Cowok kok suka belanja.......itulah kalimat yang sering terdengar akhir2 ini. Mungkin di zaman orang tua kita, mungkin terdengar aneh jika seorang cowok gemar belanja. Pusat-pusat perbelanjaan kala itu mungkin hanya dipenuhi oleh cewek-cewek ato ibu2 yang sering berebut barang obralan.
Tahun terus berganti, sekarang sudah tahun 2010, zaman dimana konsumerisme melanda dunia termasuk Indonesia. Para wanita tidak lagi menjadi satu-satunya target utama perusahaan-perusahaan multinasional, sekarang mereka mendapat pesaing yaitu LELAKI. Saat ini kita tidak sulit menjumpai pria yang menyambangi mal-mal dengan menenteng barang belanjaan dalam jumlah besar terutama barang-barang fashion. Para Pria di zaman bahuela yang terkenal sangat berhati-hati dalam mengeluarkan uangnya, di zaman sekarang sudah langka pria model seperti itu. Gempuran iklan di televisi, internet, maupun media cetak sudah mampu merubah stereotip pria yang dulunya sangat berhati-hati me-manage uang menjadi royal dalam menghamburkan uang untuk belanja. Terlebih lagi bagi pria yang menganut gaya hidup metrosexual yang harus mengerti tentang mode terbaru, wangi, rapi, dan necis tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk belanja barang-barang guna menunjang penampilannya.
Diskon besar-besaran yang digelar berbagai pusat perbelanjaan di Jakarta menjelang lebaran tahun ini juga tidak hanya menarik minat perempuan tuk menyambanginya, tapi para pria pun berjubel di pusat-pusat perbelanjaan itu. Fenomena apakah ini, apakah sekedar efek dari gencarnya iklan di media masa, atau sudah terbentuk budaya baru bahwa pria tidak boleh kalah dengan wanita dalam hal penampilan?
Saturday, September 4, 2010
Petualanganku di Aceh (episode 3)
Malam pertama di Aceh kami lalui dengan tidur yang sangat nyeyak. Hari kedua kami mensurvei daerah yang akan kami lakukan penelitian yaitu di daerah Aceh Besar di sebelah Timur Banda Aceh. Kami melihat ada beberapa penanaman mangrove di lahan pasang surut dan itulah yang kami cari. Setelah melihat sekilas gambaran lokasi penelitian itu kami langsung menuju Banda Aceh untuk menjalankan Sholat Jum'at di Masjid Raya Baiturrahman. Sebelumnya kami makan siang di rumah makan kare kambing ditemani dengan es timun serut yang sangat segar di tengah cuaca Banda Aceh yang sangat terik kala itu. Akhirnya ku bisa sholat di masjid megah yang seringkali hanya kulihat di TV itu.
Usai Sholat Jum'at kami diajak Pak Syaminuddin untuk jalan2 keluar Banda Aceh, tepatnya melihat kawasan Lhok Nga. Sepanjang jalan menuju Lhok Nga ku lihat kanan kiri barak-barak ataupun tenda pengungsian, Bangunan yang luluh lantak akibat tsunami, dan kawasan yang relatif luas dan berisikan sampah tsunami. Di pinggir jalan yang kulalui ada yang membuatku takjub adalah Rumah Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien yang masih utuh kokoh berdiri. Menurut Pak Syam , rumah tersebut masih berdiri karena berada tepat di balik bukit sehingga melindunginya dari hempasan tsunami langsung dari Samudra Hindia. Mobil Pak Syam terus melaju sambil terus kuarahkan kameraku untuk potret sana-sini dari balik jendela mobil. Akhirnya kulihat Pantai berpasir putih dan berair biru kehijauan yang di tepinya berdiri tegak bukit-bukit yang hijau, itulah Pantai Lhok Nga yang terkenal sebagai tempat wisata pantai bagi masyarakat Banda Aceh. Aku tidak bisa membayangkan pantai sebagus itu dihempas tsunami yang dahsyat. Mobil pun terus melaju tiba-tiba dari kejauhan aku melihat di kiri jalan ada sebuah pabrik besar yang kondisinya agak rusak. Pabrik itu adalah Pabrik semen Andalas yang juga tak luput dari amukan tsunami yang menewaskan banyak pekerjanya saat itu. Di dekat pabrik itu ada dua buah kapal besar yang terdampar, yang salah satunya adalah kapal tangker yang sangat besar yang terhempas karam di daratan yang berjarak kira-kira 75 meter dari bibir pantai. Wow.......sungguh dahsyat hempasan tsunami saat itu, sampai2 kapal segede itu bisa tak berdaya olehnya.
