Sebetulnya ada objek menarik di Sintang yaitu Bukit Kelam. Bukit yang lumayan tinggi dengan puncaknya yang terlihat tumpul setidaknya jika dilihat dari kejauhan di Kota Sintang. Namun, sepertinya perlu seharian untuk menikmati bukit Kelam (dengan mendaki tentunya), sedangkan waktuku di Kota Sintang sangat terbatas. Ya sudahlah, mungkin lain waktu aku datang ke kota ini dan menyempatkan untuk mendaki Bukit Kelam.
Malam kedua di Kota Sintang, kami diajak makan malam keluar oleh kolega kami di Sintang ke sebuah rumah makan seafood di sisi kota Sintang lainnya yang merupakan pusat perdagangannya, beda dengan dengan sisi kota tempat kami menginap dan pusat pemerintahan. Rumah makan yang tidak mewah melainkan berada di salah satu ruko-ruko. Enak dan segar masakan yang disajikan, padahal Sintang jauh dari laut, jauh dari pegunungan tempat sayur mayur, yang otomatis berimbas pada harga makanannya, nggak tahu berapa harga makanan yang enak-enak, maklum makan gratissss, haha.... yang pasti nggak murah lah....
Usai makan malam yang mengenyangkan itu, kami Balik ke Ke Guest House Bagus. Sebelum menuju kamar kami masing-masing kusempatkan bertanya ke Mbak-mbak resepsionis, "Mbak, untuk pembayaran bisa gesek pakai kartu debit Mandiri?".
"O, bisa mas....", sahutnya singkat. Berati aku nggak usah repot-repot mengambil uang di ATM malam itu. Kami pun masuk ke kamar kami masing-masing.
Jadwal pesawat kami ketika itu jam 7 pagi. Aku pun bangun pukul 4 pagi, bersiap untuk mandi. "Wah kok hujan ya, semoga sebentar lagi segera reda.", doaku dalam hati ketika bangun mendengar derit bunyi hujan yang sepertinya awet banget.
Pukul setengah enam, aku sudah berisap di lobi menuju jemputan ke bandara. Sambil menunggu jemputan kubermaksud check out sekalian membayar hotelnya. Resepsionisnya saat itu ganti mas-mas. Dan kutanya, "Mas bisa bayar pakai kartu debit Mandiri kan?". Dia menjawab dengan ragu, "Wah maaf Pak nggak bisa, mesinnya sedang bermasalah!".
"Gimana sih, tadi malam kata mbaknya bisa!", jawabku segera dengan sedikit kecewa.
Setelah menunggu beberapa menit, tetap saja EDC-nya nggak bisa diakses dan akhirnya aku pun meminkan sejumlah uang temanku untuk melunasi tagihan hotel.
Kelar dengan semua tagihan hotel, jemputan kami pun datang. Pak Karna menjemput kami dengan mobil dalam keadaan hujan yang masih saja awet. "Wah ini pasti delay, aku dulu di Nunukan juga seperti ini, mau berangkat ke bandara malah hujan deras, dan bukan hanya delay namun dibatalkan!", ujarku kepada temanku.
"Semoga saja hujan segera reda dan penerbangan kami ke Pontianak nggak delay dan lancar!", doaku dalam hati.
Sesampainya di Bandara, pintu masuk terminal keberangkatan belum dibuka, namun berepa saat kemudian langsung dibuka, dan kami pun segera check in. Saat check in, ternyata bagasi kami yang berisikan dokumen-dokumen dan peralatan dalam kardus (lumayan banyak sih) tidak diikutkan dalam penerbangan kami saat itu, melainkan akan diikutkan dalam pernerbagan selanjutnya jika landasan sudah kering. Kami pun ngotot dan mengiba agar bagasi kami itu diizinkan untuk ikut penerbangan, namun petugas keukeuh untuk menolaknya dengan alasan keselamatan.
Kami pun memaklumi, mungkin pesawat tidak boleh terlalu berat agar bisa take off dan landing dengan lebih safety dalam keadaan hujan ataupun landasan basah.
Sejenak sebelum boarding, kulihat pilot yang kelihatannya sudah senior (orang Indonesia) mulai menuju pesawat, dengan kondisi cuaca di luar yang masih hujan rintik-rintik. Sesaat setelah itu, kami dipersilakan untuk boarding dengan dipinjami payung satu per satu berjalan menuju apron tempat parkir pesawat Kalstar ATR 72 seri 500.
