Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts

Tuesday, March 11, 2014

Jakarta ....! Tunggu Aku Kembali

Jakarta! Mendengar kata itu sebagian besar masyarakat kita pasti langsung berasumsi tentang kemacetan, banjir, polusi, sungai kotor, pemukiman kumuh, kriminalitas sampai dengan biaya hidup tinggi. Stigma-stigma negatif itu lebih melekat daripada citra positif yang dimiliki Jakarta itu sendiri.

Namun bagiku, Jakarta itu menggairahkan, banyak tantangan, dinamis dan tentunya aku ingin segera kembali bertugas di sana. Nah, jika aku nanti mutasi ke Jakarta, ada beberapa hal yang kuinginkan:

1. Menata rumah yang sudah lama tidak kutinggali. Rasanya mau kukeluarin barang-barang gede yang dibeli kakak yang selama ini tinggal di rumahku, terutama alat fitnes-nya yang memenuhi ruang tamu. Sudah tahu rumah itu hanya bertipe 39, eh dikasih barang segede gaban, ntar begitu rumahnya jadi aku harus berhasil memaksanya mentransfer alat fitnesnya itu ke rumah barunya.

2. Menata taman dan halaman sekitar rumah. Pohon bambu Jepang yang sudah kutanam hampir dua tahun yang lalu akan kutata dan kubentuk menjadi pagar hidup yang rapi. Aku juga pengen menanam beberapa anggrek yang akan kutempel di tembok luar rumah. Menanam kangkung, sawi, tomat, cabe di polybag sepertinya juga mengasyikan biar tambah ijo royo-royo.

3. Beli Smart TV LG. Sudah lama kuingin benda ini, yang tentunya harus langganan speedy atau fastnet agar bisa optimal memakainya.

4. Langganan National Geographic Indonesia dan NG Traveler. Selama ini aku sering kelewatan beli beberapa edisi, soalnya di Balikpapan kalau mau langganan nambah ongkir yang lumayan. Maklum aku masih termasuk kaum Price Sensitive.

5. Beli cermin besar buat ngaca full body, ha ha..... Biar nggak dikritik lagi sama mahasiswaku hanya gara-gara penampilan yang acak-acakan!

6. Kayaknya perlu beli kendaraan juga nih, mosok udah kerja sekian lama masih pakai motor nyokap, hu..... Pengennya punya Vespa Primavera yang mau rilis dalam waktu dekat ini, tapi harganya itu lho, 30-an jt bo....! Hix... Nggak perlu mobil dulu lah toh di Jakarta macet banget, cukup satu saja dulu sementara ini biar di pakai Nining dan Manggala saja di kampung.

7. Pijat sepuasnya di Ken Hermawan, maklum lama banget nggak pijat

8. Memasak sesukaku! Sudah lama sejak pindah ke Balikpapan nggak masak sendiri, paling cuma masak air dan indomie, biasa nasib anak kos....

9. Dan yang pasti aku pengen tidur sepuasnya di kasur empuk dengan kamar yang dingin. Balas dendam karena di sini cuma tidur beralaskan lampit (tikar rotan) dengan suhu Balikpapan yang so HOT meski pada malam hari sekalipun.

Nggak sabar nih mewujudkan keinginan-keinginan duniawi itu, kapan aku mutasi ya??? Ha ha ha..... Nikmati dulu Balikpapan lah.... Ntar juga tiba saat itu!

Sunday, August 25, 2013

Konser Metallica di Jakarta

Screenshot di Metro TV (dok. pribadi)

Metallica, grup musik cadas asal negeri Paman Sam itu datang lagi ke Indonesia untuk konser malam ini di Gelora Bung Karno setelah 20 tahun yang lalu. Penggemarnya dari berbagai daerah di Indonesia menyerbu GBK sore ini.

Media online maupun televisi antusias memberitakan segala hal tentang konser Metallica di Indonesia. Terlebih lagi Jokowi, Sang Gubernur Ibukota yang sangat populer dan sangat dicintai media berencana ikut nonton konser Metallica.