Puas berfoto ria di dekat kapal yang karam tadi, kami melanjutkan untuk melihat Masjid Lhok Nga yang tetap berdiri kokoh dan menjadi satu-satunya bangunan di Lhok Nga yang masih utuh. masjid Lhok Nga yang hanya berjarak beberapa meter dari bibir pantai dan dulunya dikelilingi pemukiman yang relatif padat, menjadi saksi bisu bagaimana tsunami menyapu habis pemukiman di sekitarnya. Jejak ketinggian tsunami bisa kita lihat dengan mengamati puncak kubah utama masjid yang ada bekas endapan air tsunami yang mengering. Saat itu yang terlihat di sekitar masjid hanya tenda-tenda pengungsian yang sangat padat. Betapa keagungan Tuhan mampu meruntuhkan logika manusia.
Hari kedua kami akhiri di rumah makan Mie Aceh yang cukup terkenal di dekat hotel kami. Makanan ini kulihat berkolesterol tinggi, tapi masyarakat Aceh mensiasati makanan2 berkolesterol tinggi dengan mengimbanginya dengan semacam acar bawang merah yang jujur secara pribadi aku tak menyukainya. Di malam kedua itu aku juga sudah tidak tinggal sekamar dengan kedua dosenku. Aku pindah ke kamar kecil di lantai 1 yang lebih sederhana bertarif 75 ribu semalam, tapi yang penting aku bisa tidur nyenyak. (bersambung)
Usai Sholat Jum'at kami diajak Pak Syaminuddin untuk jalan2 keluar Banda Aceh, tepatnya melihat kawasan Lhok Nga. Sepanjang jalan menuju Lhok Nga ku lihat kanan kiri barak-barak ataupun tenda pengungsian, Bangunan yang luluh lantak akibat tsunami, dan kawasan yang relatif luas dan berisikan sampah tsunami. Di pinggir jalan yang kulalui ada yang membuatku takjub adalah Rumah Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien yang masih utuh kokoh berdiri. Menurut Pak Syam , rumah tersebut masih berdiri karena berada tepat di balik bukit sehingga melindunginya dari hempasan tsunami langsung dari Samudra Hindia. Mobil Pak Syam terus melaju sambil terus kuarahkan kameraku untuk potret sana-sini dari balik jendela mobil. Akhirnya kulihat Pantai berpasir putih dan berair biru kehijauan yang di tepinya berdiri tegak bukit-bukit yang hijau, itulah Pantai Lhok Nga yang terkenal sebagai tempat wisata pantai bagi masyarakat Banda Aceh. Aku tidak bisa membayangkan pantai sebagus itu dihempas tsunami yang dahsyat. Mobil pun terus melaju tiba-tiba dari kejauhan aku melihat di kiri jalan ada sebuah pabrik besar yang kondisinya agak rusak. Pabrik itu adalah Pabrik semen Andalas yang juga tak luput dari amukan tsunami yang menewaskan banyak pekerjanya saat itu. Di dekat pabrik itu ada dua buah kapal besar yang terdampar, yang salah satunya adalah kapal tangker yang sangat besar yang terhempas karam di daratan yang berjarak kira-kira 75 meter dari bibir pantai. Wow.......sungguh dahsyat hempasan tsunami saat itu, sampai2 kapal segede itu bisa tak berdaya olehnya.
Puas berfoto ria di dekat kapal yang karam tadi, kami melanjutkan untuk melihat Masjid Lhok Nga yang tetap berdiri kokoh dan menjadi satu-satunya bangunan di Lhok Nga yang masih utuh. masjid Lhok Nga yang hanya berjarak beberapa meter dari bibir pantai dan dulunya dikelilingi pemukiman yang relatif padat, menjadi saksi bisu bagaimana tsunami menyapu habis pemukiman di sekitarnya. Jejak ketinggian tsunami bisa kita lihat dengan mengamati puncak kubah utama masjid yang ada bekas endapan air tsunami yang mengering. Saat itu yang terlihat di sekitar masjid hanya tenda-tenda pengungsian yang sangat padat. Betapa keagungan Tuhan mampu meruntuhkan logika manusia.
