Showing posts with label Manggala. Show all posts
Showing posts with label Manggala. Show all posts

Tuesday, July 15, 2014

Kecanduan iPad

"Endi iPad-e.... endi iPad-e.....!", kata-kata yang seringkali diucap Manggala ketika berada di kamar akhir-akhir ini. "Nyetel utub..nyetel utub...!, rengek dia ke Ibunya. Maksudnya ngajak ibunya muter video streaming di youtube. "Lagi loading-lagi loading....!", kata lain yang sering diucapkan ketika proses buffering di youtube sedang berjalan ditandai dengan tanda semacam roda putih yang berputar sebelum video-nya muncul. "Ojo Na......!", teriaknya ketika tantenya (Bu Nana) yang ngusilin saat dia asik nonton youtube dengan iPad-nya.

Anakku, Manggala akhir-akhir ini mulai kecanduan nonton video streaming di Youtube dengan iPad Ibunya. Kebetulan di rumah Ibunya berlangganan Internet dari Telkom Speedy yang sekaligus dipasangi WiFi Router agar bisa diakses nirkabel melalui laptop ataupun perangkat mobile lainnya. Istriku langganan internet sebenarnya untuk keperluan prakteknya juga untuk update data ke BPJS yang harus melalui internet.

Nah kira-kira dua bulan yang lalu aku membelikan iPad Mini untuk istriku, Nining. Maksudku kala itu, karena dia perlu banget sebuah perangkat mobile yang praktis untuk update data ataupun untuk presentasi dan tentunya terhubung dengan internet. Nah, mau tak mau, disengaja ataupun tidak iPad itu mulai 'diakuisisi' Manggala. Bagaimana tidak, ketika di rumah dia selalu ingat dengan iPad dan nonton video-video streaming entah itu video Lokomotif Thomas dan telur-telurnya, video edukasi dari TuTiTu, Marsha & The Bear, Lagu Anak-anak, Permainan Lego, sampai dengan kesukaannya melihat video Traktor, Back Hoe, ataupun alat-alat berat lainnya.

Kegemarannya melihat video di iPad akhir-akhir ini semakin menjadi-jadi dan membuat tidurnya bertambah semakin malam karena asik dengan iPadnya. Kalau dilarang dia akan marah sekali dan teriak-teriak dengan kencang padahal umurnya baru 2 tahun 1 Juli kemarin. Puncaknya adalah dua hari yang lalu ketika malam hari saat mau tidur dia menanyakan iPadnya. Istriku yang sudah capek sekali akhirnya sampai ketiduran, dan si Manggala main ipad sendiri, pencet video yang satu, selesai bosan ganti pencet video lainnya. Kalau videonya error ataupun lama loadingnya, di suka bilang "Error-Error...!", dengan pelafalan huruf R yang sangat jelas untuk anak seusianya. Atau kalau sudah gregetan, di teriak "Piye iki...piye iki...!". Akhirnya malam itu, dia baru bisa tidur dan merengek ke Ibunya minta mimik susu sekitar pukul setengah dua belas malam. Istriku yang kebetulan belum tinggal serumah denganku dan masih tinggal di rumah orang tuanya di Tulungagung pun mendapat protes dari Ibu Mertuaku, Beliau khawatir kecanduan Manggala akan ipad berpengaruh buruk terhadap kesehatan matanya.

Memang salah kami juga dulu, yang mengenalkan Manggala dengan memutarkan video dari Youtube di iPad untuk menenangkan Manggala yang lagi rewel....eh malah sekarang mulai kecanduan. Aku tadi googling tentang kecanduan iPad anak Balita, ternyata ada Balita di Inggris yang kecanduan iPad dan biaya rehabilitasi dengan detoksifikasi digital yang biayanya sangat mahal sekitar Rp237 juta per bulannya (Baca: Artikel Balita Kecanduan iPad). Gila..... amit-amit jangan sampai anakku seperti itu, angka segitu tuh uang semua, bukan krikil......!