Panitia menyediakan sebanyak 60ribu tiket dengan banderol harga dari yang terendah seharga 440ribu sampai dengan yang paling mahal seharga Rp1.650.000,-

Luar biasa pesona dari sebuah grup musik luar negeri yang sudah melegenda selama puluhan tahun itu. Di televisi tadi terlihat seorang ibu beranak empat dari Semarang, yang rela jauh-jauh datang ke Jakarta hanya untuk menonton konser Metallica, konser yang 20 tahun lalu pernah ia saksikan di Stadion Lebakbulus Jakarta. Adapula seorang pemuda dari Jogja yang rela datang ke Jakarta dengan menguras tabungannya demi melihat konser Metallica. Masih banyak lagi, fans yang sudah beberapa hari terakhir di Jakarta datang dari berbagai daerah untuk melihat konser grup musik kesayangannya. WOW Luar biasa fanatisme penggemar musik cadas ini.

Jika anggap saja tiketnya seharga 500rb, dan semua tikewt sold out, maka Panitia akan mengeruk laba pendapatan kotor Rp30 Milyar. Luar Biasa!!! Katakanlah untuk bayar ongkos Manggung dan akomodasi Metallica 15 milyar, Ongkos Sewa GBK, Sound Sistem, dan Pengamanan sekitar 5 milyar, jadilah Panitia dalam hal ini Black Rock Entertainment mengantongi sekitar Rp10 milyar. Nilai yang fantastis untuk konser yang hanya berlangsung dalam beberapa jam saja.

Hal tersebut tentunya sebanding dengan panjang dan berbelitnya usaha untuk memboyong Group Musik Internasional agar mau manggung di Indonesia. Negosiasi, promosi, lobi-lobi perizinan tentunya menguras kocek yang tidak sedikit.

Simbol metal dengan Ibu jari, jari tengah, dan jari kelingking dengan menekuk jari tengah dan jari manis ke arah telapak tangan merupakan simbol yang sangat populer, yang sama dengan simbol dari PDIP pimpinan Megawati yang mengacungkan susunan jari serupa.

Segala sepak terjang Jokowi memang selalu mempunyai nilai jual di mata media. Sampai dengan hobinya akan musik cadas, termasuk rencananya nonton konser Metallica malam ini juga ramai diberitakan. Kontroversi akan kedatangannya dalam konser Metallica ini banyak mengundang cibiran dari beberapa orang, namun banyak pula yang mendukungnya. Diantara komentar nyinyir itu ada yang bilang Jokowi lebih pro terhadap musik metal daripada takbir keliling dan zikir lah, Jokowi lebih melegalkan pesta pora tahun baru daripada kegiatan keagamaan lah, dan aneka komentar negatif lainnya. Sedangkan yang pro Jokowi mendukungnya jika pemimpin sekelas jokowi sah-sah saja punya hobi dengan musik cadas, bukan berarti orang metal sikapnya urakan, buktinya Jokowi cukup sukses membawa Jakarta menuju perubahan yang positif. Adapula yang bilang Jokowi adalah orang yang tidal munafik, dan apa adanya.

Terlepas dari semua pro dan kontra yang ada akan musik metal. Setidaknya adanya konser musik ini tidak merugikan siapa pun, bahkan malah mempunyai efek domino yang luar biasa. Pajak hiburan yang dibayarkan panitia jelas tidak sedikit, banyak penjual kaos dan aksesoris grup musik metallica yang mendapat berkah dari adanya konser ini, pemerintah dapat bagi hasil uang sewa GBK, banyak orang dilibatkan untuk terselenggaranya konser ini dan mereka tentunya mendapat penghasilan yang lumayan, citra akan kondusifnya keamanan Indonesia juga akan semakin baik di mata internasional karena sukses menyelenggarakan konser berkelas dunia.

Antusiasme akan konser Metallica baik oleh fansnya maupun media massa membuktikan bahwa masyarakat Indonesia haus akan hiburan. Kebosanan akan berita di televisi tentang korupsi ataupun tipu daya perpolitikan di Indonesia, seolah membuat jengah masyarakat dan perlu mendapat hiburan yang berkualitas.

Aku bukan penikmat musik metal, namun setidaknya ku tak perlu menjustifikasi bahwa pecinta metal itu orang yang cenderung liar, buktinya Gubernur Jakarta saat ini yang seorang penikmat musik cadas sejati.

Saturday, June 22, 2013

Galau Mencari Kos di Jakarta

Akhir-akhir ini temanku sedang galau cari kos-kosan di Jakarta, tepatnya di kawasan Kalibata. Maklum sejak lulus kuliah dia ditempatkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Baru beberapa minggu ini dia mendapat SK untuk mutasi ke Jakarta.

