Karena waktu tempuh ke Muara Teweh yang berkisar 3,5 jam dari Buntok, dan waktu sudah menjelang makan siang, kami pun mampir ke Rumah Makan Balangan Rif'ah. Rumah makan ini berlokasi cukup strategis yaitu di pojok perempatan traffic light Jl. Pahlawan, dan berseberangan dengan Papan Nama "Buntok Kota Batuah" yang sering dijadikan latar belakang para pelancong yang mengunjungi kota ini.
Di rumah makan ini terkenal dengan masakan ikan bakarnya ada ikan nila, lais, patin, dan banyak lainnya. Adapula berbagai macam pepes ikan, dan yang istimewa adalah ikan Bilis goreng tepungnya yang renyah dan gurih. Aku sengaja memilih pepes ikan patin, ikan bilis goreng tepung, dan sayur asem.
Memang cukup mantap lah rasa dari masakan yang disajikan di rumah makan ini, sambalnya pun terasa istimewa, pantas saja rumah makan ini menjadi favorit para pelancong ataupun tamu-tamu dari luar kota. Masakannya fresh, enak, dengan harga yang relatif terjangkau, dengan pelayanan yang cepat.
Kenyang dengan makanan yang enak-enak, kami pun menyempatkan diri berfoto-foto di papan nama "Buntok Kota Batuah" di seberang rumah makan, tepat di pojok traffic light. Kata mas Jun yang mengantar kami, belum afdol kalau berkunjung ke Buntok, belum foto di situ.
Aku masih penasaran dengan seberapa luas sih kota Buntok, seberapa rame sih pusat kotanya, soalnya siang hari pun, hanya terlihat satu dua kendaraan saja yang lewat, dan di traffic light pun seringkali tidak ada kendaraan yang berhenti.
"Mas Jun, muter-muter kota dulu ya, dimana sih keramaian Buntok itu?", pintaku ke Mas Jun sebelum meninggalkan kota Buntok.
Kami pun diajak berkeliling kota Buntok, kami menuju pelabuhan kapal cepat di tepian sungai Barito. Pengen juga sebenarnya ke Muara Teweh naik speed menyusuri sungai Barito. Kata mas Jun, jika naik speed ke Muara Teweh waktu tempuhnya juga hampir sama dengan jalan darat berkisar 4 jam. Pelabuhan siang itu relatif sepi karena tidak pas jadwal pemberangkatan speed.
Usai dari pelabuhan tepian Barito, kami menyusuri melewati Plaza Beringin, pasar tradisional terbesar di Buntok yang terlihat agak rame siang itu. Beberapa bangunan pemerintah seperti Gedung Kantor Bupati Buntok terlihat sepi siang itu dengan halamannya yang luas, begitu pula dengan gedung DPRD Buntok yang lebih sepi. Hanya kompleks sekolahan yang terlihat rame dengan anak-anak sekolah pada jam istirahat siang itu.
Tak sampai 15 menit kami keliling kota Buntok dari ujung ke ujung, kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke Muara Teweh. selepas kota Buntok, kami melewati daerah Sanggu ditandai dengan adanya bundaran besar, tapi tidak sebesar alun-alun dimana terdapat bandara kecil, rumah dinas bupati yang megah menggantikan rumah dinas bupati yang terbakar di tengah kota Buntok beberapa tahun silam, dan stadion yang cukup besar tapi kondisinya merana saat ini. Daerah Sanggu ini sepertinya dirancang untuk pengembangan kota Buntok, dengan jalan-jalan yang sedang dalam proses pelebaran, mengingat daerah Sanggu ini kontur tanahnya lebih tinggi dibandingkan kota Buntok yang sering tergenang banjir. Yang sangat disayangkan adalah kondisi Stadion Sanggu yang dulu dibangun untuk kegiatan MTQ Nasional, namun sekarang merana dan jarang dimanfaatkan, sayang sekali..... Begitulah seringkali nasib bangunan pemerintah, bisa membangun tapi nggak bisa memelihara dan memanfaatkannya dengan optimal. Di daerah Sanggu ini terdapat batas kota Buntok berupa sepasang gapura dengan bentuk unik khas Kalimantan Tengah.