Berikut saya cantumkan beberapa artikel tentang Bahaya kecanduan iPad pada anak:
1. Baca artikel dari Kompas.com
2. Baca artikel dari Intisari Online
3. Baca artikel dari Liputan6.com

Kecanduan akan Gadget semacam iPad tentunya akan sangat berbahaya bagi tumbuh kembang anak jika dibiarkan berlarut-larut, dan aku nggak mau hal itu terjadi pada Manggala. Pada kasus Manggala bisa kuanalisis beberapa hal sebagai berikut:

  1. Setiap hari Manggala ketika dititipkan ke Saudara yang ngemong dia saat istriku bekerja, dia tidak bermain iPad atau gadget apapun. Dia lebih banyak bermain yang membutuhkan aktifitas fisik dan motoriknya dengan bermain dengan teman-teman sebanyanya dan sama sekali tidak menanyakan tentang iPad-nya.
  2. Dia mulai ingat kembali dengan iPad-nya ketika tidak ada teman-temannya bermain atau dia tidak sedang bermain, dalam hal ini ketika dijemput pulang kembali ke rumah usai istriku bekerja. Di rumah pun ketika dia asik bermain dengan kakek neneknya ataupun dengan tante dan ibunya, dia juga tidak menanyakan iPad-nya dan tetap asik bermain.
  3. Ketika dia melihat video di Youtube lebih banyak melihat video edukasi balita dan anak-anak yang penuh warna yang  menurutku dalam batas kewajaran merangsang perkembangan kognitifnya.
  4. Dalam sehari rata-rata waktu kumulatif Manggala melihat video di Youtube adalah 3 jam sehari, dan itu sebenarnya masih dalam batas kewajaran, tapi menurutku secara pribadi itu sudah terlalu lama untuk anak seusia dia karena aku juga sangat mengkhawatirkan kesehatan matanya.
  5. Selama ini kami memang terkesan memanjakan Manggala dan jarang memberikan batasan waktu yang tegas dan sering mentoleransi jika dia menggunakan senjatanya yaitu menangis dan teriak-teriak.


Aku tahu kesulitan istriku dalam mengurus Manggala karena kesibukannya yang luar biasa sebagai seorang paramedis, dan aku belum tinggal serumah dengan mereka, tapi walaupun kami belum serumah, mengenai tumbuh kembang Manggala kami selalu berdiskusi untuk yang terbaik. Kami memang harus mulai mengaplikasikan batasan yang tegas untuk Manggala dalam bermain iPad. Coba aku bisa tinggal serumah dengan Manggala, pastinya dia akan lebih banyak kuajak bermain, dan ketika Ibunya praktek dia tidak merengek-rengek untuk bermain iPad.

Kesimpulannya, melihat video youtube di iPad sih boleh-boleh aja asalkan tidak dalam waktu yang berlebihan, apalagi melihat video edukasi yang memang terbukti bagus untuk kognitif anak. Tapi kegemaran anak melihat iPad yang memang penuh warna dan menggoda sudah seharusnya diimbangi dengan permainan fisik yang merangsang perkembangan motorik anak. Kita sebagai orang tua memang harus aktif mengajak anak kita bermain, ngobrol, bercanda ataupun diskusi, jangan sampai kebersamaan kita dengan anak-anak terlewat begitu saja karena kita asik sendiri dengan gadget kita, dan akhirnya anak-anak juga meniru tingkah laku kita asik dengan gadget. Aku ingin anakku tidak hanya pandai secara kognitif melainkan pintar pula bersosialisasi dan bagus perkembangan motoriknya.

Sumber: 
1. tempo.co
2. kompas.com
3. liputan6.com
4. intisari-online.com

Monday, February 24, 2014

Pengalaman Baru Manggala

Manggala Prama Migi (dok. pribadi)
Manggala malam ini tidak bisa tidur bersama ibunya. Sejak pukul 4 pagi tadi sampai besok, Manggala harus ditinggal Nining untuk mengikuti pelatihan di Tretes, Pasuruan. Ini adalah pengalaman pertama buat Nining dan Manggala tidak tidur malam bersama.

Sejak lahir sampai saat ini, Manggala belum pernah sekalipun tidur malam tanpa ditemani ibunya. Meskipun nining banyak kegiatan di luar kota, seperti waktu ke Jogja beberapa bulan yang lalu, Manggala selalu dibawanya. Namun, hari ini terpaksa Nining sementara waktu berpisah dengan Manggala, padahal Manggala akhir-akhir ini sangat susah untuk tidur malam, apalagi malam ini tidak tidur ditemani ibunya.

Manggala kalau sedang tidur malam dan ingin netek ke Ibunya, pasti merengek bilang 'mimik....mimik....!' jika dia nggak segera direspon atau Ibunya pas tidak berada di sampingnya, maka dia tidak akan basa-basi langsung nangis sekencang-kencangnya yang sanggup membuat tetangga kanan kiri terbangun dari tidurnya, bahkan tak jarang terdengar sampai jalan raya yang berjarak kurang lebih 40 meter dari kamar Manggala.

