Tuesday, January 23, 2018

Pengalaman Menggunakan OVO

OVO, agak asing memang kedengarannya bagi orang awam, tetap bagi 'penggemar' dompet digital, layanan milik Lippo ini mulai mengepakkan sayapnya. Banyaknya raksasa dompet digital yang beroperasi di Indonesia seperti Tcash, Gopay, dkk tidak membuat gentar OVO untuk terus menggenjot jumlah penggunanya. Berbagai promo pun digeber oleh OVO yang terafiliasi dengan Lippo Group ini.

Sebagai bagian dari Lippo Group, OVO dengan mudah bisa digunakan di berbagai unit bisnis Lippo, diantara Matahari department store, mataharimall.com, First Media, dan masih banyak lagi lainnya. Tidak hanya di unit bisnis Lippo, OVO juga bisa digunakan untuk berbelanja di berbagai merchant lainnya.

Aku sendiri baru memanfaatkan OVO ketika ada promo pembayaran tagihan First MEdia dapat cashback 30%, jadilah kucoba pakai OVO untuk pertama kalinya saat itu. OVO mempunyai cara verifikasi yang unik, saat pertama membuka aplikasinya kita diminta untuk fingerprint scanner, kemudian memasukkan PIN, hal ini mungkin dilakukan untuk keamanan yang berlapis. Nah, sekarang saatnya untuk top up isi dompet digital ini. Ada beberapa metode yang tersedia, menggunakan top up melalui ATM, NOBU ATM, Merchant, dan Kartu Debit. Secara pribadi aku belum pernah mengisi melalui ATM, NOBU ATM, ataupun merchant. Aku  baru pernah mencoba mengisinya memakai kartu debit. Dalam hal pengisian melalui kartu debit, OVO baru didukung oleh kartu dari Bank Mandiri, CIMB Niaga, Bank Mega, Permata, dan BTPN. Seingat saya pengisian melalui kartu debit ini tidak terkena biaya, sama seperti melalui ATM bank Nobu. Kalau melalui merchant mungkin dikenakan charge, tapi tidak sebesar menggunakan ATM biasa.

Dalam aplikasi OVO ada menu DEALS yang berisikan berbagai macam promo yang sedang berlangsung. Kita juga bisa melakukan pembelian pulsa atau transfer uang. Namun, fiturnya belum selengkap dompet digital lainnya yang sudah bisa dipakai bayar berbagai tagihan, token listrik, sampai dengan mencairkan saldonya melalui ATM.

Modal dasar yang kuat yang sudah dimiliki OVO dengan sokongan dari Lippo Group harusnya bisa menjadikan OVO berkembang lebih pesat. kalau soal keamanan saya rasa tidak perlu diragukan lagi. Cuma catatan saya: OVO perlu semakin memperluas berbagai macam alternatif pengisian ulang saldo OVO, selanjutnya semakin banyak kerja sama dengan berbagai maca merchant, serta memperbanyak pula fitur-fitur pembayaran/pembelian yang bisa dilakukan dengan OVO.

Friday, January 19, 2018

Apply Kartu Kredit BCA Dapat Voucher Blibli Rp500 ribu!

Beberapa hari lalu aku mendapat SMS dari BCA yang berisikan kode voucher belanja di Blibli.com dengan nilai yang lumayan gede, Rp500 ribu! Sebenarnya aku tidak terlalu terkejut dapat voucher itu, karena aku sebelumnya dapat informasi tentang bonus voucher tersebut ketika pengajuan kartu kredit BCA.

Ketika aku mengajukan kartu kredit BCA secara online, kulihat ada iming-iming yang tercantum di halaman yang berisikan pilihan kartu berupa voucher Rp500 ribu bagi pengajuan kartu yang diterima sampai dengan tanggal 31 Desember 2017 dengan syarat telah melakukan transaksi minimal 1 kali dalam satu bulan. Nah, ketika pengajuanku disetujui dan telah dikirimkan kartu kreditnya ke alamatku, aku segera mengaktivasi kartu kreditnya dengan menelpon CS BCA. Dalam kesempatan itu pula, aku coba bertanya tentang promo voucher tersebut. Namun jawaban yang kudapatkan, si CS nggak tahu program tersebut. Anehnya, ketika kedua kalinya aku telepon CS untuk mengaktivasi kartu keduaku, kutanyakan hal serupa, dengan harapan CS yang berbeda akan memberikan jawaban yang berbeda, tetapi hasilnya juga nihil, sama-sama nggak tahu program itu.

