing yang seperti nggak ada habis-habisnya. Kubersihkan dengan kusiram air, sampai kututup dengan pasir, terus saja kucing-kucing tetangga sukanya eek di pekarangan rumahku. Mungkin kucing-kucing itu suka eek di pekarangan rumahku karena banyak rumputnya. Kebetulan rumahku berada di hook jadi masih ada lahan sisa yang lumayan luas, sehingga membuat kucing-kucing itu leluasa dan 'nyaman' untuk buang hajatnya! Pekarangan rumahku jadi lokasi favorit kucing-kucing untuk buang hajat! Gawat!

Akhirnya kejengkelanku terhadap kucing yang eek sembarangan di pekaranganku ada solusinya. Ketika ngobrol-ngobrol dengan teman kantor, mereka memberiku saran agar menempatkan botol-botol bekas air mineral yang diisi air untuk ditempatkan di lokasi yang sering jadi lokasi favorit kucing untuk eek. Kutanya alasannya, ternyata katanya kucing itu malu untuk buang hajat jika terlihat kucing lain. Nah dengan menempatkan botol berisi air, maka kucing akan melihat dirinya di botol seperti layaknya bercermin, dan menganggapnya itu kucing lain, sehingga mengurungkan niatnya untuk buang hajat.

Cukup logis juga ya..... akhirnya kucoba di rumah, ternyata benar di lokasi yang biasanya jadi tempat kucing eek tidak ada lagi kotoran kucing. Namun, ternyata kotorannya berpindah tidak jauh dari lokasi. Akhirnya tidak hanya satu botol yang kupasang melainkan banyak botol, sehingga sampai hari ini tidak ada lagi kucing yang eek sembarangan. Solusi yang cukup ampuh, mudah, praktis, dan tentunya sangat murah....! Videonya bisa dilihat di bawah ini.


Tuesday, April 24, 2018

Pengalaman Menginap di Ibis Styles Bandung

Sekitar pertengahan bulan Februari lalu, saya teman-teman kantor tugas di Bandung. Kebetulan kami sudah dibookingkan kamar oleh kantor di Hotel Ibis Styles yang berlokasi di jalan legendaris di jantung Kota bandung yaitu jalan Braga, berseberangan dengan Museum Asia Afrika.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan hotel ini kecuali lokasinya yang premium di jalan utama kota Bandung berdekatan dengan Jalan Asia Afrika dan hanya beberapa menit berjalan kaki menuju alun-alun kota Bandung.

Kesan pertama ketika masuk hotel ini adalah simpel. Hotel ini mungkin segmen utamanya adalah para pebisnis. Lobinya cukup simpel dengan ornamen modern yang tidak begitu mencolok. Bangunannya lebih dari sepuluh lantai, aku agak lupa berapa lantai tepatnya. Kebetulan aku mendapat kamar di lantai yang cukup tinggi yang mendapat pemandangan cukup bagus sisi Bandung bagian utara.

Memasuki kamar, kujumpai ruang yang tidak begitu luas, berisikan dua single bed, karena aku sekamar dengan teman kantor. Namun, yang cukup membuatku kaget dan tidak nyaman adalah kamar mandinya yang hanya dipisahkan dengan partisi kaca buram. Kondisi yang membuatku tidak nyaman, karena meskipun dipartisi kaca buram, namun siluet tubuh akan tetap terlihat dan tentunya malu lah dilihat teman, meskipun sama-sama cowok. Jadi solusinya ketika itu, saat mandi kumatikan lampu kamar mandi sehingga tidak nampak siluet tubuhku, haha....... Cocoknya buat pasangan yang lagi honeymoon! Mungkin kalau di luar negeri nggak masalah seperti itu, tapi ini kan Indonesia Bung, budaya timurnya masih kental, semoga pihak manajemen hotel bisa mengevaluasinya.

Untuk menu sarapan pagi, sudah cukup variatif meskipun tidak bisa dikatakan yang terbaik di kelasnya. Untuk fasilitas kamarnya sendiri standar seperti hotel di kelasnya. Catatanku cuma di partisi kamar mandinya.....