Kesan pertama begitu aku memasuki Objek Wisata ini adalah sepi dan kurang terawat. Aku sedikit ragu dengan kondisi objek wisata di dalamnya. Disambut dengan lahan kosong luas yang dipenuhi rumput sebagai tempat parkir. Saat kami kesana terlihat sekitar 3 bus besar parkir dan tidak sampai 50 motor dan cuma beberapa mobil yang parkir.
Usai memarkir motor kami, kami pun langsung menuju gerbang loket tiket masuk. Untuk orang dewasa harus membayar Rp10.000 per orang, jika anak di bawah 4 tahun masih gratis, untungnya Manggala masih belum genap 3 tahun, plus tarif parkir motor Rp3000. Sebelumnya, kami bertanya kepada Mbak-mbak penjaga loket, apakah ada kolam renangnya. Mbaknya pun menjawab,
"Ada Pak di sana, kalau area bermain anak baru dibuka nanti sekitar pukul 4 sore?"
"Waduh, apa-apaan arena bermain anak dibuka mulai pukul 4 sore, sudah mulai mencurigakan nih....!" pikirku saat itu.
Kami pun masuk lokasi wisata dan disambut dengan arena bermain anak-anak yang tidak beroperasi, padahal ada kereta api mini, yang pastinya Manggala senang sekali menaikinya kalau beroperasi. di sampingnya ada danau buatan yang dilengkapi semacam sampan, bebek-bebekan, dan sebuah gelembung bola yang bisa dimasuki orang untuk berjalan-jalan didalamnya sambil menggelinding di atas permukaan danau yang semuanya sedang tidak beroperasi.
Beberapa langkah dari Danau kami disambut batu besar berwarna putih, itulah Gunung Kapur yang mengeluarkan sumber mata air panas. Kami berjalan menuju ke atas bukit kapur dengan pohon-pohon trembesi yang cukup besar berusia puluhan bahkan ratusan tahun membuat teduh di tengah gersangnya lingkungan di sekitarnya. Para penjual makanan minuman banyak yang tutup, tapi tetap ada yang buka dan menawarkan kepada kami kelapa muda, tikar, dan sebagainya.
Ternyata Gunung Kapurnya cukup kecil, cuma kami kelilingi sekitar 5 menit dengan berjalan santai sudah sampai ke tempat semula. Kami pun menghentikan langkah di sebuah rumah pemandian air panas namanya Rumah Bougenvile. Di rumah pemandian air panas itu lagi ramai dengan Ibu-Ibu beserta anak-anak yang habis mandi air panas. Kami pun berniat untuk berendam air panas di situ. Untuk Mandi Air panas di bilik-bilik semacam kamar mandi yang dilengkapi dengan bak dikenakan tarif Rp10.000 per orang. Kami menggunakan satu bilik, cuma Aku dan Manggala yang berendam air panas, sedangkan istriku hanya duduk melihat tingkah polah kami sambil mengabadikannya dengan kamera.
Bak mandinya terlihat putih dengan lapisan kapur seperti stalakmit gua. cukup hangat airnya, dan anehnya airnya ternyata ASIN. malahan Manggala yang tahu lebih dulu kalau airnya sin karena tak sengaja mengecap airnya "Asin-Asin Pak!", ujarnya sambil menjulur-julurkan lidahnya. Dia nampak senang sekali berendam di air hangat itu meskipun berasa asin. Rasa Asin itu mungkin karena tingginya kandungan mineral di air hangat itu, atau jangan-jangan terhubung ke laut, haha.....
Tidak lama-lama kami berendam, karena bahaya jika lama-lama. Sekitar 20 menit berendam, kami pun beranjak keluar bilik dan segera membilas mandi di pancuran air tawar. Puas berendam air panas, kami pun bersantai di bawah pohon besar yang rindang sambil menyewa tikar dan memesan kelapa muda. Senang sekali rasanya bisa berkumpul dengan keluarga kecilku, melihat tawa riang manggala dan senyum mengembang dari istri tercintaku, sayang momen-momen indah seperti itu jarang kami lalui bersama.