Hari kedua kami akhiri di rumah makan Mie Aceh yang cukup terkenal di dekat hotel kami. Makanan ini kulihat berkolesterol tinggi, tapi masyarakat Aceh mensiasati makanan2 berkolesterol tinggi dengan mengimbanginya dengan semacam acar bawang merah yang jujur secara pribadi aku tak menyukainya. Di malam kedua itu aku juga sudah tidak tinggal sekamar dengan kedua dosenku. Aku pindah ke kamar kecil di lantai 1 yang lebih sederhana bertarif 75 ribu semalam, tapi yang penting aku bisa tidur nyenyak. (bersambung)
Tuesday, August 17, 2010
17 Agustus 2010
Hari ini Selasa 17 Agustus 2010, bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-65, kuhabiskan waktuku hanya di kamar kos. Tadi pagi aku tidak ikut upacara bendera karena hari ini aku tidak mendapat giliran dari kantorku untuk ikut upacara tujuh belasan di Lapangan Banteng. Dari kamarku yang sempit aku menonton tayangan upacara 17 Agustus di Istana Merdeka yang disiarkan live oleh Metro TV. Di Metro TV juga sekilas menayangkan wawancara singkat reporter Metro TV kepada Dewi Soekarno, wanita Jepang istri mendiang Presiden Pertama RI Ir. Soekarno yang kebetulan saat itu sedang menghadiri Upacara Peringatan HUT RI di Universitas Bung Karno sekaligus peresmian Patung Bung Karno di Halaman Universitas itu. Sudah lama aku penasaran dengan sosok Dewi Soekarno yang sering terdengar dengan kontroversinya di luar negeri, terutama setelah aku membaca buku "Sakura di tengah Prahara" yang menceritakan sepotong kisah hidupnya.
Siang harinya temanku si Gendut yang juga se-kos denganku menyarankanku untuk melihat DVD bajakan "Up in The Air" yang dibintangi oleh bintang Ocean Eleven, George Clooney. Film Drama yang menyajikan tema cerita yang tidak biasa ini memang sangat menarik. Film ini berkisah tentang seseorang bernama Ryan Bingham yang mempunyai pekerjaan yang tidak biasa yaitu bekerja pada perusahaan yang spesialisasinya untuk memberikan jasa kepada perusahaan lain yang ingin mem-PHK seseorang dalam pekerjaannya. Karena banyaknya perusahaan-perusahaan yang menginginkan jasanya untuk menghadapi karyawan yang akan di-PHK, dia selalu melakukan perjalanan dari perusahaan satu ke perusahaan lain di berbagai negara bagian di Amerika Serikat. Hal itu berkonsekuensi dirinya lebih sering di udara daripada di rumahnya di Omaha. Ryan juga tidak percaya akan komitmen dan manfaat dari pernikahan sehingga hingga usianya yang setengah baya dia masih melajang. Suatu saat dalam perjalanannya dia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya terpesona dan menganggap bahwa wanita tersebut juga mempunyai prinsip seperti dia. Terinspirasi dengan pernikahan adiknya dan kegundahan hatinya tentang arti sebuah pasangan hidup, menuntunnya untuk menemui wanita yang dikenalnya itu di rumahnya, Chicago dengan harapan membina hubungan yang lebih serius. Namun ternyata wanita yang dicintainya itu sudah mempunyai anak dan suami, dan dia dianggap hanya sebagai pelarian saja.
Film ini menyuguhkan konflik antara pekerjaan dengan perasaan. Pekerjaan untuk mem-PHK orang adalah pekerjaan yang sulit karena tentu menyakiti hati seseorang yang di-PHK itu dan jelas membutuhkan mental yang kuat untuk tetap menjalaninya. Nah, George Clooney dalam hal film ini menyuguhkan akting yang sangat memukau, dengan mencirikan keahlian bernegosiasinya dan gayanya yang flamboyan, menjadikan film ini terlihat natural dan tidak membosankan. Hal lain yang aku cermati dalam film ini adalah, sisi komersialnya. Dalam beberapa scene terlihat sang aktor menggunakan Blackberry ataupun sesuai tema film ini yang banyak menggunakan setting pesawat terbang, film ini juga mempromosikan betapa banyak benefit yang kita dapatkan jika kita tetap setia dengan maskapai penerbangan tertentu, seperti kemudahan dalam check in, reservasi di hotel pilihan, ataupun club-club yang menawarkan gaya hidup kelas atas. Yang bisa kupetik dari film ini adalah tentang conflict of interest dalam pekerjaan itu adalah hal yang biasa dan harus dilalui dengan cara yang smart, dan komitmen yang kuat terhadap pasangan harus senantiasa dipupuk untuk melanggengkan ikatan pernikahan.