Aku pikir kondisi cuaca seperti itu,penerbangan kami akan dibatalkan, ternyata jalan terus. Selepas take off, cuaca semakin bagus, aku pun menyempatkan untuk memotret kelak-kelok sungai Kapuas dari atas.
Penerbangan lumayan lançar pagi itu, dan sekitar 15 menit berlalu pesawat mulai bergoncang-goncang hebat, tiba-tiba naik wussshh..... tiba-tiba turun.....weshhh..... kayak bermanuver menghindari awan. pagi itu suasana di Kabin pesawat sangat hening dan mencekam, jantungku pun berdegup kencang. Temanku yang seorang perempuan di sampingku menangis terus. Pikiranku semakin nggak karuan, manakala aku ingat pagi hari sebelum penerbangan aku ditelpon istriku, katanya semalam manggala sering terbangun dari tidurnya dan menanyakan "Bapak endi- Bapak endi?" (Bapak mana, Bapak mana?: bahasa Indonesia). Jangan-jangan penerbangan ini menjadi akhir hidupku, tapi aku yakin Hidup dan Mati seseorang hanya milik Allah, kalau belum saatnya ya tidak akan terjadi. Yang membuatku lebih yakin, tadi kulihat pilotnya sudah cukup senior, jadi pastinya dia sudah banyak mengalami cuaca seperti ini. Sang pramugari yang biasanya terlihat mondar-mandir di lorong pesawat pun tak nampak sama sekali, sampai-sampai snack yang harusnya dibagikan, tidak dibagikan sama sekali.
Akhirnya, setelah sekitar 10 menit bergumul dengan cuaca buruk, akhirnya kami segera landing di bandara Supadio Pontianak. "Cindy-cindy...tuh-tuh udah kelihatan kantor kita!", seruku kepada temanku sambil menunjuk kantor kami yang baru dekat bandara. Akhirnya dia mulai tenang dan lega.... Sama sepertiku, dia berpikir kalau dia sudah mendekati ajal.
Akhirnya kami mendarat di POntianak dengan selamat, meskipun penerbangannya berjalan lebih lama sekitar 45 menit. Itulah pengalam terburukku naik pesawat sampai saat ini, semoga tidak pernah mengalami hal seburuk itu atau yang lebih buruk.
Showing posts with label ATR 72. Show all posts
Showing posts with label ATR 72. Show all posts
Saturday, June 20, 2015
Tuesday, June 2, 2015
Berkunjung ke Kota Sintang (part 1)
Sintang, kota yang baru saja kudengar namanya baru-baru ini. Bertugas di tempat baru, di Pontianak maksudnya, memang banyak pengalaman baru. Aku pun berkesempatan berkunjung ke kota-kota di Kalimantan Barat dan Tengah, termasuk Sintang salah satunya.
Pukul 4 sore pesawat ATR 72 seri 500 dari Maskapai Kalstar mulai take off menuju Sintang, maju 10 menit dari jadwal semula. Sekitar 35 menit pesawat yang kutumpangi itu mendarat di bandara kecil bernama Susilo (kayak nama orang Jawa ya...).
"Lho-lho-lho, ini kok mendarat di tengah-tengah perkampungan! Nah loh, di ujung landasan hanya dibatasi pagar malah ada jalan raya!", pikirku keheranan ketika landing sore itu. Cuaca cerah mendukung penerbanganku sore itu.
Ternyata bandaranya kecil banget, dan pesawat yang kami tumpangi adalah satu-satunya yang ada di bandara kecil itu. Itu adalah penerbangan terakhir yang dilayani Bandara Susilo, dan segera tutup beberapa saat kemudian. Aku pun menunggu jemputan di luar terminal kedatangan. Sepertinya aku penumpang terakhir yang pergi meninggalkan bandara. Akhirnya mobil jemputanku datang, Pak Karna yang menjemputku saat itu, sosok bapak-bapak berusia 50-an tahun yang sangat ramah.
Pak Karna mempersilahkan aku masuk mobil dan kami pun beranjak menuju KPPN Sintang. Kesan pertama keluar dari Bandara, kami sudah disambut kondisi jalan yang rusak khususnya di sekitar jembatan yang melintasi sungai Kapuas. Jalanan kota relatif sempit dengan kondisi jalan yang sepertinya sudah beberapa tahun belum diaspal lagi. Debu ada di mana-mana apalagi jika menemui jalan yang rusak.