Hari ini Manggala akan mengalami pengalaman baru dari hidupnya, yaitu belajar 'Mandiri' tidak ditemani ibunya saat tidur malam, dan otomatis dia tidak bisa netek ibunya, padahal selama ini intensitas netek dibandingkan dia minum susu formula lebih banyak neteknya.

Sampai saat ini aku belum tahu Manggala akan tidur dengan siapa, apa ditemani tantenya, neneknya, atau sama Bu Tris (sepupunya Nining yang biasa mengasuh Manggala) atau malahan ditemani ketiganya. Kami sudah was-was dan khawatir jika Manggala malam ini akan merengek terus mencari Ibunya, semoga hal itu tidak terjadi.

Ke depan tentunya Manggala akan sering ditinggal Ibunya malam hari, apalagi jika Nining besok jadi ngambil PPDS Obsgyn, pastinya akan semakin sibuk.

Andai saja aku bisa menemani Manggala malam ini.... andai....

Sunday, February 23, 2014

Proses Sebuah Nama si Jabang Bayi

Akhir-akhir ini infotainment dipenuhi berita tentang akta anak Ayu Ting-Ting. Diberitakan jika ayu ting-ting akhirnya memasukkan nama suaminya, yaitu si 'Enji' sebagai bapak si jabang bayi di akta lahirnya. Namun, si ayu tidak mencantumkan nama keluarga si Enji di nama belakang anaknya, melainkan mencantumkan nama ayah si ayu ting-ting.

Lho kok malah nggosip soal ayu ting-ting, emangnya udah keabisan bahan tulisan yak... Just intro aja sih. Yang mau kubahas kali ini adalah tentang proses pemberian nama seorang anak manusia.

"Apalah arti sebuah nama", ungkapan populer yang sering kita dengar sehari-hari. Tentunya orang tua memberikan nama kepada anaknya pastinya ada maknanya, meski sesingkat atau sesederhanapun nama itu. Jadi ungkapan itu tidak sepenuhnya benar.

Nama biasanya menjadi cerminan doa orang tua akan masa depan anaknya. Entah itu sikap si anak kelak akan mirip dengan tokoh yang namanya dijadikan nama anaknya, ataupun sikap si anak kelak sesuai dengan makna kata yang digunakan sebagai nama. Apapun itu, tentu orang tua tidak ingin anaknya menyandang nama seperti nama tokoh yang tercela ataupun kata yang berkonotasi negatif.

Proses pemberian nama bagi sebagian orang adalah sesuatu yang mudah dan cenderung sepele, namun bagi yang lainnya adalah sesuatu yang rumit, ribet, dan terkadang membuat ketegangan dalam keluarga.

Nah dalam kasus ayu ting-ting, dia menamakan anaknya dengan mengambil dari bahasa Arab. Dan dia memakai nama ayahnya sebagai nama belakang anaknya sebagai nama keluarga. Nama Keluarga? Perlukah itu? Hal itu perlu dalam beberapa suku di Indonesia yang mengenal sistem marga, yang paling terkenal adalah marga dalam Suku Batak, yang penurunan nama marganya berdasarkan garis Bapak dalam artian si anak yang lahir hasil perkawinan diberi nama keluarga (belakang) sesuai nama keluarga Bapaknya, bukan Ibunya. Nah si ayu Ting-Ting ini mungkin tiru-tiru dengan tren sekarang ini jika nama belakang seorang anak harus ada nama keluarga, padahal namanya sendiri tidak ada embel-embel nama keluarga dan dia pun bukan berasal dari suku yang memang mempunyai aturan marga.

Tren penggunaan nama belakang juga melanda orang nomor satu di negeri ini yang kebetulan berasal dari Jawa. Padahal dalam budaya Jawa tidak dikenal nama keluarga. Cucu Presiden dua-duanya menyandang nama Yudhoyono di nama belakangnya, padahal SBY sendiri tidak menyandang nama bapak/keluarganya, karena memang suku Jawa tidak mengenal penamaan dengan nama keluiarga. Namun hal itu sah-sah saja sih, toh nggak merugikan siapapun juga.

Tren penggunaan nama keluarga untuk bayi yang baru lahir akhir-akhir ini tidak hanya melanda kalangan tokoh nasional ataupun selebriti melainkan sudah diadopsi oleh masyarakat awam yang notabene tidak memiliki sejarah penggunaan nama keluarga. Mungkin jika fenomena ini semakin meluas, maka tidak hal yang mustahil Suku Jawa di kemudian hari akan memiliki sistem marga seperti halnya Suku Batak.