Sekitar pukul 1 siang, kami pun beranjak meninggalkan kompleks pemandian air panas, tak lupa kami berfoto dengan background gunung kapur yang eksotis. Kami pulang tidak melewat jalan saat berangkat, melainkan kami pulang melewati Parung seperti yang disarankan si tukang parkir karena jalannya jauh lebih bagus. kami pun dari pintu gerbang belok ke kiri menuju perempatan Ciseeng, menjelang perempatan Ciseeng, jalannya buruk sekali ditambah genangan yang seperti kubangan, huh parah banget, itu jalan terburuk yang pernah kutemui di Jabodetabek. Untungnya nggak terlalu panjang, begitu sampai perempatan dan belok ke kiri menuju parung jalannya pun sudah bagus. Jalan yang Kami tempuh ternyata lebih jauh, tapi nggak papa lah yang penting jalannya bagus. Melewati Pasar Parung ekmudian lurus ke utara menuju daerah Sawangan Depok, dan lurus menuju Ciputat, Kami pun berbelok menuju jalan Aria Putra, dan karena sudah lapar kami pun mampir ke Baksi TiToTi yang cukup terkenal di pinggir jalan Aria Putra, kira-kira 100 meter kanan jalan sebelum belokan jalan Sarua Raya - Bukit Indah.
Lumayan melelahkan perjalanan wisata hari itu, tapi kami puas sudah membuat manggala gembira.
Tuesday, May 19, 2015
Perjalanan Ke Objek Wisata Pemandian Air Panas Tirta Sanita Gunung Kapur, Ciseeng, Bogor
Minggu lalu kurang lebih seminggu kami berada di Jakarta (coret), alias di Tangerang Selatan. Ya saya dan istri sengaja mengambil cuti agar bisa liburan bersama sambil menengok rumah kami di Tangsel. Mosok seminggu di rumah terus, mal, dan pasar, pengen juga cari suasana baru alias berekreasi ke objek wisata.
Sebelumnya saya pernah googling objek wisata di dekat Tangerang Selatan, eh ternyata nemu yang namanya Pemandian Air Panas Tirta Sanita. "Wow di daerah yang dekat dengan ibukota dan jauh dari pegunungan, eh ternyata ada pemandian air panas! Wah penasaran juga nih pengen liat....!", pikirku saat itu. Berbekal dengan pengalaman perjalanan yang diunggah oleh seorang blogger, kami pun mencoba untuk touring ke Pemandian Air Panas Tirta Sanita.
Selasa, 12 Mei 2015 sekitar pukul 9 pagi kami bertiga (bersama istri dan anak) dari perumahan kami di Grand Serpong 2 naik motor butut menuju Gunung Kapur, Ciseeng. Tak lupa kami penuhi dulu bensin motor kami di SPBU jalan Ciater Raya. Kami dari BSD menuju Puspitek Serpong arah Gunung Sindur. Jalan menuju Puspitek sudah cukup bagus dibandingkan sekitar 4 tahun yang lalu ketika aku dan istriku pertama kalinya melewati jalan itu nyasar nyari BKD Tangsel. Nah, begitu melewati Gerbang Perbatasan Wilayah Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor, jalannya mulai memburuk dengan iringan truk-truk bertonase besar yang silih berganti melewati motor bututku. Aku nggak berani melaju cepat-cepat karena membawa anak dan istri mengingat jalan yang jelek, berdebu plus truk-truk besar yang seolah-olah menjadi penguasa jalanan. Tidak sepenuhnya jalan yang kami tempuh jelek, adapula jalan yang cukup baik. Ya kira kira perbandingan ruas jalan yang baik dan buruk 60 : 40 lah....
Capek dengan jalanan dan kurang bersahabat, kami memutuskan untuk mampir ke Alfamart di pinggir jalan beli minuman dingin sambil mengistirahatkan mesin motor. Kutanya pada kasir Alfamart, "Mas lokasi Pemandian Air Panas masih jauh ya?"
"Gunung Kapur ya Mas?, sahutnya.
"Iya Gunung Kapur, Tirta Sanita!", sahutku balik
"O, itu mah udah dekat dari sini, ya kira-kira 15 menit lah dari sini, sebelum perempatan Ciseeng, kiri jalan!"
"Jalannya buruk ya mas?, tanyaku lagi
"Iya rusak, tapi nggak semuanya kok!, ujar si mas kasir dengan ramah
Istirahat sekitar 10 menit kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Selatan menuju Gunung kapur. Ternyata benar jalannya rusak berat, apalagi jalan setelah perempatan alfamart tadi. Waduh kasihan banget Manggala, andai saja bisa kami bawa si hitam ke Jakarta, kan bisa melibas jalanan keparat ini dengan mudah, dan Manggala bisa tidur nyenyak tanpa terkena debu. Tapi ya sudah, kami nikmati saja perjalanan itu.