Berdasarkan informasi dari Pak Karna, Pemerintah setempat sedang membangun Bandara baru sekitar 20 km dari kota, bekas bandara zaman Belanda dulu katanya. Sintang juga diprediksi menjadi ibukota provinsi jika rencana pemekaran beberapa Kabupaten menjadi Provinsi Kapuas Raya memisahkan diri dari Provinsi Kalimantan Barat, karena pembangunan infrastruktur yang sangat timpang, terutama kondisi jalan.
Sekitar 15 menit dari Bandara sampailah kami ke KPPN berdekatan dengan kantor Bupati Sintang. Usai dari KPPN aku diantar ke Guest House Bagus, tempatku menginap selama dua malam. (bersambung)
Pukul 4 sore pesawat ATR 72 seri 500 dari Maskapai Kalstar mulai take off menuju Sintang, maju 10 menit dari jadwal semula. Sekitar 35 menit pesawat yang kutumpangi itu mendarat di bandara kecil bernama Susilo (kayak nama orang Jawa ya...).
"Lho-lho-lho, ini kok mendarat di tengah-tengah perkampungan! Nah loh, di ujung landasan hanya dibatasi pagar malah ada jalan raya!", pikirku keheranan ketika landing sore itu. Cuaca cerah mendukung penerbanganku sore itu.
Ternyata bandaranya kecil banget, dan pesawat yang kami tumpangi adalah satu-satunya yang ada di bandara kecil itu. Itu adalah penerbangan terakhir yang dilayani Bandara Susilo, dan segera tutup beberapa saat kemudian. Aku pun menunggu jemputan di luar terminal kedatangan. Sepertinya aku penumpang terakhir yang pergi meninggalkan bandara. Akhirnya mobil jemputanku datang, Pak Karna yang menjemputku saat itu, sosok bapak-bapak berusia 50-an tahun yang sangat ramah.
Pak Karna mempersilahkan aku masuk mobil dan kami pun beranjak menuju KPPN Sintang. Kesan pertama keluar dari Bandara, kami sudah disambut kondisi jalan yang rusak khususnya di sekitar jembatan yang melintasi sungai Kapuas. Jalanan kota relatif sempit dengan kondisi jalan yang sepertinya sudah beberapa tahun belum diaspal lagi. Debu ada di mana-mana apalagi jika menemui jalan yang rusak.
Berdasarkan informasi dari Pak Karna, Pemerintah setempat sedang membangun Bandara baru sekitar 20 km dari kota, bekas bandara zaman Belanda dulu katanya. Sintang juga diprediksi menjadi ibukota provinsi jika rencana pemekaran beberapa Kabupaten menjadi Provinsi Kapuas Raya memisahkan diri dari Provinsi Kalimantan Barat, karena pembangunan infrastruktur yang sangat timpang, terutama kondisi jalan.
Sekitar 15 menit dari Bandara sampailah kami ke KPPN berdekatan dengan kantor Bupati Sintang. Usai dari KPPN aku diantar ke Guest House Bagus, tempatku menginap selama dua malam. (bersambung)
Thursday, April 9, 2015
Pengalaman Naik ATR 72 - 600 Kalstar
| ATR 72-600 Kalstar Aviation (Dok. Pribadi) |
Pesawat yang kami tumpangi delay sekitar 45 menit. Kalstar dari Semarang baru mendarat pukul 15.22 WIB padahal seharusnya kami sudah take off pukul 14.45 WIB. Untungnya ruang tunggu Bandara Rahadi Oesman cukup lengang dan sejuk sehingga lumayan nyaman.
Uniknya meskipun tercantum nomor kursi di boarding pass kita, namun sistem tempat duduk di Kalstar siapa yang cepat masuk, dia bisa bebas milih tempat duduk. Jadilah kami buru-buru menuju boarding gate ketika petugas mengumumkan boarding. Untunglah aku bisa dapat kursi nomor 2 dari depan dan di samping jendela, puaslah aku potret sana-sini pemandangan di bawah sepanjang perjalanan. Cantik sekali ketika take off meninggalkan Ketapang ada pelangi melengkung setengah lingkaran sampai ke laut.