Penggunaan nama keluarga dari suku yang memang tidak mengenal sistem marga sering menimbulkan banyak persepsi di tengah masyarakat. Ada yang berpendapat pemberian nama keluarga untuk melanggengkan nama besar seorang tokoh/orang yang berpengaruh besar pada masanya. Adapula yang berpendapat bahwa anak, cucu, ataupun keturunan selanjutnya yang menyandang nama besar kakek atau mbah buyutnya/leluhurnya akan mendapat tempat yang istimewa/terhormat di tengah masyarakat nantinya. Tak sedikit pula yang berpendapat sinis, pemberian nama keluarga hanya merupakan wujud dari ego seorang Bapak ataupun Kakek yang ingin namanya terus abadi dan menunjukkan dominasinya terhadap keluarga. Masih banyak lagi persepsi lain yang tidak perlu saya uraikan satu persatu.

Kembali lagi ke proses penamaan seorang anak. Aku sempat terkejut dengan apa yang dilakukan artis idolaku saat remaja dulu, Mbak Dian Sastro yang ternyata mencari nama untuk anaknya dengan searching di Kamus Bahasa Jawa Kuno. Kami pun sempat berdiskusi kecil tentang nama calon anak keduanya di Instagram. Kedua anaknya pun akhirnya menyandang nama-nama berbau nama-nama tokoh zaman Mataram Kuno plus dengan akhiran nama belakang kakek buyutnya yaitu Sutowo. Memang kakek dari suami Mbak Dian Sastro ini adalah Pengusaha Besar yang dikenal sebagai Bosnya Pertamina pada masa jayanya dulu, Ibnu Sutowo. Namun bedanya dengan Ayu Ting-Ting yang baru menggunakan nama bapaknya sebagai nama belakang anaknya, Nama Belakang anaknya Mbak Dian menggunakan nama belakang yang ternyata dimulai dari inisiatif Kakek Buyutnya (Ibnu Sutowo) untuk menamakan anaknya (ayahnya suami Dian Sastro) dengan embel-embel nama keluarga Sutowo sebagai nama belakang. Dan ternyata nama keluarga itu awet sampai ke buyutnya (anaknya Dian Sastro). Sedangkan si Mbak Dian sendiri juga mempunyai nama belakang 'Sastrowardoyo' sebagai nama keluarganya.
Percakapanku dengan Mbak Dian Sastro di Instagram (dok. pribadi)

Di sini tidak akan dibahas kelebihan atau kekurangan sistem marga, atau penamaan seseorang dengan nama keluarga. Tentang penamaan tentunya sepenuhnya hak dari orang tua si jabang bayi. Nah, bagaimana dengan proses penamaan anakku sendiri?

Jauh-jauh hari sudah kusiapkan nama sebelum anakku lahir. Tidak dari bahasa Arab yang sedang tren saat ini, melainkan aku tetap menggunakan Bahasa Jawa sebagai akar budaya leluhurku untuk penamaan putraku. Aksatriya Manggala Prama, itulah nama yang kupersiapkan sejak awal yang artinya Pemimpin utama yang mempunyai sikap ksatria. Nama Manggala terus terang idenya dari Bapakku, Beliau ingin nama cucu pertamanya diberi nama Manggala Yudha. Namun tidak aku terima mentah-mentah ide itu, kudiskusikan dengan Nining terlebih dahulu. Manggala nama yang bagus dan jarang digunakan, tapi ada yang mengganjal dengan nama 'yudha'. Nining khawatir jika diberi nama Yudha anak kami nantinya suka berkelahi ataupun nakal karena makna kata Yudha adalah perang. Akhirnya kami bersepakat memakai nama Manggala dan menanggalkan nama Yudha. Namun kami juga ikut tren penamaan masa kini yang memakai tiga suku kata untuk sebuah nama, lain halnya saat masaku dulu yang hanya dua suku kata. Nah akhirnya, kata aksatriya dan prama menjadi pilihanku, digabung menjadi Aksatriya Manggala Prama.