Seperti yang dibilang Mas Kasir tadi, sekitar 15 menit beranjak dari alfamart, kami pun sampai di Pintu Gerbang Objek Wisata Pemandian Air Panas Tirta Sanita. (bersambung)
Sebelumnya saya pernah googling objek wisata di dekat Tangerang Selatan, eh ternyata nemu yang namanya Pemandian Air Panas Tirta Sanita. "Wow di daerah yang dekat dengan ibukota dan jauh dari pegunungan, eh ternyata ada pemandian air panas! Wah penasaran juga nih pengen liat....!", pikirku saat itu. Berbekal dengan pengalaman perjalanan yang diunggah oleh seorang blogger, kami pun mencoba untuk touring ke Pemandian Air Panas Tirta Sanita.
Selasa, 12 Mei 2015 sekitar pukul 9 pagi kami bertiga (bersama istri dan anak) dari perumahan kami di Grand Serpong 2 naik motor butut menuju Gunung Kapur, Ciseeng. Tak lupa kami penuhi dulu bensin motor kami di SPBU jalan Ciater Raya. Kami dari BSD menuju Puspitek Serpong arah Gunung Sindur. Jalan menuju Puspitek sudah cukup bagus dibandingkan sekitar 4 tahun yang lalu ketika aku dan istriku pertama kalinya melewati jalan itu nyasar nyari BKD Tangsel. Nah, begitu melewati Gerbang Perbatasan Wilayah Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor, jalannya mulai memburuk dengan iringan truk-truk bertonase besar yang silih berganti melewati motor bututku. Aku nggak berani melaju cepat-cepat karena membawa anak dan istri mengingat jalan yang jelek, berdebu plus truk-truk besar yang seolah-olah menjadi penguasa jalanan. Tidak sepenuhnya jalan yang kami tempuh jelek, adapula jalan yang cukup baik. Ya kira kira perbandingan ruas jalan yang baik dan buruk 60 : 40 lah....
Capek dengan jalanan dan kurang bersahabat, kami memutuskan untuk mampir ke Alfamart di pinggir jalan beli minuman dingin sambil mengistirahatkan mesin motor. Kutanya pada kasir Alfamart, "Mas lokasi Pemandian Air Panas masih jauh ya?"
"Gunung Kapur ya Mas?, sahutnya.
"Iya Gunung Kapur, Tirta Sanita!", sahutku balik
"O, itu mah udah dekat dari sini, ya kira-kira 15 menit lah dari sini, sebelum perempatan Ciseeng, kiri jalan!"
"Jalannya buruk ya mas?, tanyaku lagi
"Iya rusak, tapi nggak semuanya kok!, ujar si mas kasir dengan ramah
Istirahat sekitar 10 menit kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Selatan menuju Gunung kapur. Ternyata benar jalannya rusak berat, apalagi jalan setelah perempatan alfamart tadi. Waduh kasihan banget Manggala, andai saja bisa kami bawa si hitam ke Jakarta, kan bisa melibas jalanan keparat ini dengan mudah, dan Manggala bisa tidur nyenyak tanpa terkena debu. Tapi ya sudah, kami nikmati saja perjalanan itu.
Seperti yang dibilang Mas Kasir tadi, sekitar 15 menit beranjak dari alfamart, kami pun sampai di Pintu Gerbang Objek Wisata Pemandian Air Panas Tirta Sanita. (bersambung)
Monday, May 18, 2015
Berkunjung ke Kota Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara (Bagian III)
Malam hari di Muara Teweh jangan dibayangkan seperti malam hari di kota-kota besar di Kalimantan, apalagi dibandingkan dengan Kota Besar di Jawa, jelas jauh berbeda, sepi tapi sedikit lebih ramai daripada Buntok. Malam itu kebetulan hujan gerimis, nah asiknya makan malam yang bikin anget. Driver kami, Mas Jun menyarankan kami untuk mencoba sate atau tongseng Rusa, salah satu makanan khas di Muara Teweh yang patut dicoba. Ok, kami pun mencobanya dengan banderol harga sate per porsinya sekitar Rp40ribu, tidak mengecewakan lah. Tekstur daging rusanya cukup empuk, kayak daging sapi. Menurutku pribadi, aku lebih prefer sate kambing daripada sate Rusa yang kucoba di Muara Teweh, tapi overall patut dicoba lah daging Rusanya, paling tidak untuk memuaskan rasa penasaran. Usai makan malam, kami berkeliling lagi kota Muara Teweh dan ketemu itu-itu saja, yah maklum lah karena kotanya cukup kecil.