Melihat film "Up in The Air", aku membayangkan bagaimana jika sosok Ryan Bingham yang ada dalam film itu adalah diriku. Ha ha ha.....ngaco ah...!
Tuesday, June 29, 2010
Selamat Datang Bapak Permana Agung
Tadi pagi seluruh pegawai kantorku dikumpulkan untuk bertemu Bapak Permana Agung selaku Pjs. Kepala Badan yang baru guna diberikan pengarahan dan sharing keadaan serta permasalahan yang ada di unit kami. Beliau yang pernah menjabat sebagai Dirjen Bea Cukai, Irjen Depkeu, dan Dirjen Kekayaan Negara, serta yang terakhir sebagai Staf Ahli Hubungan Ekonomi Internasional memberikan pengarahan yang membuat kami kagum dan terpesona atas jiwa kepemimpinannya.
Kami sebagai pelaksana sangat merindukan sosok pemimpin seperti Beliau. Dalam pengarahannya kami dibuatnya terpukau, baik itu oleh gaya bicaranya yang berapi-api dan mampu memotivasi dan menginspirasi, kedalaman materi yang Beliau ungkapkan.
Beliau tadi mengulas tentang IPM (Indeks Pembangunan Manusia), beliau menyoroti penyebab dari rendahnya IPM Indonesia (peringkat 111 tahun 2009) dikarenakan oleh;
Beliau juga menyoroti tentang kepemimpinan. Menurut beliau peran seorang pemimpin sangatlah vital dalam menentukan suasana kerja yang bisa merubah perilaku (behaviour) anak buahnya. Suasana kerja yang mendukung dan sarana prasarana yang memadai sangat diperlukan untuk mewujudkan karya yang optimal dari seluruh pegawai. Bagaimana mungkin pegawai yang mempunyai kompetensi yang cukup bagus, namun tidak didukung fasilitas yang memadai untuk mencapai hasil optimal, pasti unit organisasi tidak bisa mewujudkan hasil yang maksimal pula. Pemimpin juga diharapkan tidak sekedar bisa menginspirasi pegawainya tapi harus mampu memotivasi sehingga tidak hanya mampu merubah cara berpikir (way of Thinking) melainkan juga dalam tindakannya. Pemimpin juga harus mampu memandang konflik dengan sudut positif term yang mana konflik itu bukan dianggap sebagai suatu hal yang mengancam melainkan sebagai ide-ide baru, menemukan solusi yang lebih baik dan efisien sehingga organisasi bisa lebih produktif. Pemimpin juga harus mampu memberikan ruang yang luas dan menciptakan suasana yang nyaman bagi anak buahnya untuk menyatakan pendapat dan tidak takut walaupun bertentangan dengan pendapat umum.
Bapak Permana Agung juga menyoroti tentang PNS di Indonesia dengan mengutip pernyataan Menpan Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) yaitu Taufiq Effendi yang mengungkapkan jika Birokrasi Indonesia itu Gemuk, Rakus dan Malas. Pernyataan ini menginspirasi Beliau untuk memotivasi kami agar menjadi PNS yang berdedikasi tinggi terhadap Negara. Beliau juga mengutip beberapa ayat dari Al-Quran mengenai Tuhan Maha Kuasa, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui. Jadi bisa dikaitkan bahwa seseorang harus 'mengetahui' dalam hal ini mempunyai kompetensi, kemudian setelah memiliki kompetensi dia harus bijaksana dalam menyalurkan kompetensinya itu, dan jika dia mampu bijaksana maka kekuasaan akan didapatkannya, sehingga dia akan menjadi Pemimpin yang bijaksana dengan mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan sebagai seorang pemimpin.