Tibalah saatnya istriku melahirkan. Saat aku menunggui istriku di kamar rumah sakit sedangkan bayiku masih di ruang inkubator karena sempat keracunan ketuban, kami pun kembali ngobrol membahas nama untuk anak kami. Ternyata selama ini Nining menceritakan nama yang sebelumnya telah kami sepakati kepada Ibunya, namun Ibunya kurang setuju dengan nama Aksatriya, karena mirip dengan anak sepupunya Nining yang bernama Satriya dan yang ternyata anaknya sering sakit-sakitan. Tidak mau cucunya sakit-sakitan seperti si Satriya, Ibunya Nining meminta Nining agar mempertimbangkan nama lain.

Akhirnya kami sepakat untuk menghapus nama Aksatriya. Namun kami bingung mencari nama penggantinya. Jika kami hanya menamai Manggala Prama akan terasa nanggung diucapkan, kurang satu kata lagi biar enak diucapkan menurut kami. Tiba-tiba spontan aku nyeletuk "Gimana kalau diganti dengan nama MiGi singkatan dari Minggu Legi, kan lucu tuh!". Nining pun akhirnya setuju dengan nama itu, karena akan mengingatkan pada hari kelahirannya yaitu Minggu Legi sama seperti kakeknya Pati. Nama final yang kami pakai jadinya "Manggala Prama Migi". Nama itu kusampaikan kepada orang tuaku di Pati, dan Beliau merespon tidak ada masalah dengan nama itu.

Nah, giliran orang tua Nining yang harus kami kasih tahu. Sebelum aku memberi tahu ternyata Bapaknya Nining mengusulkan untuk memasukkan nama Sahara untuk nama belakangnya karena Beliau beranggapan bahwa Bapakku menyumbang nama Manggala dan biar adil Beliau juga usul nama Sahara, seperti nama belakang kelima anaknya. Namun, sejak awal aku tidak setuju dengan nama belakang, nama keluarga, atau semacamnya. Aku pun tidak memasukkan namakui sebagai nama belakang anakku. Aku agak bingung menjawab usulan ayah mertuaku itu. Untungnya, Nining sigap menimpali jika kami berdua telah bersepakat untuk memberi nama Manggala Prama Migi, dan itu murni ide kami berdua. Ayah mertuaku pun bisa menerima hal itu.

Saat aqiqah pun tiba dan 'dideklarasikan' jika nama anak pertama kami adalah Manggala Prama Migi yang berarti Pemimpin Utama yang lahir pada Minggu Legi. Nama itu adalah doa dan harapan kami terhadap anak kami, Manggala Prama Migi.

Sunday, February 16, 2014

Mobil...Mobil....

Manggala Berpose di depan mobil barunya (dok. pribadi)
"Mobil...mobil...! begitulah sahut Manggala ketika dia mendengar suara mobil lewat di depan rumah kami. Bergegas dia mengintip dari jendela kamar yang menghadap ke jalan depan rumah sambil memanjat-manjat teralis jendela.

Rutinitas itu dia sering dia lakukan ketika mau bobok malam. Maklum kami belum punya mobil sendiri dan dia memang sangat senang dengan mobil. Selama ini dia hanya bisa naik mobil kakeknya saja, dan ketika akhir tahun kemarin kuajak liburan ke rumah di Tangerang Selatan jadinya kami hanya bisa naik motor bebek untuk jalan-jalan atau sekedar belanja ke pasar. Hanya sekali saat kami jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan saja yang naik taksi.

Manggala sangat senang sekali dengan mobil ataupun segala sesuatu yang berbentuk mobil. Mulai dia lahir cenger dia sudah dijemput pakai mobil dari rumah sakit. Umur 1,5 bulan sudah diajak mudik ke rumah ortuku di Pati naik mobil. Sampai dengan sekarang dia sering diajak naik mobil sama kakeknya meski sekedar nengok sawah atau jalan-jalan keliling kota, maklum aku nggak bisa menemaninya setiap hari karena kami tinggal berjauhan beda pulau. Dia paling suka kalau berada di mobil di bagian pengemudi karena ada setir yang bisa dia puter-puter. Saat kakeknya ataupun om-nya lagi nyetir, dia suka pengen megang setir juga. Kesukaan Manggala akan mobil mungkin ada sebabnya ketika Nining sedang mengandungnya, Nining lagi senang-senangnya nyetir mobil ke luar kota meskipun kandungannya sudah tua. Eh ternyata ngidam nyetir itu berdampak pada sifat Manggala yang suka akan mobil.