Nggak jauh daerah Sanggu, kami melewati sebuah danau rawa yang cukup luas, namanya Danau Melawen. Banyak legenda yang mewarnai keberadaan danau ini, nggak saya jelaskan di sini, coba di googling aja, hehe..... Danaunya cukup luas dengan latar rawa-rawa dengan air yang tenang dipadu dengan biru langit di atasnya, sungguh menjadi pemandangan yang indah, gratis dinikmati pengendara sepanjang jalan. Cukup potensial jika dibuatkan semacam rest area sambil menikmati keindahan Danau Melawen, entah kapan itu bisa terlaksana, mungkin tidak lama lagi....
Baca juga:
Berkunjung ke Buntok (Bagian II)
Berkunjung ke Buntok (Bagian III)
Sunday, May 3, 2015
Berkunjung ke Kota Buntok, Kabupaten Barito Selatan (Bagian III)
Usai Sarapan di Hotel 'Termewah' di Buntok, kami langsung menuju ke Kantor KPPN yang juga berada di Jalan Pelita Raya. Kami dijemput driver dari KPPN, Mas Junaedi. Kira-kira kami hanya satu jam di KPPN untuk berkoordinasi dengan pejabat setempat dan panitia daerah penyelenggara diklat, kemudian melanjutkan untuk survei lokasi tempat diklat yang akan kami selenggarakan. Pertama kami survei ke Aula di samping Masjid Agung yang sangat besar, sering digunakan sebagai gedung pernikahan, namun sayangnya tidak dilengkapi AC, hanya kipas angin-kipas angin besar yang tergantung di plafon dan yang terpasang di dinding kanan-kiri gedung. Untuk keperluan diklat yang pesertanya berkisar 30-40 orang, gedung ini terlalu besar, maka kami putuskan untuk tidak jadi menggunakannya. Kami pun melanjutkan ke gedung Aula Kementeriaan Agama Buntok. Ruangannya lebih kecil, ada kipas anginnya, ada AC-nya, namun AC-nya belum bisa dipakai karena daya listriknya yang masih rendah, nunggu untuk penaikkan daya. Tapi tak apa lah, masih bisa menggunakan kipas angin, semoga saja saat diklat nanti cuacanya tidak terik-terik amat.
Kendala di Aula Kemenag ini hanya satu, tidak punya banyak stok meja panjang untuk meja peserta diklat, terpaksa kami harus menyewa. Kami pun menemui juragan persewaan tenda, meja dan kursi, Pak Piryadi namanya. Orang Kediri yang sejak tahun 70-an merantau ke Buntok, menikah dengan orang setempat. Dia mengaku pernah bergelut sebagai orang bangunan yang biasa membangun rumah alias tukang, dia juga pernah bekerja di perusahaan kayu ketika jaya-jayanya industri perkayuan di Kalimantan. Ternyata usaha persewaan meja kursi sudah dikelola oleh anaknya, dan kami pun jadi menyewa meja panjang sebanyak 13 buah dengan tarif Rp30ribu per hari selama 4 hari untuk 2 angkatan diklat, jadi totalnya kami sewa selama 8 hari, cukup murah lah.
Clear sudah kegiatan kami di Buntok, siang itu pula kami pun langsung menuju ke Kabupaten Barito Utara, tepatnya ke Kota Muara Teweh. Namun sebelumnya kami mampir dulu ke Rumah Makan yang cukup terkenal di Buntok, yaitu RM. Balangan Rif'ah yang terletak di pojok perempatan jalan Pahlawan.
Baca juga:
Berkunjung Ke Kota Buntok Bagian II
Berkunjung Ke Kota Buntok (Bagian IV)
Baca juga:
Berkunjung Ke Kota Buntok Bagian II
Berkunjung Ke Kota Buntok (Bagian IV)
Saturday, May 2, 2015
Berkunjung ke Kota Buntok, Kabupaten Barito Selatan (Bagian II)
Pukul 23.00 WIB saat itu Buntok sudah sepi banget, bahkan aku bisa jalan-jalan di tengah jalan dengan leluasa tanpa ada satu pun kendaraan yang lalu lalang. Kami pun diantar ke Hotel Mulya Kencana di Jalan Pelita Raya.