Beliau juga mengulas bahwa believe (keyakinan) adalah sesuatu yang paling sulit diubah dari seseorang. Namun sebagai seorang pemimpin setidaknya bisa merubah behaviour (perilaku) dari anak buahnya dari yang negatif menjadi positif, karena jika sarana prasana sudah memadai dan sistem telah terstruktur baik namun masih belum tercapai keadaan yang diinginkan, maka behaviour manusia yang ada didalamnya lah yang perlu diubah dengan menciptakan suasana kerja yang kondusif.
2 jam kurang lebihnya Beliau bersama kami pagi tadi. Sepanjang 2 jam itu aku tidak sempat merekamnya bahkan mencatatnya sekalipun. Jadi tulisan ini sekedar hal-hal yang kuingat dalam pertemuan tadi pagi yang tidak luput dari kealphaan. Pertemuan pagi tadi adalah kali kedua aku melihat secara langsung Beliau, sebelumnya aku pernah diwawancara langsung oleh Beliau di Banteng. Sosoknya memang tegas dan berwibawa. Maju terus Pak Permana Agung!
Kami sebagai pelaksana sangat merindukan sosok pemimpin seperti Beliau. Dalam pengarahannya kami dibuatnya terpukau, baik itu oleh gaya bicaranya yang berapi-api dan mampu memotivasi dan menginspirasi, kedalaman materi yang Beliau ungkapkan.
Beliau tadi mengulas tentang IPM (Indeks Pembangunan Manusia), beliau menyoroti penyebab dari rendahnya IPM Indonesia (peringkat 111 tahun 2009) dikarenakan oleh;
- Kekurang pedulian terhadap kualitas pendidikan
- Pembangunan di Indonesia yang lebih fokus terhadap pertumbuhan ekonomi, bukan fokus terhadap pembangunan kualitas manusia Indonesia seperti yang diamanatkan dalam GBHN (pembangunan manusia Indonesia seutuhnya) atau dalam Renstra yang seperti sekarang ini.
- Permasalahan anggaran. Dulu anggaran merupakan permasalahan (anggaran kurang). Tapi sekarang merupakan pertanyaan??? (setelah anggaran mencukupi tapi kualitas pendidikan tetap buruk).
Beliau juga menyoroti tentang kepemimpinan. Menurut beliau peran seorang pemimpin sangatlah vital dalam menentukan suasana kerja yang bisa merubah perilaku (behaviour) anak buahnya. Suasana kerja yang mendukung dan sarana prasarana yang memadai sangat diperlukan untuk mewujudkan karya yang optimal dari seluruh pegawai. Bagaimana mungkin pegawai yang mempunyai kompetensi yang cukup bagus, namun tidak didukung fasilitas yang memadai untuk mencapai hasil optimal, pasti unit organisasi tidak bisa mewujudkan hasil yang maksimal pula. Pemimpin juga diharapkan tidak sekedar bisa menginspirasi pegawainya tapi harus mampu memotivasi sehingga tidak hanya mampu merubah cara berpikir (way of Thinking) melainkan juga dalam tindakannya. Pemimpin juga harus mampu memandang konflik dengan sudut positif term yang mana konflik itu bukan dianggap sebagai suatu hal yang mengancam melainkan sebagai ide-ide baru, menemukan solusi yang lebih baik dan efisien sehingga organisasi bisa lebih produktif. Pemimpin juga harus mampu memberikan ruang yang luas dan menciptakan suasana yang nyaman bagi anak buahnya untuk menyatakan pendapat dan tidak takut walaupun bertentangan dengan pendapat umum.
Bapak Permana Agung juga menyoroti tentang PNS di Indonesia dengan mengutip pernyataan Menpan Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) yaitu Taufiq Effendi yang mengungkapkan jika Birokrasi Indonesia itu Gemuk, Rakus dan Malas. Pernyataan ini menginspirasi Beliau untuk memotivasi kami agar menjadi PNS yang berdedikasi tinggi terhadap Negara. Beliau juga mengutip beberapa ayat dari Al-Quran mengenai Tuhan Maha Kuasa, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui. Jadi bisa dikaitkan bahwa seseorang harus 'mengetahui' dalam hal ini mempunyai kompetensi, kemudian setelah memiliki kompetensi dia harus bijaksana dalam menyalurkan kompetensinya itu, dan jika dia mampu bijaksana maka kekuasaan akan didapatkannya, sehingga dia akan menjadi Pemimpin yang bijaksana dengan mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan sebagai seorang pemimpin.