Suatu ketika saat kuajak dia jalan-jalan di Superindo di kawasan Pamulang II dia naik diatas troli belanjaan. Saat sedang asik-asiknya muter-muter, tiba-tiba dia teriak "mobil...mobil...!" sambil menunjuk-nunjuk satu pak die cast (mobil-mobilan kecil dari metal) yang dipajang. Kuambilkan lah satu pak die cast itu yang tentunya harganya relatif mahal daripada Manggala berteriak lebih kencang.

Dipeganginya erat-erat mobil-mobilan tadi sambil kami muter-muter lagi. Manggala mempunyai sifat mudah bosan dan gampang beralih perhatiannya. Nah saat perhatian dia tertuju kepada yang lain, langsung kuambil die cast tadi dari troli, dan segera kuletakkan di rak. Bukannya aku tidak mau membelikannya, pertimbanganku karena dia masih suka banting-banting mainan dan belum bisa membedakan mana mainan mahal mana mainan murah, atau yang berkualitas dan tidak berkualitas. Jadilah akhirnya keesokan harinya dia kami belikan saja mobil-mobilan plastik di pasar dekat rumah seharga 10ribuan, toh dia sama senangnya, kan sayang kalau mainan mahal dibanting-banting. Belum saatnya dia kubelikan mainan mahal. Pernah suatu ketika, aku punya RC yang relatif mahal, kumainkanlah RC tadi dihadapannya. Dia suka banget, tapi ya itu tadi kegemarannya masih suka banting-banting, buyarlah RC tadi lepas dari kaitan-kaitannya, meskipun masih bisa dirakit lagi.

Melihat Manggala yang sering menyebut mobil-mobil ketika berada di kompleks perumahanku selama di Tangsel, aku dan istriku jadi trenyuh, karena tidak bisa mengajaknya jalan-jalan keliling Jakarta naik mobil. Kasihan sekali aku melihat manggala hanya bisa kujepit di tengah-tengah antara aku dan nining saat jalan-jalan di Tangerang Selatan, belum lagi saat kena macet, polusi, plus mendung yang menggelayut saat mengendarai motor
sangat mengganggu dan tentunya tidak aman buat anak sekecil Manggala.

Rencana untuk membeli mobil sebenarnya sudah lama kami rencanakan, namun karena Nining lagi disibukkan dengan pembukaan Apotek barunya yang tentunya butuh modal yang lumayan jadinya rencana beli mobilnya kami tunda beberapa kali. Akhirnya sampailah kami pada kejadian betapa trenyuhnya melihat Manggala hampir setiap malam saat di Tangsel kemarin melongok dari kamar melihat mobil-mobil para tetangga yang berlalu lalang di depan rumah, dan kami putuskan untuk membeli sebuah mobil untuk Manggala. Pertimbanganainnya adalah agar kami tidak perlu meminjam mobilnya mertua untuk mudik ke ortuku di Pati setiap kali lebaran. Kemarin saat kami di Jakarta, aku ingin mengajak Manggala ke Sea World Ancol karena Manggala suka banget dengan ikan, tapi karena jauh dari rumah dan jikapun menggunakan Taksi paling tidak abis 500rb untuk pp dan akhirnya kubatalkan rencana tersebut. Kejadian yang berbeda tentunya akan berbeda jika kami punya mobil pribadi.

Pilihan kami jatuh pada Toyota Rush TRD Hitam dengan pertimbangan modelnya yang nggak ngebosenin dan ground clearance-nya yang tinggi karena harus tahan banting melewati rute mudik kami melalui Bojonegoro, Cepu, Blora, Rembang yang jalanannya bergelombang dan kurang bagus.

Setelah 3 minggu lebih mobil datang ke rumah, akhirnya kemarin STNK dan plat nomornya kami terima juga. AG 1665 RY, nomor yang menurutku mudah diingat. Aku belum bisa mencobanya untuk jalan-jalan karena posisiku sekarang dio Balikpapan, namun setidaknya Nining bisa mengajak Manggala jalan-jalan keliling kota Tulungagung atau nengok sawah. Semoga mobil ini membuat Manggala tambah ceria dan memudahkan mobilitas kami dengan nyaman dan aman.

Sunday, January 26, 2014

Suka Duka Naik Kereta Gajayana (Liburan Akhir Tahun Part 2)

Kurang lebih jam 7 malam, Gajayana datang dari arah selatan Stasiun Kediri. Aku pun sudah tak sabar menaikinya untuk bertemu anakku yang pastinya tambah besar (tentunya kangen ibunya juga, he he....). Begitu kereta berhenti, aku langsung naik ke gerbong 2 dan kucari-cari anak dan istriku. Dari kejauhan di deretan bangku belakang, kulihat lambaian istriku dan anakku yang sedang berdiri di kursi.