Sesampainya di hotel, aku memilih kamar super suite bertarif Rp500 ribuan semalam. Sudah bisa kebayang kan, kamar suite aja luas banget apalagi kamar super suite.... wah pasti luas banget dan lengkap fasilitasnya. Tapi kok harganya murah banget ya untuk level kamar super suite? wah jangan-jangan......
Kamar super suite yang kupesan berada di lantai 2 di bagian pojok lorong hotel. Begitu kubuka pintu kamarnya, Voila...... eng-ing-eng...... Benar dugaanku kamarnya luas banget. "Wah bisa bebas jengkulitan alias salto nih di kamar, kayak lapangan bola!", pikirku spontan saat itu. Kamarnya memang luas namun cukup sederhana untuk ukuran kamar super suite. Iseng kocoba mengukur lebar dan panjang kamarnya, dengan menghitung jumlah keramiknya yang berukuran (40x40)cm ternyata untuk lebarnya sebanyak 11 keramik, dan panjangnya 19 keramik yang berarti ukuran kamarnya sekitar (4,4 x 7,6) m, weladalah jembar banget......!
Kamar yang begitu luas dengan ranjang kayu ukuran (160 x 200)cm atau kalau salah berarti ukurannya (180x200)cm, dengan sprei motif bunga-bunga merah yang menutupi springbed-nya yang sepertinya kelas menengah-bawah (nggak sempat kutengok merek springbednya, tapi dari sensasinya di badan kutahu itu bukan springbed mahal). Kesan luas dan sunyi menimbulkan kesan singup alias angker, hiiii..... sempat merinding sih, tapi masa bodoh ah... yang penting aku bisa tidur nyenyak malam itu.
Nggak cukup sampai di situ, aku pun langsung mandi malam itu. Dan ternyata air panasnya nggak keluar-keluar. akhirnya kuputar-putar alat pemanas air yang tertempel di dinding kamar mandi, akhirnya keluar juga air panasnya meskipun kurang panas, tapi lumayan lah.... awalnya takut juga sih kesetrum, soalnya pemanasnya memakai listrik, bukan gas ataupun solar cell.
Di kamar super suite tersedia air minum galon, tapi mereknya bukan AQUA melainkan merek lokal. Kucoba mau meminumnya, ternyata saat kutuangkan ke botol bekas air mineralku, ada banyak kotoran endapan, oh no....... langsung saja kubuang ke kamar mandi, untungnya aku masih ada air mineral botol, cukuplah untuk semalaman. Eh ternyata di kamar temanku yang mengambil kamar tipe di bawah super suite mendapatkan AQUA botol! Arghhh sial.....! Tapi nggak apa ding, toh cuma aqua botol, hehe.....
Nah, tibalah saat sarapan pagi hari. Ternyata makanannya sederhana bingitss....... Menunya cuma nasi putih, dan ayam yang dimasak semacam semur, itu pun dipotong kecil-kecil, weladalah kebangeten tenan! ditambah kerupuk kecil. Nggak ada buah, apalagi dessert. Yo wis lah, yang penting bisa ngganjel perut.....!
Ha ha.... dia monopoli sih, nggak ada hotel lain, jadinya ya gitu seadanya pelayanannya. Kalau ada sekelas Fave hotel aja, atau hotel baru saja yang sedikit lebih bagus pelayanannya, dipastikan kolaps nih hotel kalau nggak upgrade pelayanannya. Semoga manajemen Hotel Mulya Kencana cepat sadar, bahwa bisnis hotel itu bisnis jasa yang mengutamakan pelayanan kepada customernya, bagaimana mau jadi pelanggan setia kalau pengalaman pertama saja sudah mengecewakan.
Tips:
Jika terpaksa menginap di hotel Mulya Kencana Buntok, mending pilih kamar yang biasa-biasa aja atau sedang, yang penting bisa untuk merebahkan badan, lha bayar mahal atau murah juga hampir sama fasilitasnya cuma beda luas kamar aja yang signifikan.