Perjalanan ditempuh 33 menit dengan ketinggian terbang sampai 10.500 kaki. Kabinnya persis sekali seperti ATR yang dipakai Garuda. Dengan ruang bagasi kabin yang lebih luas daripada milik Trigana Air, kondisi yang masih baru, dan yang paling penting suara mesin baling-balingnya nggak terlalu kencang berbeda halnya dengan Trigana.
Take Off dan landing berjalan mulus. Tapi sayangnya selama perjalanan tidak diberi minuman sama sekali, apalagi snack, haha.... namanya saja budget flight. Aku nggak sempat mencoba fasilitas toiletnya. Pramugarinya lumayan ramah, nggak sejutek pramugari Trigana yang sebelumnya kutumpangi.
Overall naik ATR 72-600 Kalstar cukup nyaman, cuma delaynya itu lho, tapi masih bisa ditolerir lah. So pilih mana, kalau mau ke Ketapang dari Pontianak naik Trigana Air atau Kalstar?
Wednesday, April 8, 2015
Pengalaman Naik ATR 72 Trigana Air
![]() |
| Trigana Air ATR 72 (Dok. Pribadi) |
Ini kali pertama aku naik Trigana Air. Jadwal keberangkatan pukul 8.15 WIB, namun anehnya counter check in di Bandara Supadio Pontianak baru dibuka pukul 7 pagi, nggak peduli bawa bagasi atau nggak. Mending kalau antreannya teratur, lha ini banyak penumpang yang menyerobot langsung ke depan, dan herannya petugas Trigana Air tetap melayaninya dengan ekspresi wajah yang seolah hal itu biasa aja.
Tibalah setelah antre selama 20 menit, barulah tibalah giliran kami untuk check in. Tiket yang kami beli dari agen travel ternyata sudah include airport tax. Namun, kami ada kelebihan bagasi lebih dari 22kg berhubung kami bertiga dan jatah bagasi per orang hanya 10 kg, sedangkan bawaan kami 52 kg. Jadilah kena charge sebesar Rp7000/kg, dengan toital charge Rp154.000, termasuk murah lah.
Ok, kami pun langsung menuju ruang tunggu di lantai 1. Ternyata pesawat delay sekitar 30 menit. Akhirnya tibalah saat boarding, kami pun dibawa dengan shuttle bus menuju apron parkir pesawat. Maklum lah nggak bisa pakai garbarata, lha wong pesawat kecil.
Seperti biasanya pesawat jenis ATR 72, kami masuk melalui pintu belakang, sedangkan pintu depan digunakan untuk pintu masuk bagasi. Kesan saat pertama kali masuk pesawat adalah pesawat yang sudah jadul dengan AC yang agak panas, "pantesan aja, muka-muka pramugarinya berkilau-kilau, o ternyata karena panas to!", pikirku saat itu.
Aku duduk kebetulan di nomor 3B (lorong) Pesawat ini tentunya berkapasitas 70 orang dengan 2 awak kabin. Susunan seatnya 2-2, dimulai dari nomor 1 di paling depan. Pintu darurat pun terdapat di samping kursi nomor satu.
Tapi aku nggak sempat mencoba toilet di Trigana Air ini, apakah sebersih toilet di Garuda Indonesia dengan jenis pesawat yang sama.
Kebetulan teman kantorku yang duduk di sebelahku baru pertama kali itu naik ATR 72 dan merasa kurang nyaman agak menakutkan, ditambah lagi pas landing terkesan menukik dan mendadak alias nggak smooth dengan goncangan yang relatif keras. Mungkin masih pilot baru, hehe.... Padahal saat aku naik Garuda Indonesia yang memakai pesawat sejenis (tapi lebih baru) mulus banget saat take off maupun landing.
Kalau pakai Garuda mendapatkan snack dan minuman yang bisa milih, di Trigana Air cuma diberikan Teh Sosro Kotak tanpa snack. "Wah enak banget ya pramugarinya, nggak perlu repot-repot menyajikan makanan", celetukku pada teman di sebelahku.
Sekitar 30 menit di udara, sampailah kami di bandara Rahadi Usman Ketapang. Bandara kecil di sebuah Kabupaten di ujung paing selatan Provinsi Kalimantan Barat. Lumayan sepi bandaranya, tapi yang kusuka bukan fasilitasnya melainkan bagasiku cepat diturunkan ke conveyor belt.
Akhirnya bisa ke Ketapang juga yang terkenal dengan Batu Kecubungnya.... Naik ATR 72, siapa takut???