Keesokan harinya, usai sarapan kami pun langsung check out dari hotel. Sebelum meninggalkan Kota Muara Teweh kami mampir ke Kantor Kemenag Muara Teweh, kemudian kami berfoto di Patung Durian di salah satu perempatan di Muara Teweh, dan kami akhiri mengunjungi Kantor Layanan Filial KPPN Buntok di Muara Teweh.
Oiya ada satu yang kelupaan diceritain, ternyata di Muara Teweh hanya ada satu traffic Light, dan itupun lampunya sudah nggak berfungsi lagi, asiknya ya nggak perlu nunggu lama di perempatan, hehe....
Pulang dari Muara Teweh kami melalui jalan yang sedikit beda, yaitu sebelum memasuki Ampah, kami berbelok ke Kanan melalui Jalan Khusus Perusahaan Batubara. Jalannya cukup lebar namun kasar tidak diaspal sehalus jalan raya Muara Teweh - Buntok. Jalan ini cukup signifikan memotong waktu perjalanan paling tidak 30 menit dan tembus di daerah Sanggu, dekat dengan Rumah Dinas Bupati Buntok. Perjalanan Pulang kami dari Muara Teweh ke Buntok hanya butuh sekitar 3 jam saja, lumayan lebih cepat daripada berangkatnya.
Keesokan harinya, usai sarapan kami pun langsung check out dari hotel. Sebelum meninggalkan Kota Muara Teweh kami mampir ke Kantor Kemenag Muara Teweh, kemudian kami berfoto di Patung Durian di salah satu perempatan di Muara Teweh, dan kami akhiri mengunjungi Kantor Layanan Filial KPPN Buntok di Muara Teweh.
Oiya ada satu yang kelupaan diceritain, ternyata di Muara Teweh hanya ada satu traffic Light, dan itupun lampunya sudah nggak berfungsi lagi, asiknya ya nggak perlu nunggu lama di perempatan, hehe....
Pulang dari Muara Teweh kami melalui jalan yang sedikit beda, yaitu sebelum memasuki Ampah, kami berbelok ke Kanan melalui Jalan Khusus Perusahaan Batubara. Jalannya cukup lebar namun kasar tidak diaspal sehalus jalan raya Muara Teweh - Buntok. Jalan ini cukup signifikan memotong waktu perjalanan paling tidak 30 menit dan tembus di daerah Sanggu, dekat dengan Rumah Dinas Bupati Buntok. Perjalanan Pulang kami dari Muara Teweh ke Buntok hanya butuh sekitar 3 jam saja, lumayan lebih cepat daripada berangkatnya.
Berkunjung ke Kota Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara (Bagian II)
Memasuki Kota Muara Teweh, kondisi yang berbeda dengan kesan yang kujumpai saat memasuki kota Buntok pertama kali. Lumayan ramai dan hidup kotanya dengan lalu lalang masyarakatnya yang sepertinya lebih banyak dibandingkan masyarakat Buntok.
Muara Teweh konturnya tidak sedatar kota Buntok meskipun sama-sama berada di tepian Sungai Barito. Lebih banyak jalan naik turun di dalam kotanya. Kami pun berkeliling kota yang cukup kecil bila dibandingkan dengan kota-kota setingkat kabupaten di Pulau Jawa. Ketika melewati tepian sungai Barito, pandangan kami tertuju pada tulisan besar MUARA TEWEH yang berdiri di tepian sungai Barito dengan plaza taman yang menjadi ruang publik bagi masyarakat Muara Teweh. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto dengan background tulisan Muara Teweh.
Usai puas berfoto-foto, kami pun mampir ke KPP Pratama Muara Teweh untuk bersilaturahmi, kebetulan beberapa pegawaianya ada yang pernah menjadi siswa didikku di Balikpapan meskipun aku sudah pangling dengan wajah-wajah mereka sekarang. Kurang lebih satu jam kami mengobrol dengan beberapa pejabat KPP berbagi cerita suka dukanya bertugas jauh di pedalaman Kalimantan Tengah.