Baca juga:
Berkunjung Ke Kota Buntok (Bagian I)
Berkunjung Ke Kota Buntok (Bagian III)
Berkunjung Ke Kota Buntok (Bagian IV)
Sesampainya di hotel, aku memilih kamar super suite bertarif Rp500 ribuan semalam. Sudah bisa kebayang kan, kamar suite aja luas banget apalagi kamar super suite.... wah pasti luas banget dan lengkap fasilitasnya. Tapi kok harganya murah banget ya untuk level kamar super suite? wah jangan-jangan......
Kamar super suite yang kupesan berada di lantai 2 di bagian pojok lorong hotel. Begitu kubuka pintu kamarnya, Voila...... eng-ing-eng...... Benar dugaanku kamarnya luas banget. "Wah bisa bebas jengkulitan alias salto nih di kamar, kayak lapangan bola!", pikirku spontan saat itu. Kamarnya memang luas namun cukup sederhana untuk ukuran kamar super suite. Iseng kocoba mengukur lebar dan panjang kamarnya, dengan menghitung jumlah keramiknya yang berukuran (40x40)cm ternyata untuk lebarnya sebanyak 11 keramik, dan panjangnya 19 keramik yang berarti ukuran kamarnya sekitar (4,4 x 7,6) m, weladalah jembar banget......!
Kamar yang begitu luas dengan ranjang kayu ukuran (160 x 200)cm atau kalau salah berarti ukurannya (180x200)cm, dengan sprei motif bunga-bunga merah yang menutupi springbed-nya yang sepertinya kelas menengah-bawah (nggak sempat kutengok merek springbednya, tapi dari sensasinya di badan kutahu itu bukan springbed mahal). Kesan luas dan sunyi menimbulkan kesan singup alias angker, hiiii..... sempat merinding sih, tapi masa bodoh ah... yang penting aku bisa tidur nyenyak malam itu.
Nggak cukup sampai di situ, aku pun langsung mandi malam itu. Dan ternyata air panasnya nggak keluar-keluar. akhirnya kuputar-putar alat pemanas air yang tertempel di dinding kamar mandi, akhirnya keluar juga air panasnya meskipun kurang panas, tapi lumayan lah.... awalnya takut juga sih kesetrum, soalnya pemanasnya memakai listrik, bukan gas ataupun solar cell.
Di kamar super suite tersedia air minum galon, tapi mereknya bukan AQUA melainkan merek lokal. Kucoba mau meminumnya, ternyata saat kutuangkan ke botol bekas air mineralku, ada banyak kotoran endapan, oh no....... langsung saja kubuang ke kamar mandi, untungnya aku masih ada air mineral botol, cukuplah untuk semalaman. Eh ternyata di kamar temanku yang mengambil kamar tipe di bawah super suite mendapatkan AQUA botol! Arghhh sial.....! Tapi nggak apa ding, toh cuma aqua botol, hehe.....
Nah, tibalah saat sarapan pagi hari. Ternyata makanannya sederhana bingitss....... Menunya cuma nasi putih, dan ayam yang dimasak semacam semur, itu pun dipotong kecil-kecil, weladalah kebangeten tenan! ditambah kerupuk kecil. Nggak ada buah, apalagi dessert. Yo wis lah, yang penting bisa ngganjel perut.....!
Ha ha.... dia monopoli sih, nggak ada hotel lain, jadinya ya gitu seadanya pelayanannya. Kalau ada sekelas Fave hotel aja, atau hotel baru saja yang sedikit lebih bagus pelayanannya, dipastikan kolaps nih hotel kalau nggak upgrade pelayanannya. Semoga manajemen Hotel Mulya Kencana cepat sadar, bahwa bisnis hotel itu bisnis jasa yang mengutamakan pelayanan kepada customernya, bagaimana mau jadi pelanggan setia kalau pengalaman pertama saja sudah mengecewakan.