Tuesday, April 7, 2015
Perjalanan ke Ketapang
![]() |
| Tugu Ale-Ale Ketapang (Dok. Pribadi) |
Kebetulan hari ini aku ada tugas ke Ketapang sampai hari Kamis esok. Kami bertiga dari Pontianak kebetulan naik Trigana Air dengan Pesawat ATR 72 dengan baling-balingnya yang super bising, maklum lah bukan pesawat baru. Beda rasanya dengan Garuda Indonesia yang kunaiki dari Balikpapan ke Pontianak meskipun sama-sama menggunakan pesewat ATR 72, yang pasti punya Garuda jauh lebih baru. Nanti aku review pengalaman naik ATR 72 Trigana Air.
Kira-kira 30 menit kami sudah sampai di Ketapang, sebuah kota yang dikelilingi sungai alias terletak di delta sungai-sungai besar (aku belum sempet googling nama sungainya).
Nggak seperti yang kuduga sebelumnya, ternyata Ketapang lumayan gede dan rame juga lho. Di sini ada restoran cepat saji KFC, adapula jaringan hypermarket dari Matahari Group alias Hypermart, dan jangan salah ada Hotel Aston juga lho disini (aku sudah gatal mau me-review Hotel Aston Ketapang ini di Trip Advisor). Luar biasa perkembangan salah satu kota di ujung selatan provinsi Kalimantan Barat ini. Denger-denger sih kota ini ditopang pendapatan dari Perkebunan Kelapa Sawit dan Tambang Bauksit.
Aksesibilitas ke Ketapang ini relatif cukup mudah terutama dengan moda transportasi udara. Bisa pakai Trigana rute Pontianak-Ketapang-Pangkalan Bun, ataupun Kalstar rute Pontianak-Ketapang-Semarang. Mungkin masih ada penerbangan lain yang belum sempat kucari tahu.
Nah, yang terkenal dari Ketapang ini adalah Batu Kecubung Ketapang yang terkenal berkualitas sangat bagus. Barusan aku jalan-jalan jkeliling kota, banyak sekumpulan pria rame bergerombol di pinggir jalan mengerumuni sesuatu yang ternyata pedagang akik. Memang akhir-akhir ini dimana-mana lagi booming batu akik, tapi ya harus hati-hati juga beli Kecubung di Ketapang meskipun daerah asal Kecuibung, ada juga kecubung abal-abal ataupun berkualitas rendah. Ajaklah orang yang mengerti batu akik terutama kecubung ketika mau membelinya.
Ketapang, sebuah Kota yang perkembangannya sangat pesat dengan potensi yang luar biasa. Entah kapan lagi aku berkesempatan mengunjungi Ketapang ini. Suatu saat lah....
Thursday, April 2, 2015
Kabin Pesawat ATR 72 - 600
| Kabin ATR 72 - 600 Garuda Indonesia (Dok. Pribadi) |
Mirip dengan Pesawat Bombardier CRJ-1000, bedanya yang satu baling-baling yang satu jet. Formasi tempat duduknya sama yaitu 2-2, namun jumlah kursi penumpangnya lebih sedikit yaitu hanya untuk 70 orang. Kursi lipat untuk pramugari pun hanya dua buah, praktis pramugarinya ya hanya dua saja. Nah, ada 2 pintu masuk untuk pesawat jenis ini. Pintu masuk yang pertama berada persis di belakang kokpit pesawat itu hanya untuk ruang bagasi. Sedangkan penumpang seluruhnya naik melalui pintu belakang. Jadi jika mau turunnya cepat, bisa memilih kursi yang paling belakang.
Selain paling dekat dengan pintu masuk penumpang, kursi paling belakang mempunyai keuntungan lainnya yaitu dekat dengan Toilet, yang hanya satu-satunya terdapat di pesawat itu. bahkan jika saat penerbangan si Pilot kebelet pipis, juga pergi ke bagian paling belakang kabin pesawat.
![]() |
| Closet di Toilet Pesawat ATR 72 (dok. pribadi) |
Nah mengenai tempat duduk, yang paling depan dimulai dengan nomor 21. Kebetulan aku duduk di kursi 21k yang tepat di samping jendela sebelah kanan. Bangku paling akhir bernomor 38 kalau nggak salah. Ruang kaki di kursi 21 yang kebetulan berada paling depan cukup lebar dibandingkan dengan nomor lainnya, mengingat kursi paling depan itu juga berada di samping pintu darurat.