Pada bulan Desember 2017, aku melakukan banyak transaksi dengan kartu kredit BCA-ku dengan harapan akan mendapatkan voucher tersebut, eh ternyata sampai awal tahun nggak dapat-dapat. Ya sudahlah, mungkin program bonus voucher itu ada syarat-syarat tertentu lagi. Sudah tidak berharap, eh malah tiba-tiba beberapa saat setelah saya melakukan transaksi pembelian tiket pesawat dengan kartu kredit BCA VISA Batman, ada sms masuk yang ternyata berisikan voucher Blibli.com yang bisa digunakan sampai tanggal 4 November 2018, asyiikkkkk....! Nggak kuduga sama sekali.

Biasanya voucher-voucher semacam itu ada syarat ketentuannya yang seringkali mempersulit kita. Namun, setelah kugoogling, voucher Blibli dari kartu kredit BCA ternyata bisa digunakan untuk belanja minimal Rp550 ribu dengan menggunakan kartu kredit BCA. Akhirnya barusan tadi siang kupakai voucher itu untuk beli Office 365 Personal, refill pisau cukur Gillete, dan pepsodent dengan nominal Rp550 ribu lebih dikit. KUmasukkan voucher itu, dan ternyata benar bisa, dan aku pun hanya membayar senilai Rp50 ribu lebih dikit. Super Lumayan......!

Baca juga: Lika-Liku Pengajuan Kartu Kredit BCA

Thursday, January 11, 2018

Lika-Liku Pengajuan Kartu Kredit BCA

Sudah punya banyak kartu kredit kok masih aja pengen ngajuin kartu kredit baru! hal itulah yang kulakukan. Saat ini aku punya empat kartu kredit yang aktif dari Mandiri, CIMB Niaga, dan BNI. Nah, beberapa bulan lalu aku mengajukan kartu kredit BCA, belum afdol kayaknya kalau belum punya kartu kredit BCA, haha......

Aku sudah pernah beberapa kali mengajukan kartu kredit BCA, tapi semuanya berakhir tanpa kejelasan status, alias gagal. Entahlah kenapa, padahal sudah kulengkapi semua persyaratan, BI checking-ku juga bersih, pendapatan juga Alhamdulillah tidak masalah, aku juga sudah lama punya rekening BCA. Aku sempat berpikir, "Ada calon nasabah potensial kok disia-siakan, aneh BCA ini!"

Menurut beberapa temanku memang mengajukan kartu kredit BCA tidak semudah mengajukan kartu kredit lain. Nah, akhirnya beberapa bulan lalu aku iseng-iseng mengajukan aplikasi online melalui situs resmi layanan aplikasi kartu kredit BCA di eform.klikbca.com/applycc. Kulengkapi kolom isian, kulampirkan secara online beberapa dokumen yang diperlukan, dan terakhir aku diminta mencetak sebuah form untuk kutandatangani dan dikirimkan balik ke BCA.

Progress pengajuan kartu kredit juga bisa kita pantau di situs tersebut. Dalam proses verifikasinya aku ditelpon oleh petugas BCA untuk mengkonfirmasi beberapa dataku. Beberapa minggu kemudian, aku ditelpon lagi oleh pihak kartu kredit BCA, bahwa akan ada kurir yang membawa form yang harus kutandatangani, mungkin karena form yang kucetak yang seharusnya kutandatangani dan  kukirim balik ke BCA tidak kunjung kukirim, akhirnya mereka berinisiatif untuk mengirimkan kurir untuk langsung mendatangiku. Diinfokan pula, aku diminta untuk melampirkan pula surat keterangan penghasilan. Namun, karena aku tidak punya surat keterangan penghasilan, dan males minta ke bagian keuangan, aku pun hanya melampirkan screenshoot mutasi transaksi di rekening bankku terkait dengan payroll-ku yang menunjukkan gaji dan tunjangan bulanan yang aku terima, dan ternyata mereka mau menerimanya.

Beberapa minggu kemudian aku mendapatkan SMS bahwa pengajuan kartu kreditku diterima, dan kartuku akan segera dikirimkan maksimal dalam 7 hari kerja. Tidak sampai 7 hari kerja, kartu kredit BCA sudah kuterima. Aku apply untuk dua jenis kartu kredit yaitu BCA Everyday card dan BCA VISA Batman. Kartu ternyata tidak dikirimkan bersamaan. Yang dikirimkan terlebih dahulu adalah kartu BCA Everyday, dan yang VISA Batman dikirimkan beberapa hari kemudian. Hal itu sempat membuatku resah, jangan-jangan yang kartu VISA Batman tercecer entah dimana, atau pihak BCA lupa mengirimkannya. Namun, setelah kukonfirmasi ke Halo BCA ternyata memang VISA Batman akan dikirimkan terpisah beberapa hari kemudian.