Tips:
Jika terpaksa menginap di hotel Mulya Kencana Buntok, mending pilih kamar yang biasa-biasa aja atau sedang, yang penting bisa untuk merebahkan badan, lha bayar mahal atau murah juga hampir sama fasilitasnya cuma beda luas kamar aja yang signifikan.
Baca juga:
Berkunjung Ke Kota Buntok (Bagian I)
Berkunjung Ke Kota Buntok (Bagian III)
Berkunjung Ke Kota Buntok (Bagian IV)
Friday, May 1, 2015
Berkunjung ke Kota Buntok, Kabupaten Barito Selatan (Bagian I)
| Narsis di Depan Tulisan Buntok Kota Batuah (dok. pribadi) |
Buntok pernah diplesetkan dengan kota "Buntu dan Mentok" alias kota terakhir yang terletak di pedalaman dan tidak tersambung dengan kota lainnya. Buntok dahulu memang susah diakses, namun sekarang bisa lebih mudah diakses dari Palangkaraya. Dulu kalau mau ke Buntok dari Palangkaraya harus ke Banjarmasin dulu, baru ke Buntok. Namun setelah dibuat jalan baru sekitar 200 km menembus hutan rawa gambut pertengahan dekade 2000-an, Buntok tidak lagi Buntu dan Mentok.
Aku kebetulan ada acara ke Buntok beberapa hari lalu. Dari Pontianak aku menuju Palangkaraya naik satu-satunya pesawat menuju Palangkaraya dari Pontianak, yaitu Garuda Indonesia "Explore Borneo" dengan jenis pesawat ATR 72-600. Dulu sebelum ada penerbangan langsung dari Pontianak ke Palangkaraya, harus ke Jakarta dulu baru ke Palangkaraya, rute ini baru dibuka kira-kira setengah tahun yang lalu.
Dari Palangkaraya, kami langsung menuju Buntok dengan mencarter 'taksi' Avanza dengan tarif Rp800ribu karena barang bawaan kami yang sangat banyak. Kalau tidak carter, tarifnya Rp130rb/orang. Dari Palangkaraya kami berangkat sekitar pukul setengah 7 malam. Menyusuri jalan panjang di tengah-tengah hutan rawa gambut, kami bertiga termasuk Pak Sopir yang bernama Yosep bercerita ngalor ngidul. Pak Yosep bukan asli orang Kalimantan Tengah, melainkan orang Maumere, Flores Nusa Tenggara Timur. Dia merantau ke Kalimantan Tengah sekitar tahun 1994, salah satu pendorongnya adalah gempa besar dan tsunami yang melanda Maumere kala itu. Awalnya dia bekerja di perusahaan kayu, dan terus gonta-ganti pekerjaan, sampai sekarang mempunyai travel sendiri. Beliau juga bercerita kalau jalan yang kami lalui ini baru dibangun saat Gubernur Agustin Teras Narang yang bertekad membuka akses ke Buntok dari Palangkaraya, dan akhirnya berhasil. Entah berapa dana yang sudah dihabiskan untuk pembangunan jalan raya yang merupakan prestasi luar biasa ini tapi jarang diekspos media nasional.
Di Ada sekitar 2 ruas jalan yang agak rusak dikarenakan terkena banjir, tapi masih layak digunakan meskipun belum diaspal kembali. Sekitar 2,5 jam dari Palangkaraya, kami pun sampai di daerah Timpah. Kami berhenti di rumah makan pemberhentian travel. Di situ tersedia makanan prasmanan. Aku cuma mengambil nasi putih, sayur asem, telur ceplok, dan tempe goreng, plus es teh. Sebenarnya ada banyak menu ikan, ayam, dan daging, namun saat itu aku kurang selera dengan masakannya. Saat membayar barulah kutahu ternyata harganya tidak dibanderol per item makanan, melainkan langsung dihitung Rp25ribu per orang. Jadi makan apa saja, All You Can Eat Only IDR25k, haha......