![]() |
| Wastafel Toilet ATR 72 (dok. pribadi) |
Pesawat ATR 72-600 memang sangat cocok untuk mendarati bandara-bandara kecil ataupun perintis, karena tidak memerlukan landas pacu yang terlalu panjang. Overall naik pesawat ATR 72-600 Garuda Indonesia cukup menyenangkan karena tidak terbang terlalu tinggi sehingga masih bisa melihat indahnya zamrud khatulistiwa yang di beberapa spot sudah nampak bopeng-bopeng bekas pembalakan liar ataupun penambangan.
Baca juga: Pengalaman naik ATR 72 -600 Garuda Indonesia
Tuesday, March 31, 2015
Pengalaman Naik ATR 72 - 600 Garuda Indonesia
![]() |
| Pesawat Garuda Indonesia ATR 72-600 (dok. pribadi) |
Garuda Indonesia mempunyai 8 armada untuk pesawat jenis ini. Beberapa diantaranya digunakan untuk menghubungkan kota-kota di Kalimantan, dari Timur ke Barat bahkan sampai masuk ke pedalaman. Iya benar, dari Balikpapan ke Palangkaraya, Palangkaraya ke Pontianak, dan Pontianak ke Puttusibau.
Pengalaman pertama naik ATR kurang mengenakkan, diawali dengan delay sekitar satu jam. Kami pun diberikan snack ringan untuk keterlambatan.Sekitar pukul 09.30 kami pun boarding, dan Voila..... ternyata ini to pesawat ATR yang populer itu! Pesawatnya relatif kecil dengan dua baling-baling di sayap kanan kirinya. Yang unik dari pesawat ini, pintu masuk penumpang melalui pintu belakang, sedangkan pintu depan dipakai sebagai tempat penyimpanan bagasi.
Tempat duduk penumpangnya ada 70 kursi, 2 kursi awak kabin, dan dua kursi di kokpit. Susunan kursinya 2 - 2, alias dua di kanan dan dua di kiri. Kebetulan aku menaiki kursi 21K, yang kupikir ditengah ternyata paling depan di samping jendela darurat, yang pasti ruang kaki lebih besar.
Toiletnya cukup bersih, nyaman meskipun sangat sempit tapi cukup efisien dan efektif. Dilengkapi dengan wastafel kecil, sabun cuci tangan, pegangan di dinding toilet untuk orang tua, closet duduk dengan flush dari bahan stainless steel. Bersih lah pokoknya, nggak seperti toilet kereta api eksekutif yang masih saja jorok, apalagi dibandingkan dengan toilet bus malam, aduh jauh bangetttt.....
Untuk take off dan landingnya tidal memakan waktu yang lama seperti pesawat jet. Kebisingan mesin pesawat di dalam kabin pun masih dalam batas yang wajar. Lumayan anteng pesawatnya, nggak terkesan limbung. Overall bagus lah untuk pesawat sekecil ini. Pesawat-pesawat model ATR 72 ini memang lebih efisien untuk menempuh jarak yang relatif dekat, misal dalam satu pulau. Lagi pula tidak perlu landasan pacu yang panjang.
Oiya sepanjang perjalanan Balikpapan, aku mendapatkan 2 kotak snack dan minuman by request semacam jus, susu, the, kopi, air mineral, susu, soda. Sayang nggak ada makan besarnya.....
Waktu tempuhnya tergolong lama bila dibandingkan pesawat jet. Dari Balikpapan sekitar pukul 09.30 WITA sampai di Pontianak sekitar pukul 11.30 WIB dengan transit di Palangkaraya kurang lebih 20 menit. Plus minus 3 jam lah, padahal kalau ke jakarta dari Balikpapan yang jaraknya lebih jauh cuma 1 jam 50 menit.
Sekedar Tips: Sebaiknya jika naik ATR 72 pilihlah kursi yang dekat jendela karena bisa menikmati pemandangan bawah yang bagus, dikarenakan pesawat jenis ini tidak bisa terbang setinggi pesawat jet. Kalau pesawat jet yang nampak kan hanya awan putih saja, kecuali saat mau landing atau take off.
Selamat mencoba ATR 72-600!
Baca juga: Pengalaman Naik CRJ 1000 Bombardier Garuda Indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)