Beliau juga mengulas bahwa believe (keyakinan) adalah sesuatu yang paling sulit diubah dari seseorang. Namun sebagai seorang pemimpin setidaknya bisa merubah behaviour (perilaku) dari anak buahnya dari yang negatif menjadi positif, karena jika sarana prasana sudah memadai dan sistem telah terstruktur baik namun masih belum tercapai keadaan yang diinginkan, maka behaviour manusia yang ada didalamnya lah yang perlu diubah dengan menciptakan suasana kerja yang kondusif.
2 jam kurang lebihnya Beliau bersama kami pagi tadi. Sepanjang 2 jam itu aku tidak sempat merekamnya bahkan mencatatnya sekalipun. Jadi tulisan ini sekedar hal-hal yang kuingat dalam pertemuan tadi pagi yang tidak luput dari kealphaan. Pertemuan pagi tadi adalah kali kedua aku melihat secara langsung Beliau, sebelumnya aku pernah diwawancara langsung oleh Beliau di Banteng. Sosoknya memang tegas dan berwibawa. Maju terus Pak Permana Agung!
Sunday, June 20, 2010
Mimpi jadi Penulis Tenar
Menulis.....aku sekarang ini udah jarang lagi update blog2-ku. Rasanya ada yang menahan tanganku disaat aku ingin menulis. Untungnya beberapa tulisanku ternyata masih dihargai orang lain dengan diterbitkannya di buletin kantor.
Membayangkan betapa asiknya menjadi JK Rowling yang sukses dengan Harry Potternya. Tak usah jauh-jauh, penulis kita Andrea Hirata si penulis Laskar Pelangi dan berbagai sekuelnya yang laris manis sudah sepatutnya menjadi panutan bagi para penulis muda Indonesia untuk berkarya.
Profesi sebagai penulis memang belum begitu 'diakui' di Indonesia. Gengsinya masih kalah jauh dengan politisi, bankir ataupun pengacara. Banyak orang tua yang tidak menghendaki anaknya bercita-cita sebagai penulis karena dianggap kurang menjanjikan. Namun satu dasawarsa terakhir ini, stigma negatif tentang profesi penulis di Indonesia mulai terbantahkan. Banyak penulis-penulis muda Indonesia meraih penghasilan luar biasa dari buku-buku ataupun novel best seller yang mereka karang.
Pengen rasanya seperti penulis-penulis itu yang tidak dikekang oleh aturan-aturan formal yang kaku dalam bekerja tapi tetap mempunyai penghasilan yang jauh lebih besar dari rata-rata gaji profesional muda di Indonesia. Rasanya juga bangga sekali jika novel-novel yang dibuat diangkat ke layar lebar seperti Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi, Raditya Dika dengan Kambing Jantannya atau Habiburahman El Shirazy dengan Ketika Cinta Bertasbihnya yang menjadi Box Office di Indonesia.
Membayangkan betapa asiknya menjadi JK Rowling yang sukses dengan Harry Potternya. Tak usah jauh-jauh, penulis kita Andrea Hirata si penulis Laskar Pelangi dan berbagai sekuelnya yang laris manis sudah sepatutnya menjadi panutan bagi para penulis muda Indonesia untuk berkarya.
Profesi sebagai penulis memang belum begitu 'diakui' di Indonesia. Gengsinya masih kalah jauh dengan politisi, bankir ataupun pengacara. Banyak orang tua yang tidak menghendaki anaknya bercita-cita sebagai penulis karena dianggap kurang menjanjikan. Namun satu dasawarsa terakhir ini, stigma negatif tentang profesi penulis di Indonesia mulai terbantahkan. Banyak penulis-penulis muda Indonesia meraih penghasilan luar biasa dari buku-buku ataupun novel best seller yang mereka karang.
Pengen rasanya seperti penulis-penulis itu yang tidak dikekang oleh aturan-aturan formal yang kaku dalam bekerja tapi tetap mempunyai penghasilan yang jauh lebih besar dari rata-rata gaji profesional muda di Indonesia. Rasanya juga bangga sekali jika novel-novel yang dibuat diangkat ke layar lebar seperti Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi, Raditya Dika dengan Kambing Jantannya atau Habiburahman El Shirazy dengan Ketika Cinta Bertasbihnya yang menjadi Box Office di Indonesia.
Subscribe to:
Posts (Atom)