Ya lumayan lah untuk mengganjal perut, kami pun melanjutkan perjalanan ke Buntok. Sekitar pukul 22.30 WIB kami pun sampai ke kota Buntok. Sepi banget malam itu, nyaris tidak ada motor yang lewat di jalan raya. kami langsung menuju kantor KPPN Buntok untuk menurunkan barang-barang bawaan kami. Eh, ternyata sesampainya di gerbang kantor KPPN, ban kiri belakan mobil avanza yang kami tumpangi kempes karena bocor. Syukur Alhamdulillah nggak bocor di tengah hutan. Selesai menurunkan barang dan mengganti ban bocor, kami pun langsung menuju Hotel Mulya Kencana, hotel 'termewah' di Buntok, hehe.... (bersambung...)
Baca juga: Berkunjung ke Kota Buntok (Bagian II)
Membunuh Rasa Bosan Dengan Menulis
Bosan, Bosan, Bosan....... kata negatif yang seringkali kita lontarkan ketika harus menjalani rutinitas yang itu-itu saja alias monoton. Atau bahkan bosan bisa dikarenakan kebanyakan waktu luang yang cuma kita habiskan untuk nonton TV karena murah, lain halnya kalau kita punya banyak uang dan bisa plesiran saat hari libur. Semua aktivitas yang kita lakukan mempunyai potensi kebosanan, cuma kadarnya yang berbeda-beda.
Aku sendiri seringkali terbesit rasa bosan ketika harus mengerjakan pekerjaan kantor yang itu-itu saja, tapi itu masa lalu, sekarang aku sudah punya obatnya. Selain hobi membaca, kegemaranku menuangkan uneg-uneg dalam tulisan ternyata aku rasa-rasakan bisa membunuh rasa bosanku, dan itu EFEKTIF, paling tidak dalam kasusku sendiri.
Aku termasuk orang yang suka bicara alias cerewet, dan senang merekam suatu kejadian atau peristiwa dengan baik. Aku juga merasa punya bakat sebagai pengamat ataupun komentator alias suka 'mencela' haha.....
Nah 'bakat-bakat'-ku itu sayang banget kalau tidak kutuangkan dalam bentuk tulisan, siapa tahu ada pembaca blog ini yang 'terinspirasi' dengan tulisanku, atau paling tidak sebagai benchmark lah, haha......
Aku punya banyak sekali waktu luang, meskipun akhir-akhir ini pekerjaan kantor menyita waktuku, namun waktu luangku masih banyak banget, apalagi di perantauan ini aku jauh dari anak istri, lalu mau ngapain lagi malam hari, sabtu, minggu selain untuk menulis. Mosok cuma tidur-tiduran pada akhir pekan, bisa tambah buncit perut ini.
Menulis merupakan kegiatan yang sangat mengasyikkan bagiku. Menulis secara tidak langsung mendorongku untuk menjadi pengamat yang baik dan peka terhadap sekelilingku atau peristiwa yang kualami untuk kutuangkan dalam bentuk tulisan, siapa tahu berguna bagi pembaca, bisa jadi amal jariyah...... Kalaupun kita mendapatkan uang dari tulisan kita, itu bukan yang utama, padahal kalau dapat pasti seneng banget, hehe.....
'Penyakit' ketika mau menulis sebagian besar dari kita adalah ketiadaan IDE, padahal ide itu berserakan dimana-mana, banyak sekali. Aku heran jika ada teman yang kutanya, kenapa nggak nulis, dan jawabannya tidak punya ide, aneh sekali. Ada banyak ide di sekitar kita, misal ketika tiba-tiba ada hujan, kita bisa menulis berbagai macam judul dengan tema hujan. Ketika kita menginap di sebuah hotel, kita bisa membuat tulisan tentang pengalaman kita atau review kita terhadap pelayanan hotel tersebut. Atau ketika kita sedang jengkel menunggu waktu boarding pesawat karena delay berjam-jam, kita bisa menulis tentang hiruk pikuk orang di bandara, atau mengamati berbagai tingkah laku penumpang yang jengkel karena delay dan kita tuangkan dalam bentuk tulisan dengan mengetik menggunakan smartphone kita lalu upload ke blog. Banyak banget ide dan kesempatan untuk menulis, asalkan kita mau.