Di Probolinggo kota tempatnya bertugas yang akan segera ditinggalkannya, dia kos hanya sekitar 300 ribu rupiah/bulan. Betapa murahnya jika dibandingkan dengan sewa apartemen di kawasan Kalibata yang tepat di depan kantornya yang dibanderol 1,25jt/bulan. Memang relatif murah untuk tarif apartemen di Jakarta, namun itu KOSONGAN! Bisa dibayangkan ruangan kosong mlompong, tanpa AC pula, dan parahnya itu sudah harga 'teman' yang minimal harus deal untuk sewa selama satu tahun ke depan.

Nah, karena itulah dia meminta pendapatku, apakah 'worth it' harga sewa apartemen di Jakarta dengan kondisi seperti itu. Aku yang pernah mencoba berbagai kos di Jakarta, menyimpulkan kalau harga segitu tidak worth it sama sekali. Mengapa kusimpulkan demikian?

Aku pernah indekos di Gang Kelinci Belakang Pasar Baru Jakarta Pusat. Saat mengetahui pertama kali bahwa aku ditempatkan di Jakarta, hal pertama kali yang kulakukan adalah mencari kos-kosan. Karena aku orangnya suka nggak enakan, maka kuputuskan untuk tidak minta tolong temanku di Jakarta untuk mencarikan kos-kosan. Lantas apa yang kulakukan? Jelas Googling jalan pintas yang kutempuh. Kutemukan kos-kosan bertarif 1,25jt/bulan. Walaupun angka itu relatif besar dan mencengangkan bagiku saat itu karena tarif sebesar itu bisa untuk kos setahun di Jogja, aku tetap memilihnya karena dekat dengan kantorku di kawasan Lapangan Banteng. Namun yang kurasakan saat itu, harga segitu menurutku worth it banget dengan fasilitas yang diberikan. Jelas ada AC-nya, TV, lemari, meja belajar, springbed ukuran (100x200), kamar mandi dalam lengkap dengan wastafel, closet duduk, shower dengan pilihan air panas dan dingin. Semua furniture, springbed, dan perlengkapan di kamar mandi berkualitas tinggi setara hotel berbintang. Adapula jatah laundry per hari. Plus kondisi kamar yang kuhuni saat itu ternyata benar-benar baru! Ada plusnya lagi, di setiap lorong ada CCTV. Untuk masuk kos pun memakai finger print untuk mencegah orang asing keluar masuk seenaknya. Ditambah lagi para pembantunya yang ramah dan grapyak, dapur bersama yang lengkap peralatannya masaknya dan tidak perlu beli gas, serta pemandangan monas dan gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya dari lantai 5. Sungguh sesuai dengan harganya, capek karena jalan kaki yang lumayan jauh ke lapangan Banteng terobati saat masuk ke kamar kos yang nyaman. Keesokan harinya badan serasa segar kembali karena tidur nyenyak dan nyaman.

Kosku kedua di Jakarta ada di kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan (gang lebih tepatnya) Ciawi. Walaupun tidak sekeren kosku pertama, namun fasilitasnya relatif lengkap, dengan tarif sewa 1,2jt/bulan. Kamarnya juga lebih luas ukuran (4x3)m. Internet gratis kecepatan tinggi yang bisa men-streaming youtube tanpa buffering pun tersedia. Yang pasti ada AC-nya juga.

Kosku ketiga dan terlama di Jakarta ada di kawasan Kelurahan Sukabumi Utara, Kebon Jeruk Jakarta Barat. Kos bertarif 700ribu per bulan itu sudah dilengkapi kamar mandi dalam dan AC, meja belajar, lemari pakaian, springbed (namun sudah rusak dan lusuh saat aku masuk). Namun, aku lebih dari 3 tahun kos di situ karena relatif murah dan Bapak Ibu Kosnya yang baik hati dan ramah.

Melihat ketiga kos-kosanku di Jakarta itu, mendengar harga sewa apartemen kosongan yang dikasih tahu temenku segitu, jelas saja aku tidak merekomendasikan untuk mengambilnya. Mending cari kosan yang agak mahalan di sekitar situ daripada masih harus direpotkan dengan mengisi perabot apartemen, toh hanya sewa bukan milik sendiri. Belum lagi harus membayar service charge yange meliputi biaya kebersihan, keamanan, lift, sampai kolam renang yang nilainya bisa ratusan ribu rupiah plus tarif listrik per bulannya. Perlu di skip lah intinya!