Langsung kuciumi anakku yang sudah tidak kutemui 2 bulan lamanya. Manggala bertambah besar, tambah putih kulitnya, dan berbinar-binar matanya. "Emmmuahh-emmmuah.....!", kuciumi pipinya yang tembem kayak bakpao.

Manggala sangat aktif sekali. Dia tidak betah duduk diam ataupun berdiri di kursi. Dia selalu ingin jalan-jalan di lorong kereta. Ketika bertemu dengan anak-anak lain seumurannya di gerbong, dia pun mengajak bersalaman dan ingin bermain bersama kenalan barunya itu. Aku sempat kewalahan menuntunnya mondar-mandir di lorong.

Goyangan kereta yang cukup kencang tak cukup menggoyahkannya untuk kembali duduk di kursi. Dia malah semakin senang jika kereta bergerak dan bergoyang kencang. Aku tak begitu lama menuntunnya mondar-mandir di lorong, karena ia ingin ditemani ibunya. Mungkin dia masih menganggapku orang asing dan kurang nyaman denganku.

Sampai sekitar jam 12 malam Istriku menemaninya mondar-mandir di gerbong. Manggala tidak mau dipegangin tanggannya, dia inginnya berjalan sendiri, jadinya istriku hanya memegangi bagian jaket yang dikenakan manggala di bagian tengkuknya.

Saat dia bermain botol minuman yang masih ada isinya, tiba-tiba botolnya jatuh mengenai punggung telapak kakinya, dia pun menangis. Langsung saja istriku sigap memberinya ASI dan akhirnya Manggala pun tertidur. Memang sangat sulit menidurkan Manggala, terlebih di kereta api yang sempit bangkunya untuk tidur, padahal ia terbiasa tidur di dipan yang lumayan lebar sehingga dia bebas guling-guling kesana kemari.

Sekitar pukul 6 pagi kurang kami pun sampai di Stasiun Jatinegara. Kami naik taksi menuju rumah kami di Grand Serpong 2, Tangerang Selatan melalui Tol Jagorawi yang nyambung dengan Tol JORR. Keluar dari Pintu Tol Bintaro Sektor 7, jalanannya sudah berubah signifikan sejak 6 bulan yang lalu, terakhir aku di Jakarta. Ada Mall Baru yang gede banget namanya Bintaro Jaya Xchange. Ada underpass baru, ada jalan-jalan baru yang mengelilingi mall. Sebenarnya rumahku lebih dekat dengan pintu Tol BSD namun karena Jalan Ciater di mulut pintu tol sedang diperlebar, dengan kemungkinan kemacetan yang tinggi, jadinya kami keluar di Pintu Tol Bintaro Sektor 7. Melalui Jalan Tegal Rotan, Jalan Merpati Raya, Jalan Aria Putra, dan Jalan Sarua Raya, akhirnya Jam 7 kurang kami pun sampai di rumah.

9 hari kami berada di Tangerang Selatan. Hujan dan mendung sebagian besar menyelimuti Jabodetabek kala itu. Manggala pun hanya sempat kuajak jalan-jalan di pusat perbelanjaan dan Kebun Binatang Ragunan.

Sabtu, 28 Desember 2013 kami pun pulang ke Tulungagung dengan kereta Gajayana lagi. Perjalanan kali ini tidak selancar sebelumnya. Gerbong kereta eksekutif 1 yang kami tumpangi terpaksa harus diganti di Stasiun Purwokerto karena mengalami kerusakan. Waktu saat itu menunjukkan pukul 12 malam. Petugas memerintahkan untuk seluruh penumpang di Gerbong 1 untuk turun dan membawa semua bagasinya."Sial, tengah malam kayak gini disuruh turun ganti kereta, mana bagasi banyak sekali, parahnya lagi si Manggala sedang tidur nyenyak, huh... Kayak angkot saja dioper-oper, nggak profesional nih KAI", umpatku dalam hati.

Kami pun turun dengan barang bawaan yang cukup banyak. Manggala akhirnya terbangun, jadinya istriku kerepotan lagi menenangkannya. Sekitar sejam kami berhenti di Stasiun Purwokerto untuk menunggu penggantian Gerbong. Akhirnya Manggala pun bisa tidur kembali sekitar pukul setengah dua malam. Gerbong pengganti kualitasnya ternyata lebih buruk daripada sebelumnya. Gerbongnya agak tua, kursinya goyang-goyang tidak stabil, kalau pantat ini goyang, kursinya pun ikut goyang (oglek-oglek). Bagasi kabin di atas juga tidak tertutup layaknya gerbong Gajayana sebelumnya yang sudah seperti bagasi pesawat.