Dari KPP Muara Teweh kami langsung menuju Hotel Armani, Hotel terbagus di Muara Teweh untuk saat ini. Dikelola cukup profesional meskipun di kota kecil sekelas Muara Teweh. Cukup representative hotelnya. Kamarnya bersih, dengan springbed yang berkualitas dan toilet yang bersih. Air panasnya juga berjalan lancar, lengkap dengan TV kabelnya. Namun ada satu yang kurang dari hotel ini, kamar yang kuhuni, bahkan sebagian besar kamar ternyata tidak ada jendelanya... Oh No... kita tidak bisa tahu hari sudah siang atau gelap, cuma bisa tahu lewat jam saja. Untungnya kamarnya cukup representative. Untuk sarapan pagi lumayan juga, lebih lengkap daripada makanan Hotel di Buntok, lebih terlihat penyajiannya standar hotel. Dengan kamar yang cukup terjangkau, fasilitasnya cukup memadai, ya worth it lah.....
Muara Teweh konturnya tidak sedatar kota Buntok meskipun sama-sama berada di tepian Sungai Barito. Lebih banyak jalan naik turun di dalam kotanya. Kami pun berkeliling kota yang cukup kecil bila dibandingkan dengan kota-kota setingkat kabupaten di Pulau Jawa. Ketika melewati tepian sungai Barito, pandangan kami tertuju pada tulisan besar MUARA TEWEH yang berdiri di tepian sungai Barito dengan plaza taman yang menjadi ruang publik bagi masyarakat Muara Teweh. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto dengan background tulisan Muara Teweh.
Usai puas berfoto-foto, kami pun mampir ke KPP Pratama Muara Teweh untuk bersilaturahmi, kebetulan beberapa pegawaianya ada yang pernah menjadi siswa didikku di Balikpapan meskipun aku sudah pangling dengan wajah-wajah mereka sekarang. Kurang lebih satu jam kami mengobrol dengan beberapa pejabat KPP berbagi cerita suka dukanya bertugas jauh di pedalaman Kalimantan Tengah.
Dari KPP Muara Teweh kami langsung menuju Hotel Armani, Hotel terbagus di Muara Teweh untuk saat ini. Dikelola cukup profesional meskipun di kota kecil sekelas Muara Teweh. Cukup representative hotelnya. Kamarnya bersih, dengan springbed yang berkualitas dan toilet yang bersih. Air panasnya juga berjalan lancar, lengkap dengan TV kabelnya. Namun ada satu yang kurang dari hotel ini, kamar yang kuhuni, bahkan sebagian besar kamar ternyata tidak ada jendelanya... Oh No... kita tidak bisa tahu hari sudah siang atau gelap, cuma bisa tahu lewat jam saja. Untungnya kamarnya cukup representative. Untuk sarapan pagi lumayan juga, lebih lengkap daripada makanan Hotel di Buntok, lebih terlihat penyajiannya standar hotel. Dengan kamar yang cukup terjangkau, fasilitasnya cukup memadai, ya worth it lah.....
Tuesday, May 5, 2015
Berkunjung ke Kota Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara (Bagian I)
Muara Teweh, nama kota yang baru kudengar sekitar 3 tahun terakhir ini, ketika aku bertugas di Balikpapan. Nama yang identik dengan daerah terpencil di pedalaman Kalimantan Tengah, yang jauh dari mana-mana, yang seringkali pula kudengar ke sana hanya bisa diakses melalui sungai Barito dengan perahu boat. Sekarang ketika aku bertugas di Pontianak, malah berkesempatan berkunjung ke sana.
Usai acara di Buntok, kami pun melanjutkan perjalanan ke Muara Teweh. Jarak antara Buntok dan Muara Teweh sekitar 150 km yang bisa ditempuh dalam waktu kira-kira 3,5 jam. Berbeda dengan perjalanan dari Palangkaraya ke Buntok yang jalanannya cukup datar dengan dominasi hutan rawa gambut di kanan kirinya, perjalanan dari Buntok ke Muara Teweh memberikan pemandangan dan kondisi yang jauh berbeda.
Berangkat usai makan siang di Buntok, kami naik Kijang Innova melibas perjalanan yang lumayan tidak membosankan menuju kota di pedalaman Kalimantan Tengah. Melintasi jalan raya yang cukup mulus namun agak sempit, kami pun menyusuri jalan dengan latar hutan perbukitan dengan hutan yang lumayan lebat namun sudah tidak ada pohon-pohon dengan kayu berdiameter besar ciri khas hutan hujan tropis yang masih perawan. Mungkin pohon-pohon besar di sepanjang jalan Buntok-Muara Teweh ini sudah habis ditebang pada masa kejayaan industri kayu di Kalimantan pada dekade 70-an sampai dengan awal 90-an.