Untuk kos di Jakarta pertama kali menurutku perlu mencari kos yang nyaman dengan aksesibilitas yang mudah meskipun lebih mahal. Mengapa kusarankan demikian? Karena jika sejak awal kita menginjak tanah Jakarta dan mendapatkan suasana yang tidak nyaman apalagi tempat tinggal yang sumpek, panas, nggak bisa bikin tidur nyenyak, jadilah pola pikir kita tentang tinggal dan bekerja di Jakarta pasti akan menjadi negatif. Berbeda halnya jika kita mendapatkan suasana yang nyaman untuk tempat tinggal, pasti psikologis kita akan menstimulus rasa betah tinggal di Jakarta, dan kita pasti akan lebih cepat beradaptasi dengan kerasnya lingkungan Jakarta. Nah, seiring dengan mulai beradaptasi dengan lingkungan Jakarta, jika kita keberatan dengan tarif kos yang nyaman itu, kita bisa mencari kos yang lebih murah namun tanpa mendowngrade kenyamanan yang kita inginkan secara signifikan. Biasanya hal ini bisa kita peroleh dengan aktif searching kos baru yang terkadang agak jauh dari tempat kerja dan perlu ditempuh dengan kendaraan bermotor. Hal ini yang kualami dulu. Satu dua bulan di Jakarta aku sengaja mencari kos yang relatif dekat dengan kantor dan dapat dijangkau dengan hanya berjalan kaki dengan konsekuensi tarif yang lebih mahal. Seiring sudah mulai mengenal jalanan Jakarta, kuputuskan mencari kos yang agak jauh dari kantor namun masih mudah dan cepat ditempuh dengan sepeda motor.

Setelah 3,5 tahun indekos di Jakarta, pertengahan tahun 2012 aku pindah di rumah baruku di kawasan Tangerang Selatan. Eh, baru menikmati rumah baru dengan kasur empuk, kamar yang dingin, dan taman yang mulai menghijau, serta asik mengisi perabot baru, malah keluar SK mutasi untuk pindah tugas ke Balikpapan. Maka cerita pengalamanku nge-kos berlanjut ke Kota Balikpapan......

Monday, May 13, 2013

Cinta Bioskop 2

Kegemaranku nonton bioskop berlanjut ke  Jakarta. Sejak Januari 2009 aku tinggal di Jakarta, kebetulan Bioskop yang representatif dan relatif dekat dengan kosku di Kebon Jeruk saat itu adalah Studio 21 di Blok M Plaza. Sering sepulang kerja atau weekend aku nonton di Blok M Plaza, atau kalau pengen yang lebih murah karena kantong mepet aku nonton di Studio 21 Blok M Square yang letaknya bersebelahan dengan Blok M Plaza. Memang untuk rilis film-film internasional terbaru, Blok M Plaza lebih up to date. Tidak banyak memang bioskop yang kusambangi di Jakarta. Selain dua bioskop yang kusebutkan tadi, aku hanya pernah nonton di XXI Pondok Indah Mall 2, Semanggi 21, XXI Gandaria City, dan Bintaro 21 (di Tangerang Selatan). Tiket XXI memmang lebih mahal sedikit daripada Studio 21, namun tidak berbeda signifikan dalam hal kualitasnya.

Namun ada satu keinginanku menonton bioskop yang belum kesampaian sampai saat ini yaitu nonton di Bioskop IMAX 3D di Gandaria City. Berkali-kali aku ingin menonton di IMAX selalu habis tiketnya, padahal harga tiketnya tergolong mahal Rp50rb untuk week days, dan Rp100rb untuk week end. Mungkin untuk beli tiket IMAX 3D khususnya film-film box office aku perlu memakai fasilitas M-Tix, atau beli dari 'calo-calo' tiket bioskop yang bertebaran di kaskus. Sebenarnya aku pernah nonton di IMAX namun masih Dua Dimensi (2D) yaitu di Teater Keong Mas di Kompleks TMII. Meski 2D, namun kualitas gambar dan efeknya sungguh memukau, apalagi yang 3D ya.....