Kami tiba di Tulungagung keesokan harinya sekitar pukul 9 pagi, terlambat lebih dari 2 jam. Dan kami akhiri perjalanan kami di stasiun Tulungagung dengan menyantap nasi Soto Ayam langgananku di kompkes Parkiran seberang stasiun Tulungagung.

Wednesday, May 1, 2013

Hore..... Manggala Sudah Bisa Jalan!


Si kecil sudah mulai berjalan walau masih beberapa langkah yang tak lebih dari 5 meter. Raut mukanya menunjukkan kegembiraannya karena sudah berhasil melangkahkan kakinya tanpa berpegangan pada benda di sekelilingnya. Kakek neneknya, tantenya pun terlihat bergembira akan 'prestasinya'.

Bermain Bersama Manggala (dok. pribadi)

Itulah perkembangan Manggala terkini yang dikirim oleh istriku tepat 1 mei 2013 bertepatan dengan peringatan May Day melalui video yang diupload via whatsapp. Surprise betul rasanya hati ini. Di saat kepalaku cekot-cekot pusing sekali, ada video Manggala yang menghilangkan seluruh rasa sakitku. Senang, bangga, bahagia melihat buah hatiku mulai berjalan meski kini aku terpisah jarak ribuan mil darinya.

Manggala sekarang sudah bertransformasi dari bayi yang kurus, hitam karena dijemur lama tiap pagi oleh kakekknya menjadi Manggala yang lincah, pipi tembem, singset karena ototnya yang kenyal dan tidak bergelambir, dan kulitnya yang tidak lagi hitam legam tapi menjadi kuning langsat. Yang paling membuat senang dan gemes orang-orang di sekitarnya adalah kegemarannya untuk senyum 'sumeh' dan nggak rewel.

Hari ini Manggala genap berumur 10 bulan. Aku selalu tidak sabar untuk memeluk dan bermain dengannya. "Manggala... meski Bapak nun jauh di sana tapi doa dan semangat Bapak kan selalu menyertaimu Nak... Jadilah anak yang soleh, pintar, berguna bagi nusa dan bangsa, dan buat bangga Bapak Ibumu. Semoga kesehatan dan lindungan-Nya kan selalu menyertaimu."

Monday, December 31, 2012

Menutup Tahun 2012 dan Menyongsong 2013 Bersama Anak Istri Tercinta

Bisa menghabiskan tahun 2012 bersama keluarga kecilku untuk menyonsong 2013 adalah sesuatu yang berharga bagiku. Tak sia-siaku uang jutaan rupiah yang kukeluarkan untuk bisa bertemu mereka terbayar sudah.

Keceriaan Manggala yang bertambah pintar dan menggemaskan dari hari hari ke hari mampu mengobati kangenku selama ini. Istriku yang sabar merawat Manggala di tengah kesibukannya yang luar biasa padat sebagai seorang dokter semakin menambah sayangku padanya.

Tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kami sudah dikaruniai seorang putra yang kuat dan tampan dan menggemaskan plus suka senyum dan tertawa yang membuat semua orang yang melihatnya ingin menggendongnya berlama-lama.

Malam tahun baru ini kuhabiskan di Kota Tulungagung, kota kelahiran anak istriku. Kebetulan tahun baru ini, Ibuku juga sedang di Jakarta menengok putra sulungnya (kakakku) yang kuminta untuk tinggal di rumahku, sedangkan Bapak menghabiskan malam tahun baru sendirian di kota kelahiranku, PATI.

Di tahun yang baru, ingin rasanya aku pindah tugas ke Jakarta lagi dan anak istriku bisa ikut kumpul bersamaku dalam satu atap. Ingin rasanya seperti keluarga muda lainnya yang bisa berkumpul setiap saat dengan istri dan anak-anaknya yang sedang lucu-lucunya.

Semoga di tahun 2013 nanti, kami sekeluarga bisa lebih bahagia dan menjadi keluarga yang bisa lebih bersyukur akan nikmat-nikmati-Mu ya Allah. Semoga Engka senantiasa melimpahkan kesehatan dan kebahagiaan bagi kami.