Oiya, untuk satu tahun pertama ternyata ada promo gratis biaya tahunan. Namun, untuk tahun-tahun selanjutnya kalau kita ingin dihapuskan biaya tahunannya, kita perlu menelpon ke costumer service kartu kredit BCA.

Baca juga: Apply Kartu Kredit BCA Dapat Voucher Blibli Rp500 ribu!

Sunday, December 31, 2017

Biaya Pilih Kursi di Citilink

Inilah salah satu risiko penerbangan murah, milih kursi saja nggak gratis, haha...... Selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan ketentuan harus membayar biaya tambahan jika ingin memilih kursi pada penerbangan murah seperti Citilink, karena aku nggak peduli mau dikasih kursi nomor berapa oleh sistem Citilink ketika cek in, terserah depan atau belakang sekalipun, pinggir jendela, lorong ataupun ditengah-tengah tidak menjadi masalah bagiku.

Nah, ternyata ketentuan tambahan biaya saat memilih kursi baru kurasakan ketika aku pergi berombongan. Nggak lucu kan kalau duduknya terpisah-pisah jauh, diacak-acak oleh sistem, masak anak istri harus berbeda kursi berjauhan. Jadilah kuputuskan untuk membayar biaya pilih kursi.

Untuk satu kursi yang dipilih dikenakan tarif Rp40 ribu. Namun, bisa jauh lebih mahal jika kita milih di barisan depan yang kursinya ada semacam sarung kursi warna hijau. Tempo hari aku memilih untuk duduk di barisan belakang. Pembayaran kulakukan dengan kartu kredit, jika pembayaran dinyatakan sukses, akan segera tercetak boarding pass kita lengkap dengan nomor kursi  yang kita pilih.

Ternyata saat penerbangan, untuk penumpang yang memilih kursi diberi air mineral botol kecil, lumayan lah, kebetulan saat itu air minumku lupa kuambil dari bagasi kabin. Kesimpulannya, ketentuan biaya tambahan untuk memilih kursi ini yang paling terkena imbasnya adalah bukan orang yang bepergian sendiri yang mayoritas cuek terhadap posisi kursi, melainkan keluarga yang bawa rombongan rame-rame.

Thursday, December 21, 2017

Beef Lasagna PHD Kok Agak Beda dengan Pizza Hut ya?

Kemasan Lasagna ketika dibawa pulang
Sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu untuk pertama kalinya aku kenal dengan makanan bernama Lasagna. Temanku yang mengajakku di Pizza Hut dan menyuruhku untuk mencoba masakan Italia itu.

Lasagna ternyata semacam puding tapi terbuat dari pasta berlapis-lapis dengan irisan daging cincang yang dioven dan diberi semacam saus creamy. Rasa yang kuingat saat itu, gurih lezat lembut apalagi dinikmati saat masih panas. Tidak terasa eneg. Disajikan dalam Mangkuk keramik tebal berbentuk oval.

Setelah bertahun-tahun berlalu akhirnya aku kangen juga dengan citarasa Lasagna. Kebetulan di dekat rumahku ada Pizza Hut Delivery (PHD), jadilah kupesan Lasagna melalui aplikasi PHD di iOS.  Di PHD Lasagna dibanderol dengan harga Rp48 ribu. 

Setelah sekitar 15 menit pesan, aku langsung meluncur ke PHD untuk mengambilnya. Ternyata Lasagna-nya dikemas dalam semacam mangkuk dari aluminium foil tebal, bukan di mangkuk keramik. Ya wajarlah, kan dibawa pulang, masak mau diberi keramik, bisa bangkrut nanti PHD-nya, haha.....

Terlalu banyak saus krimnya jadi terkesan lebih lembek
Sesampainya di rumah langsung kubuka dan ternyata diluar ekspektasiku. Bentuknya kurang terlihat menarik, bagusan dulu yang disajikan di mangkuk keramik. Saus creamy-nya lebih banyak dan terkesan lebih encer. Lasagna-nya menurutku juga agak lembek. Tapi untuk rasanya mirip sih dengan yang dulu kunikmati di Restoran Pizza Hut-nya langsung, tapi sensasinya saja yang beda.

Memang benar kata orang-orang kalau pesan Lasagna di Pizza Hut lebih enak untuk dimakan ditempat daripada dibawa pulang, hehe....