Di tengah perjalanan kami melintasi daerah Ampah, yang merupakan titik persimpangan jika ke arah kanan akan ke kabupaten Barito Timur melintasi Kota Tamiang Layang, hingga bisa tembus sampai Banjarmasin, jika ke kiri lurus menuju Kabupaten Barito Utara dengan ibukotanya Muara Teweh. Kami sempat berhenti di masjid besar tepi jalan raya Ampah yang menurutku cukup besar untuk ukuran kota kecamatan di Kalimantan. Masjidnya baru direnovasi, namun tetap terkesan bersih dan lapang. Usai menunaikan sholat, kami pun melanjutan perjalanan yang masih sekitar 2 jam menuju Muara Teweh.
Dari Buntok ke Ampah, jalanan masih datar, tapi selepas AMpah jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok hingga Muara Teweh. Jalan Buntok - Muara Teweh sudah ada jauh sebelum jalan Palangkaraya - Buntok dibangun, namun jalan ini masih rawan longsor di titik-titik tertentu, terutama yang di pinggirnya berupa jurang. Masih cukup asri hutan di kanan-kiri jalan Ampah - Muara Teweh, sehingga mata ini pun tidak bosan dimanjakan dengan pemandangan hijau hutan dengan latar perbukitan Daerah Aliran Sungai Barito ini.
Menjelang pukul 4 sore kami pun mulai masuk Kota Muara Teweh ditandai dengan Jembatan Sungai Barito yang nampak gagah membentang panjang melintasi sungai terlebar di Indonesia ini.
Usai acara di Buntok, kami pun melanjutkan perjalanan ke Muara Teweh. Jarak antara Buntok dan Muara Teweh sekitar 150 km yang bisa ditempuh dalam waktu kira-kira 3,5 jam. Berbeda dengan perjalanan dari Palangkaraya ke Buntok yang jalanannya cukup datar dengan dominasi hutan rawa gambut di kanan kirinya, perjalanan dari Buntok ke Muara Teweh memberikan pemandangan dan kondisi yang jauh berbeda.
Berangkat usai makan siang di Buntok, kami naik Kijang Innova melibas perjalanan yang lumayan tidak membosankan menuju kota di pedalaman Kalimantan Tengah. Melintasi jalan raya yang cukup mulus namun agak sempit, kami pun menyusuri jalan dengan latar hutan perbukitan dengan hutan yang lumayan lebat namun sudah tidak ada pohon-pohon dengan kayu berdiameter besar ciri khas hutan hujan tropis yang masih perawan. Mungkin pohon-pohon besar di sepanjang jalan Buntok-Muara Teweh ini sudah habis ditebang pada masa kejayaan industri kayu di Kalimantan pada dekade 70-an sampai dengan awal 90-an.
Di tengah perjalanan kami melintasi daerah Ampah, yang merupakan titik persimpangan jika ke arah kanan akan ke kabupaten Barito Timur melintasi Kota Tamiang Layang, hingga bisa tembus sampai Banjarmasin, jika ke kiri lurus menuju Kabupaten Barito Utara dengan ibukotanya Muara Teweh. Kami sempat berhenti di masjid besar tepi jalan raya Ampah yang menurutku cukup besar untuk ukuran kota kecamatan di Kalimantan. Masjidnya baru direnovasi, namun tetap terkesan bersih dan lapang. Usai menunaikan sholat, kami pun melanjutan perjalanan yang masih sekitar 2 jam menuju Muara Teweh.
Dari Buntok ke Ampah, jalanan masih datar, tapi selepas AMpah jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok hingga Muara Teweh. Jalan Buntok - Muara Teweh sudah ada jauh sebelum jalan Palangkaraya - Buntok dibangun, namun jalan ini masih rawan longsor di titik-titik tertentu, terutama yang di pinggirnya berupa jurang. Masih cukup asri hutan di kanan-kiri jalan Ampah - Muara Teweh, sehingga mata ini pun tidak bosan dimanjakan dengan pemandangan hijau hutan dengan latar perbukitan Daerah Aliran Sungai Barito ini.
Menjelang pukul 4 sore kami pun mulai masuk Kota Muara Teweh ditandai dengan Jembatan Sungai Barito yang nampak gagah membentang panjang melintasi sungai terlebar di Indonesia ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)