Sewaktu masih kos di Jakarta aku seringkali ditemani teman kosku yang juga teman sekantorku untuk nonton di bioskop. Atau kalau aku lagi pengen nonton sendiri, ya aku tinggal ngacir saja ke Blok M.

Kebiasaanku nontonku tidak berakhir saja di Jakarta. Saat aku pindah tugas ke Balikpapan aku pun melanjutkan hobiku yang satu itu. Kebetulan saat aku pindah ke Balikpapan, sedang dibuka Blitz Theater di Plaza Balikpapan. Jika di Jakarta aku hanya nonton di jaringan bioskop 21, kebalikannya di Balikpapan, aku selalu nonton di jaringan Blitz. Maklum di Blitz Theater harga tiketnya jauh lebih  murah daripada di jaringan bioskop 21. Di Balikpapan sebetulnya ada 2 XXI yaitu di Balcony City, dan E-Walk. XXI di Balcony City harga tiketnya sedikit lebih mahal dari Blitz Theater namun seringnya muter film lokal yang akhir-akhir ini kualitasnya kurang memuaskan. Sedangkan di XXI E-Walk memang film-film box officenya tergolong up to date,  namun menurutku kurang familier dengan kondisi kantongku, he he.....(maklum anak kos).

Jadi karena murah, Blitz Theater-lah favoritku untuk nonton di Balikpapan. Selain itu di Blitz tiketnya bisa dibeli secara online dengan Blitzcard ataupun kartu kredit CIMB Niaga plus bisa milih langsung tempat duduknya. Jadi untuk nonton premier film-film Box Office, tidak perlu lagi antre. Tinggal beli online, pilih kursi, dapatlah Booking Code dan Passkey, yang akan kita masukkan di mesin pencetak tiket (Blitz machine) di Blitz Theater dan tercetaklah tiket kita. Coba bandingkan jika kita harus antre di loket Blitz Theater Balikpapan yang sangat menjengkelkan. Gimana tidak, loket penjual tiket sama penjual snack jadi satu, jadilah pengantre relatif menunggu lama karena petugas tiket juga melayani pesanan snack dan minuman, apalagi kalau antrean di depan kita adalah segerombolan anak-anak kecil yang sangat lama menentukan kursi tempat duduk ditambah lagi dengan memesan berbagai macam snack. Aku sempat berpikir, "Ini manajemennya yang goblok atau efisiensi pekerja ya?, jika begini caranya para pelanggan bisa kapok antre di Blitz!". Padahal setahuku di Bioskop Blitz lainnya semisal Paris van Java Bandung, penjualan Tiket dan Snack itu terpisah, ini di Balikpapan kok malah dijadikan satu. Untungnya sekarang aku bisa beli online dengan CIMB Niaga Credit Card. Seperti kemarin saat premier Iron Man 3 tanggal 25 April 2013, aku beli 8 tiket satu deret di tempat yang paling strategis, udah gitu dapat diskon 25%. Bahkan aku sempat dititipi anak didikku untuk membeli secara online di Blitz 25 tiket Iron Man 3 untuk satu kelas usai mereka mengikuti ujian. Sangat memuaskan!

Coba jaringan bioskop 21 memberikan alternatif pembelian tiket secara online tidak hanya pakai M-Tix melainkan bisa memakai kartu kredit atau semacam Mandiri Clickpay, BCA Clickpay, ataupun E-pay BRI, pasti akan lebih banyak penontonnya. Para eksekutif muda yang ingin nonton selepas jam kantor ataupun akhir pekan pasti tidak mau waktunya terbuang percuma untuk sekedar antre tiket atau mengisi top up M-TIX yang merepotkan. Dan untuk hal ticketing, Blitz aku anggap selangkah lebih maju daripada jaringan Bioskop 21.


Friday, December 21, 2012

Empat Kota, Empat Kesan Berbeda

Sampai saat ini aku sudah merasakan hidup di 4 kota.

1. Periode 1984 - 2002
Dalam periode ini kuhabiskan masa kecil dan remajaku di Kota Pati, sebuah kota kecil di Pantura Jawa Tengah yang terkenal sebagai kota pensiunan, karena sepinya kota Pati (saat itu). Kota yang dulunya adalah ibukota Karesidenan Pati, berada di Jalur Utama Pantura Jawa. Jalan Daendels yang dibangun pada awal abad ke-19 membelah kota ini dari barat ke timur.