Melihat komentar-komentar di blog tentang artikel kita, ataupun ucapan terima kasih dari pembaca, memberikan kepuasan tersendiri yang tidak bisa dihargai dengan uang. Kalau pun ada kritik tentang artikel kita, jangan kita jadikan faktor demotivasi dalam menulis, melainkan harus menjadikan kita lebih baik dalam menulis. Mendapat kritikan berarti kita mendapat anugerah kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Siapa tahu tulisan kita bisa menjadi buku, ya siapa tahu kan......entah kapan, haha.....
Menulislah selagi kita masih hidup di dunia ini, jangan hanya jago menulis komentar miring di medsos ya.......
Aku sendiri seringkali terbesit rasa bosan ketika harus mengerjakan pekerjaan kantor yang itu-itu saja, tapi itu masa lalu, sekarang aku sudah punya obatnya. Selain hobi membaca, kegemaranku menuangkan uneg-uneg dalam tulisan ternyata aku rasa-rasakan bisa membunuh rasa bosanku, dan itu EFEKTIF, paling tidak dalam kasusku sendiri.
Aku termasuk orang yang suka bicara alias cerewet, dan senang merekam suatu kejadian atau peristiwa dengan baik. Aku juga merasa punya bakat sebagai pengamat ataupun komentator alias suka 'mencela' haha.....
Nah 'bakat-bakat'-ku itu sayang banget kalau tidak kutuangkan dalam bentuk tulisan, siapa tahu ada pembaca blog ini yang 'terinspirasi' dengan tulisanku, atau paling tidak sebagai benchmark lah, haha......
Aku punya banyak sekali waktu luang, meskipun akhir-akhir ini pekerjaan kantor menyita waktuku, namun waktu luangku masih banyak banget, apalagi di perantauan ini aku jauh dari anak istri, lalu mau ngapain lagi malam hari, sabtu, minggu selain untuk menulis. Mosok cuma tidur-tiduran pada akhir pekan, bisa tambah buncit perut ini.
Menulis merupakan kegiatan yang sangat mengasyikkan bagiku. Menulis secara tidak langsung mendorongku untuk menjadi pengamat yang baik dan peka terhadap sekelilingku atau peristiwa yang kualami untuk kutuangkan dalam bentuk tulisan, siapa tahu berguna bagi pembaca, bisa jadi amal jariyah...... Kalaupun kita mendapatkan uang dari tulisan kita, itu bukan yang utama, padahal kalau dapat pasti seneng banget, hehe.....
'Penyakit' ketika mau menulis sebagian besar dari kita adalah ketiadaan IDE, padahal ide itu berserakan dimana-mana, banyak sekali. Aku heran jika ada teman yang kutanya, kenapa nggak nulis, dan jawabannya tidak punya ide, aneh sekali. Ada banyak ide di sekitar kita, misal ketika tiba-tiba ada hujan, kita bisa menulis berbagai macam judul dengan tema hujan. Ketika kita menginap di sebuah hotel, kita bisa membuat tulisan tentang pengalaman kita atau review kita terhadap pelayanan hotel tersebut. Atau ketika kita sedang jengkel menunggu waktu boarding pesawat karena delay berjam-jam, kita bisa menulis tentang hiruk pikuk orang di bandara, atau mengamati berbagai tingkah laku penumpang yang jengkel karena delay dan kita tuangkan dalam bentuk tulisan dengan mengetik menggunakan smartphone kita lalu upload ke blog. Banyak banget ide dan kesempatan untuk menulis, asalkan kita mau.
Melihat komentar-komentar di blog tentang artikel kita, ataupun ucapan terima kasih dari pembaca, memberikan kepuasan tersendiri yang tidak bisa dihargai dengan uang. Kalau pun ada kritik tentang artikel kita, jangan kita jadikan faktor demotivasi dalam menulis, melainkan harus menjadikan kita lebih baik dalam menulis. Mendapat kritikan berarti kita mendapat anugerah kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Siapa tahu tulisan kita bisa menjadi buku, ya siapa tahu kan......entah kapan, haha.....
Menulislah selagi kita masih hidup di dunia ini, jangan hanya jago menulis komentar miring di medsos ya.......
Subscribe to:
Posts (Atom)