Udara panas pantura Jawa, dengan nyamuknya yang 'ganas-ganas' menemaniku lebih dari dua windu usiaku. Kota kecil yang tidak ada macet, udara yang masih segar di pedesaan sekitarnya, bintang-bintang yang masih terlihat jelas di malam hari, serta langit biru di siang hari yang senantiasa menemani.

Makanannya pun tak kalah enak, ada Sate Kambing muda yang mak nyus, Nasi Gandul GadjahMati yang menggoyang lidah, Soto Kemiri yang sangat legit dan gurih, Bandeng Presto dan aneka makanan dan masakan yang lezat-lezat dan murah bisa kunikmati setiap saat.

2. Periode 2002-2008
Masa kuliahku kuhabiskan di kota Jogja. Di UGM kutempuh studi selama 6 tahun sampai gelar master kudapat. Kota Jogja adalah kota yang sangat berkesan dan membuatku kecanduan tuk senantiasa merindukannya. Aku sering menjelajahi obyek-obyek wisata di kota ini baik yang terkenal ataupun yang terdengar samar-samar. Di kota ini fasilitas sangat lengkap dan begitu mudah didapat. Mau wisata belanja ada mall, pasar, dan kaki lima yang menjamur, mau wisata budaya ada keraton dan museum-museum budaya ataupun gedung kesenian, mau wisata pegunungan ada Kaliurang, Kaliadem, Kalikuning, dan berbagai objek wisata di Lereng Merapi. Mau wisata Pantai ada Pantai Glagah, Trisik di Kulonprogo, Pantai Pandansari, Pandansimo, Depok, Parangkusumo, sampai Parangtritis dan Parangendog di Bantul, juga Pantai-pantai berpasir putih di selatan Gunung Kidul dari Pantai Baron, Kukup, Krakal, Sundak, sampai Siung dan Sadeng bisa dijelajahi dengan sangat mudah. Mau wisata Candi juga bertebaran di mana-mana, dari Prambanan, Kalasan, Ratu Boko, Banyunibo, Barong, Sambisari dan yang terbaru ditemukan Candi di Kompleks Perpustakaan UII.

Jogja dulu kota sepeda, sekarang menjadi kota sepeda motor. Mayoritas yang lalu lalang di jalanan Jogja adalah Mahasiswa. Berbagai plat nomor kendaraan dari Sabang sampai Merauke ada di Jogja. Berbagai macam suku di Indonesia bergelut menimba ilmu di kota pelajar ini.

Menuntut ilmu di Jogjakarta sungguh kondusif. Suasana yang nyaman, sejuk hawanya, makanan murah dan suasana tenang di pedesaannya sungguh membuat setiap pendatang betah tinggal berlama-lama di kota ini.

3. Periode 2009 - 2012
Hampir 4 tahun kuhabiskan di Jakarta. Tak pernah sebelumnya terpikirkan olehku untuk bekerja dan mempunyai rumah di Jakarta dan sekitarnya. Dalam benakku kala itu Jakarta begitu padatm identik dengan kemacetan, orang berseliweran dimana-mana, dan polusi udaranya yang panas, serta raungan kendaraan bermotor yang membahana. Tapi aku sudah mulai bisa menikmati ritme warga ibukota yang begitu cepat dan dinamis. Aku lumayan betah di Jakarta, sampai aku harus pindah tugas ke kota lain di akhir tahun 2012 ini.

4. Periode Oktober 2012 - sekarang
Di Balikpapan lah tempat kerja baruku. Di kota minyak yang terkenal mahal biaya hidupnya (lebih mahal dari Jakarta) aku harus beradaptasi lagi dengan lingkungan kerjaku dan kota Balikpapan. Udara Balikpapan yang sangat panas serta air yang kurang bersih merupakan kesan pertamaku akan kota ini. Kota ini dihuni mayoritas pendatang dari Jawa, jadi aku tidak terlalu susah mencari makanan yang cocok dengan lidah dan kantongku. nasi Pecel, Lodeh, Oseng-oseng, Sayur Bayam, Ayam tempe penyet, bertebaran di kota ini.

Semua Kota yang pernah kutinggali memberikan kesan sendiri-sendiri yang unik dan selalu kan kuingat sepanjang hidupku.

Balikpapan, 21-12-2012 (Hari 'Kiamat' versi Maya?)